ISEKAI : PETUALANGAN SI CHEATER DI DUNIA FANTASI

ISEKAI : PETUALANGAN SI CHEATER DI DUNIA FANTASI
RUMOR PENYIHIR SUCI


__ADS_3

Aku beranjak meninggalkan ruangan, karena bantuanku sudah tidak di butuh kan lagi..


Sesampainya di luar, David duduk bersandar di dinding.


Dia menatap kosong langit seakan menerawang jauh di sana.


Wajahnya murung, dan ekspresinya datar.


Dari sudut pandangku dia terlihat dangat keren, siapa pun perempuan yang melihatnya pasti akan langsung terpana.


Dia menoleh padaku saat aku menghampirinya.


“sudah selesai!”.


“ya.. mereka sedang merayakan kesembuhannya”.


“syukurlah..”.


“...........”.


“......Ran–“


Di berhenti sejenak, kemudian melanjutkannya lagi.


“bisakah kau menggunakan sihir itu pada ibuku?”.


“eh...?”.


Apa maksudmu? Apa sesuatu terjadi pada ibumu!.


“......aahh.. ngomong apa aku barusan. Maaf lupakan saja”.


Dia memalingkan pandangannya dariku.


Aku masih kebingungan dengan apa yang baru saja dia katakan.


Bisa saja aku memaksanya untuk menjelaskan maksud dari perkataannya, tapi dia sudah tidak ingin membahasnya lagi.


Akan sangat lancang jadinya bila aku melakukannya.


Dia mungkin sedang memikirkan banyak hal dan tanpa di sadari terucap pertanyaan seperti itu.


Aku tidak bisa memaksakan rasa ingin tahuku, jadi untuk sekarang mari kita lupakan saja.


Tak lama kakek datang menghampiri kami.


Dia menawari kami untuk ikut makan malam di rumahnya, tentu saja kami setuju.


Toh aku memang sudah kelaparan, seharian ini belum makan apa pun.


Tidak juga sih, aku makan sedikit buah di hutan raksasa tadi.


Kami berjalan meninggalkan tempat.


Hari sudah mulai gelap, beberapa cahaya mulai menyinari setiap rumah.


Di desa ini tidak ada listrik, cahaya itu berasal dari batu kristal seukuran bola pimpong.


Menurut penjelasan kakek, batu kristal itu di dapat dari pengrajin Dwarf.


Dia tidak tahu dari apa benda itu di buat, karena pembuatannya termasuk teknik rahasia yang mereka miliki.


Tidak ada yang tahu kecuali Ras mereka sendiri.


Untungnya benda itu di perjual belikan secara bebas, hampir semua pasar di setiap kota memilikinya.


Cara penggunaannya juga cukup mudah, hanya meletakannya di tempat yang kita inginkan.


Sumber energinya berasal dari sinar matahari.


Walaupun tidak disinari secara langsung, benda itu tetap dapat menyerapnya dan akan memancarkan cahaya bila malam tiba.


Praktis bukan, Sepertinya aku harus memilikinya satu.


Sesampainya di rumah, kami dipersilahkan duduk di meja makan yang terbuat dari kayu.


bukan di atasnya loh ya, tapi di kursi.


Bentuknya persegi panjang dengan ukuran yang tidak terlalu besar.


Tiga kursi berjajar rapi di satu sisi, dan tiga kursi lagi di sisi lainnya.


David duduk di sampingku sedangkan kakek di seberang kami.


Tercium aroma sedap masakan dari ruangan sebelah, itu membuat perutku semakin lapar.


Tak lama menunggu, seorang Pria dan Gadis kecil keluar dari ruangan itu membawa beberapa piring yang berisikan makanan.


Mereka meletakkannya di atas meja kemudian duduk di samping kakek.


Makanan kami malam ini adalah sup kuning kental yang masih hangat dengan serpihan daun hijau mengambang di permukaannya.


Di dalamnya ada sejenis kentang yang di potong dadu dan beberapa sayuran lain.


Di tambah roti yang sudah di potong menjadi beberapa bagian.


Kami pun menyantapnya dengan penuh semangat.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Makan malam telah selesai.


Pria itu membawa sisa piring di atas meja ke belakang.


“terima kasih atas makanannya. Sungguh makanan yang lezat”.


“jangan sungkan, ini tidaklah seberapa di bandingkan pertolongan yang sudah Nak Baychimo berikan”.


“tidak, menyantap makanan seenak ini menyelamatkan hidup saya sampai besok. Jadi tidak ada perbedaannya”.


“benarkah!. Kau sungguh baik dan rendah diri”.


“terima kasih atas sanjungannya, saya diajarkan untuk tidak bersikap angkuh pada orang lain”.


“begitu ya. Orang tuamu pasti bangga memiliki anak sepertimu”.


“............”.


Aku hanya menjawabnya dengan senyum.


Hatiku tiba – tiba terasa perih setelah mendengar itu.


Mungkin bagi orang tua lain yang seperti itu bisa saja, tapi bagiku hal itu tidak akan pernah terjadi.


Mereka hanya memandangku sebagai beban tak berguna, anak cacat yang hanya menyusahkan mereka saja.

__ADS_1


Jadi mengharapkan rasa bangga dari mereka, itu mustahil.


Saat aku masih dalam diam, Pria itu kembali bersama gadis kecil di belakangnya.


Mereka menghampiriku.


“sekali lagi terima kasih banyak. Tanpa bantuanmu aku pasti sudah kehilangan putriku”.


Dia menunduk dalam seraya membungkukkan badannya sejenak.


“iya. Sama – sama” .


Emie melirikku dari balik badan ayahnya.


Dia mengeluarkan sedikit kepalanya sambil menyembunyikan badannya yang kecil.


Lucunya, boleh gak aku bawa pulang nih anak.


“Emie. Ayo bilang terima kasih sama kakak!”.


Emie pun keluar dari tempat persembunyiannya dan perlahan berjalan menghampiriku.


Dia tampak ragu – ragu, tapi akhirnya dia memberanikan diri menatapku.


“te-lima kacih”.


Iiimmuuttt nya. ... aku ingin memelukmu.


Tapi jangan, aku tidak mau di cap paedofil oleh ketiga orang dewasa ini.


Dia mengucapkan itu sambil menyerahkan boneka kecil kepadaku.


Boneka itu sangat kecil, hanya seukuran telapak tangan orang dewasa.


Matanya di buat dari kancing, kain bercorak biru yang di hiasi bunga sebagai bajunya.


“ini buat aku!”.


Dia menjawabnya dengan anggukan, lalu aku menerimanya sambil meletakan tanganku di kepalanya.


“terima kasih. Akan kujaga baik – baik boneka ini”.


Dia membalasku dengan senyuman,  kemudian berbalik dan kembali pada ayahnya.


“maaf terlambat memperkenalkan diri, aku anaknya kepala desa Sterne Rodman, namaku Ruben Rodman, dan ini anakku Emie Rodman”.


Oowwhhh jadi kakek ini kepala desanya.


Kelak pak Ruben yang akan menggantikannya.


Bukankah begitu!.


“Saya Ran Baychimo, dan ini rekan saya, David Carlson. senang berkenalan dengan Anda”.


“saya pun sama”.


“bagai mana kondisi Emie saat ini?”.


“tidak ada masalah. Dia sudah sehat sepenuhnya”.


“syukurlah kalau begitu”.


Kami berbincang ringan, membahas beberapa hal yang tidak terlalu penting.


Istri kakek sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan istri Pak Ruben meninggal karena wabah penyakit itu.


Dia tampak menahan kesedihan yang dalam saat menceritakannya.


Itulah alasan kenapa tidak ada wanita di sini.


David diam saja dari selesai bersantap makan, dia tidak banyak bicara bahkan tidak terlalu antusias mendengarkan percakapan kami.


Mungkin dia bosan, atau mungkin dia masih memikirkan masalahnya tadi.


Aku masih belum terlalu mengenal kepribadiannya, jadi aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.


Padahal dia bukan tipe orang pendiam yang suka menutup diri dari banyak orang.


Entahlah.. aku tidak tahu.


Toh baru satu hari ini aku mengenalnya, masih terlalu banyak hal yang belum aku ketahui tentangnya.


Jadi saat ini kita abaikan saja dia.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Setelah beberapa lama kami berbincang, Pak Ruben undur diri untuk menemani Emie beristirahat.


Sekarang hanya tinggal kami bertiga di meja makan.


“setelah ini, apa yang akan kalian lakukan?”.


Kakek bertanya sambil meletakan gelas teh yang baru saja diminumnya.


“kami berencana mencari rekan kami yang entah di mana”.


“tentang gadis penyihir yang kita bicarakan tadi siang...!”.


“iya. Saya ingin mengetahuinya”.


“baiklah kalau begitu”.


Kakek pun menceritakan rumor yang di dengarnya Setengah tahun yang lalu dari seorang petualang.


Tentang seorang gadis penyihir dari ibukota.


Orang yang mengenal gadis itu memberinya julukan ‘Penyihir Suci’ , karena kemampuannya menggunakan sihir penyembuh.


Seperti yang sudah di jelaskan, di dunia ini sihir penyembuh atau biasa di sebut ‘Sihir Suci’ tergolong langka atau bahkan sudah punah.


Karena itu, kehadirannya menarik perhatian dan dalam waktu singkat namanya di kenal banyak orang di kerajaan ini.


“kalau tidak salah namanya......!”.


Kakek diam sejenak, seakan menggali memori di dalam otaknya yang sudah terkubur selama setengah tahun.


“Ali,.. amie,.. ani,... ayie... aaahhhh... Aynie!. Yaa.. Aynie si Penyihir Suci”.


Setelah mendengar itu, Devid sontak berdiri kemudian mencondongkan badannya ke depan mendekatkan wajahnya pada si kakek.


“benarkah itu namanya kek?. Kakek tidak salah ingatkan!”.


“iya. Aku ingat betul. Tidak salah lagi”.


Devid tampak senang mendengarnya.

__ADS_1


Dia hampir melompat dari tempatnya berada saat ini.


Benarkah itu orang yang sama!.


Aku merasakan ada yang ganjil dalam cerita ini.


Kalau kakek mengatakan yang sebenarnya.


Apa si petualang itu yang berbohong.


Karena ini aneh sekali.


Setengah tahun yang lalu rumor itu sampai kesini.


Sedangkan kami baru satu hari berada di dunia ini.


Atau kami yang menghabiskan waktu setengah tahun di dalam hutan raksasa itu.


Itu tidak mungkin.


“apa petualang itu bisa di percaya?”.


“tentu saja, dia adalah anakku sendiri”.


Jadi kakek mempercayai omongan dari anaknya itu.


Mungkin saja anaknya merekayasa semua yang dia ceritakan.


Toh dia mengatakan rumor, berarti dia tidak bertemu langsung dengan Aynie si Penyihir Suci.


Tapi kalaupun itu benar, Bukankah ini sangat membingungkan.


Mari kita pikirkan sekali lagi.


Setengah tahun yang lalu rumor itu sampai ke sini, berarti gadis yang bernama Aynie itu sudah ada di ibu kota setengah tahun yang lalu.


Itu adalah rumor, sebuah berita yang menyebar luas dari satu orang ke orang yang lain.


Berapa sih luas kerajaan ini, berapa banyak penduduknya, berapa banyak waktu yang di butuh kan untuk sebuah rumor menyebar luas sampai seluruh orang tahu.


Bila kita asumsikan jarak waktu dari kedatangan Aynie ke dunia ini sampai rumornya tersebar luas, dan sampai ke telinganya anak kakek.


Mungkin sekitar tiga sampai empat bulan.


Di tambah dengan waktu setengah tahun yang kakek katakan.


Sembilan bulan atau bisa saja lebih.


Selisih waktunya terlalu jauh.


Oohhhh.. tuhan. Kepalaku.


“Devid bagaimana menurutmu?”.


“aku yakin dia Aynie yang aku kenal”.


“apa yang membuatmu seyakin itu?”.


“felling”.


Apa..!. dalam keadaan seperti ini kau lebih mengandalkan felling dari pada memikirkannya.


Orang ini.. benar – benar.....


“rumor ini setengah tahun yang lalu, bahkan bisa saja lebih dari itu. Bukankah ini aneh?”.


“apa..? setengah tahun yang lalu. Siapa yang mengatakan itu padamu?”.


“.............”.


Eehh.... ini orang.


Seriusan?.


“Pak Sterne mengatakan itu dalam perjalanan kesini. Apa kau sudah lupa?”.


“eehh.. benarkah!.”.


Itu tadi siang loh.. baru beberapa jam yang lalu.


Kau melupakannya, yang benar saja woy..


“iya. Bukankah begitu Pak Sterne?”.


“benar. Rumor itu aku dengar setengah tahun yang lalu”.


Kakek menanggapi pertanyaanku sembari menggenggam tangkai gelasnya.


“jadi masalahnya di mana Ran?”.


Eeehhh... kau bertanya begitu.


Masalahnya sudah jelas dan kau masih mempertanyakannya.


Apa orang ini punya masalah dalam berpikir.


Aahhh sudahlah..


“tidak. Tidak ada masalah”.


Benar.


Ini bukan tentang rumor itu benar atau tidak, tapi tentang orang yang kita cari.


Hanya ini yang kita miliki sebagai petunjuk, jadi yang harus kita lakukan adalah mencari tahu tentang kebenarannya.


“Pak Sterne, apakah Anda memiliki peta kerajaan ini?”.


“tentu saja. Tunggu sebentar”.


Kakek pun pergi meninggalkan kami.


Tidak begitu lama dia pun kembali membawa gulungan kertas yang sudah kusam.


“semoga ini bisa membantu”.


“tolong jelaskan tentang peta ini”.


“baiklah.. tapi sebelum itu”.


Dia menatap kami berdua secara bergantian.


Itu berlangsung beberapa detik, kemudian dia melanjutkannya.


“....siapa kalian sebenarnya?”

__ADS_1


__ADS_2