
Mereka kembali berkumpul di sudut ruangan, ekspresi wajah mereka tampak murung setelah menerima kekalahan itu.
Mereka hanya saling pandang tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Warrior duduk bersila di tanah, menundukkan kepalanya sambil memeluk tombaknya.
Assasin dan Paladin bertubuh besar berdiri bersandar di dinding.
Ketua masih berbaring, menutup matanya dengan lengan.
Sedangkan si penyihir duduk menekukkan kakinya dan membenamkan kepalanya di lutut.
Aku menghampiri mereka.
“yyaaaaaa... tadi itu seru sekali..”.
“..............”
Tidak ada yang memberikan respons.
Mereka hanya melirikku dengan tatapan kosong tanpa pergerakan sedikit pun.
Hanya Warrior yang menatap penuh kebencian padaku.
kenapa kalian diam saja?, apa aku sudah salah ngomong.
Aku merasa bersalah Kalau kalian menatapku seperti itu.
“eeehhheemmm... [ Instant Magic Area, Maximum Recovery ]”.
Aku memberikan sihir penyembuhan tingkat Area pada mereka,
HP mereka pun kembali penuh.
Mereka terlihat bingung dengan apa yang barusan aku lakukan.
tenang saja. Aku tidak berniat bertarung dengan kalian lagi.
Setelah lingkaran sihir penyembuhan menghilang, kapten pun bangun dan duduk bersila sembari memukai percakapan.
“pada akhir... kami di kalahkan dengan mudah”.
Dia tersenyum, tapi senyuman itu di paksakan. Nada bicaranya juga datar, seperti orang yang sudah pasrah saat di vonis hukuman mati.
“tidak... tidak... aku juga kewalahan melawan kalian semua”.
“untuk seorang Cheater. Ternyata kau cukup merendah juga”.
eeeeehhhhh..... apa maksud mu kapten?.
Itu suatu pujian bukan?.
Apa aku harus senang!.
“aku mengatakan yang sesungguhnya. Kalian petarung yang hebat. Bahkan di pertarungan terakhir kau bisa mendesaku sampai tidak bisa menggunakan sihir”.
“kau terlalu membesar – besarkan. Aku tidak sehebat itu. Mungkin kau tanpa Cheat pun, aku tetap tidak bisa mengalahkanmu”.
“tidak... tidak... aku tidak membesarkan apa pun. Kau memang hebat. Saat pertarungan terakhir, kau tidak menggunakan satu pun Skill dari Paladin. Semuanya murni kemampuan orisinalmu sendiri”.
“.........................”
Kapten terdiam, ekspresi wajahnya kaku dan tubuhnya menegang.
Kalau di gambarkan, seperti seorang pelaku yang kejahatannya berhasil di bongkar oleh detektif Handal.
“luar biasa. Kau bisa mengetahuinya hanya dari sekali pertarungan”.
“tentu saja.. aku sudah banyak mengalami pertarungan dengan banyak orang. Jadi mengetahui itu bukanlah hal yang sulit bagiku”.
“kalau begitu, sebutan Cheater Jenius memang cocok untukmu”.
“ benarkah..!. kau bisa menyebutku seperti itu”.
Kapten tersenyum padaku.
Kali ini bukan senyum yang di paksakan, tapi senyuman yang tulus.
Aaahhhh.. aku baru ingat.
Ada sesuatu yang harus aku lakukan.
“aku hampir melupakan sesuatu. tetaplah di sini, aku akan ke belakang sebentar”.
“tunggu..!.".
Cegatnya menghentikan langkahku.
Kenapa?
Apakah kau keberatan bila aku tinggalkan?
Apakah kau sudah memendam perasaan saat pertama kali melihatku, karena itu kau tidak ingin aku pergi?
Tidak...
Maafkan aku Kapten, aku harus menolakmu.
Karena bagaimana pun, kita tidak akan mungkin bersama.
Tidak akan pernah.
Bercanda.
Mari kita dengarkan apa yang akan Kapten katakan.
"Bisakah keluarkan kami dulu?. Kami sudah terlalu lama di sini, masih ada kegiatan lain yang harus kami lakukan”.
__ADS_1
“kalau begitu ikutlah denganku”.
Kami berenam pergi bersama menuju sudut ruangan.
Sebelum aku menunjukkan jalan keluarnya, aku membawa mereka ke tumpukan Item yang aku simpan tadi.
“silakan ambil yang kalian suka”.
“........ ini..!. tidak.. kami tidak berhak menerima ini”.
Kapten menolak penawaranku.
Sedangkan rekannya yang lain hanya menatapnya seakan bertanya 'kenapa ditolak?'.
Tidak semua begitu, ada juga yang menganggukkan kepalanya seakan menyetujui keputusan si kapten.
Aku penasaran, kenapa rekannya yang lain hanya diam.
kenapa tidak langsung mengatakan penolakan atau persetujuan mereka padaku.
Apakah mereka tidak ingin berbicara denganku, karena sedari tadi percakapan hanya terjadi antara aku dan kapten.
Aahh.. sudahlah, yang penting masih ada yang bersedia berbicara denganku dari pada tidak sama sekali.
“kenapa?. Aku memberikannya pada kalian”.
“maaf.. tetap saja kami tidak bisa menerimanya”.
“ambil saja. Tidak baik menolak pemberian orang lain”.
“ sekali lagi maaf.. Kami tidak bisa menerimanya, Karena kami kalah darimu”.
Inikah yang dinamakan harga diri lelaki?.
Apa yang membuatmu ragu menerimanya?.
Aku tidak menarik bayaran.
Aku ikhlas memberikannya pada kalian.
Karena menurutku kalian pantas menerimanya.
“aku tidak ingat pernah mengatakan bahwa kalian harus menang untuk mendapatkan ini”.
Iya kan? Aku tidak pernah memberi syarat bahwa mereka harus menang baru bisa mendapatkan item ini.
“syarat yang aku berikan adalah ; ‘kalian harus bertarung dengan serius melawanku’. Apakah aku salah?”.
“......................”
Mereka bertukar pandang.
Tidak ada percakapan, tapi mata mereka seakan berbicara satu sama lain.
‘ambil saja’, ‘apa kamu yakin?’, ‘mungkin ini jebakan’, ‘aku tidak mempercayainya’, ‘kesempatan ini tidak datang dua kali’, dan semacam itulah.
Sekitar satu menit waktu yang mereka habiskan untuk berpikir.
“bagus. Itu membuatku senang”.
Masing – masing mereka mengambil satu buah item.
Gadis penyihir memilih ‘Mana Recobvery Ring’, fungsinya mempercepat penyembuhan mana 20%.
Warrior memilih ‘Red Dragon Spear’, tombak yang dapat mengeluarkan api di luka yang di sayatnya.
Assasin memilih Lightning Boots, sepatu yang membuat pemakai berlari secepat kilat.
Kapten memilih Absorbent Shield, perisai yang mampu menyerap dan meniadakan serangan sihir.
Dan yang terakhir Paladin bertubuh besar memilih Steel Dividing Sword, pedang yang dapat memotong baja seperti mentega.
Dengan begini selesailah sudah acara hari ini.
Seperti biasanya, besok aku harus mencari Dungeon baru dan mengundang Player lain untuk menjadi lawan tandingku.
Semoga saja aku bisa bertemu dengan Player yang hebat seperti mereka.
“terima kasih banyak. Kami tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. kami akan membayarnya suatu saat nanti!”.
“aahhh.. kalau begitu aku ingin kalian membayarnya sekarang”.
“sekarang!”.
Mereka terkejut dengan pernyataanku.
Assasin dan gadis penyihir menatap tajam seolah mengatakan ‘sudah ku duga’.
Kenapa kalian hanya menatapku seperti itu?
Bicara woy....
Aku tidak akan meminta kalian melakukan hal aneh untukku.
“aku mau kalian merahasiakan keberadaanku sebagai Cheater. Bisakah kalian melakukan itu?”.
“hanya itu?”.
“ya.. hanya itu”.
“baiklah kalau begitu. kami berjanji akan menjaga rahasia tentangmu”.
“terima kasih banyak”.
“tidak... kamilah yang harusnya berterima kasih”.
Kami pun bertukar senyum, mereka sudah tidak lagi menunjukkan ekspresi tidak suka ataupun tidak nyaman padaku.
__ADS_1
Masing – masing dari mereka menatap takjub dengan Item yang di pegang.
Biasanya bila mendapatkan item baru para Player akan langsung memasukkannya ke dalam Inventory, karena akan menyusahkan bila harus memegangnya.
Entah kenapa hatiku merasa nyaman saat bersama mereka.
Dan begitu berat mengetahui bahwa sebentar lagi kita akan berpisah.
“pintu keluarnya ada di belakang panggung. Aku akan membukakannya untuk kalian”.
Aku terlebih dulu berjalan menuju pintu keluar, dan mereka mengikutiku dari belakang.
Dalam perjalanan aku mendengar suara bisik – bisik dari belakang.
Karena terlalu pelan, aku hanya mendengarkan potongan – potongannya saja.
“......tujuan..... ......tercapai..... .....jual..... ....mahal...... “.
“sssstttttt... diamlah kalian berdua”.
Kapten menegur kedua rekannya yang sedang membicarakan sesuatu di belakang.
Apa?, Tujuan apa?.
Apa yang sudah kalian capai?.
Apa yang mau di jual?.
Apanya yang mahal?.
Jangan – jangan.. aahhh... sudahlah...
Sebentar lagi kami sampai ke tempat tujuan.
Tapi tiba – tiba....
“GGGRRUUUMMMM”.
Ruangan berguncang, bongkahan batu dan kerikil berjatuhan dari atas.
Semakin lama guncangan semakin kuat, membuat permukaan ruangan mulai retak ke segala arah.
Kami tidak lagi dapat menjaga keseimbangan, kemudian terjatuh ketanah.
“aaaarrrrrhhhhh.....”
“kenapa ini...?. apa yang sedang terjadi.?”.
“gempa bumi..!”.
“gempa bumi..?”.
“kenapa bisa gempa bumi?”.
“aku tidak tahu”.
“mungkin terjadi eror pada server”.
“kerusakan server tidak mungkin seperti ini”.
“aaaarrhhhh.....”.
“aaaaarrrrhhhh....”.
Kami semua panik.
Guncangan semakin besar, kami sudah kehilangan keseimbangan dan tersungkur di tanah.
Kami berusaha merangkak sekuat tenaga menjauh dari retakan yang semakin mendekat.
“semuanya... pegangan..”.
Kapten meneriakkan seruan untuk saling berpegangan.
Aku menoleh ke segala arah mencari orang yang dekat denganku.
Di sampingku hanya ada Warrior, di depanku ada retakan besar yang memisahkan aku dengan tiga orang lainnya.
Tidak... kapten dan gadis penyihir terpisah.
Kapten berusaha meraih tangan gadis penyihir tapi tidak kunjung sampai.
Jarak mereka terlalu jauh karna retakan semakin melebar.
Tanah yang berada di bawah gadis penyihir tiba – tiba runtuh –
“aaaaaaahhhh........”
Dia pun jatuh.
Kapten hanya memandang ke bawah tanpa bisa melakukan apa – apa.
Dia berusaha berdiri, tapi guncangan yang besar membuat tubuhnya kembali tersungkur.
Tak lama kemudian, tanah yang menjadi tumpuannya ambruk membawanya ke bawah.
“KAPTENNN.....!”.
Assasin berusaha mengejar kaptennya, tapi tangannya di tahan oleh Paladin bertubuh besar.
Saat itu juga tanah tempat mereka bertumpu jatuh.
Yang tersisa hanya aku dan Warrior.
Kami bertukar pandang, kami tahu nasib apa yang akan menimpa kami setelah ini.
Dengan mantap dia menjulurkan tangan, tapi aku langsung menepisnya lalu kuraih kerah leher bagian belakangnya.
__ADS_1
Retakan di bawah kami semakin besar, dan akhirnya...
Kami pun ikut jatuh.