
Jika Kamu butuh lebih dari sekedar tafsiran dan kutipan pasaran tentang siapa itu Tuhan, teman, dan diri sendiri. Pergilah mendaki gunung atau mengheninglah. -Edy-
Rumah Rara. Dago, Bandung.
Kebosanan melanda Rara. Sejak semalam, teman-teman HMJnya Pergi berlibur ke Cikole lembang. Sedangkan Rara, hari minggunya ini ia lewati dengan hanya tidur seharian. Malam harinya, tanpa rasa ngantuk,Rara menjadi sangat kosong. Pikirannya yang travelling kemana-mana akhirnya membawa untuk mengingatkan sesuatu yang dikatakan Bu Prinawati beberapa hari lalu. 'Pejalan fakir ilmu. Blog Edy,' Batin Rara.
Lewat google, tak butuh waktu lama untuk Rara menemukan Blog milik Edy. Ia mulai membaca salah satu catatan Edy di dalamnya.
Aku berada di tempat di mana aku bisa menjadi seorang yang berjalan di atas kakinya sendiri. Aku berada di tempat di mana aku bisa menjadi seorang yang berkeputusan dengan kepalanya sendiri. Aku berada di tempat di mana aku bisa menjadi seorang yang mendapatkan kekuasaan atas tubuhnya sendiri.
aku berada di tempat di mana aku bisa menjadi seorang yang tidak menemukan kekuatan harta,tahta, dan tentara.
" Memang selama ini kamu berjalan di kaki siapa hah?! Selama ini kamu berkeputusan dengan kepala siapa?" Kata Rara sendirian di depan layar laptop di kamarnya.
Rara terus menerus mengejek catatan-catatan Edy yang ia pilih secara acak. Meski beremosi, Rara terus saja membaca catatan-catatan Edy lainnya. Awalnya ia hanya iseng, namun Rara terlihat lebih dari sekedar itu.
Rara perlahan membenahi letak duduknya, ia lingkarkan jari di dagunya dengan telunjuk di ujung bibir, wajahnya yang putih semakin bercahaya sebab Rara mencondongkan kepalanya semakin dekat ke layar monitor.
Aku beritahu kepadamu,Dik. Akan tiba banyak situasi seperti sore ini, di mana tidak ada seorangpun yang datang untuk menawarkan pelukan atau ketiaknya ketika kau memanggil 'mamah'.
Selamat untuk gunung ketiga mu. Gunung cikuray.
"Adiknya yang masih SD, di Ajak naik gunung cikuray?"Rara menggelengkan kepala menanggapi catatan dalam sebuah foto yang diunggah Edy dalam Blognya. "orang gila," katanya lagi sambil kembali melanjutkan bacaannya.
Mereka (anak-anak/adik-adik kita) adalah bayangan akan bagaimana nasib negeri ini kelak. Mereka harus belajar menyeimbangkan atau membiasakan diri untuk mampu bertahan hidup di luar fasilitas yang biasa mereka 'Tuhan'kan.
Dari kesenian dan alam. Anak-anak akan di gurui oleh pengalaman-pengalaman, bahwa menikmati proses adalah hal utama di balik segala pencapaian.
Rara terdiam sejenak. Tak ada kritik dari bibirnya. Tak lama, ia arahkan lagi pointer Laptopnya untuk bergerak ke catatan lain.
Seorang yang oleh tuhan diberi anugrah berupa antusiasme berkegiatan alam dan/atau kepekaan untuk dapat mendalami nikmatnya rokok dan kopi, tidak ada alasan untuk ia tidak mencintai Nusantara.
"Kenapa kamu menolak kopi pemberianku?mau manis, asin , asem,sekali kopi, tetap kopi kan?"Katanya lagi.
Rara membalikkan badan dengan memutar kursi belajarnya yang berroda. Ia letakkan kembali jari-jari tangannya di ujung bibirnya, mengetuk-ngetuknya beberapa kali. Kutipan dari catatan Edy yang terakhir membuatnya berpikir atau mengingat sesuatu. Tak lama, ia bangkitkan tubuhnya untuk berjalan menuju dapur dan membuat secangkir kopi.
Bersama secangkir kopi di samping speaker yang sedari tadi memutar lagu indiefolk lokal kesayangannya, Rara terlarut hingga tengah malam. Lewat membaca, seorang perempuan nomor satu di kampus itu terbawa untuk menjelajahi seluk beluk seorang laki-laki yang belakangan merepotkan hidupnya yaitu Edy.
Kelas Penganggaran
Sebab Rara Bangun sedikit terlalu siang, dan terlambat beberapa menit masuk kelas, maka kali ini ia tidak duduk berdampingan dengan dua rekannya di HMJ, Willy dan Sarah, seperti biasanya. Usai melewati pintu dan memberikan kontak mata penanda maaf kepada dosen, Rara duduk di bangku sedapatnya,dan secepatnya.
"maaf, Teh,sudah sampai di bagian mana?"kepada seorang perempuan di sampingnya, Rara bertanya sambil memeriksa helai perhelai lembar kerja yang baru ia keluarkan.
Mata kuliah penganggaran memang kompleks. Sekali tertinggal mengikuti pengisian lembar kerja akan sangat sulit dan terhambat untuk dapat melanjutkan mengikuti ke pengisian lembar kerja berikutnya.
"Kalem teh. Dari tadi baru ngomong-ngomong aja si Barbar,"jawab perempuan itu.
"Barbar?" Tanya sekar.
"Pak Bahrudin," sahut laki-laki di samping perempuan yang di tanya Rara.
Rara tertawa kecil mendengar keduanya menyebut Pak Bahrudin dengan panggilan 'BarBar'.
Rara menghembuskan nafasnya, berusaha untuk mengendalikan diri dan degup jantungnya. Sepagi itu, Rara dipaksa berlari tergesa gesa dari parkiran menuju kelas yang berada di lantai tiga.
"nih Air, teteh," perempuan itu menawarkan tumbler minumannya kepada Rara. "Gratis,"tekannya.
"Eh terimakasih ,Tehh" Rara menyambut tumbler.
"Kencing," Kata perempuan di samping Rara.
"Hah?" Rara tersedak. Ia telusuri body botol minum di tangannya.
"Namaku kencing,tehh."
__ADS_1
"Kencing?" spontan Rara mempertanyakan nama perempuan di sampingnya sambil menahawan tawa dan menutup bibirnya yang kebasahan.
"Aku Pejuh,"Sahut laki-laki di samping kencing.
"Apa?" lagi , Rara tersedak dan kaget.
"Pejuh namanya," kencing menengahi.
"Kamu Rara kan?"
"Ohiya, Namaku Rara," Rara menyalami keduanya sambil masih kesulitan membenahi nada bicaranya karena tertawa .
"Kamu kenal dia ,Cing?" Tanya Pejuh.
"Mukanya sering nongol di web kampus," Jawab kencing. "Ketua HMJ ya?" tanya kencing pada Rara.
Rara mengangguk. Pejuh pun ikut mengangguk.
"Kalian Mapala ya?" tanya Rara setelah matanya menangkap stiker-stiker bergambar gunung di tumbler dan Bukunya kencing.
"iyaak, Mahasiswa paling lama," canda Kencing.
"Masih pada lajang," Pejuh menyambung.
"Ohhh kamu masih lajaaaang?" sahut Kencing sambil memberikan ancaman dengan cubitan kecil ke tangan Pejuh.
"nggak Cing. Anak-anak mapala lain maksudnya, kita mah enggak, aku kan padamu dan kamu sudah padaku," Pejuh menenangkan Kencing,kekasihnya.
"Wah , Kencing dan Pejuh Sepasang ya? Pacaran ya? Ihh serunyaa..." Rara merespon dengan apresiasi dan senyum. "Pejuh dan Kencing," Rara berkata-kata lagi. Ia tertawa-tawa sendiri.
Sepanjang jam kelas,selingan patahan dan celetukan kerap kali diciptakan oleh Kencing dan Pejuh. Kelas menjadi lebih menyenangkan bagi Rara. Tentu Rara menyikapinya dengan seimbang, sehingga ia tidak tertinggal untuk melanjutkan lembar kerja dan memahami materi yang diberikan dosen.
"Ranti Larasati Ningrum," Pak Baharudin mengecek kehadiran mahasiswa.
"Hadir Pak," kata Kencing.
Pak Baharudin adalah dosen yang cukup ketat. Tak ingin ada kasus 'titip tanda tangan', ia selalu memanggil satu persatu nama yang ditanda tangani di presensi.
"Rizal Fakhrurozzi.."
"Hadir.." kata Pejuh sambil mengangkat tangannya secara malas.
Sebelum Pak Bahrudin memanggil nama-nama mahasiswa, di sela Rara mengerjakan lembar kerja penganggaran, sering ia tertawa sendiri karena terlintas di pikirannya tentang bagaimana bisa sepasang di sampingnya itu bernama Kencing dan Pejuh.
Kencing menjelaskan pada Rara bahwa nama Kencing dan Pejuh adalah nama lapangan. Itu nama khusus keanggotaan,sebuah ciri khas yang menggambarkan solid dan keakrabannya orang-orang di lingkungan organisasi tertentu, salah satunya Mapala.
...****************...
Kelas penganggaran selesai. Rara bergegas mencari Edy setelah sempat lebih dahulu mampir di kantin bersama Willy dan Sarah. Di sana ia diingatkan oleh kedua rekannya di HMJ itu mengenai kelanjutan masalahnya dengan Bu Diah. 'Senior HMJ, dosen pembina, dan banyak orang menanti penyelesaian kasusmu!" Willy berpesan pada Rara.
Merasa terganggu dan terbebani, Rara pun pergi.
Setelah tidak menemukan Edy di sanggar, Rara akhirnya menemukan Edy di taman depan perpustakaan. Edy sendirian, duduknya membelakangi jalan. Rara yang mendekat dari belakang semakin yakin bahwa lelaki yang sedang menulis atau sibuk mengerjakan sesuatu di sana itu adalah Edy.
"Edy" Rara mengeluarkan kata. Edy menghentikan laju pena di tangannya. Kepalanya menoleh ke arah Rara. "kalau sudah tidak sibuk, bisa kita bicara?" Kata Rara lagi.
"oh kamu," Edy menatap Rara, "Rara. Rara Novitri. Iya bisa. Mau di sini atau?" Kata Edy sambil menggeser letak duduknya dan mempersilahkan Rara duduk.
"Terimakasih. Di sini aja. Gak lama kok," Rara memilih untuk tidak duduk.
"Mengenai kita dan Bu Diah," katanya lagi.
"Ohh si Anying," sahut Edy santai.
"Apa katamu?"
"Iya, bagaimana?" kata Edy lagi.
"Boleh dikecilkan gak volume musiknya?" Pinta Rara.
__ADS_1
Dari sikap dan kata yang keluar dari Rara, Edy bisa membaca bahwa ia diajak untuk membangun suasana serius. Edy mengabulkannya. Ia letakkan pulpen, menutup bukunya, lalu mematikan musiknya.
"Sudah. Silahkan," kata Edy.
"Tidakkah kamu serius kuliah di sini?" Rara memulai.
"Maksudmu?"
"Kalau memang tidak serius, idealis, tidak peduli nilai, ya sudah itu masalahmu. Lakukan itu sendiri, jangan sertakan aku."
"Ada bahasa yang lebih mudah gak?" Kata Edy.
"Bu Diah ingin kita menghadap, Ed !" Rara meletakkan dua tangannya di meja seperti seorang interogator kepada tersangka suatu kasus. "Tolonglah,Ed !. Permasalahan kita.."
"Kita?" Edy memotong.
"Ya. Kita , aku dan kamu, siapa lagi?"
Rara menunjuk dirinya dan Edy. "Semua karena ulahmu,ulah kita. Kini kita jadi perbincangan dosen dan mahasiswa."
"Bukan kita. Tapi anda, ketua HMJ yang terhormat. Posisi dan keadaanmu yang terhormat itu membuat sekecil apapun perbuatanmu menjadi bahan perbincangan. Tidak ada aku di dalam kita yang kamu maksud," Edy mulai tersinggung atas sikap dan argumentasi Rara, "Dan lagi, kenapa kamu sudutkan aku?" Edy melanjutkan sudut pandangnya.
"Aku ingin kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Kamu gak boleh egois!". Kata Rara.
"Aku keluar dari kelas Bu Diah saat itu adalah aku dan keputusanku, aku tidak mengajakmu. Tidak juga menyertakanmu. Aku keluar kelas adalah sesuatu, kamu ikut-ikutan keluar kelas adalah sesuatu yang lain. Aku dan kamu adalah bukan kita. Berhentilah menyudutkanku dengan kata; Ki...ta..." jelas Edy.
Emosi Rara semakin menjadi. Nalurinya memberontak untuk membalas. Rara alirkan emosinya lewat kata-kata untuk menyerang Edy.
"Aku dengar kamu suka baca buku, bermain di desa dan gunung-gunung, seharusnya kamu terbentuk menjadi seorang yang bijak dan penuh cinta," Rara dekatkan tubuhnya selangkah kepada Edy, "Rupanya palsu! Wajar jika engkau selalu kesepian!".
Rara tidak bisa mengendalikan emosinya. Argumennya keluar dari subtansi pembicaraan. Setelah men-judge Edy, ia tak bisa berkata-kata lagi dan memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan Edy.
"Yang terhormat, Rara Novitri!" Edy meneriaki Rara. Rara menghentikan langkahnya.
"Nanti malam, dalam kesepianmu yang kamu lemparkan padaku," kata edy sambil berdiri, "Satu, kamu renungkan lagi, sebenarnya apa salahnya aku dan kamu kepada Bu Diah. Dua, bacalah buku, cari tau tentang siapa itu socrates, baru nanti kita bisa bicara tentang apa itu bijak," kata edy lagi.
Sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan Edy, Rara tolehkan kepalanya, ia kirimkan kepada Edy sebuah wajah dengan amarah, wajah yang masih saja cantik.
...***...
Malam hari, di Kamar Rara
'Dalam kesepianmu yang kamu lemparkan padaku' kata-kata Edy mengikuti Rara ke kamarnya. Berkali-kali Rara menolak memikirkan apa yang dibilang Edy tadi siang tentang dua hal yang harus Rara lakukan malam ini. Hanya, berkali Rara berkata tidak, berkali itu pula kata-kata Edy semakin menguasai malamnya.
Dan Rara menyerah juga, ia mulai membuka percakapan dengan dirinya sendiri. 'Apa sebenarnya salahku dan Edy kepada Bu Diah?'
Rara tidak menemukan jawabannya. Ia merasa tidak ada kesalahan yang ia lakukan. Juga Edy, Rara berpikir, Edy diusir dari kelas karena pakaian gunungnya tidak disenangi Bu Diah. Lalu Edy melawannya dengan Argumen bahwa bukan hak Bu Diah untuk membentuk karakter dan pakaian apa yang harus dipakai oleh mahasiswa. Kemudian mengusirnya dengan alasan Edy terlambat masuk kelas. Rara yang juga terlambat,bahkan melebihi terlambatnya Edy, memutuskan diri untuk keluar kelas juga. Suatu sikat yang jika dilihat secara objektif sebenarnya cukup Fair.
"Sudah betul apa yang aku dan Edy lakukan. Justru aku sedang mencoba fair,kan? Aku sedang mentaati peraturan yang Bu Diah buat." kata Rara sendirian.
Rara merasa bahwa semua ini lebih kepada sentimen yang di dramatisir oleh Bu Diah menjadi sebuah permasalahan, yang tentunya sebagai dosen Widyatama, tidak bisa tidak, dosen selalu pemenangnya. Wajar jika ada satu yang seperti Edy memutuskan melawan, habislah ia. Saat itu Rara jadi ingat kata-kata Soe Hok Gie yang dikutip Edy dalam Blog sosmednya .
Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau yang selalu salah.
Mengingat kutipan itu, Rara jadi ingat tentang Blog Edy. Rara ingat tentang membaca. Rara ingat tentang Socrates yang Edy perintahkan untuk membaca. Rara pun bergerak ke Laptopnya.
'SOCRATES,' Rara mencari apa-apa tentang nama yang diketikkannya di google itu. Berbagai referensi ditemukannya lewat internet. Rara merangkumnya di kepala.
Socrates, seorang filsuf yang berpengaruh di dunia. Seorang yang secara sikap dianggap menjengkelkan bagi banyak orang di lingkungan dan masanya dahulu.
Socrates tidak seperti seorang pada umumnya yang merasa berilmu. Ia tidak menggurui, ia hanya bertanya dan menjawab kata-kata yang orang lemparkan kepadanya. Socrates tidak menyerang, ia membuat orang yang menyerangnya merasa terserang sendiri dengan tanggapan yang logis dan tidak bisa dibantah siapapun yang menggunakan akal sehatnya.
Socrates mempermalukan banyak orang yang mendebatnya. Keunikan dari caranya mengemukakan kebenaran-kebenaran yang filosofis, membuat resah petinggi kota Athena yang lebih dulu membuat standar tentang kebenaran-kebenaran.
399 sebelum masehi, Socrates didakwa bersalah. Ia dianggap merusak tatanan dan kepercayaan masyarakat tentang dewa-dewa yang ada. Socrates merasa tidak melakukan kesalahan. Socrates mengemukakan bahwa apa-apa yang selama ini ia sampaikan adalah sesuatu yang berasal dari hati nurani dan dapat diterima dengan akal sehat manapun. Socrates sebenarnya bisa memilih untuk meminta belas kasihan dan pergi dari Athena, hanya akhirnya ia memilih tetap di sana guna mempertahankan hati nurani/kebenaran. Socrates mati setelah dipaksa minum racun cemara oleh para pengadil Athena.
Socrates, sebuah nama yang akhirnya disebut oleh seluruh rakyat Athena ketika ditanya,"Siapa orang yang paling bijak?"
Seperti malam-malam sebelumnya, Rara terlarut menelusuri jawaban dari apa-apa yang ia baca malam itu. Ia dapat menangkap maksud Edy. Rara harus mendengarkan nurani dan akal sehatnya tentang apa yang salah dengan dia kepada Bu Diah. Sesudah itu, Edy membawa Rara kepada socrates sebagai referensi pengambilan sikap. Satu hal lain, lewat Socrates, Edy memberikan sebuah pembelaan diri yang Rara telah menyebutnya dengan, tidak bijak.
__ADS_1
Sudah hampir pukul 3 pagi. Rara yang memang pada dasarnya tidak terbiasa terjaga selarut itu, akhirnya kelelahan dan tertidur di meja laptopnya
...***...