
“Aaawww” aku berteriak ketika pelayan mengobati beberapa luka di badan dan kaki
ku, tubuhku terasa sakit semua dan kakiku lecet-lecet akibat berlarian
menggunakan high heels.
“Maaf nona kalau ini terasa sakit” sambil menghentikan sejenak “Tidak apa-apa
lanjutkan saja, saya akan coba menahannya agar cepat selesai tugasmu.”
“Sssshhhh” rasanya sakit, sesaat aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan kamar. Terkagum dengan seisi kamar yang bergaya
Victoria Eropa, dan sebuah ranjang besar yang nyaman batinku.
“Baiklah nona, saya sudah selesai untuk mengobati luka-luka nona, dan di lemari ada
beberapa pakaian yang bisa nona gunakan, saya akan menyiapkan air hangat untuk
nona mandi” dan pelayan itupun pergi.
“Benar sekali yang aku butuhkan saat ini adalah mandi membersihkan diriku dan berendam
di bathtub, agar tubuhku bisa relax”
Aku melangkah ke kamar mandi lalu melucuti pakaian ku satu persatu dan memasukkan
tubuhku ke bathtub, membenamkan diriku pada busa-busa yang lembut dan wangi
vanilla.
__ADS_1
Kulihat diriku dengan dress yang tadi kupakai berceceran darah, rambutku acak-acakan keadaan disekitar
kacau balau beberapa orang berteriak histeris, bunyi tembakan membahana
diudara, aku ketakutan dan gemetar. Kuraba lenganku ada darah yang tak berhenti
mengalir, aku panic, berteriak histeris.
“Doorr..door..doorr”
“Nona, apakah anda baik-baik saja”
“Doorr..door.. door”
mencari handuk.
“Maaf aku ketiduran tadi” jawabku
“Nona anda membuat saya khawatir sudah sekitar 10menit saya menggedor pintu ini. Dan
saya ingin memberikan anda minuman hangat ini” pelayan itu menyodorkan kepadaku
segelas coklat hangat yang tampak nikmat.
Aku mengambilnya dan kuucapkan “terima kasih, maaf sudah merepotkanmu tadi”
__ADS_1
“Tidak apa nona memang sudah menjadi tugas saya, saya pamit dulu kalau butuh yang lain
saya ada di bawah”
“Bagaimana keadaan tuan Mark, apakah operasi nya sudah selesai?” cecarku
“Maaf nona saya dilarang membicarakan tuan Mark tanpa seijinnya” jawab pelayan itu
“Oh baiklah, tidak apa terima kasih sekali lagi”
Aku menyesap cokelat hangat itu sampai habis, dan merebahkan tubuhku diatas ranjang
yang empuk dan besar itu, tak berapa lama aku sudah berada di alam mimpi.
***
Mark kini sedang terbaring di ranjang kamarnya tampak lengannya dibalut perban meninggalkan jejak bekas tembakan.
"Jason apakah sudah kau temukan siapa dalang dibalik keributan peristiwa semalam?" dengan sigap Jason yang sedari tadi menjaga Mark berdiri dengan bahasa tubuh akan membantu Mark duduk di ranjangnya, namun Mark memberi isyarat bahwa dia bisa melakukannyas sendiri.
"Mark kau baru saja siuman dari bius operasi, bisakah fokus terlebih dahulu dengan recovery tubuhmu?" dengan datar Jason berujar
"Hei aku tidak selemah yang kau pikirkan Jason, lagipula harusnya aku menghukum atas kelalaian yang kau buat sehingga aku bisa terluka tembak seperti ini." sungut Mark
Jika saja Jason bukanlah orang paling loyal terhadap Mark, mungkin saat ini Mark akan gunakan prinsip "Luka dibalas dengan Luka" prinsip itu sudah menjadi didikan dari David Kensington yang tiada lain adalah ayah Mark, didikan keras dari ayah nya membentuk Mark menjadi seorang yang tegas dan tanpa ampun. Karena bagi dunia bisnis yang dijalani saat ini, lemah hanya akan menjadikannya keset yang akan diinjak-injak oleh pesaing bisnis.
__ADS_1