
"Doa itu di mana-mana. Doa-doa mengisi alam semesta. Ada di hutan-hutan rimba, ada di letusan gunung. Ada di gemuruh badai yang menggila."
(Kutipan kata-kata dari musisi iksan skuter)
...----------------...
Malam hari Di Alun-alun Surya kencana, Edy mendirikan tenda dan ia tertidur di dalam tenda tersebut. Dalam isi mimpinya, Edy bermimpi indah tentang Rara , seolah bahwa Rara adalah kekasih Edy di mimpi tersebut.
Angin masuk menusuk tubuh Edy. Udara semakin dingin sesaat sebelum akhirnya Edy membuka matanya kembali. Merah lampu tenda menyapanya. 'Hah??' batin Edy terkejut. Di pundaknya, Yasmine membaringkan kepalanya.
"Yasmine?" Edy kaget. Spontan ia geser tubuhnya ke belakang. Yasmine tetap dalam lelapnya sambil sesekali membenahi letak kepalanya.
Edy hembuskan nafasnya kencang untuk mengembalikan sadarnya dari mimpi indah bersama Rara yang baru saja terjadi di tidurnya. Ia bertanya-tanya sendiri sambil memandang langit-langit tenda.
Edy bangkit, duduk, dan melipat lututnya merapat ke tubuhnya. Ia peluk tubuhnya sendiri kuat-kuat.
"Rara" kata Edy lirih.
........
Di luar tenda. Hamparan tanaman Bunga edelweis cantik di pangkuan Surya Kencana Gunung Gede Pangrango malam hari. Berbaris pohon, bunga, dan rerumputan berdandan dan berkaca di pinggir-pinggirnya.
suara air terjun di balik perbatasan sana melagu lebih merdu dari biasanya, mengiri angin mengusapi tidur hutan.
Edy keluar tenda. Di dekat api unggun, sesapan kopi panas dan 1 batang rokok di tangannya, ia pecahkan kebekuan di pikirannya.
"Pesta purnama belantara sedang berlangsung di Surya Kencana" kata Yasmine. Ia menyusul Edy keluar tenda.
Edy tersenyum mengapresiasi kata-kata Yasmine. Yasmine mendekat. Disambutnya secangkir kopi yang ditawarkan Edy.
"Maaf" kata Yasmine.
Edy membeku kembali seketika. Yasmine bicara seperti Rara berbicara dalam mimpinya. 'Maaf?' batin Edy.
Dalam gerak yang sangat perlahan, Edy tolehkan kepalanya menghadap Yasmine. 'Ahh, perempuan di sampingku kali ini Yasmine, dan ini nyata'. batinnya.
"Edy" kata Yasmine lirih sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah melamunnya Edy.
Edy mengembalikan kesadarannya.
"Maaf, aku pindah ke tendamu" kata Yasmine lagi.
"Ohh, gak papa santuy"
"Semalam aku sangat kedinginan di dalam tenda"
"Wajar, angin lg berhembus kencang"
"Aku berpikir kalau aku saja yang di dalam tenda kedinginan seperti itu, bagaimana Pak Agus yang tidur dengan bivak sederhana kayak gitu. hanya pakai sarung tanpa sleeping bag pula" jelas Yasmine sambil menunjuk tenda tradisional yang kerap dibuat porter Gede Pangrango seperti Pak Agus.
"Ohh, jadi sekarang Pak agus di tendamu?"
"Iya, aku keluar dan meminta Pak Agus pindah ke tendaku. Kemudian aku pindah ke tendamu" jelas Yasmine lagi.
"Iya, gakpapa,Yasmine. Santai aja"
"Iya makasi. Aku perlu merasa malu untuk mengklarifikasi ini. Takutnya..." Yasmine menahan dan memanjangkan ujung kalimatnya. "Ada yang marah" lanjutnya.
"Hahaha. Aku sendirian,Yash. Tidak ada yang peduli aku ada atau tiada. Apalagi hanya sekedar setenda dengan siapa-siapa" Edy menjelaskan agar membuat nyaman Yasmine.
"Lantas Rara?? tanya Yasmine.
"Hah?" dan lagi Edy terkejut.
"Rara. Kau mengigau memanggil-manggil nama itu berulang kali dalam tidurmu" Yasmine memperjelas pertanyaan.
"Rara" kata Edy lirih.
...***...
The Corner, Bandung. Kedai para pejalan.
Rara menghabiskan malam di kedai kesenangan Edy. Waktu sudah sangat larut untuk seorang yang teratur seperti Rara, hanya ia mulai terbiasa dengan pola hidupnya yang baru ini. Terlebih, sejak ia memutuskan untuk memaksa diri menjadi pribadi yang gemar membaca.
'Kejahatan dan kesia-siaan ada, sebab manusia tidak sibuk dengan Kopi, Buku, dan Cinta.'
Rara membaca kutipan di atas lemari buku-buku yang di sediakan Kedai. Rara tertawa sendiri, tawanya tawa setuju. Dari Kang Yana, pemilik kedai sekaligus kawan dekat Edy, Rara Tau bahwa itu adalah kata-kata Edy. Kang Yana bercerita bahwa desain, referensi buku-buku dan lagu-lagu yang diputar di kedai ini pun katanya adalah konsep Edy.
The Corner memang tempat yang nyaman dan otentik. Dari The corner pula Rara mengenal kopi selangkah lebih dalam, tepatnya dari edukasi yang diberikan Kang yana pada beberapa pengunjungnya, termasuk Rara. Kepekaannya terhadap kopi meningkat. Ia telah mengerti kenapa Edy dulu menolak kopi yang diberikannya dan malah memberikannya ke Dani Pitak.
'Bicara kopi memang bicara selera, namun kalau mau menikmati dengan lebih filosofis, kita akan menyadari bahwa kopi yang terlalu manis atau terlalu banyak gula bisa membuat sisi otentik dari kopi menjadi hilang' jelas Kang Yana pada suatu ketika.
Selain belajar kopi, sudah tentu Rara belajar tentang Edy. Rara merasa bahwa The Corner adalah Edy dalam bentuk lain. Kopi, Buku, dan Cinta. Tiga kata Untuk The Corner dan Edy. Rara merangkumnya dari Kang Yana. Makin banyak hal diceritakan Kang Yana seiring Rara yang belakangan makin sering datang ke kedai itu.
Setelah seseruput Gayo arabika menyentuh langit-langit mulutnya, sambil menunggu Kencing yang katanya mau datang menemani, Rara duduk di bangku dekat kasir. Di bawah lampu yang temaram yang pas untuk membaca, ia buka lagi catatan dari Blog sosmed Edy.
Sebermula adalah Ngopi
"Seorang yang oleh tuhan diberi anugrah berupa antusiasme berkegiatan alam atau kepekaan untuk dapat mendalami nikmatnya Rokok dan kopi, tidak ada alasan untuk ia tidak mencintai Nusantara"
Rara meraih cangkirnya. Ia persiapkan diri untuk membaca sesuatu yang menurutnya sangat menarik, 'Sangat Edy' batinnya.
Assalamualaikum
adalah kopi dan alam, beberapa hal selain rokok, yang dapat mempersatukan satu orang dengan orang lain. Terutama para pejalan. Itu adalah sebuah trigger diskusi dan keakraban, sebuah alasan untuk hidup bersama dan sederhana, menembus batas yang diciptakan harta, usia, dan tahta..
Kali ini aku mencoba untuk menulis bukan pada cita rasa, efek rangsangan, kadar senyawa, teknik penyajian, dan lain sebagainya. Tagline di atas hanya pemanis kecil untuk catatanku yang mungkin akan terasa sedikit pahit. Disini aku akan lebih dominan tentang ngopinya. Betapa ketika kita ngopi tidak sekadar kita menikmati dan bicara kopi. Sebab 'Ngopi' kini adalah lebih dari sekadar minum kopi. Ngopi, terutama di warung kopi, orang bisa saja dia memesan Lemon tea, coklat, dan sebagainya. Namun tetap saja kita melabeli itu dengan sebutan ngopi. Ngopi adalah tradisi, adalah pertemuan, sosialisasi, silaturahmi, di dalamnya. Sangatlah mungkin tercipta obrolan hangat yang bersifat individual maupun universal.
Lihat apa yang telah dilakukan kopi pada orang-orang di dunia.
Dari kampung hingga kota besar, ngopi di warung kopi adalah sebermula tersampaikannya opini-opini pemilihan RT, kepala Desa, dan mungkin juga presiden. Dari sana juga lobi-lobi transaksi jual beli dan politik bisa tercipta. Tugas-tugas akademik dirampungkan, sosial di gerakkan, gagasan-gagasan tentang perubahan hingga mungkin revolusi digelar di dalamnya.
Lebih dekat, Bandung di 2009. Para pegiat sastra membentuk sebuah wadah kajian sastra bernama kopi sastra, sebuah wadah pegiat sastra berkumpul bersama untuk tidak lagi sibuk dengan bulan, bintang, dan amarahnya sendirian, mereka bersama membangun penerbitan, gagasan, aktif dan peka menanggapi masalah sosial melalui sastra. Di kota yang sama, 2009. Para pejalan dari berbagai atribut datang berkumpul di warung kopi. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya operasi bersih-bersih gunung bersama tercipta sebagai solusi awal yang berkelanjutan.
Mereka para pejalan melakukannya bersama-sana. Warung kopi memiliki andil untuk membuktikan bahwa anggapan para pejalan selalu sibuk dengan atributnya masing-masing, adalah anggapan yang salah. Lewat ngopi, mereka menciptakan semacam sekre bersama di warung-warung kopi.
__ADS_1
Ngopi dan berperjalanan adalah manifestasi kemerdekaan para pejalan.
Pejalan. seorang yang menghargai perjalanan atau proses yang ditempuh untuk mendapatkan sebuah nilai atau value tertentu. Sama seperti kopi. Pahit, manis, dan asam bertemu di dalamnya. Ia, baik kopi maupun pejalan, melewati perjalanan panjang yang kompleks, berkelanjutan, saling terhubung, otentik, dan menyebar ke seluruh penjuru negeri. Berperjalanan dan ngopi memiliki satu kesamaan lain, yaitu candu.
Kita yang berkumpul dan ngopi pada hari senin malam adalah sebuah tamparan bagi mereka yang lembur dan dipaksa patuh pada mekanisme globalisasi. Kita yang berpacking dan siap berperjalanan di kamis atau jumat sore adalah sebuah tamparan lainnya bagi mereka yang masih di meja kerja bergelut dengan deadline sebelum sabtu tiba. Ya, ngopi dan berperjalanan adalah manifestasi kemerdekaan para pejalan. Menurutku.
Mari kita manifestasikan lebih baik lagi kemerdekaan kita sebagai pejalan dengan berkumpul ngopi menciptakan gagasan-gagasan baik untuk lingkungan dan kehidupan yang lebih manusiawi.
Ingat, kebaikan bukan hanya terjadi karena ada niat pelakunya, tapi karena ngopi bersama, hehehe..
Salam satu cangkir. Salam lestari.
wassalamualaikuk wr wb.
Rara membaca catatan Edy dengan sangat khusyuk. Ia seakan mampu menghadirkan bayangan Edy di dalam kepalanya. Sesekali Rara ulangi lagi beberapa di catatan Edy untuk memantapkan Rara dalam menangkap maknanya.
Hingga akhirnya datanglah Kencing. Dengan mengendap-endap dari belakang Rara yang duduk membelakangi pintu, Kencing lingkarkan kedua tanggannya menutup Mata Rara.
Kencing mengunci rapat-rapat mulutnya untuk menjaga kesenyapan, matanya menangkapi rambut halus Rara, secangkir kopi di meja, dan........
"Raraaa!" kata Kencing sambil melepaskan tanggannya dari mata Rara.
melihat catatan-catatan Edy di meja Rara. Justru Kencing yang kaget saat itu. Kencing beranjak duduk di kursi kosong depan Rara, ia tundukan kepalanya dekat-dekat ke sebundel catatan kertas yang tak lain adalah catatan Edy yang di print oleh Rara.
"Ini skripnya atau apalah namanya punya Edy ini, kamu baca semua?" kata Kencing seperti orang awam.
Rara tersenyum mengangguk-angguk menanggapi Kencing. Kencing memangku kepalanya dengan tangan di atas meja, ditatapnya Rara dengan decak dan senyum yang yang mencurigakan.
"issshh, Kencing. Udahlahh, kayak apa aja" kata Rara sambil mencoba merapikan beberapa catatan Edy yang berserakan di mejanya.
"Pesan Sana, Cing. close order sbntar lagi soalnya" katanya lagi.
Seusai memesan dan sedikit berbincang dengan Kang Yana di kasir, Kencing kembali ke meja Rara. Mulanya, keduanya masih kaku, saling menukar rasa maaf atas sikap saling diam yang sempet terjadi di antara mereka. Seiring malam berjalan, keduanya mengalir dan mengobrol dengan hangat. Mereka saling bertukar cerita untuk saling membahagiakan. Dan keduanya saling mendapatkan kebahagiaan itu.
Pengunjung kedai tinggal beberapa orang, di jeda pembicaraan mereka, lagu Banda neira yang berjudul sampai jadi debu, mengalun mengisi keheningan.
"Asemm, Aku kangen Edy" kata Kencing pada Rara seketika ia ingat Edy mendengarkan lagu di The Corner.
Rara mengangguk setuju, sebab Rara pun tau lagu-lagu kesukaan Edy. MP3 portable Edy masih ada padanya. Rara mendengarkan semua isi lagu di dalamnya. Beberapa sama seperti lagu-lagu yang di putar di The Corner.
lagu lagu Banda Neira , Float, Fourtwnty, iksan skuter, fletch, mustache and bear dan efek rumah kaca, dan beberapa lagu dari musisi-musisi mandiri yang menolak tunduk pada pasar-pasar yang mendikte musikalitas dan karya mereka, ada di Mp3 Edy.
Sebenarnya tidak hanya itu saja lagu-lagu yang di dengarkan Edy. Baik indie maupun major, baik lokal maupun luar, dalam memaknai sebuah lagu, edy masuk ke dalam, menyelami musikalitas, lirik, dan segenap proses di balik lagu itu tercipta. Dan ia suka.
Rara ingat kata-kata Edy di Blog sosmednya,
Berproses adalah belajar dan belajar adalah berproses. Lagu diciptakan untuk sebuah alasan. Orang yang menyukai lagu, ia akan belajar mengapa lagu itu ada dari liriknya, dari jenis musiknya, dari penyanyinya, dan lebih dari itu dari penciptanya. Tidak ada lagu yang lebih baik dari lagu lainnya. Kesamaan itu adalah, dia tercipta karena suatu alasan.
Masih dengan iringan lagu-lagu The Corner yang sarat Edy, Rara berdiri dan berjalan memperhatikan frame-frame foto perjalanan yang terpajang di sekeliling ruang The Corner.
Rara tolehkan wajahnya ke Kencing. Ada yg masih ingin kencing katakan, pikirnya.
"Edy" kata Kencing lagi. "Semua frame di ruangan ini adalah Edy, meski tidak terlalu memperlihatkan wajahnya, hanya , semua ini adalah dokumentasi Edy" lanjutnya.
Rara dan Kencing kembali duduk. Rara tundukan kepalanya. Kencing buka genggaman tangan Rara yang merapat. Ia genggam jari temannya itu. Dari sikap Rara, Kencing membaca sesuatu ada yang Rara sesali. Kencing mungkin sudah tau beberapa hal, hanya kali ini ia merasa wajib membuat nyaman Rara agar Rara mau mencurahkan smua permasalahannya.
Dan jadi, Rara bercerita.
"Baiklah akan ku ceritakan apa yang sbenarnya terjadi. Aku gak peduli jika selepas ini kamu akan menghinaku atau apa" kata Rara kepada Kencing.
"Baiklah, cerita saja. Lepaskan semuanya. Aku tau apa yang harus ku lakukan padamu nanti" Kencing menanggapi.
"Pagi itu aku berjalan dari parkiran menuju kelas Bu Diah bersama Edy. Sebelum kelas di mulai. Willy menarikku ke luar kelas, dia pingin bicara. Yaudah aku turuti.
Willy menyudutkan aku, ia hujani aku dengan begitu banyak pertanyaan masalah aku menghilang. Willy gak tau perihal aku sakit dan dirawat.
Aku tau tau Willy menyukaiku. Dan sebab seisi kampus telah melihat aku datang dan berjalan bersama Edy, Willy marah. Willy mencoba menyadarkan aku dengan terus menerus menjelekkan nama Edy. Dikatakan oleh Willy bahwa Edy itu urakan, pemberontak, tukang buat onar, dan lain sebagainya. Aku gak begitu mendengarkannya sebab ku kira semua yang keluar dari mulutnya semata hanyalah pandangan dari seseorang yang cemburu dari seorang laki-laki.
Sejujurnya aku rindu kepada Willy dan kawan-kawan lain. Aku sangat butuh dukungannya untuk bertahan di situasi yang gila itu. Hanya, seharusnya Willy tidak perlu menghitamkan nama Edy di depanku kek gitu. Sebab, antara aku dan Edy memang tidak memiliki hubungan apa-apa.
Melihatku tidak begitu mendengarnya, Willy memanggil Sarah. Ketika Sarah datang, ia diminta Willy untuk bercerita sesuatu. "To the point aja,Sarah. Kita gak punya banyak waktu" kata Willy pagi itu.
"Edy pemabuk berat" itulah kata pertama yang diucapkan Sarah. Mataku terbelalak. Katanya, seisi kampus tau bahwa Edy itu kerap mabuk-mabukkan di depan sanggar. Willy dan Sarah tau betul kebencianku terhadap pemabuk.
Diungkapkan Sarah lagi bahwa kang krisna, mantan ketua HMJ sebelum aku, pernah di pukul Edy yang mabuk , itu Edy lakukan di tengah lapangan saat kompetisi futsal antar UKM dan HMJ.
Pagi itu, Bu Diah keburu datang. Akhir kata, Willy dan Sarah mengatakan bahwa mereka ingin menyelamatkan aku dari semua permasalahanku ini. Setelah itu pun, aku kembali ke kelas.
di kelas, perkataan-perkataan Willy dan Sarah berhasil membuatku sedikit takut dengan Edy. Telah kutempeli stigma di tubuh laki-laki yang duduk di sebelahku itu.
Hingga akhirnya, terjadilah momen itu. Bu Diah marah sebab aku dan Edy yang telah dicoret dari absensi ternyata berani menulis ulang namanya lagi dengan pulpen.
Saat itu aku dan Edy hendak diusir dari kelas, Willy berdiri membelaku. Willy katakan bahwa semua adalah perbuatan Edy. Willy terus menyudutkan Edy dengan tuduhan-tuduhannya. Ia bicara layaknya pahlawan tanpa rasa takut, terlebih setelah hampir seisi kelas mendukung pernyataannya.
Bu Diah bertanya padaku, 'Apakah benar semua yang dikatakan Willy?' aku terdiam. Aku bener bener bimbang. Jujur, sebelum willy mengajakku ke luar pagi itu, aku udah mulai nyaman berdekatan dengan 'Penculikku' itu. Semacam sindrome jatuh cinta.
Hingga akhirnya Sarah mendekatiku dan memelukku. Dibisikkan aku olehnya 'Ibu nelfon aku, Rara. Dia khawatir dan menanyakan kabarmu padaku. Aku jawab padanya bahwa kamu baik baik aja, aku bilang bahwa kamu hanya sedang sibuk belajar dan fokus membanggakan ibu'.
'Sempurna betul keadaan itu. pertama mereka hancurkan respekku pada Edy, kedua mereka bawa ibuku ke telingaku.
Tak lama. Bu Diah ulangi pertanyaannya lagi tentang apakah benar smua yang dikatakan Willy. Aku buka mulutku dan berkata, 'iya, benar. Ini semua perbuatan Edy'. Baik kehancuran Edy,pun kehancuranku," Rara menutup ceritanya dengan mata merah bergelinangan air mata.
Mendengar cerita Rara, Kencing terdiam beberapa saat. Ia sandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Seenggaknya kalau emang kamu mau ninggalin aku, Cing. Seenggaknya ga ada dusta dan tanya yang aku simpen," Air mata Rara menetes di pipinya. "Dan sekarang aku terima apapun yang ingin kamu lakuin ke aku," kata Rara lagi.
Kencing bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Rara. Rara menunduk dan memejamkan mata. Ia kuatkan dirinya baik-baik. Ia sudah tau ini akan terjadi. Kencing akan membencinya.
Keheningan kembali diisi oleh lagu The Corner.
__ADS_1
lalu, seseorang mendekati Rara.
"Gayo arabika, mbak Rara" kata seorang pegawai The Corner sambil meletakkan secangkir kopi di meja Rara.
Tangis Rara mereda, ia bingung dan bertanya-tanya sendiri. 'Siapa yang pesan kopi?' batinnya. Kencing datang dari arah pintu toilet dan berjalan kembali ke meja Rara.
"Masalah selalu ada, akan aku selesaikan satu, dua,tiga masalah dan lain sebagainya. Hanya, pertama, kopi dulu. Edy sering bilang begitu kalau lagi dapet masalah hehehe" kata Kencing sambil tersenyum. Dipegangnya dengan lembut tangan Rara.
sekali lagi Kencing buktikan apa itu 'tidak palsu'. Ia tidak kemana-mana, ia tetap di sana bersama Rara. Menghibur, mengawani, melakukan hal hal yang dulu Edy lakukan pada kawan-kawannya yang bersedih.
"Terimakasih Kencing" kata Rara,terharu.
"Aduh Edyyy. Apa yang udah kamu lakuin pada mahasiswa terbaik di kampus kita ini" kata Kencing Gemas. Ia hadapkan kepalanya ke langit-langit The Corner. Rara yang sedang menyeruput kopi, tersedak mendengarnya.
"Edy" kata Rara pelan.
"Tapi..." Kencing ayunkan kepalanya ke hadapan Rara.
"Setelah semuanya. Kenapa kamu bersedih? Kenapa kamu nangis? Liat, namamu kembali pulih, posisimu di HMJ aman, semuanya sudah kembali seperti semula" Kencing penasaran.
"Aku pikir masalahnya gak akan serumit ini. Pikirku Edy hanya akan di usir dari kelas Bu Diah. Aku merasa bersalah" kata Rara.
"Baiklah, ceritakan lagi. Aku disini" Kencing mengubah letak duduknya. Meyakinkan Rara bahwa Kencing tidak bosan mendengarkan cerita Rara.
"Aku merasa bersalah. Beberapa hari setelah kejadian itu, aku mencari Edy. Selain ingin mengembalikan MP3 portablenya, aku ingin minta maaf kepadanya. Hanya, ya seperti dan sampai dengan hari ini. Aku tetap gak tau dia dimana. Tidak ada yang tau.
Semakin aku mencari Edy, semakin aku bertemu dengan banyak orang-orang yang memberikanku perspektif baru tentang seorang Edy. Dari mereka, aku mendapatkan gambaran sosok Edy yang lain, sosok berbeda dengan apa yang kudapat dari perspektif kawan-kawan HMJ dan mayoritas dosen-dosen kampus.
Dari perspektif yang baru itu, aku bertanta-tanya sendiri, apakah semua yang dituduh Willy, Sarah, dan Kampus kepada Edy adalah benar adanya? Entah mengapa, hati kecilku menolak percaya"
"Baik" Kencing memotong cerita Rara. "Rasanya ini waktu yang tepat untuk aku bicara. Terkait Edy" kata Kencing lagi. Di kepalanya terdapat banyak klarifikasi yang ia ceritakan pada Rara.
"Iya Cing. Aku mendengarkan" balas Rara.
"Satu. Edy urakan. Standar urakan atau tidak urakan itu seperti apa sih? Salah jika tolak ukurnya hanya dilihat dari gaya atau caranya berpakaian. Aku gak tau apakah Edy menulis ini di Blog sosmednya atau enggak, tapi yg aku tau, Edy sangat membenci kemunafikan. Sebagaimana juga aku. Aku lebih memilih tampil urakan, atau seenggaknya yaa tampil apa adanya lah. Tapi satu, hatiku rapih, hatiku klimis, tidak kering. Itu cara kami menampari kemunafikan yang lalu lalang di mana-mana.
Kami lebih memilih mengutamakan jiwa. Ya iya, bagusnya sih jiwanya bagus, badannya bagus. Tapi lantas bukan berarti standar urakan hanya dari badan,kan? Aku setuju sama kata-kata Edy yang ini, bahwa badan atau bentuk pasti musnah, gedung bisa runtuh, ijazah bisa dibakar, kecantikan bisa menua. Sekali lagi, bentuk pasti musnah.
maaf ya, Rara, kalau aku terlalu menggebu-gebu. masalahnya aku juga banyak di judge sebagai anak urakan euy, jadi argumenku mungkin sangat mewakilkan, hehe" Kencing mengatur suasana.
"Ga masalah. Teruskan lagi" Rara antusias.
"Oke ,yg kedua. Tentang Edy yang pemberontak. Kata pemberontak terdengar lumayan agak gimana gitu ya. Hanya, kita perlu tau juga, perlu pelajari, seseorang dilabeli pemberontak itu karena apa?? Apa yang ia berontak?
Edy menurutku fine fine aja. Cari tau deh apa yang ia berontak, pasti pada akhirnya kamu malah ikut setuju kepadanya, mengawaninya, berpegangan tangan dan turut dalam satu barisan berontak bersama.
Di kampus kita, satu-satunya orang yang ikut Demo ke jalan cuman Edy. Dia bergabung dengan temen-temen UIN, Unisba,dll. Apa yang ia demo? Apa yang ia berontak? Bbm naik, rakyat susah, dia berontak. Munir , marsinah, wiji thukul gak pernah jelas kasusnya, dia berontak.
Nah kalau bukan kita yang terpelajar ini, lalu siapa yang berani berontak? Semua yang Edy lakukan adalah bentuk sikapnya sebagai seorang terpelajar. Selama ini kita di kampus dibentuk pandangannya agar hanya mikir kuliah, belajar yang bener, nyenengin orang tua, dan lain sebagainya. Dengan kuliah yang bener katanya kita membantu pembangunan negara, sangat normatif, bullshit.
terakhir, di kasus si Anying. Edy salah apa? Edy berontak karena haknya diusik. Kalau Edy salah dia pasti diem, tapi kalau dia bener masa iya tetep diem. Si anying bawa sentimen pribadi ke dalem kelas, mana bisa itu didiemin. Seseorang harus berontak dan harus melawan.
Terus selanjutnya. Edy pemabuk berat dan tukang buat onar" Kencing menggaruk-garuk kepalanya. "Yang ini aku bingung jelasinnya nih" kata Kencing Lagi.
"Aku udah di jelasin Kang Yana kok" kata Rara.
"Iya , Kang Yana kan pembina teaternya Edy di kampus. Dia tau banget Edy" Kencing tersenyum lega. "Gimana katanta?"
"Edy pemabuk berat, sulit membantah itu, kata Kang Yana. Dulu Edy memang hobi minum Amer. Edy kan aktif kegiatan kesana-kesini, hoby nge Band bikin lirik lagu dan hoby menulis. Katanya dulu kalau Edy ga minum tuh mentalnya gak keluar, inspirasinya gak ada. Dan karena Edy hampir setiap hari berkesenian, maka hampir setiap hari juga dia minum" jelas Rara.
"Lucunya nih. Edy minum ya minum, tapi denger adzan dia masuk ke mushola. Shalat. Sumpah. Aku gak bohong haha. Gila emang dia " kata kencing.
"Aduh Edy. Memang ya haha" Rara gemas sendiri. "Dan kata Kang Yana, puncak kegilaan Edy minum adalah ketika kamar kosannya kemalingan"
"Oh iya, semua anak UKM bawah tau banget kayak apa gilanya Edy di jaman itu" sahut Kencing.
"Kata Kang Yana, Laptop Edy yang paling berharga hilang. Bukan harga fisik Laptopnya, tapi data-data di hard disknya. Di sana, tersimpan data novel yang sudah hampir ia terbitkan, selain itu disana juga ada foto-foto, dan catatan-catatannya dari pertama kali ia gemar nulis" jelas Rara.
"Aku gatau sampai sedetail itu sih, cuman kata temen kosnya. Pas tau kamarnya kemalingan, Edy tuh cuman diem, abis itu jalan keluar minta dianterin temennya. Temennya pikir dia mau ke kantor polisi, eh ternyata. Dia beli Anggur merah. Haha. Memang Annjingg si Edy pas jaman itu" kata Kencing sambil tertawa.
"Hingga akhirnya Edy berhenti minum. Kamu tau, cing?" tanya Rara.
"Sebab harga anggur merah melonjak tinggi, naik dua kali lipat dari harga biasanya" jawab Kencing.
"Kencingg!" Rara tertawa lepas. "Serius karena itu?"
"Kebanyakan anak-anak berhenti minum karena itu, hehe." jawab Kencing santai. "Selain takut sama aku, Pejuh berhenti minum juga karena itu" Lanjut kencing.
"Kalau kata Kang Yana mah, Edy berhenti minum sejak ia merasa tuhan sayang sama dia" kata Rara.
"Ya gimana tuhan gak sayang. mabok aja si Edy tetep shalat. Tetep inget tuhan. Kurang gila apa itu anak" Kencing meledek.
"Haha, bukan itu, Cing"
"Terus?"
"Aku di ceritain. Berawal dari ketika Edy sedang sedih, dan akhirnya ia memutuskan berperjalanan ke gunung Puntang. Sendirian. Di lereng dia ketemu dan ngobrol sama petani kopi di sana, dia ditawarin kopi apa ya namanya..."
"Puntang? Sahut Kencing. "Kopi Puntang".
"Nah iya, kopi puntang" Rara melanjutkan ceritanya. Varian yang arabika, kata bapak yang ngasih, kopi ini bisa ngilangin rasa sedih kalau yang minum mau mendalaminya dan diminum tanpa gula. Edy coba, tapi dia cuma dapet pahitnya. Edy penasaran, dia merasa bapak petani itu ga mungkin bohong, bahkan katanya di setiap suruputnya kopi arabika itu katanya ada rasa buahnya, ada rasa tanahnya, kayunya, dan lain sebagainya.
Edy yang memang katanya orangnya serba pengen tau, dia bawa pulang tuh kopi arabikanya. Setiap hari dia biasakan diri dengan rasa pahitnya, terus, terus, dan terus dia asah kepekaan lidahnya untuk mendalami seluk beluk rasa kopi. Hingga akhirnya lama kelamaan Edy sampai di titik itu. Titik dmna ia merasa semua efek yang dulu diberikan oleh alkohol, kini ia dapatkan berkali-kali lipat dalam secangkir kopi. Candunya beralih. Sejak itu, kopi harus selalu ada ketika Edy Menulis, bermusik, berkesenian dan lain sebagainya. Kalau gak ada, buntu katanya. Persis seperti yang dulu alkohol lakukan pada dirinya.
Itulah kenapa Edy bilang, selain dapat bermain musik dan gemar membaca buku, mendapatkan kepekaan untuk dapat mendalami nikmatnya kopi adalah anugerah tuhan. Adalah bentuk cinta tuhan agar orang sisa-sisa yang seperti Edy itu, betah di kehidupan yang semakin memuakkan ini" Rara mengakhiri ceritanya tentang Edy dan kopi
"Kamu kok tau Edy banget sih?" Kencing heran.
"enggak" Rara merentangkan tangan dan membuka jari jarinya. "Aku diceritain Kang Yana" Rara mencoba ngelès.
"Terus kamu tau tentang cerita Edy mukul Kang krisna waktu futsal?" tanya Kencing
"Dikit, gimana emang?"
"Kang Krisnanya emang tengil sih. Ketika Edy memukulnya, sebenarnya dia telah mewakili banyak orang" jelas Kencing singkat.
__ADS_1
Rara mengangguk dan tak memperpanjang. Keduanya terus bercengkrama. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Keduanya beranjak pulang. Sebab masih banyak yang ia ingin mereka bagi dan tukar cerita bersama. Kencing memutuskan untuk menginap di rumah Rara.