ISEKAI : PETUALANGAN SI CHEATER DI DUNIA FANTASI

ISEKAI : PETUALANGAN SI CHEATER DI DUNIA FANTASI
BERKELILING DESA


__ADS_3

Hari ini aku bangun kesiangan, Devid sudah tidak ada di dalam kamar.


Ke mana dia pergi!.


Di atas tempat tidurnya hanya ada Tombak merah dengan benang emas berjumbaian di ujungnya.


Aku ingat tombak itu, David terlempar kesini selagi membawanya.


Tombak itu adalah Rare Item yang aku berikan padanya kemarin.


Andai saja dia menyimpannya di Inventory, benda itu juga akan ikut hilang bersama yang ada di dalamnya.


Bagaimana jika tombak ini di curi orang lain!.


Harusnya dia selalu membawanya ke mana pun dia pergi, bukan di tinggalkan begitu saja.


bukankah ini satu – satunya barang berharga yang dia miliki.


Tidak sepertiku yang tidak memiliki satu pun barang dari dunia sana.


Aahh.... malangnya nasibku.


Aku berjalan meninggalkan kamar.


Rumah ini cukup kecil, setelah keluar dari kamar aku sudah berada di ruang makan.


Hanya ada kakek yang sedang duduk di temani secangkir minuman hangat dan sepiring roti di meja.


Aku menghampirinya, kemudian sarapan pagi bersama.


Bagaimana dengan Devid, pak Ruben dan Emie, apa mereka sudah sarapan?.


Kakek mengatakan bahwa mereka sudah sarapan tadi pagi.


Apa!. Pagi!. Mungkinkah ini sudah siang?.


Siang dalam artian matahari sudah ada di ujung kepala.


Sepertinya tidak begitu, aku yakin tidak sesiang itu.


Semoga saja.


Sudah berapa lama aku tertidur, bahkan kakek tidak membangunkanku.


Mungkin dia sungkan untuk mengganggu waktu istirahat tamunya.


Aku pun sudah biasa bangun siang, jadi ini bukanlah kesalahan melainkan kebiasaan.


Aku mengobrol santai dengan kakek, sambil menikmati roti kukus dan segelas susu hangat.


Setelah itu, aku pergi berkeliling desa.


Suasanya berubah, tidak lagi suram seperti kemarin.


Para orang tua sudah di sibukkan dengan kegiatannya masing – masing.


Ada yang menggarap sawah gersang yang sudah di penuhi rumput liar.


Ada yang mengurus hewan – hewan ternak di kandang.


Ada yang sedang mengemas berbagai peralatan seperti panah dan parang, tampaknya mereka akan pergi berburu.


Semuanya sangat sibuk, mungkin karena persediaan makanan menipis dan banyak pekerjaan yang lama di biarkan menumpuk.


Padahal mereka baru saja sembuh, seharusnya mereka beristirahat lebih lama lagi.


Tapi apa mau di kata karena kondisi desa saat ini sedang dalam masa kritis, memaksa mereka untuk segera memulihkannya.


Baiklah, aku akan membantu kalian walaupun hanya sedikit sebelum meninggalkan desa ini.


Tapi apa yang bisa aku bantu!.


Aku mendekati salah satu sawah milik warga desa, mereka sedang memangkas rumput liar yang tumbuh tinggi di mana – mana.


Sawah ini kering, padahal ada parit di sekitarnya.


mungkin karena lama tidak di urus, sistem perairannya tidak berfungsi dengan baik.


Setelah selesai membersihkan rumput liar itu, mereka pasti akan memperbaikinya.


Tapi tampaknya butuh waktu lama karena rumput di sini tidaklah sedikit, hampir memenuhi luasnya sawah.


Aku harus melakukan sesuatu untuk meringankan pekerjaan mereka, tapi apa yang bisa aku lakukan.


Aku bisa menggunakan sihir untuk menghabisi rumput itu, tapi sihir apa yang bisa aku gunakan!.


Aahh... aku tahu. Aku bisa menggunakan sihir itu.


Warga desa di sawah menyadari keberadaanku, mereka meninggalkan pekerjaannya dan datang menghampiri.


Mereka menyampaikan rasa terima kasihnya kepadaku, bahkan ada yang menyampaikannya sambil berlinangan air mata.


Aku tidak biasa dengan situasi seperti ini, jadi aku hanya menanggapinya dengan, ‘tidak apa – apa’ dan ‘sama – sama’.


Ya seperti itulah.


Aku penasaran, bagaimana cara Super Hero menanggapi ucapan terima kasih sebanyak ini!.


Aahh. Lupakan saja..


Aku memberi tahu mereka bahwa aku akan membantu, dan mereka dengan senang hati menyetujuinya.


Baiklah, mari kita lakukan –


“[Air Blade]”.


Angin dengan bentuk seperti sabit melesat dengan cepat ke depan, membuat rumput – rumput berjatuhan.


Karena hampir sama dengan kecepatan suara, rumput yang terpotong tidak berpindah dari tempatnya.


Jarak dan luas jangkauannya pun cukup jauh, hanya membutuhkan sepuluh kali penggunaan sampai rumput terpotong habis.


Dalam jeda waktu lima menit setelah penggunaannya, aku menggunakan sihir air untuk membasahi sawah.


Mereka yang memperhatikan sempat tercengang, bahkan sambil menggeleng – gelengkan kepala mereka.


Mungkin mereka jarang melihat sihir, atau mungkin sihir yang aku gunakan berbeda dengan sihir di dunia ini.


Aku pun tidak tahu.


Sekarang sawah sudah bisa di gunakan, aku pamit undur diri setelah mereka melanjutkan kegiatannya.


Aku kembali ke pemukiman, berjalan melewati rumah – rumah sambil menikmati pedesaan.


Suara riuh dari warga dan hewan ternak terdengar di mana – mana, bahkan suara ketokan kayu ikut serta meramaikan suasana.


Suara ketokan itu berasal dari beberapa rumah, dan dari orang yang sedang memperbaiki pagar yang mengelilingi desa.


Pagar itu setinggi pria dewasa, di buat dari papan yang di susun rapat.


Sengaja papan itu tidak di beri jarak antara satu sama lain, agar binatang seperti ular dan tikus atau seukurannya tidak dapat masuk ke desa.


Sekaligus melindungi desa dari serangan Monster.


Walaupun di sebut Monster, tapi mereka hannyalah Monster lemah dengan ancaman tingkat -1.


Warga desa yang sudah terlatih berburu bisa mengalahkannya dengan mudah.


Lalu apa bedanya hewan biasa dengan para Monster?.


Sebenarnya sebelum Menjadi Monster, mereka hannyalah hewan biasa pada umumnya.


Saat hewan mendekati kematian dalam kondisi terkontaminasi dengan Mana yang begitu besar, maka mereka akan berubah menjadi Monster.


Itu adalah penjelasan yang aku dengar dari kakek, dia tidak mengetahui secara detailnya.


Kenapa bisa hewan menjadi Monster karena Mana?.


Apakah hewan juga memiliki Mana?.


Apakah semua manusia memiliki Mana?


Apakah semua hewan dan manusia yang memiliki Mana bisa menggunakan sihir?


Saat aku bertanya bisakah dia menggunakan sihir, kakek menjawab dengan tidak.


Walaupun dia belajar sihir, dia tetap tidak bisa menggunakannya.


Lalu apa yang menjadi faktor yang membedakan orang bisa atau tidaknya menggunakan sihir!.


Kakek pun tidak bisa menjawabnya, karena pengetahuannya tentang sihir sanggatlah sedikit.


Mungkin aku akan menanyakannya pada penyihir bila bertemu nanti, untuk sekarang kita kesampingkan dulu pertanyaan itu.

__ADS_1


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Aku melanjutkan perjalanan mengelilingi desa.


Sama seperti saat mengunjungi sawah, orang – orang berdatangan mengucapkan terima kasih kepadaku saat berpapasan di jalan.


Aku merasa seperti pejabat penting yang sedang berkunjung ke suatu daerah, sungguh membuatku sedikit salah tingkah.


Mau bagaimana lagi.


Aku yang tadinya orang tidak berguna, sekarang jadi sangat populer di kalangan warga desa.


Ada juga beberapa gadis yang berusaha mendekatiku, dengan malu – malu mereka mengajakku bicara.


Paras mereka cantik – cantik, dan tentu saja masih muda.


Tubuh mereka sangat terawat, mengingat bahwa mereka hannyalah gadis desa.


Bila mereka di pakaikan gaun mewah yang sama cantiknya, aku penasaran, adakah bangsawan akan melamarnya.


Mungkin saja, karena mereka tidak kalah cantik dengan Miss Univers yang aku lihat di televisi.


Aku saja sampai kebingungan bila harus memilih salah satu dari mereka, kalau bisa aku ingin mereka semua menjadi ‘Harem’ ku.


Hahahaha... bercanda.


Saat masih berbincang dengan para gadis, aku mendengar suara rusuh di belakang pemukiman.


Suara itu cukup kecil, hingga orang yang berada di sekitarku tidak menyadari suara itu.


Entah kenapa pendengaranku lebih tajam sekarang, bahkan aku bisa mengetahui keberadaan seseorang walau tanpa melihatnya.


Aku menyebutnya kemampuan misterius, kemampuan yang aku dapatkan saat terlempar ke dunia ini.


Kemampuan itu memberitahuku bahwa ada gerombolan orang yang sedang berhadapan dengan dua orang lainnya, sepertinya ada perselisihan di sana.


Tapi aku merasa kenal keberadaan ini, tidak salah lagi.


Aku mengenalinya, ini David.


Dia sedang berhadapan dengan beberapa orang.


Apakah ini perkelahian!.


David sedang dalam masalah.


Apa yang sebenarnya terjadi.


Aku harus memastikannya, dan segera menghentikan mereka bila memang terjadi perkelahian.


Aku tidak mengkhawatirkan keadaan David, aku lebih khawatir dengan keselamatan orang yang dia hadapi.


Karena bagai mana pun, David adalah petarung kuat yang bisa mengalahkan 50 Monster tingkat 3 sendirian.


Aku bergegas menuju tempat mereka, tidak terlalu jauh karena hanya berjarak lima rumah saja.


Sesampainya di sebuah gang sempit di antara dua rumah, suara rusuh itu semakin terdengar jelas.


Mereka ada di ujung gang.


Aku berjalan mendekat.


Suara sorak – sorai berasal dari kumpulan orang itu, ada yang mengatakan ‘ jatuhkan dia’, ‘jangan sampai kalah’, dan ‘jangan beri ampun’, bergantian mereka ucapkan.


Sesampainya di tempat tujuan, yang aku lihat –


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


“aaaarreggghhhh....”.


“hanya sebatas itu kekuatanmu Pak tua”.


“aarrgh... aku kalah. Sial”.


“hahaha.... untuk ukuran pria dewasa kau cukup lemah”.


“apa kau bilang”.


“hahahaha... sekarang, siapa lawanku selanjutnya?”.


“biar aku yang melawanmu”.


“abang....”.


“benar. Buat dia menyesal”.


“ooowhh... kelihatannya mereka sangat mengandalkanmu”.


“tentu saja, aku adalah orang terkuat di desa ini”.


“eehhh... apa kau mengatakannya karena tubuhmu yang berotot itu”.


“tentu saja, otot adalah bukti kejantanan seorang pria”.


“hahahha.... jadi menurutmu pria kuat itu di nilai dari besar otot yang dia miliki?”.


“tepat sekali. Pria yang tidak berotot tidak pantas di sebut pria”.


“benarkah? Hahahaha... ayo kita buktikan seberapa kuat ototmu itu”.


“baiklah, aku siap kapan pun”.


“ayo.. abang. Kalahkan dia!.”.


“kalahkan dia”.


“kalian berdua siap?”.


“siap.”.


“siap”.


“mulai”.


Bodoh sekali.


Kenapa aku di buat khawatir oleh kumpulan orang idiot ini.


Aahh... tidak... buka salah mereka, ini salahku.


Aku menyimpulkan sesuatu tanpa berpikir panjang.


Kumpulan orang ini bukan berkelahi, melainkan untuk mengadu kekuatan mereka.


Sungguh konyol.


Aku harus meminta ganti rugi pada mereka atas kekhawatiranku yang terbuang sia – sia.


Devid sedang berpanco dengan pria berotot besar.


Ototnya sungguh luar biasa besar, hingga kau bisa melihat dengan jelas setiap tonjolan di tubuhnya.


Menurut pandanganku itu bukanlah otot, melainkan kumpulan tumor di tubuh yang tumbuh membesar.


Di belakang Devid ada Emie yang sedang kegirangan menyaksikan pertarungan itu.


Dia melompat – lompat sambil bertepuk tangan, sambil meneriakkan kalimat yang tidak aku mengerti.


Mungkin dia mengikuti apa yang di lakukan kumpulan orang dewasa itu, yang memberi sorakan dengan semangat.


Hanya berlangsung beberapa menit, Devid memenangkan adu panco itu dan membuat semua penonton di sana kecewa.


Kecuali Emie, dia dengan gembira merayakan kemenangan Devid sambil meninjukan kedua tangannya ke atas.


Sepertinya hanya Emie yang berpihak pada Devid.


Lalu Devid berbalik menghadap Emie, menundukkan badannya dan mengarahkan telapak tangannya pada Emie.


Emie pun dengan semangat menepuk telapak tangan Devid dengan tangannya yang mungil.


Mereka tampak akrab.


Sejak kapan?.


Devid menyadari kehadiranku dan di susul dengan yang lainnya.


Dia melambaikan tangannya sebagai isyarat ‘ kemarilah’, dengan terpaksa aku pun bergabung dengan mereka.


“bukankah itu tuan Baychimo?”.


Ya.. ya.. ini aku.


“benarkah!. Jadi dia si Tabib Sakti itu?”.

__ADS_1


Eeehhh.... siapa yang kau maksud Tabib Sakti!.


“betul. Dialah orangnya”.


“aku tidak tahu kalau dia masih muda”.


Hey.. kau pikir aku setua kakek.


Itu tidak sopan, kalian menyakiti perasaanku.


“salam kenal, saya Ran Baychimo. Senang berjumpa dengan Anda semua”.


Satu persatu dengan antusias mereka memperkenalkan diri.


Tak lupa pula mereka berterima kasih atas pertolongan yang aku berikan untuk keluarga mereka.


Orang yang mengira bahwa aku sudah tua, ternyata baru datang dari kota pagi tadi.


Tujuannya sama seperti kakek, mencari obat untuk menyembuhkan warganya.


Dia tidak mendapatkan obat yang di cari, dan pulang hanya membawa bahan makanan.


Anggota keluarganya yang terkena wabah adalah anak dan istrinya, dia mengatakan bahwa mereka berdua sudah sehat dan sudah beraktivitas lagi.


Orang yang berotot juga baru datang ke desa setelah bepergian jauh, dia baru tahu bahwa desanya terserang wabah mematikan saat tiba di desa pagi ini.


Tapi untungnya keluarganya tidak ada yang terkena wabah, karena saat penyerangan semua anggota keluarganya berada di dalam rumah.


“tuan Baychimo, sepertinya kami harus segera undur diri dari sini”.


“aahh... benarkah!”.


“ya. Setelah ini kami berencana untuk berburu di hutan. Kita akan mengadakan pesta malam nanti untuk merayakan kesembuhan warga, sekaligus untuk menjamu penyelamat desa kami”.


Eeehhhh.. benarkah? Yang kalian maksud penyelamat itu aku kan?


“aahh.. eehh... baiklah. Semoga kalian beruntung. Aku tidak sabar menantikannya!”.


“tunggu saya, kami akan menangkap hewan buruan yang banyak nanti. Hahaha”.


“benar..!”.


“itu benar sekali. Kita akan membuat pesta besar untuk penyelamat kita”.


“ya.”.


“ya”.


Mereka sangat bersemangat, aku harap mereka mendapatkan banyak hasil buruan nanti.


Aku juga ingin merasakan masakan daging dari dunia ini, pasti rasanya enak.


Aku harap sih begitu.


Setelah berpamitan mereka semua pergi, yang tertinggal hanya aku, Devid dan Emie.


Devid sedang berpose seperti binaragawan, dia seperti sedang menyombongkan kekuatannya.


Emie yang melihat bertepuk tangan kegirangan, sambil memuji tingkah konyol yang di buat Devid.


“aku tidak tahu kalian seakrab ini”.


“benarkah? Hhahha... Emie anak yang baik, kami sudah berteman dekat, benarkan Emie?”.


Emie mengangguk tanda setuju akan pernyataan Devid, mereka sudah seperti adik kakak yang saling menyayangi satu sama lain.


Aku tidak menyangka Devid memiliki sifat seperti ini, ternyata dia orang yang baik.


Buktinya dia bisa cepat akrab dengan orang – orang tadi, bahkan dengan anak kecil seperti Emie.


Aku penasaran, apakah dia juga sudah akrab dengan gadis – gadis desa, sepertinya ‘harem’ku memiliki saingan di sini.


Bercanda.


“sepertinya dia menyukaimu”.


“......benarkah?, aku juga menyukainya”.


Eehhh... apa maksudmu Devid, apa maksudmu dengan menyukainya.


Jangan – jangan kau..


“hey.. kenapa kau memasang wajah seperti itu!. Jangan salah paham, aku tidak menyukainya dalam artian seperti itu”.


Eee.. benarkah!. Aku tidak mau berteman dengan orang yang suka memangsa anak kecil.


Baiklah aku akan mempercayai perkataanmu.


“iya aku tahu itu”.


“baguslah kalau begitu... oia Ran, berapa lama kita berada di sini?”.


Berapa lama ya....!


Kita masih perlu mempersiapkan kendaraan, makanan, dan masih banyak lagi yang perlu di persiapkan.


Sepertinya aku harus mulai persiapannya dari sekarang.


“mungkin sampai besok atau lusa, aku berencana meminjam kereta dari Pak Sterne”.


“begitu ya”.


“ya. Tapi aku ragu dia bersedia memberikan kuda kepada kita”.


Benar.


Aku hanya melihat beberapa kuda di sini, dan sepertinya kuda itu sangat di butuh kan di desa.


Berbeda dengan kereta, mereka memiliki banyak stok yang tidak di gunakan, bahkan kereta itu seperti tumpukan gerobak yang terbengkalai.


Mungkin bila aku memintanya, mereka akan dengan senang hati memberinya.


Masalahnya tinggal tenaga penariknya.


Mungkin bila aku menggunakan jasa yang telah aku berikan pada desa ini sebagai alasan timbal balik, mereka pasti akan memberikannya walaupun terpaksa.


Tapi aku tidak tega hati melakukan itu, karena aku tidak mau menjadi orang yang mengambil keuntungan tanpa peduli dengan kesusahan orang lain.


“jadi apa yang harus kita lakukan bila tidak mendapatkan kuda?”.


“hanya ada satu cara”.


Ya... hanya ada satu cara agar bisa melakukan perjalanan dengan kereta walau tanpa kuda.


“caranya?”.


“.......kau menggantikan posisinya”.


“APA..!. apa kau sudah gila, aku tidak percaya kau merencanakan hal itu padaku”.


“hahahaha.... bercanda. Tentu saja aku tidak setega itu. Ya.. kecuali terpaksa”.


“tidak.. aku tidak sudi melakukannya. Tidak akan pernah”.


“hahahaha.... baiklah. baiklah. Oia, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”.


“aku akan kembali ke rumah kakek, setelah itu............. aku tidak tahu”.


“hhem.. begitu ya”.


“kalau kau sendiri, apa yang akan kau lakukan?”.


“aku akan berkeliling desa sebentar”.


“okelah kalau begitu. Kalau kau membutuhkan bantuan, katakan saja. Aku memang tidak pandai menggunakan kepalaku, tapi kau dapat mengandalkan tenagaku”.


“ya. Aku akan memintanya padamu bila saat itu tiba”.


Setelah percakapan itu, kami berpisah dan pergi ke arah yang berlawanan.


Aku melanjutkan kembali perjalananku mengelilingi desa.


Aku tidak sedang mencari sesuatu, tapi hanya melihat – lihat suasana di desa.


Karena ini adalah kali pertama aku berada di suatu tempat yang ramai, mengingat hidupku sebagai orang rumahan yang memisahkan diri dari dunia luar.


Walaupun dalam Game SELIFWOR aku sering melihat kerumunan orang seperti ini, tapi rasanya berbeda kali ini.


Mungkin karena di dalam Game semua hannyalah sebatas Data, sedangkan apa yang kulihat saat ini benar – benar nyata.


Dan ini membuatku merasa senang.


Sungguh...!

__ADS_1


__ADS_2