ISEKAI : PETUALANGAN SI CHEATER DI DUNIA FANTASI

ISEKAI : PETUALANGAN SI CHEATER DI DUNIA FANTASI
MENYEMBUHKAN WARGA


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju desa, kakek menjelaskan tentang kondisi desanya saat ini.


Wabah penyakit bernama ‘Lumut Biru’ menyerang warganya.


Wabah tersebut berasal dari serangga seperti nyamuk, dua minggu yang lalu kawanan serangga itu menyerang desa saat warga sedang berada di luar rumah.


Kejadian serupa juga pernah terjadi di desa lain sebelumnya, dan sampai saat ini belum ada yang tahu asal usulnya dan cara mencegah serangga itu agar tidak menyerang pemukiman penduduk.


Wabah ini juga tergolong langka, terakhir kali di kabarkan menyerang suatu desa delapan tahun yang lalu.


Singkat cerita, ada seorang ahli obat ternama melakukan penelitian untuk membuat obat penawar karena Bila tidak segera di obati akan mengakibatkan kematian.


Setelah beberapa kali uji coba akhirnya membuahkan hasil.


Dia menemukan satu jenis tumbuhan yaitu Grass Purple yang bisa menyembuhkan penyakit ini.


Tapi yang jadi masalah, tumbuhan itu sulit ditemukan dan tidak bisa di kembang biakkan.


Kakek pun pergi dari desa untuk mencarinya, tapi hasil yang didapatkan tidak sesuai yang diharapkan.


Dia hanya menemukan sedikit dan itu tidak cukup untuk mengobati semua warganya.


Dengan putus asa kakek kembali ke desa lalu bertemu kami di jalan.


Jadi, di balik kebaikan dan tawa si kakek, hatinya sedang menangis dalam penderitaan.


Aku pun menyanggupi permintaannya.


Walau pun masih ragu akan keberhasilannya.


Setidaknya aku tidak boleh menyerah sebelum mencoba seperti kakek.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Hari sudah senja, kami pun tiba di tempat tujuan.


Suasana di desa begitu suram.


Sepanjang jalan di pemukiman sangat sepi.


Tidak ada anak – anak yang bermain.


Tidak ada orang dewasa yang di sibukkan dengan pekerjaan.


Aku penasaran, di mana nuansa pedesaan yang aku bayangkan.


Hanya ada beberapa orang di depan rumah yang menatap kami dengan wajah muram.


Persawahan juga tidak di tumbuhi tanaman, hanya rumput tinggi yang memenuhinya.


Sungguh pemandangan desa yang menyedihkan.


Wabah penyakit berdampak besar pada kegiatan di desa, karena menyerang tanpa pandang usia.


Mereka yang sehat harus bekerja sepuluh kali lipat untuk memenuhi kebutuhan desa.


Tentu saja itu bukan pekerjaan yang mudah.


Bahkan banyak pekerjaan terbengkalai karena tidak sanggup di tangani oleh beberapa orang.


Seorang pria yang berusia sekitar 30-an datang menghampiri.


Tubuhnya kurus bahkan tulang pipinya terlihat jelas.


Matanya berkaca – kaca saat menyambut kedatangan kami.


“aku pulang”.


“Selamat datang kembali ayah”.


Dia adalah anak si kakek.


“bagaimana pencariannya?”.


“...............”.


Kakek membalas dengan menggelengkan kepala.


Dia menatap tanah yang ada di depan kakinya.


Seketika wajah pria itu di penuhi dengan kesedihan, menyiratkan ‘jadi sudah tidak ada harapan!’.


“tapi aku membawa sesuatu yang lebih baik dari itu”.


“benarkah, apa itu?”.


Rona wajahnya berubah.


Tampak terlihat sedikit cahaya terpancar di matanya.


“iya. Dialah yang aku maksud”.


Kakek menepuk pundakku sembari tersenyum.


Pria itu melirikku dengan tatapan bingung.


Aku pun memperkenalkan diri.


Menundukkan kepala sembari meletakan tangan kanan di dada.


“senang bertemu Anda. Saya Ran Baychimo”.


“..............”.


Dia masih kebingungan.

__ADS_1


Jelas saja, ayah yang meninggalkan desa mencari tumbuhan untuk mengobati warganya malah membawa pulang orang asing.


Dan dengan bangganya mengatakan, ini lebih baik dari apa yang aku cari.


“apa.!. ayah. Tolong jelaskan. Aku masih belum mengerti”.


“aku tidak punya waktu untuk menjelaskan. Lebih baik kita segera ke penampungan karena hari sudah mulai gelap”.


Penampungan? Apa di sini tidak ada Klinik atau pun puskesmas!.


“.....aah. iya. Silakan!”.


Kakek berjalan duluan, di susul  Pria itu, lalu Devid dan aku di belakang.


Tidak butuh waktu lama, sampailah kami di tempat yang di maksud.


Sebuah bangunan besar yang sebenarnya adalah gudang penyimpanan bahan dan alat pertanian.


Karena musibah ini memakan banyak korban, jadi gudang ini dialih fungsikan menjadi tempat penampungan.


Kami berada di dalam, suasananya begitu kelam.


Banyak orang berbaring berjajar di lantai hanya dengan beralaskan tikar.


Kondisi ini tidak pantas bila kita sebut tempat yang menampung orang sakit.


karena tidak ada satu pun fasilitas perawatan di sini.


Tidak ada infus bahkan tidak ada suster seksi yang selalu membawa suntikan.


Kondisi mereka sangat memprihatinkan.


Ada sekitar 40 orang di sini.


baik orang dewasa, pria dan wanita, bahkan anak kecil berbaring lemas di sana.


Bila di perhatikan, mereka memiliki kemiripan yaitu tampak bercak biru di sekujur tubuh mereka.


Tidak luput wajah mereka, kalian tidak akan mudah mengenalinya karena bercak itu menutupi sebagian darinya.


Bila di lihat dari dekat bercak itu seperti lumut, hanya saja warnanya berbeda.


Tapi kalau di lihat lebih teliti, itu seperti kutil yang tumbuh banyak  dan saling bertumpukan.


Sungguh menyakitkan melihat pemandangan ini.


“tampaknya lebih sedikit dari terakhir kali aku lihat”.


“benar. Ada beberapa orang yang sudah meninggal”.


“begitukah!. Sungguh sangat disayangkan”.


Kakek memijat bagian tengah antara dua matanya sembari memejamkan mata.


David yang tadinya di sampingku beranjak meninggalkan ruangan.


Tapi sebelum dia melangkah jauh dariku, aku menegurnya.


“mau ke mana kau?”.


“keluar. Aku tidak kuat melihatnya”.


aku tidak mengerti apa maksudmu tidak kuat.


Tapi mari kita berpikir positif saja.


“bagai mana Nak Baychimo, bisakah –“!.


Kakek menghentikan sejenak ucapannya.


Menunduk sambil sedikit membungkukkan badannya.


“tolong, selamatkan mereka”.


Aku menjawabnya dengan anggukan.


Aku menghampiri salah satu dari mereka dan berlutut di sampingnya.


Seorang gadis kecil dengan rambut pirang, mungkin sekitar lima sampai enam tahunan.


Sedikit bercak biru menutupi mata kirinya.


Nafasnya sangat berat sehingga aku bisa mendengarnya dengan jelas.


Aku tempelkan tanganku di dahinya.


“[Healing]”.


Cahaya hijau redup menyelimuti seluruh tubuhnya.


Sesaat setelahnya bercak itu memudar seperti debu yang di tiup angin.


“ahkk......”.


Suara pekikan terdengar dari belakangku.


Aku tidak melihatnya, tapi aku tahu siapa yang membuat suara itu.


Dia pasti terkejut dengan apa yang dia lihat.


Cahaya dari sihir penyembuhan mulai hilang, saat itu pula semua bercak biru di tubuh bocah ini lenyap.


Nafasnya pun sudah kembali normal, suaranya lembut dan begitu tenang.


“Emie....!”.

__ADS_1


Si Pria yang berdiri di belakangku bergegas menghampiri kami dan memeluk bocah ini sambil bercucuran air mata.


Ternyata namanya Emie.


Syukurlah sihir penyembuh bisa mengobati penyakit mengerikan seperti ini.


Aku tidak tahu harus bagaimana lagi bila sihir ini tidak bekerja.


Berlangsung beberapa detik akhirnya dia melepaskan pelukannya.


“Emie...! ini Ayah Nak. Kamu bisa dengar suara ayah?”.


Perlahan Emie membuka matanya.


Dia masih tampak linglung karena baru saja bangun dari kondisi kritisnya.


Siapa pun yang baru siuman pasti akan seperti itu, karena butuh waktu untuk dapat mengembalikan kesadarannya.


“a... yah..!”.


“iya Nak, ini ayah. Syukurlah kau sudah sembuh sekarang”.


Pria itu mengangkat tubuh kecil Emie dan menggendongnya seperti tuan putri.


Aku kembali berdiri bersamaan dengan Pria itu.


Wajahnya tidak lagi murung seperti sebelumnya, sekarang raut wajahnya tampak lebih bercahaya.


Pipinya masih basah sehabis menangis tadi dan ada sedikit air keluar dari hidungnya.


Dia menunduk dalam, seraya berkata.


“Terima kasih banyak. Terima kasih karena telah menyelamatkan anak saya”.


“sama – sama. Saya turut senang melihatnya kembali sehat lagi”.


“sekali lagi terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya mau merawat Emie di rumah”.


“oh ya, silakan. Tolong pastikan dia makan yang banyak nanti”.


“pasti. Setelah selesai di sini, mampirlah ke rumah”.


“baiklah. Saya akan mampir nanti”.


Setelah berpamitan Pria itu pun pergi meninggalkan kami.


Karena sudah tahu sihir penyembuhku bekerja, maka akan mempermudah proses selanjutnya.


Menggunakan sihir [Healing] akan membutuhkan waktu lama bila melakukannya satu – persatu.


Jeda waktu yang dibutuhkan agar bisa di gunakan lagi adalah lima menit, Jadi waktu untuk menyembuhkan mereka semua kurang lebih empat jam atau lebih.


Belum termasuk lamanya proses saat sihir di aktifkan, dan berpindah dari satu orang ke orang yang lain.


Jadi kali ini aku akan menggunakan sihir Area untuk menyembuhkan mereka sekaligus.


Tapi ada masalah lain, yaitu jangkauan sihir yang terbatas.


Kalau bisa di ukur kira – kira diameternya hanya lima meter, sedangkan ruangan ini lebih luas dari itu.


Kalau menggunakannya pada orang yang dapat di jangkau saja, makan aku harus mengulanginya beberapa kali.


Mungkin sekitar tiga atau empat kali.


Tapi waktu yang di butuh kan untuk bisa di gunakan lagi, yaitu 30 menit.


Jadi bila di hitung untuk empat kali penggunaan memakan waktu selama dua jam bahkan lebih.


Atau bisa juga menggunakan sihir penyembuhan Area terlebih dahulu. baru menggunakan sihir biasa selama 30 menit.


Setelah 30 menit berlalu gunakan sihir Area lagi dan lakukan hal yang sama berulang kali.


Bukankah itu juga membutuhkan waktu yang sama!.


Lalu bagaimana caranya agar melakukan semuanya dalam waktu yang singkat!.


Adakah cara menyembuhkan mereka semua hanya dengan satu kali penggunaan sihir saja!.


Kalaupun ada, mari kita pikirkan.


Saat aku masih termenung, kakek yang tadinya di belakang datang menghampiriku.


“apa ada masalah?”.


“Ah.. tidak. Saya hanya berpikir tentang bagaimana caranya untuk menyembuhkan mereka semua sekaligus”.


“begitu ya. Maaf sudah mengganggumu”.


“eeehh.. tidak apa-apa. Saya tidak meraya terganggu”.


Kakek hanya membalasnya dengan tersenyum kecut.


Baiklah.


Pertama – tama buat mereka saling berdempetan agar jaraknya semakin kecil.


Lalu cari orang yang masih sanggup berdiri ataupun duduk, dan posisikan mereka di antara yang berbaring.


Jika banyak yang masih bisa berdiri di antara mereka, itu akan mempermudah semuanya.


Tapi walaupun hanya ada sedikit juga tidak masalah, toh sudah cukup untuk mempersingkat waktu walaupun menggunakan dua macam sihir nanti.


Baiklah, ayo kita lakukan cara itu.


Aku memberitahu rencanaku pada kakek, dan dia memanggil beberapa orang yang tidak sakit untuk membantu.

__ADS_1


__ADS_2