
Danar hampir tak beranjak dari kursinya setelah obrolannya tadi dengan Amanda membuat hatinya gelisah...bagaimana tidak. setelah sekian lama memikirkan dan menimbang keputusannya untuk bercerai dari Istrinya itu,dengan mudahnya Amanda mengajak Danar untuk memulai pernikahan dari awal.
"Dipikirnya aku ini apa?"
"Apakah lima tahun ini Dia masih kurang dengan apa yang aku lakukan?"
"sudah cukup,sudah tidak ada alasan untukku lagi mempertahankan pernikahan sandiwara ini".
"Aku bahkan selalu berusaha memantaskan diriku"
"walaupun rasa cinta saat itu belum ada,Aku selalu berusaha mencoba untuk meraih hatimu,Manda.."
"tapi tidak untuk kali ini,cukup sudah..."
Danar berbicara pada dirinya sendiri sambil menangkupkan kedua tangannya kebibir dan hidungnya,berfikir bahwa keputusan yang Dia ambil ini adalah tindakan yang paling benar.Dia tidak akan mundur,Dia bertekad tidak ingin mengubah keputusannya.keputusannya kali ini sudah bulat.Tidak ada alasan lagi Dia mengorbankan perasaannya,hidup tanpa mencintai dan dicintai.
Dia ingat dulu Amanda sangat memujanya,mengejarnya,mengejar cintanya,wanita itu melakukan apa saja saat Dia menginginkan sesuatu.Namun setelah pernikahan terjadi Amanda menghempasnya,memberikan jarak,bahkan saat Dia mencoba untuk membangun cinta diatas pernikahannya.
.
.
"Ri Besok aku ada kerjaan keluar kota selama seminggu"kata Aldi sambil menyuapkan Ayam kremes ke mulutnya.Kedua suami istri ini tengah makan malam dengan khusu,
"kok lama banget Mas,tumben?"
"Aku ikut ya Mas?" ujar Riana
"ya ngga bisa Ri,inikan mau kerja,bukan piknik!"
"lagi pula kaki kamu kan masih sakit"
"malu Aku,dikira nanti punya Istri pincang lagi"
"mending kamu dirumah,lagi pula kan kamu kerja,mana bisa dikasih cuti selama seminggu"
Deg..
Riana tersentak dengan ucapan Aldi yang begitu sangat menyakitkan,bisa bisanya Dia mengatakan istrinya pincang,bukannya memberi perhatian sekedar menanyakan kondisi atau perhatian kecil yang sewajarnya seorang suami lakukan kepada istrinya,Rasa lapar yang sudah sedari tadi Dia rasakan,menguap begitu saja.makanan dihadapannya hanya Dia aduk aduk saja,menunduk menahan air mata yang mati matian Dia tahan,sekali lagi Riana memilih sabar.
Aldi selesai dengan makan malamnya,Dia beranjak ke Ruang tv asik berselacar didunia maya,sedangkan tv yang dari tadi Dia nyalakan,dilirik pun tidak olehnya apalagi tahu acara apa yang ditampilkan ditelevisi itu.
Riana yang sudah membereskan semuanya,kini Dia sudah bersolek amat cantik.Kimono hitam seksi Dia kenakan malam ini benar benar sangat kontras dengan kukitnya yang kuning langsat,dipoleskannya lipstik warna bibir,karena Dia kurang suka warna yang terlalu mencolok.
"sempurna!"
ujar Riana yang tengah mengagumi kecantikan dirinya dipantulan cermin seraya senyam senyum,tidak lupa Dia meminum jamu pemberian Ibu mertuanya yang amat sangat perhatian terhadapnya.
Aldi tampak tekun dengan ponselnya sambil sesekali senyam senyum sendiri saat Riana menghampirinya.
"Mas...?"
"Mas....."
"Mas.."
__ADS_1
tiga kali Riana memanggil suaminya agar Aldi melihat kearahnya,namun percuma,Aldi tengah asik sendiri berbalas pesan dengan seorang wanita yang kini membuatnya tergila gila.
"Maaaaas"
ujar Riana manja sambil duduk disampingnya dan menggandeng tangan suaminya kemudian Dia bersandar kesuaminya dengan suara sangat manja berharap suaminya kali ini mau memenuhi nafkah batin yang sudah sangat didambakannya..
"Maaaasss aku kangeeen banget".
Namun Aldi yang melihat aikap Riana seperti itu justru merasa sangat sebal,sangat marah.
"Ya ampuuun apa apaan sih kamu keganjenan banget."
"ga ngerti ya suami tuh capeee pulang kerja,ini malah keganjenan."
"aku tuh pengen istirahat sebentar,bisa ga ngertiin aku sebentar Ri."
"Besok pagi pagi Aku harus bangun untuk berangkat keluar kota,tapi kamu kok jadi kayak gitu sih,kayak kegatelan banget.kayak jablay banget tau ngga."
"Mas aku juga manusia mas punya perasaan,punya hasrat,Aku juga butuh nafkah batin dari kamu,aku ingin punya anak mas,ingin punya keturunan."
"Jadi Jablay depan suami kan halal mas,banyak pahala menyenangkan suami."
"boro boro menyenangkan,aku ilfil liat penampilan kamu,pincang pincang kayak gitu"
"tega kamu mas bicara seperti..."kalimat Riana masih menggantung..namun Aldi tak memberi kesempatan bicara pada Istrinya itu.
"CUKUP"
"aku muak dirumah kayak gini terus,kamu jadi Istri selalu saja mancing kemarahan suami,bisa ga sih ngertiin aku sedikit."
"Aku pun sama seperti Mas,Akupun muak".
"Baiklah kalo ini yang kamu inginkan".
"Air mata ini terlalu berharga untuk menangisi lelaki seperti kamu.
Riana lirih berbicara pada dirinya sendiri terduduk sendiri dengan pandangan kosong.Dia tidak menyangka sikap Aldi akan seperti ini terhadapnya,padahal dulu Aldi sangat memujanya,sangat mencintainya,entah apa yang merubah Aldi sehingga bersikap seperti ini pikirnya...
KRIIIIINGGGG....
KRIIIIIINGGGG...
Suara dering Ponsel Riana membuyarkan lamunannya..Dilihatnya nama Danar terpampang diponselnya,cepat cepat Riana pergi keluar rumah untuk mengangkat telepon Danar..
"Halloo...Riana.."
"Hallo..."Ujar Danar lagi yang sangat ingin mendengar suara wanita yang akhir akhir ini selalu terlintas dalam pikirannya.setelah gagal mengajaknya makan Siang,Dia ingin tetap ada kesempatan untuk dekat dengan wanita itu.
"i-iya Hallo Mas"...ujar Riana dengan suara tertahan
"Apa Aku ganggu kamu..?"
"maaf ya Aku maksain kamu,buat kamu jadi tidak nyaman.Aku cuma ingin temenan sama kamu bolehkan?"ucap Danar
"hmhm..iya Mas boleh."
__ADS_1
"Aku justru yang minta maaf mas,mungkin Aku kurang sopan sama Mas."ujar Riana
"gapapa kok Ri..Aku ngerti,kitakan baru kenal,jadi wajar kalo kamu sungkan,karena kan baru kenal...maukan kamu temenan sama Aku"
"Iya bo-boleh..."ujar Riana tersenyum sejenak melupakan permasalahan dengan Aldi.
"Besok ada waktu ngga?"
"Aku pengen ngajak kamu ketempat yang bikin suasana hati lebih tenang dan damai"Ujar Danar
"tempat apa?"kuburan?"
"ikkhhh Kamu..masa kuburan sih...ya bukanlah.."
"dijamin Kamu pasti suka"
"masa sich..tau dari mana?"tanya Riana
"ya taulah...Aku yakin selera kamu tuh sama kayak Aku".
"oh iya Ri suara kamu kok agak beda,kamu sakit?"
"Ahh engga kok,cuma flu aja?"
"kirain habis nangis..jangan nangis ya...nanti cantiknya ilang."
"ihh Mas pinter ngegombal ya."
"Aku ga gombal Ri,Aku serius.."
"Ya sudah besok jam 10 Aku tunggu dikafe sebrang tempat kerja kamu ya".
"ja-jangan disitu Mas..jemputnya dipertigaan deket rumah Aku aja,kalau dekat tempat kerja takutnya ada gosip macem macem."
"oh ya sudah kalo gitu,kamu istirahat ya Ri..sampe kitu besok...mimpi indah ya...bye.."
"bye.."
Riana menutup telepon dari Danar,Hatinya merasa sangat senang dan berbunga bunga,seperti remaja yang sedang jatuh cinta,ponsel itu ditarun di dadanya,Suara Danar bagaikan oase dipadang pasir,begitu menyegarkan seolah menghilangkan rasa haus dan kasih sayang yang begitu Dia dambakan dari Aldi.
Riana masuk kedalam rumah dan mengendap endap kedalam kamarnya,Dia khawatir Aldi terbangun dan mendengar pembicaraan antara Dia dan Danar.Dilihatnya Aldi tidur sangat lelap.
"bukankah aku ini masih muda,cantik,badanku pun seksi seperti ini,mengapa justru suamiku menyia nyiakan aku."
"Akupun berhak bahagia,Aku berhak mendapatkan kasih sayang dari laki laki,akupun butuh belaian."
Ucapnya dalam hati,seraya menyentuh setiap sudut wajahnya..
***
Hai Hai bestieeπ€π€π€π₯°π₯°π₯°
Terimakasih sudah like Novel aku yang masih banyak kekurangan.
terus dukung aku ya bestiee biar makin semangat nulisnya...πππ
__ADS_1