
“selamat pagi. Apa tidurmu nyenyak?”.
“ini di mana?”.
“kau bisa lihat..!”.
“..................”.
Aku menunjuk ke sungai yang ada di depan kami.
Selama dia tidur, aku memindahkannya ke sini untuk menjauhi Monster di dalam hutan raksasa.
“.....................”.
Dia tiba – tiba berdiri, meraih tombaknya dan mengarahkannya padaku.
“apa yang kau lakukan padaku?”.
Eeehhh... aku tidak melakukan apa pun.
Sungguh..!. aku hanya memindahkanmu ke sini tanpa sedikit pun menggerayangi tubuhmu.
Sampai sekarang pun aku masih tidak doyan makan terong.
“tenanglah. Aku minta maaf karena tanpa ijin darimu aku memindahkanmu kesini. Aku hanya bermaksud menjauhkanmu dari hutan itu”.
“bukan itu maksudku”.
Bukan ya.. syukurlah kalau begitu.
Aku hampir saja menangis karena takut dituduh penjahat kelamin.
“bisakah di jelaskan apa yang kau maksudkan itu?”.
“jangan pura – pura bodoh!. Ini pasti perbuatanmu-kan mengirimku ke sini!”.
“sepertinya kau salah paham, aku tidak –“.
“jangan bohong. Kau yang menguasai Dungeon itu, jadi pastilah kau pelakunya”.
“itu tidak benar. aku tidak melakukan apa pun. Aku juga korban di sini”.
“benarkah?”
Kamu percaya!.
Kamu percaya semudah itu tanpa perlu penjelasan lebih detail dariku.!.
Tapi syukurlah, aku tidak perlu menjelaskan sesuatu yang aku sendiri belum mengerti.
“ya. Tidak ada kebohongan sedikit pun”.
Dia pun kembali duduk dengan meregangkan kedua kakinya ke depan.
Tampaknya dia sudah mulai tenang.
“jadi ini bukan perbuatanmu?”.
“ya. Aku pun ingin tahu siapa yang melakukan ini”.
“kalau di pikir lagi. segenius apa pun sebagai Cheater, kau tidak akan mampu melakukannya. Hanya Tuhanlah yang mampu!”.
Jenius.. kamu bilang aku Jenius!.
__ADS_1
Hehehe... terima kasih... terima kasih.. tunggu, kamu bilang apa barusan?, hanya tuhan!.
Aduh bung, perkataanmu berat sekali.
“ oia...! apa yang terjadi padamu sampai babak – belur tadi?”.
“bertarung dengan serigala menjijikkan”.
“melihat kondisimu. Kau tidak hanya bertarung dengan satu – dua Monster saja. Kalau boleh tahu, berapa banyak Monster yang kau lawan”.
“lima puluh. Saat itu aku berada di dalam sarang mereka”.
Lima puluh, itu tidak sedikit.
Kalau aku melawan sebanyak itu, tubuhku sudah tidak akan utuh lagi.
Mereka pasti sudah pesta Barbegue sekarang.. aahhh tidak juga.
Aku punya Skill Magic Area yang bisa mengalahkan mereka semua sekaligus.
lagi pula aku juga sempat menghabisi mereka yang berkelompok, mereka tetap lemah.
“begitu ya. Lima puluh itu bukan jumlah yang kecil. tapi syukurlah kau masih baik – baik saja sekarang”.
“ya.. untung saja aku masih hidup. Aku tidak mau mati di tempat seperti ini”.
Ekspresinya seperti orang ketakutan setelah mengatakan itu sembari merangkul tubuhnya.
“ya.. walaupun mati. Kita hanya mendapat penalti pengurangan EXP-kan. Jadi jangan terlalu dipikirkan”.
“...............”.
Dia melotot padaku sambil mengerutkan alisnya seakan mengatakan, ‘kenapa kau berkata seperti itu’.
Kenapa?. Kenapa kau menatapku seperti itu.
“apa kau tidak menyadari ada yang aneh di sini?”.
Aneh!. Ya. Banyak hal aneh yang terjadi baru – baru ini.
Sampai – sampai kepalaku mau pecah memikirkannya.
“seperti Game ini tampak lebih Real dari sebelumnya!”.
Dia mengangguk dalam sebagai tanda setuju.
“banyak perubahan yang tidak masuk akal terjadi”.
“aku pun berpikir begitu”.
Tidak munculnya Status Player, Tidak bisa menggunakan Perintah Sistem, tidak bisa Log Out, bahakan Inventory tidak muncul.
Adanya sensasi sentuhan, bau, dan rasa.
Monster yang tidak menghilang saat mati, rasa sakit dan darah.
Semuanya sangat berbeda bila di bandingkan dengan Kondisi sebelumnya.
“menurutku, kita tidak lagi berada dunia Game. Melainkan dunia nyata”.
Eeeehhhhh..... tidak.. tidak... tidak... aku yakin tempat seperti ini tidak ada di dunia nyata.
Walaupun aku tidak pernah keluar rumah, aku sering menjelajahi dunia melalui internet.
__ADS_1
Tidak mungkin ada, serigala bertanduk dengan tubuh sebesar beruang, pohon raksasa yang akarnya bisa membuat orang tersesat.
Helikopter di jadikan taksi Online, 'boku no pico' jadi hero setelah makan rambut.. aduhhh kepalaku sakit.
“aku belum bisa 100% setuju dengan kesimpulanmu. Tapi aku setuju bahwa ini bukan lagi dunia Game yang kita kenal”.
“apa yang masih membuatmu ragu?”.
“pada dasarnya, ini bukan lagi Game SELIFWOR. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah; kenapa Magic Skill masih bisa di gunakan?, kenapa kita masih menggunakan karakter dari Game itu?”.
“.....................”.
“ dengan kata lain, kita masih kekurangan informasi untuk menyimpulkan fenomena ini”.
“aku mengerti maksudmu. Ternyata kau sangat tenang menghadapi situasi ini”.
Tenang?.. siapa yang tenang..
Aku bahkan berniat membenturkan kepalaku karena terlalu banyak yang aku pikirkan.
Aku harus segera keluar dari sini karena tubuhku di dunia nyata tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi.
“aku pernah membaca kutipan yang mengatakan ‘ bila tidak menemukan jalan keluar, maka teruslah mencari.”
Eeeehhhh... apa yang aku katakan..
Itu memang sudah semestinya.
Tidak berbeda dengan ‘bila kamu lapar, maka makanlah’.
Aaahh... memalukan sekali.
“kata – kata itu sungguh bijak, sangat membantu sekali untuk keadaan kita saat ini”.
Benarkah?.. eheeheehhee.... terima kasih.. terima kasih.
Kalau begitu akan aku jadikan salah satu koleksi ‘kata motivasiku’.
“baiklah, sepertinya kita harus pergi sekarang”.
“pergi ke mana?”.
“tentu saja untuk mencari informasi”.
“baiklah“.
Dia mengulurkan tangannya padaku dan aku pun menyambutnya.
“David Carlson. mohon bantuannya Baychimo.!”.
“Baychimo?”.
Apa itu?. istilah dari negara lain seperti ‘geronimo’!.
“bukankah itu panggilanmu?. Aku tahu dari rumor yang menceritakan tentangmu”.
“rumor?. Maaf bisakah kau jelaskan tentang rumor itu!.
“aahh... aku tidak ingat cerita lengkapnya. Kalau tidak salah, karena Dungeon yang kau buat selalu kosong maka mereka menyebutnya Dungeon Baychimo”.
Oohhhh.. kapal hantu itu.
Ternyata rumor tentangku tidak buruk juga.
__ADS_1
Baiklah kalau begitu..
“maaf karena terlambat memperkenalkan diri. Namaku Ran Baychimo”.