
Dua Minggu Sebelumnya
Dalam mencari Edy, Rara sebelumnya pernah datang ke kosan tempat tinggal Edy. Hanya, di sana, tidak ada informasi baru yang Rara dapatkan. Hal hal yang di ceritakan Ilham , teman kosannya Edy, adalah hal-hal yang sama dengan yang diceritakan kawan-kawam Edy lainnya. Semua masih seputar Buku, gunung, sosial dan semacamnya. Semua masih tidak merujuk pada kabar dan dimana Edy berada.
Hingga akhirnya Rara datang kembali ke kontrakan Edy. Entah apa, hanya ada sesuatu yang kuat di diri Rara, yang mendorongnya kembali untuk datang ke sana.
Rara datang. Hanya, siang itu Kosan Edy terlihat kosong. Rumah itu hanya dihuni dua orang, yaitu Edy dan Ilham. Sebab pikir Rara, ilham mungkin sedang kuliah, maka Rara putuskan untuk menunggu.
Kosan Edy ada di salah satu wilayah Gedebage Bandung, sebuah tempat yang untuk ukuran hunian mahasiswa, di sana kurang di minati.
Rara duduk dan menunggu di bangku halaman. Halaman yang tidak terlalu lebar, cukup untuk masuk satu mobil dan beberapa motor. Batas samping halaman tidak bertembok, hanya dipagari semen setinggi setengah meter di kanan dan kiri. Halaman ini meski ada bangku, Edy biasa duduk dan minum kopi sambil gigitaran ketika sore di atas situ.
Di sebelah pagar samping ada jalan kecil mengarah ke Sawah. Sedangkan di depan, pagar semen yang sama melintang dari kanan dan kiri dan membentuk gerbang terbuka. Ada satu pohon rambutan besar yang memayungi seluruh halaman di dekatnya. Di luar gerbang, terdapat selokan kecil yang mengalir lancar air yang sangat bening. Saking beningnya, ikan-ikan, pasir, dan kerikil di dasarnya pun dapat terlihat jelas oleh mata siapapun. Ada batu besar di dalam selokan, dari bentuk dan caranya diletakkan, terlihat bahwa seseorang sengaja meletakkannya di sana, entah untuk memperkecil laju air yang mengalir ke sawah belakang atau untuk sekadar menciptakan benturan dan melahirlan suara percik yang puitik. 'Sudah pasti itu Edy' pikir Rara merasa tau.
Satu jam berlalu. Setelah Rara berkeliling membunuh waktu tunggu dengan merekam kehidupan halaman Edy di kepalanya, Ilham masih tak juga datang. Rara memutuskan untuk terus menunggu sambil duduk kembali dan membaca buku, tepatnya membaca catatan Blog Edy.
Rara membuka lembaran-lembararan catatan Edy.
Biçara Nusantara adalah bicara desa. Yang basah, tapi tidak ada yang tenggelam,tidak ada yang ditenggelamkan pun menenggelamkan.
Yang terang, tapi tidak membutakan. Yang panas, tapi tidak memangganggmu tanpa pilihan. Yang hening, tapi tidak mencekam. Yang mungkin licin, tapi tidak membuatmu tisoledat.
Yang sepi, tapi tempat mana lagi selain desa? Tempat yang dalam segala keadaan atau apapun menimpamu, keyakinanmu masih sama, Kau tidak pernah sendirian.
Rara hirup dalam-dalam udara sore itu seusai ia membaca catatan Edy. Angin berhembus damai, daun menari berjatuhan olehnya, burung-burung berkejaran, suara air mengalir dan segala suasana di sana benar-benar membuat Rara merasa nyaman. Hingga akhirnya Rara tertidur di sana, di bangku halaman kosan Edy.
Suara kunci diputar terdengar dari dalam rumah. Tak lama pintu terbuka. Ilham keluar sambil merentang-rentang dan menarik narik tubuhnya. Ilham tidak kuliah hari ini rupanya, sedari tadi ia ada di dalam kosan. Ia tidur.
Belum sepenuhnya sadar dari bangun tidurnya, ia kaget dan tersadar seketika melihat Rara tidur di bangku halamannya.
"Subhanallah" Ilham menelan ludah dalam-dalam.
dengan kekhusyuan tertentu, ditatapinya kedamaian tubuh seorang perempuan yang sedang tertidur cantik di hadapannya itu.
"Siapapun, jangan bangunkan aku dari mimpiku ini" katanya lagi.
Suara motor lewat dan bayangan seorang di depannya, membuat Rara terbangun dari tidurnya. Ia kebingungan, merasa tak enak dan malu.
"Tehh Rara nya?" kata Ilham sesaat setelah Rara menyingkapkan rambutnya. "Oalah" Ilham menyadari bahwa perempuan itu adalah Rara.
"Maaf, Kang Ilham. Ga sengaja ketiduran" kata Rara sambil membenahi diri dan merapikan beberapa catatan-catatan Edy yang lepas dari tangannya saat Rara tertidur.
"Dari kapan di situ?" tanya Ilham
__ADS_1
"Belum lama, Kang. Suananya enak, langsung ketiduran". Rara mencoba menyamankan Ilham dan juga dirinya sendiri.
"Kabogohna Geulis, Jang" kata Seorang tetangga yang melintas, "Kasihan itu, dari tadi siang nunggu di situ" katanya lagi.
"Sanes Mang. Ieu mah kabogohna Kang Edy" Ilham mengklarifikasi.
"Dari tadi siang, Teh Rara? Ya allah. Kenapa gak ngetuk" katanya lagi, kali ini kepada Rara.
"Aku pikir Kang Ilhamna Kuliah" jawab Rara.
Ilham pun mengajak Rara masuk, membuatkannya kopi, dan mendengarkan penjelasan Rara perihal kedatangannya. Dijelaskan oleh Rara, bahwa kedatangannya kemari adalah untuk meminta izin Ilham. Rara ingin masuk melihat-lihat kamar Edy. Pikir Rara, barangkali di sana ada hal-hal penting yang akhirnya bisa ia jadikan informasi untuk menemukan Edy.
Kamar adalah sesuatu yang bersifat privat, terlebih lagi ini kamar Edy, yang Ilham sendiri selama ini sebelum masuk ke kamar Edy, ia harus mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat untuk dibukakan terlebih dahulu. Ilham tidak pernah bebas keluar masuk kamar Edy.
"Edy itu paling seneng sendirian. Dia gak mau diganggu dan ditemani di dalam kamar" jelas Ilham. "Namun bukan berarti Edy sombong. Dia itu gokil, kita bercanda terus, ngobrol terus, sharing terus, semua interaksi terjadi di antara kita dimana-mana, kecuali di kamar Edy.
Tahun lalu, pernah. Waktu aku lagi mabuk-mabuknya, aku nyelonong masuk ke kamarnya. Yang terjadi, aku enggak disapanya dua hari dua malam berturut-turut" jelas Ilham.
"Kang, semua ini demi Edy, Kang" Rara memohon. "Aku sudah cari info tentang Edy di mana-mana. Di sanggar, di blog, di Akangnya , juga pernah kan yang kemarin-kemarin itu, di warung kopi, di mana-mana. Semua gak ada hasil yang nunjukin di mana Edy sekarang. Satu tempat terakhir yang aku yakin akan memberi hasil adalah tinggal ini. Kamar Edy". Kata Rara.
"Lagi pula, semisal aku ijinkanpun sama aja enggak bisa Tehh, kuncinya dia pegang" Ilham menolak.
"Adzan tehh, aku shalat dulu sebentar" Ilham permisi ke belakang.
15 menit berlalu.
Brak!
Suara benturan atau benda besar terjatuh membuat Rara terkejut. Spontan Rara menghampiri asal suara tersebut. Di dalam ia melihat Ilham berdiri dengan nafas terengah.
"Nanti aku yang tanggung jawab" kata Ilham sambil menunjuk ke ruangan dengan pintu yang sudah ia dobrak. Kamar Edy.
Ilham benar-benar memikirkan Edy setelah shalat. Matanya berkaca-kaca mengingat sahabat baiknya itu. Edy sangat sering membantu Ilham. Ia tinggal di sini pun adalah karena Edy. Ilham tidak diminta iuran apapun. Edy mengajaknya kemari saat keuangan Ilham hancur akibat kalah judi dan uang kosnya habis di depositkan ke bandar kala itu. "Saat aku benar-benar merasa sendirian, Edy datang" kenang Ilham.
Ilham merasa malu pada dirinya sendiri yang tak berusaha apa-apa untuk mencari Edy. Ia berpikir, inilah satu-satunya kesempatan ia untuk kembali berani, selain berjudi.
Kamar Edy
Rara melangkahkan kakinya masuk ke Kamar Edy. Lampu belum dinyalakan. Hanya, cahaya senja yang merengsek masuk dari ventilasi, telah cukup berhasil menciptakan nuansa yang Rara sebut, sangat Edy.
Semakin maju ia melangkah, aroma khas Edy semakin terasa memeluki Rara kala itu. Setelah Ilham berhasil mengingat-ingat letak saklar yang tersembunyi di balik pintu, lampu dinyalakan.
Rara memejamkan mata seketika saat lampu yang tiba-tiba menyala membuatnya terkejut ketika ia melihat gambar di dinding, tepatnya gambar di poster berukuran besar di depannya. Ketika ia membuka matanya kembali, ia tau itu adalah gambar seekor burung yang sedang terbang. Di bawahnya terdapat kata-kata berbunyi ; None but our self can free our mind. - Bob Marley.
__ADS_1
Rara merekam isi kamar Edy. pertama, ditemukannya gambar burung di depan meja belajar Edy. Di atas meja ada Komputer dengan layar tertempel deadline-deadline grafis Edy. Di dekat keyboard, cangkir terakhir Edy masih menghening di sana, ampasnya diputihkan waktu. Di atas meja, berpuluh buku tersusun, buku-buku dengan nama-nama seperti Soe Hok Gie, Pramoedya , Tereliye, Socrates, chairil anwar, Sokarno dan lain-lain semacamnya adalah yang paling memimpin di bebaris buku-buku itu.
"Tehh Rara" Ilham memecahkan fokus Rara.
Ilham berdiri memegang sebuah lukisan. Di simaknya wajah Rara yang menengok kepadanya, kemudian ia simak lagi lukisan di tangannya, ia lempar lagi pandangannya ke Rara, kemudian ia lihat lagi lukisan di tangannya.
"Tehh Ra-ra?"kata Ilham terpatah-patah.
"Maksudnya?" kata Rara bingung.
Ilham maju selangkah. Kepalanya memiring memandang sekali lagi wajah Rara dengan fokus yang sangat tinggi.
"Fix" kata Ilham lagi. "Oke, mangga Teh Rara diteliti dan dicari sendiri informasi mengenai Edy disini. Aku nggak mau terlalu lama di sini. Nggak enak sama Edy kalau aku di kamarnya, dengan Raranya pula."
Rara masih tak mengerti. Kemudian Ilham pergi keluar kamar setelah terlebih dahulu meletakkan lukisan di tangannya ke dinding.
Rara penasaran atas apa yang baru saja diletakkan Ilham di dinding. Rara berjalan mendekati lukisan. Semakin dekat semakin ia merasa familier dengan sesuatu hal, semakin pula jantungnya berdegup kencang.
"Aku?" kata Rara saat melihat lukisan yang dibuat Edy.
Ia putar kepalanya cepat mendekat ke lembar-lembar kertas yang tertempel di dinding, isinya adalah puisi dan kutipan-kutipan. Rara bergerak ke meja Edy dan menemukam sebuah buku catatan. Rara membukanya,hanya, belum sempat ia membaca satu katapun di dalam sana, ia merasa tidak pantas. Buku harian adalah seperti sahabat terbaik yang dapat menjaga seluruh rahasia seseorang. Rara tidak mau menghancurkan persahabatan Edy dengan buku hariannya. ia urungkan niatnya dan kembali meletakkan buku catatannya.
Ia lemas dan duduk bersandar di dinding. Ia jatuhkan badannya, tangannya spontan meraih bantal di dekatnya. Di peluknya. Rara memejamkan mata. Ia menangis di dalam sana.
'Edy' lirihnya.
Edy, laki-laki prinsipil yang orang-orang melihatnya seorang yang angker, ternyata adalah seorang pemerhati yang sabar, dalam, dan puitik.
Dalam sisi heningnya, Edy memiliki perasaan kepada seseorang. Perasaan yang sudah ia pendam lama tanpa keberanian untuk mengungkapkannya. ialah lembar kanvas, bercarik puisi , dan sekian banyak kutipan kata-kata, apa-apa yang dipilih Edy untuk menyampaikan perasaannya. Semua terungkap di dinding-dinding kamarnya.
menemukan puisi dan kata, orang bisa saja salah duga. Hanya pada akhirnya, tidak bisa tidak, sebab perempuan di dalam kanvas itu tergambar begitu jelas. Adalah dia. Rara Novitri.
'Bagaimana mungkin?' pikir Rara saat ia pertama kali menemukan wajah dan dirinya , baik berbentuk gambar pun berupa kata di dinding kamar Edy.
Dari lukisan, puisi, dan karya-karya Edy di kamarnya, siapapun yang masuk ke sana pasti berpikir bahwa Rara adalah Kekasih Edy. Karena itu pula, Ilham memberi kepercayaan sepenuhnya kepada Rara.
semesta seperti sudah benar-benar menyiapkan semuanya meski tidak ada informasi langsung yang menyebutkan keberadaan Edy. Hanya, di sana, sesuatu yang lain terungkap. Sesuatu yang sebelumnya hanya Tuhan, Edy, dan seisi kamarnya yang tau.
Sepulangnya Rara dari kontrakan Edy, ia merasa sangat bersalah dan terpuruk sendirian. ia tidak tau harus membagi semua kepiluannya kepada siapa. Hingga akhirnya ia menemui Kencing di taman Kampus. Awalnya Kencing mengabaikannya, namun akhirnya Kencing luluh juga.
Setelah kembali pulihnya pertemanan Kencing dan Rara. Rara mencurahkan isi hatinya kepada Kencing di The Corner, Kedai kesayangan Edy. Sejak pertemuan di The Corner, Kencing sering menginap mengawani Rara di rumahnya. Dari situ pula perlahan-lahan Rara ceritakan seutuhnya, seluruhnya, semua yang ia lalui dalam pencarian Edy kepada Kencing.
Kencing yang melepas Rara pergi Ke Gunung Gede Pangrango menyusul Edy, merasa bahwa semua yang ia lakukan adalah murni karena Kencing menyayangi sepasang sabahatnya itu, Edy dan Rara.
__ADS_1
...****************...