Idealisme Pejalan

Idealisme Pejalan
Pulang (I)


__ADS_3

"Jika rumah adalah tempat di mana kita berantusias untuk kembali, tenang, dan berbahagia berlama-lama di dalamnya. Maka pejalanlah yang paling punya banyak rumah. Entah itu bangunan , Gunung, Lautan, atau seseorang"


Alun-alun Surya Kencana Malam hari.


"Terimakasih" kata Rara yang baru saja keluar dan berdiri di muka tenda, ia beberapa langkah di belakang Edy yang kala itu sedang duduk memeluk diri dengan tangannya sendiri di tepi mata Air. "Maaf, aku......"


"Aku gak pingin dengerin argumen apapun" Edy memotong. Ia masih membelakangi Rara. "Istirahatlah. Pulihkan tubuhmu secepat mungkin, lalu kuantar kamu turun" lanjutnya dingin.


Rara melangkah mendekati Edy. Sebuah batu kecil jatuh ke dalam mata air saat ia merendahkan tubuhnya dan duduk di sisi Edy di tepi Mata Air.


keduanya membisu mempersilahkan malam menyampaikan rencana tuhan. Di tengah, bulan berseri memandikan bayangannya sendiri. Membangkitkan suara binatang malam, kecipak air, dan desau angin yang menarikan dedaunan. Sepasang yang melawan, Edy dan Rara, meletakkan diri di malam-malam Alun-alun surya Kencana. Berdampingan.


"Puisi apa yang ada di kepalamu kali ini?"kata Rara lirih.


Edy menolak bicara. pandangannya jatuh di tempat yang sama dengan Rara, di tempat bulan mengapung di tengah mata Air.


Rara bergerak mengubah sedikit letak duduknya. Ia keluarkan sesuatu dari sleeping bag yang menyelimutinya. Mp3 portable Milik Edy ada di tangannya yang tak berhenti bergetar. Rara meletakannya di antara letak duduknya dan Edy. Lagu mengalun , Mustace and beard - Senyum membawa pesan.


"Harum membasahi lubuk hati, merona terbang di atas asaku. Turut bersembunyi di balik saraf senyumku" Rara bernyanyi lirih


"Irama tempo denyut melaju, kencang bergerak melewati ragu" batin Edy meneruskan.


"Turut bersembunyi, di balik kata-kata ku" Rara bernyanyi lirih lagi.


'Sejak kapan Rara suka Mustace and beard?' tanya Edy dalam hati ketika melihat Rara begitu fasih menyanyikan dan mengutip lagu dari mustace and beard.


Meski menikmati lantunan lagu, Edy masih saja membisu. Di mulutnya hanya keluar asap dan suara kopi yang diseruput. Sedangkan Rara terus berkata-kata sendiri, mengulangi lirik-lirik dari lagu yang silih berganti mengalun di antara mereka berdua.


Lagu berganti, lagu dari Fletch - Laraku,pilumu. Seperti sebelumnya, Rara pun masih sama fasih bernyanyi dan Edy masih saja diam serta terus bertanya dan menerka-nerka Rara dalam diam.


"Kusodorkan tanya


Kau tampar aku dengan seru


Sesungguhnya semesta mana yang kau tuju?


Kita dikejar waktu


Dibunuh keadaan


Tersungkur tubuhku


Hanyut dalam buaian" Rara dan Edy bernyanyi bersama sama. Rara dengan suara lirih, sedangkan Edy bernyanyi dalam hati.


Mp3 Edy yang biasanya didominasi lagu-lagu Mustace and beard dan beberapa lagu indiefolk lokal, kini berisi beberapa lagu tambahan. Rara yang menambahkannya. Di dalam hati Edy kerap bertanya-tanya sendiri merespon lagu-lagu yang baru ia dengarkan. Edy menyukai beberapa lagu-lagu baru yang Rara masukkan di MP3 portablenya. Liriknya, musikalitasnya, karakter kental indie yang menyanyikannya, dan sebagainya, sebenarnya itu terus membuat Edy penasaran. Hanya, Edy memilih untuk tetap pada sikapnya, ia tidak ingin terlihat mengakrabi Rara. Ia merasa harus terus merawat sisi dingin dan sinismenya.


Bertanya tentang lagu atau apa-apa terhadap Rara hanya akan membuat Rara merasa nyaman dan membuatnya merasa perbuatannya bisa di maafkan. 'Rara harus tetap merasa bersalah akan keputusannya untuk datang kemari' batin Edy.


Lagu kembali berganti. Banda Neira - Yang patah tumbuh yang hilang berganti. Edy sudah tau mengenai lagu ini, Edy suka. Hanya ia memang tidak memasukannya di playlist entah karena apa. Rara yang menambahkannya.


"Jatuh dan tersungkur di tanah aku


Berselimut debu sekujur tubuhku


Panas dan menyengat

__ADS_1


Rebah dan berkarat" Rara mengulangi lirik lagu.


Edy menggerakkan kepalanya melihat MP3. Rara menangkap kode respon yang diberi Edy.


"Ini yang masukin si Kencing. Dia rindu kamu" kata Rara.


Edy mengembalikan pandangannya ke depan. Belum ada kata dari mulutnya untuk Rara.


Lagu terputus di tengah jalan. Udara dingin membuat baterai mp3 habis lebih cepat. Binatang Malam dan suara alam kembali jadi tuan di rumahnya. Keheningan kembali menguasai sepasang itu, Edy dan Rara.


Edy berdiri dan melangkah masuk tenda. Rara menengok melihat siluet tubuh Edy yang sedang merapikan dan menyiapkan sesuatu di dalam tenda. Tak lama ia keluar dengan segulung matras dan sleeping bag cadangannya di depan tenda. Edy membaringkan tubuhnya di sana.


Rara masih di tempatnya. Bulan tepat di atas kepalanya. Udara semakin dingin. Dari lekukan sleeping bag yang meresengsek ditarikinya, dapat terlihat bahwa Rara melipat kaki dan melingkarkan tangannya di dalam. Giginya beradu menggigil, Rara gemetaran. Tanpa adanya interaksi, Rara tak mampu melawan dingin di tempat yang baru pertama kali ia datangi dan lewati malam-malamnya itu.


Masih di tempat yang sama, di atas batu besar tepi Mata Air, tanpa rencana, tubuh Rara jatuh rebah menggigil. Matanya terpejam, nafasnya pendek tak beraturan, kepalanya pusing, udara dan apa-apa menekan seluruh tubuhnya.


Semakin dingin, semakin Rara hilang kendali atas tubuhnya. Rara merasa seperti melayang, ia bergerak di bawah langit, sesekali ia buka mata, di pandangannya ada kerlip bintang dan awan putih berlayar bergoyang-goyang di awang-awang. Tak lama, tubuhya jatuh perlahan pada suatu tempat di mana langitnya berwarna merah. Siluet sosok bayangan bergerak di atas kepalanya.


"Edy" kata Rara parau.


Tubuhnya menghangat. Kesadaran Rara kembali pulih, ia tau kini seseorang telah membawanya ke dalam tenda. Dua buah sleeping bag bertumpuk menyelimutinya, kakinya kini berkaos kaki dengan balutan kantong plastik di dalamnya.


Edy terus bergerak membenahi Rara. Setumpuk kaos kaos terbungkus dry bag diletakkan Edy di bawah kepala Rara.


Menyadari perbuatan-perbuatan Edy kepadanya, Rara memilih terus terpejam dan tidak mengeluarkan kata. Ia ingin tetap dianggap kedinginan. Dianggap tidak sadar. Ntah bagaimana, ia ingin tangan itu, tangan Edy, terus mengurusinya, terus merawatnya.


Tubuh Rara kembali gemetar, kali ini bukan karena udara dingin yang menyerangnya. Sebuah jari menyentuh pipinya, Edy membenarkan rambut Rara ke samping. Dari interaksi dan cahaya lampu tenda yang memekakan matanya, dalam terpejamnya, Rara tau bahwa Edy sedang menatapi wajahnya. Edy membekukan pandangannya tepat di atas kepala Rara.


lampu berganti menjadi merah redup. Resleting tenda dirapatkan. Edy tidur di luar, di atas matras di bawah bivak flysheet buatannya.


Masih masuk waktu pagi, hanya matahari sudah beranjak tinggi di atas barujari. Edy terbangun dari tidurnya. Sejenak ia terkejut, di atas tubuhnya kini ada sleeping Bag. 'Rara yang melakukannya' pikir Edy.


Edy bangkit dan duduk meregangkan tubuhnya. ia rentangkan tangannya, ia pijit-pijit pundaknya sendiri dan mematah-miringkan lehernya. Dilihatnya sebuah sarapan pagi sudah siap di dekatnya. 'Rara yang melakukannya' pikir Edy lagi. Ia tengok tenda, pintunya terbuka. Rara sudah tidak di dalamnya.


Edy menengok makanan. Rara memasak nasi, mie, dan Tuna. Nasinya tidak matang sempurna. Wajar, memasak nasi di gunung memang harus memiliki teknik tertentu. Angin yang melabilkan besar api kerap kali merusak kematangan nasi. Rara yang baru pertama kali melakukannya di gunung mungkin tidak tau akan itu.


Edy melangkah ke jalur mata air. Ia tenggelamkan wajahnya untuk menyegarkan diri. Tug, tiba-tiba Edy rasakan sesuatu datang mengetuk kepalanya dari atas permukaan air. 'ikan-ikan kecil' pikir Edy.


Edy keluarkan kepalanya. Sebuah kaleng tuna mengambang di dekatnya. Alisnya mengkerut. Ia mengangkat kaleng itu sambil menduga-duga sesuatu.


"Rara!" kata Edy dengan amarah saat ia menemukan bungkus mie instan dalam kaleng tuna yang ia temukan.


Usai mengisi nestingnya di jalur air yang biasanya dihinggapi banyak capung-capung di permukaannya, Edy kembali ke dekat Tenda dengan wajah cukup beremosi. Langkahnya besar, jalannya cepat, air di dalam nestingnya tetumpahan. Di kepalanya sudah tersusun beberapa kata-kata nasehat yang akan ia lemparkan kepada Rara terkait sampah-sampah masakan yang Rara buang seenaknya.


"Oi, Edy.. Jangan lupa makan" Rara berteriak dari kejauhan sesampainya Edy ke tenda.


Edy berdiri memaku dirinya melihat Rara dari kejauhan. Ia tarik dalam-dalam nafasnya. Rara yang nampak sehat dan riang membuat Edy mengurungkan niatnya untuk memarahi Rara.


Edy putuskan untuk mengendalikan emosinya, membangun mood, dan mengawali hari dengan hal-hal baik. Ia nyalakan kompor, memasak air, membuat kopi, dan menghisap rokok. Ritual sederhananya setiap pagi. Bagi Edy, selepas bangun tidur, kopi, rokok, dan duduk dengan rambut basah adalah serangkaian penting yang berdiri setingkat di bawah doa.


Ketika sesapan kopi itu mendarat di mulutnya, emosi negatifnya berubah menjadi ketenangan. Belum lagi setelah ia hisap dalam-dalam tarikan pertama dari lintingan rokoknya. Edy mendapatkan pagi baiknya kembali.


Edy berjalan ke batu tepi mata air. Ia jatuhkan tubuhnya ke batu. Ia masukkan tangannya ke dalam air untuk mengundang ikan-ikan kecil datang.


"Selamat pagi, ikan ikan bahagia" katanya sendiri.

__ADS_1


Aneh, di dalam air, pagi itu hanya ada pantulan wajahnya. Ikan-ikan kecil yang biasanya mau bermain-main dengan tarian jemarinya,pagi ini tidak ada satupun menampakan wujudnya.


Edy berpindah tempat ke batu lainnya. Ia mainkan lagi jemarinya. Hanya, sama, tidak ada ikan-ikan kecil di sana. Edy menduga-duga sambil menatapi wajahnya sendiri di dalam air. Daun-daun gugur dan ilalang-ilalang mati yang terdorong angin lewat berulang kali menghiasi pantulan wajah Edy di dalam air. Tak lama, segumpal buih putih mengalir pelan di depan matanya. Edy menyentuh dan memindainya.


"Sabun?" Edy terkejut.


"Ed.." Rara memanggil. Edy berdiri di atas batu memperhatikan Rara. "Aku sudah cuci semua pakaian mu..." teriak Rara lagi.


Edy memfokuskan perhatiannya. Dilihatnya Rara sedang memotong-motong pohon kecil, beberapa sudah dijadikannya tihang jemuran apa adanya. Mata Edy terbelalak menyaksikan semuanya, Emosinya terakumulasi. Tertebak, Rara tak bisa tertolir.


Dengan penuh amarah ia berjalan menghampiri Rara.


"Perempuan nomor satu di kampus!" kata Edy yang semakin mendekat ke tempat Rara.


"Apa, Ed?" tanya Rara.


"Mahasiswa dengan IPK nyaris sempurna! Ketua organisasi ternama!" Edy berkata-kata dengan sindiran dan sinismenya khasnya yang kental.


Rara belum mengerti. Ia terdiam memikirkan sesuatu, feelingnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Bodoh!" Edy merebut tramontina dari tangan Rara. "Tahu kau kenapa aku sangat membenci kampus?"


"Edy??" Rara melembut takut.


"Sebab cetakan terbaik mereka adalah orang-orang bodoh seperti kamu!" Edy menunjuk Rara dengan tramontinanya. "Perusak yang tak pernah merasa merusak. Pembunuh yang tak pernah merasa membunuh. Orang-orang bodoh yang merasa pintar sebab ijazah menuliskannya begitu."


Ia bergerak meraih pohon-pohon yang dipotong Rara. Ia lemparkan semua cucian-cucian di sana ke tubuh Rara yang masih berdiri terpaku takut. Edy bersihkan buih-buih sabun yang masih bisa ia angkat dari air. Dengan mulut yang terus berkata-kata dan menghujam perasaan Rara, Edy benahi semua kekacauan yang dibuat Rara.


Edy benar-benar marah. Ia diijinkan untuk tinggal di Surya Kencana berhari-hari oleh Pak Agus dan kawan-kawannya, karena Edy dianggap dapat menjaga konservasi Lingkungan dengan wawasan dan idealismenya. Edy menganggap perbuatan Rara benar-benar telah merusak hubungan baiknya terhadap alam Gede Pangrango.


Rara yang takut dan sedih, berjalan menuju tenda untuk menghindar dari amarah Edy. Ia tau kesalahannya. Hanya, ia tak tau harus berbuat apa. Di dalam tenda ia hanya tidur dan menangis. Hari itu, Edy benar-benar tidak memperdulikan Rara. Hingga sore tiba, belum ada kata di antara mereka berdua.


Malam Hari


Edy membuatkan Rara makanan. Dibukanya sedikit pintu tenda, dimasukkannya sepiring makanan buatan Edy, buah-buahan, dan secangkir kopi untuk Rara. Setelah itu, Edy kembali ke tempatnya yaitu ke bivak depan tenda.


Tidak ada bulan mengapung di tengah mata air. Di langit, di pucuk, pun di balik rerimbunan, tidak ada bintang berkerlipan. Gede Pangrango muram malam itu. Langitnya hitam kelam. Angin kencang menerbangkan apa-apa yang tak kuat berpegangan. Surya Kencana gelap. Gerimis yang jatuh puitis kini berganti jadi hujan yang memendam dendam.


Hujan badai jatuh di Surya Kencana malam itu.


Edy bergegas mengambil tramontina. Dari dalam tenda, flash kilat dari langit memperlihatkan kepada Rara bayangan Edy yang kehujanan membuat parit memutari tenda, sebuah teknik membuat jalur aliran buatan agar air hujan tidak menggenangi area tenda.


"Edy, masuk tenda!" Rara mengeluarkan kepalanya dari pintu tenda. Rambutnya berembun seketika oleh sapuan hujan.


"Kamu masuk Rara! Hujan badai. Tidur yaa" balas Edy yang sudah basah kuyup diterjang hujan.


Parit selesai. Edy membuka tenda. Rara bahagia akhirnya Edy mau masuk tenda menemaninya.


"Tolong Rara, ambilkan flysheet sama pasak di bawah carrier pojok sana. Di pack oranye tulisannya Lifewalker" kata Edy. Rupanya ada yang belum selesai dikerjakannya di luar tenda. Edy melapisi tenda Rara dengan Flysheet. Sebenarnya tendanya sudah double layer, hanya Edy merasa hujan badai cukup besar. Ia benar-benar ingin memastikan tenda dimana terdapat Rara di dalamnya, aman dari terjangan hujan badai malam itu.


Satu jam berlalu. Edy tak juga masuk ke tenda. Setelah hujan reda, Rara keluar memastikan keberadaan Edy. Rara menemukan Edy tertidur di sisi batu besar dengan bivak yang ia pindah dan ubah bentuknya menjadi lebih rapat dan tertutup.


Terjaga sendirian di luar tenda membuat Rara merasa tak nyaman. Rara tinggalkan Edy yang sudah tertidur di bivaknya. Dan Rara kembali ke tenda.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2