
Aku menghampiri kakek yang sedang memandikan kudanya.
Kakek menyiramkan air dalam ember, sembari menggosok tubuh kudanya dengan sikat.
Si Kuda tampaknya sangat senang dengan perlakuan kakek, karena ekornya melambai ke kiri dan ke kanan.
kakek menyadari kedatanganku.
“sedang jalan – jalan Nak Ran?”.
“iya. Saya sangat menikmati suasana di desa ini”.
“syukurlah kalau begitu”.
“kuda ini.... apakah yang kemarin Pak Sterne gunakan?”.
“betul. Seperti yang di harapkan, kau bisa mengenalinya”.
“aahh.. tidak. Saya hanya menebak saja”.
“kuda ini masih muda, tapi dia lebih kuat dari kuda yang lainnya”.
“benarkah. Wow.. itu hebat sekali”.
Kuda itu mengeluarkan suara khasnya sambil menggoyang – goyangkan kepalanya, sepertinya dia mengerti bahwa kakek sedang memujinya.
Kakek sudah berhenti menggosok, sekarang dia sedang mengeringkan tubuh kuda yang basah dengan kain di tangannya.
“begitulah. Dia kuda terbaik yang desa ini miliki”.
“oh ya. Apakah dia punya nama?”.
Aku tidak sadar menanyakan itu, apakah hewan harus punya nama!.
Seharusnya sih ada.
Bila kau menyayangi hewan peliharaanmu, kau pasti memberikannya nama.
Bukankah begitu..!
“tidak.. dia masih belum memilikinya. Maukah kau memberikannya nama!”.
“eeehhh.. kenapa harus saya!. Bukankah sebaiknya Anda sendiri yang menamainya”.
“tidak apa – apa. Aku yakin Nak Ran bisa memberinya nama yang bagus”.
“hhmm.. baiklah kalau itu yang Anda mau”.
“aku serahkan padamu”.
Apa nama yang bagus untuk kuda ini?
Tubuhnya cukup besar dan tinggi, tentu saja dia pasti kuat.
Dia adalah kuda terbaik di desa ini.
Apa ya nama yang cocok, aahh... aku tidaklah bagus dalam memberi nama.
Bagaimana kalau –
“Cony!”.
Aahhh.. celaka aku menyebutkannya..
Apa kakek tidak menyukainya..!
Apa namanya kurang bagus..!
Apa nama itu tidak pantas untuk kuda kesayangannya..!
Apa aku harus menggantinya..!
“ooowwhh.. nama yang bagus. Bukankah begitu Cony?”.
Kuda itu mendengus sambil menganggukkan kepalanya, sedangkan kakek membelainya dengan lembut.
“benarkah?”.
“ya.. lihat.. dia menyukainya”.
Kuda itu menyodorkan kepalanya padaku.
Apa aku harus mengelusnya, baiklah kalau begitu.
“yos.. yos.. Cony yang pintar”.
“hhiiiiikkkkkkk”.
Dai membalas pujianku, sepertinya dia mengerti apa yang aku katakan.
“Cony, mulai sekarang kau harus mematuhi Tuanmu”.
“eehh......”.
Aku masih bingung dengan ungkapan kakek.
Apa yang dia maksud dengan mematuhi Tuannya!.
Bukankah dia sendiri Tuannya.
Apakah seorang Tuan harus mengatakan itu pada pelayannya!.
Ini sungguh membingungkan.
“Cony sekarang adalah milikmu. Jadi mohon rawat dia dengan baik”.
“eehh.. aahh... tidak. Tunggu dulu. Apa maksudnya?”.
“Cony sekarang adalah milikmu. Jadi mohon rawat dia dengan baik”.
Kenapa kau mengulangi perkataanmu itu kek.
__ADS_1
Aku mengerti maksudmu, kau memberikan kuda ini padaku kan?
Tapi kenapa!.
“jadi....”.
“ya.. sekarang dia adalah milikmu. Untuk menempuh perjalanan jauh, Cony akan sangat berguna untukmu”.
“tapi, bukankah ini terlalu berlebihan!. Lagi pula Cony adalah kuda terbaik yang Anda miliki, apakah tidak di sayangkan memberikannya pada saya”.
“ini tidaklah seberapa dibandingkan dengan jasamu pada desa ini, jadi hanya inilah yang bisa aku berikan. Tolong terimalah”.
Kakek menundukkan kepalanya, dia bersungguh – sungguh ingin aku menerima kuda ini.
Bagaimana pun juga, dia sudah meneguhkan hatinya untuk memberi kuda kesayangannya ini.
Bila aku menolak, aku hanya akan menyakiti perasaannya.
“baiklah. Terima kasih atas pemberiannya. Saya akan merawatnya dengan baik”.
“sama – sama”.
“mohon bantuannya Cony”.
“hhhiiiiiiikkkkkk”.
Dengan begini, langkah pertama untuk mendapatkan transportasi telah terpenuhi.
Aku mendapatkan kuda terbaik yang bernama Cony, sekarang tinggal mempersiapkan keperluan lainnya untuk berangkat menuju kota Lettuce.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Aku mengatakan pada kakek bahwa aku ingin meminjam salah satu kereta yang tidak di gunakan lagi, tapi kakek sudah mempersiapkan sebuah kereta untuk kami.
Dia memberikan kereta yang di rancang sedemikian rupa untuk menempuh perjalanan jauh, dan di beri penutup seperti tenda dari kain yang sudah di lapisi bahan anti air.
Dengan begini kami dapat berteduh dari panas dan hujan dalam perjalanan.
Aku pun belajar cara mengendarai kereta, kakek dengan senang hati mengajarinya.
Tidak butuh waktu yang lama untuk menguasainya, itu semua karena Cony sebagai penarik kereta.
Dia adalah kuda yang pintar, aku hanya perlu memberinya perintah dan dia akan melaksanakannya.
Bahkan bila ada belokan di jalan, aku tidak perlu menarik tali yang terikat di kepalanya, dengan sendirinya dia akan berbelok.
Bahkan bila ada batu besar di jalan, dengan lincah Cony menghindarnya hingga roda kereta pun tidak akan tertabrak.
Aku bertanya pada kakek, apakah semua kuda di sini sepintar Cony.
Kakek mengatakan tidak, hanya Conylah kuda spesial yang memiliki pemikiran sendiri.
Dia dapat mengerti dan memahami apa yang orang katakan, tapi hanya mematuhi perintah dari Tuannya.
Tidak ada yang tahu kenapa Cony berbeda, yang pasti aku sangat beruntung sebagai pemiliknya.
Setelah belajar mengendarai kereta, aku berencana untuk belajar cara mengolah hewan buruan.
Kami tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli makanan, jadi yang bisa dilakukan hannyalah mencarinya.
Aku juga tidak mengharapkan uang pemberian dari warga, karena desa saat ini sedang mengalami kesulitan.
Selain itu aku sudah mendapatkan yang lebih penting dari itu, yaitu Cony dan kereta.
Jadi tidaklah sopan bila meminta lebih dari itu, bahkan untuk meminta persediaan makanan mereka sekalipun.
Aku harus mencarinya sendiri, maka dari itu aku memutuskan untuk belajar mengolah hewan hasil buruan.
Kebetulan para pemburu sudah pulang, mereka membawa banyak hewan.
Ada hewan yang seperti rusa, kelinci, bahkan tupai.
Jumlahnya pun tidaklah sedikit, tampaknya mereka akan merayakan pesta seperti yang sudah mereka janjikan padaku.
Aku meminta mereka mengajariku caranya menguliti dan membersihkan hewan, tanpa ada yang keberatan mereka bersedia mengajariku.
Aku pun meminta Devid ikut serta, karena bagaimana pun dia adalah rekanku dalam perjalanan.
Tidak mudah menguliti hewan, nyatanya aku selalu menyisakan daging yang masih melekat di kulit.
Tapi setelah beberapa kali percobaan, aku pun bisa melakukannya walau masih jauh dari kata sempurna.
Ya menurutku sudah lebih baik dari apa yang Devid lakukan.
Di selalu meninggalkan potongan besar daging di kulit, bahkan tidak jarang pula dia merobeknya.
Dia tampak kesal saat membandingkan hasilnya denganku, sepertinya dia tidak berbakat dalam bidang ini.
Lalu, apa aku berbakat?
Apa aku harus bangga dengan itu!.
Setelah menguliti semuanya, langkah selanjutnya yaitu membersihkan bagian dalam tubuhnya.
Mereka memberitahuku bagian mana yang bisa di ambil dan mana yang harus di buang, lalu membasuhnya dengan air sampai bersih.
Semua proses sudah selesai, sekarang menyerahkannya pada ibu rumah tangga untuk mengolahnya menjadi bahan masakan.
Sebenarnya tanpa di bumbui pun sudah enak untuk di makan, dengan memanggangnya di atas bara api.
Tapi karena malam ini akan di adakan pesta, jadi biarkanlah mereka yang sudah ahli menanganinya.
Kulit yang sudah di kumpulkan akan di keringkan dan di simpan, bila sudah terkumpul banyak mereka akan menjualnya di pasar kota.
Pedagang akan menerima jenis kulit apa pun selama masih bisa di gunakan, dan pastinya harga akan mengikuti kualitas barang yang ada.
Setelah mendengar itu aku pun lega, dalam perjalanan nanti aku akan berburu, memakannya, lalu menjual kulitnya.
Seperti melempari dua burung dengan satu batu.
Betulkah begitu peribahasanya?.
__ADS_1
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Malam pun tiba.
Semua warga berkumpul di halaman yang cukup luas.
Mereka menggelar beberapa tikar anyaman yang lebar dan menyusunnya, di susul dengan makanan yang di letakan di tengah – tengah.
Semuanya daging, benar. Hanya daging yang di sajikan.
Daging bakar, daging rebus, daging goreng, daging kuah, tumis daging, sate daging, bakso daging, sosis daging, daging yang di dalamnya ada daging.
Ada apa dengan semua daging ini!.
apakah tidak ada sayur!.
apakah kalian para penganut suku Karnivora!.
apakah kalian ingin menyiksaku yang Vegetarian ini!.
aahh.. bercanda..
Satu persatu mereka memberi salam padaku, aku pun membalas salam mereka dengan sopan.
Suara tawa dan alunan musik membanjiri desa, musik itu berasal dari suara alat seperti gitar dan gendang.
Semua warga tampak bahagia, mereka menari dan bersorak bersama.
Tanpa terkecuali aku dan Devid, kami pun ikut serta di dalamnya.
Aku sesekali di ajak menari oleh beberapa gadis, tanpa penolakan walau pun aku tidak punya pengalaman.
Aku hanya perlu mengerakkan tubuh seperti yang mereka lakukan, tidaklah sulit karena ini bukan tarian resmi kerajaan.
Tapi apakah tarianku susah bagus?.
Mereka yang memperhatikanku tertawa lepas.
Apakah seburuk itu.!.
Ahhh.. sudahlah..
Toh ini pesta, jadi biarkanlah mereka bersenang – senang.
Malam ini berakhir dengan di penuhi kegembiraan.
Sungguh menyenangkan.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Pagi pun tiba.
Suasana desa kembali seperti kemarin, sepertinya pesta tadi malam tidak membuat mereka bermalas – malasan hari ini.
Aku memutuskan untuk memulai perjalanan hari ini, dan Devid menyetujuinya.
Kami tidak perlu berkemas, karena kami tidak memiliki barang bawaan kecuali tombak yang Devid bawa, dan sebuah boneka kecil pemberian Emie.
Aku pun berpamitan dengan semua warga desa yang aku temui, ada beberapa dari mereka yang menyuruhku untuk menetap beberapa hari.
Maaf, kami tidak bisa tinggal lebih lama lagi.
Selain sungkan untuk merepotkan kakek, tujuan untuk menemukan Penyihir Suci Aynie akan semakin sulit bila terlalu lama kami di sini.
Maka dari itu, semakin cepat kami melakukan perjalanan, maka peluangnya akan semakin besar.
Aku harap sih begitu.
Cony sudah siap, dia mendengus riang padaku saat aku mengusap kepalanya.
Devid juga sudah berada di dekatku.
Beberapa warga berkumpul, wajah mereka tampak murung seperti akan melepaskan kepergian anak kesayangannya.
Aku pun merasa sedih saat berpikir sebentar lagi akan meninggalkan desa.
Kakek menyerahkan beberapa perbekalan yang di kumpulkannya dari warga, seperti selimut, bantal, alat memasak dan lain sebagainya.
Aku pun menerimanya dengan senang hati, karena semua pemberian ini akan sangat membantu kami.
Ada pula gadis cantik yang menghampiriku, menyerahkan tas kain dengan satu tali.
Tas itu berwarna coklat, dengan beberapa kantong di sana.
Dia mengatakan bahwa tas ini buatan tangannya sendiri.
Wajahnya merah padam saat memandangku, aku pun jadi salah tingkah dibuatnya.
Bolehkan aku membawanya!.
Setelah bertukar kata beberapa saat, kami pun mengucapkan salam perpisahan.
Aku berpamitan pada kakek, anaknya kakek siapa namanya lupa, bahkan si Emie kecil.
Dia menangis saat Devid memberikannya pelukan.
Sepertinya mereka sudah benar – benar dekat.
Bolehkah aku membawanya!.
Kami melanjutkannya dengan menaiki kereta.
Devid mengambil tempat di dalam, sedangkan aku duduk di depan.
Perlahan kami meninggalkan desa, sembari melambaikan tangan ke belakang.
Dengan bermodalkan peta yang aku dapatkan dari kakek, kami melaju ke barat menuju kota Lettluce.
Inilah perjalanan pertama kami.
Bolehkan aku menyebutnya pertualangan, karena kami tidak mengetahui seperti apa tempat yang akan kami tuju.
__ADS_1