
Aku berdiri di depan mereka.
Si Warrior bertombak itu mudah sekali marah.
Padahal aku hanya ingin mengobrol sebentar dengan kalian.
Sepertinya aku berhasil mengurangi dampak seranganku seminimal mungkin agar dia tidak langsung mati.
Ooohhh.... ternyata si gadis penyihir itu memiliki skill penyembuhan.
Baguslah kalau begitu, Si Warrior akan baik - baik saja karena sudah di sembuhkan walau hanya bertambah sedikit.
Oke... baiklah. Selanjutnya -
"eehhheemmmm... jadi bisakah kita lanjutkan pembicaraan kita tadi?".
Warrior mulai berdiri kembali.
Si Paladin ber - Armor silver menjawab pertanyaanku.
"apa kau menggunakan cheat?".
Wwaawww... mereka bisa membuat kesimpulan yang tepat hanya dengan dua kali serangan.
Sepertinya mereka sudah memiliki banyak pengalaman bertarung.
Baiklah, aku akan berkata jujur karena sudah membongkar rahasiaku.
" benar sekali. Kalian boleh memanggilku si Cheater Jenius"..
" benarkah?. Kalau begitu percuma saja kita bertarung. Bagaimana pun juga kami tidak akan pernah bisa mengalahkanmu".
"eeehhh... apa yang kau katakan kapten?".
Warrior mengajukan keberatan pada Paladin ber-Armor silver yang di panggilnya kapten.
Semua rekannya yang lain menatap tidak puas padanya.
Aku juga keberatan.
Kenapa kamu menyerah begitu saja.
Sepertinya kamu harus segera melepaskan jabatanmu sebagai kapten.
"benar kapten, seharusnya kita beri pelajaran pada orang sombong itu".
Si wanita Assasin juga ikut menimpali.
"tenanglah kalian berdua. kalau kita melawannya, kita hanya akan di bantai habis".
"tapi -"
"coba pikirkan, berapa banyak EXP yang akan hilang bila kita mati di sini?. 1.000, 2.000.?".
Ooohhh... masuk akal juga.
Bila kalian mati di kalahkan oleh Monster, kalian akan mendapatkan penalti pengurangan EXP sebanyak 100.
Mati karena PK mendapat penalti 5x lipat.
Tapi bila mati di dalam Dungeon, penalti pengurangan akan bertambah 10x lipat.
Lalu bagai mana bila mati karena PK di dalam Dungeon. 15x lipat?.
Semakin tinggi level kalian, Maka semakin sulit pula untuk mendapatkan EXP.
Semuanya diam.
Tak ada satu pun yang bisa membantah argumen kaptennya.
Masing - masing dari mereka sudah kehilangan semangat bertarung.
Gawat... aku tidak boleh membiarkan mereka kehilangan minat bertarung melawanku.
"sepertinya kalian semua salah paham".
Tidak, keputusan yang kalian buat untuk berhenti bertarung itu sudah benar.
Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"aku tidak sekuat yang kalian pikirkan!".
Bohong.. aku terlalu kuat sampai bisa mengalahkan kalian semua sekaligus hanya dengan satu serangan.
"aku masih punya banyak kelemahan".
Di mana?.. aku sudah meningkatkan semua Status Characterku sampai mentok.
"omong kosong".
Benar, itu hanya omong kosongku .
Warrior membantah omonganku dengan kesal.
Matanya menatap tajam padaku dengan penuh kebencian.
"tenanglah.. biar aku yang mengatasinya".
Tapi dengan sabar si kapten menegur pelan rekannya itu.
"benarkah apa yang kau katakan?".
Akhirnya si kapten mulai menunjukkan ketertarikannya. Mari kita lanjutkan.
"benar sekali. Meskipun aku menggunakan Cheat, tidak banyak yang bisa aku lakukan".
Benarkah?.. kalau di ingat - ingat lagi, aku sudah banyak melakukan perubahan pada karakterku sendiri.
Bagaimana jika dia mempertanyakan seberapa banyak perubahan yang aku lakukan, Apa saja yang sudah aku tambahkan, sampai sejauh mana kekuatan yang sudah aku tingkatkan.
kalau aku menjawab jujur, maka aku hanya menggali kuburanku sendiri.
Tapi bila aku berbohong, maka aku akan terus berbohong pada mereka.
Dan itu melelahkan.
"apa saja penambahan yang telah kamu lakukan?".
Tu kan, di pertanyakan juga.
Bagaimana aku harus menjawab pertanyaannya?.
Kalau begitu, kita coba cara yang satu ini.
"maafkan aku.... aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu!. tapi aku akan memberikan penawaran yang menarik untuk kalian".
"penawaran?".
owhh.. akhirnya si kapten mulai tertarik.
mari kita lanjutkan.
"ya.... aku memiliki Rare Item dari beberapa Dungeon yang pernah aku tempati. Tentu saja.... aku akan memberikannya pada kalian, tapi dengan satu syarat. Kalian harus bertarung serius melawanku".
Aku punya banyak.
Semuanya aku dapatkan dari Dungeon yang pernah aku ambil alih.
Rare Item sangat sulit si dapatkan.
Dari 10 Dungeon yang kalian masuki, Belum tentu ada 1 Dungeon yang menyimpan item tersebut.
Aku tidak keberatan memberi itu semua pada kalian.
Karena kekuatanku yang sudah melampaui batas, jadi item terebut tidak akan berpengaruh padaku.
Tapi apa aku harus sebaik itu, toh kalian akan aku habisi juga nantinya.
"kamu baik sekali mau memberikan semua itu, apa ini juga termasuk bualanmu?".
Eeeehhhh...... tidak.. tidak.. tidak... aku tidak membual.
Aku mengatakan yang sebenarnya.
Aahhh.. susah sekali si kapten ini di bujuk.
Padahal aku sudah berbaik hati mau memberikannya pada kalian.
kau menyakiti hatiku...!
Aku mengeluarkan satu - persatu Rare Item dari dalam penyimpananku sembari menyebutkan namanya.
Dan aku letakan item tersebut di atas meja yang sudah aku buat menggunakan sihir.
"Mana Recobvery Ring, Red Dragon Spear, Absorbent Shield, Steel Dividing Sword, dan Lightning Boots".
Mata mereka terbelalak meliat semua Rare Item yang aku keluarkan.
"kalian boleh mengambil semua ini setelah pertarungan selesai".
Aku meng-urung-kan niatku untuk membantai kalian semua.
Karena baru kali ini aku bertemu dengan orang yang penuh perhitungan dan hati - hati seperti kalian.
Mencoba berdialog dan memaksaku membuat sebuah penawaran.
Walau pun yang tetap berkepala dingin sampai sekarang hannyalah si kapten.
Tapi tetap saja dia mampu meyakinkan rekannya untuk tidak bertindak gegabah.
Mungkin dia sudah banyak mengalami manis pahitnya hidup, yang membuat dia lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Aku harus banyak belajar darinya.
Selama ini aku hanya bertarung dengan orang yang pikirannya dangkal.
Mereka langsung menyerang tanpa mau mendengarkan apa pun yang aku katakan.
__ADS_1
Aku mulai bosan bertarung dengan tipe orang seperti itu.
Semoga saja kali ini berbeda.
"bagaimana caranya kamu memberikan itu setelah mengalahkan kami?. Karena jika mati, kami akan langsung di teleport kembali ke kota."
Uups... aku lupa mengatakan niatanku tadi.
Baiklah kapten, dengarkan ini.
"aku sudah tidak lagi berniat untuk menghabisi kalian. Begini saja. Aku akan memberi kalian kemudahan."
Mari kita lihat, kemudahan apa yang bisa aku berikan tanpa merugikan kedua belah pihak.
"aku akan anggap kalian kalah bila HP kalian kurang dari 10%, dan aku akan anggap kalian menang bila berhasil mendaratkan satu serangan padaku".
Mereka memandang satu sama lain dan berbicara dengan suara pelan.
Dari posisiku berdiri saat ini, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tapi aku bisa melihat dari gerak - gerik mereka bahwa ada pro dan kontra di sana.
Si kapten berusaha meyakinkan pendapat yang di miliki sambil mengerak - gerakkan tangannya, dan sesekali mendapatkan anggukan dari beberapa orang.
Hampir lima menit lamanya berdiskusi, akhirnya mereka sampai pada satu kesimpulan.
"baiklah... kami menerima tawaranmu tapi dengan catatan kamu harus menepati janjimu".
Kapten menyetujui penawaranku.
akhirnya..
"tentu saja. Aku tidak pernah mengingkari janji yang sudah aku buat".
Kalau di perhatian.
Kondisi yang masih prima dari mereka hanya tiga orang.
Si Warrior masih kekurangan HP akibat seranganku, dan si penyihir juga kekurangan mana.
Kalau di teruskan maka sudah bisa di pastikan mereka berdualah yang akan tumbang pertama kali.
"apa kalian tidak memiliki Potion untuk memulihkan HP Warrior itu".
"aaahhhh.... ada tujuan yang ingin segera kami capai, jadi harus menghemat biaya pengeluaran".
Tujuan? Tujuan apa yang membuat kalian mengabaikan nyawa rekan kalian sendiri.
Aku merasa kasihan pada si Warrior, aku sedikit banyak mengerti bagaimana rasanya di nomor - dua - kan.
Sebagai orang yang bernasib sama, aku akan membantu sedikit meringankan penderitaanmu.
"sebelum itu, aku punya sedikit hadiah buat kalian".
"hadiah?".
Aku mengarahkan tangan kananku pada mereka sembari melafalkan mantra.
"[ Instant magic area, maximum recovery ]"
Aku melepaskan sihir penyembuh tingkat tinggi yaitu memulihkan MP dan HP sampai level 100% dalam radius 5 meter.
Lingkaran sihir dengan cahaya hijau redup membentang lebar di bawah kaki mereka.
Perlahan HP Warrior bertambah sampai akhirnya kembali penuh.
Aku yakin hal serupa terjadi pada MP si gadis penyihir walaupun status MP tidak dapat dilihat player lain.
Dengan begini mereka semua sudah dalam kondisi prima.
"baiklah... bisa kita mulai?".
Mereka semua menatap lurus padaku.
Masing - masing sudah bersiap untuk meluncurkan serangan.
"hhhhhmmmmm".
Kapten menarik napas dalam.
kemudian meneriakkan aba - aba sebagai tanda di mulainya pertarungan.
"SEERAANNG....!".
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Warrior berlari secepat angin dari arah kiri.
Di sertai Paladin bertubuh besar dari arah kanan.
Sedangkan kapten berlari lurus ke arahku sambil mengangkat tamengnya ke atas.
apa yang dia lakukan, apakah dia akan memukul kepalaku dengan tameng itu?.
2 meter lagi dia akan segera sampai padaku, tapi dengan cepat dia menurunkan tubuhnya dan meluncur di bawah.
Saat itu pula bola api melesat dari balik tameng.
oohh.. jadi begitu.
Di angkatnya tameng itu ke atas bertujuan untuk menutupi bola api yang di tembakkan penyihir.
"[stone wall]"
Aku buat dinding batu di depanku hingga bola api pun menabraknya.
"BBTTOOOMMMM...".
Kapten masih berada di belakang tembok, tapi serangan susulan datang dari sebelah kiriku.
"hhhiiiaaaattt...."
Warrior menebaskan tombaknya horizontal ke dapaku, aku berhasil menghindar dengan melompat ke belakang.
"SSSRRAAKKKKK..".
Tebasan tersebut mengenai dinding batu yang aku buat hingga terbelah menjadi dua.
Dalam kondisi masih belum menyentuh tanah, tiba - tiba serangan datang dari paladin bertubuh besar.
"[stone wall]"
Aku membuat dinding batu muncul di bawah kakiku dan melemparkanku ke atas.
Aku berhasil menghindari serangannya.
Saat aku masih berada di udara Assasin sudah ada di belakangku.
Sejak kapan dia ada di sini? .
Bukankah dia masih berapa di dekat penyihir.
Apa mungkin dia bersembunyi di belakang tubuh Pria besar itu?.
Mungkin saja mengingat tubuh Assasin yang ramping.
Bersamaan dengan itu, di depan sebuah peluru api meluncur secepat kilat ke arahku.
Itu adalah serangan dari penyihir.
Serangan dari depan dan belakang. Bagaimana caranya lolos dari kondisi ini.
"[Tornado Robe]"
"WWUUUUZZZZZZZZ....".
Putaran angin tornado menyelimuti tubuhku.
Assasin gagal melancarkan serangannya, dia terpental karena hembusan angin dan terjatuh ke tanah.
Begitu pula dengan peluru api si penyihir yang langsung lenyap seketika.
Aku kembali menapakkan kakiku di tanah.
Tapi tiba-tiba lingkaran sihir berwarna merah redup muncul di tempatku berpijak.
Aku tau lingkaran sihir ini.
Ini adalah [Fire Trap].
Jebakan sihir yang akan aktif dalam 2 detik saat seseorang menginjaknya.
Fire Trap memiliki dua tingkat ; tingkat dasar dan tingkat tinggi.
Tingkat dasar hanya bisa di pasang di tempat di mana penyihir berada.
Tapi tingkat tinggi bisa di pasang dari jarak jauh.
Tentu saja dengan konsumsi mana yang banyak.
Mungkin dia memasangnya setelah menembakku dengan peluru sihir, sungguh cerdik.
Tapi aku tidak akan membiarkan diriku terkena serangan ini.
"[Absolute Magic Eraser]"
Di tambah dengan....
"[Fire Trap]".
Penyihir bingung, karena jebakan yang sudah dia pasang tidak kunjung aktif.
Tentu saja aku sudah penghapusnya dan memasang ulang di tempat yang sama.
Sihir jebakan tidak akan aktif bila penggunanya sendiri yang menginjaknya.
Kenapa aku melakukan itu?, mengacaukan pikiran lawan adalah salah satu langkah untuk memastikan kemenangan.
__ADS_1
Aku maju beberapa langkah, Warrior mulai menyerang kembali.
"aaarrrrhhhhh...."
Warrior melompat ke arahku, meluncurkan serangan tusukan ke leherku.
Aku berhasil menepisnya.
Dia berputar dan menggunakan bagian belakang tombaknya menyerang dadaku.
Aku berhasil menangkapnya.
Dari samping kanan Paladin bertubuh besar bersiap menyerangku.
Dia mengayunkan pedangnya vertikal menuju pundakku.
Aku melemparkan Warrior yang tombaknya masih aku tahan kepadanya.
"BBUUGGHHH....".
Tubuh mereka berdua pun berbenturan dan akhirnya jatuh ke tanah.
Di belakangku.
Assasin terbang secara horizontal, menyilangkan kedua tangannya dengan posisi kedua pedang menempel pundak.
Dia mengincar leherku.
Aku pun berputar sembari bergerak ke samping menghindari serangannya.
"wwwuuusssss.....".
Serangannya gagal, dia hanya berlalu melewatiku.
Di depannya ada si kapten yang mengangkat perisainya di depan dada.
Assasin menggunakan perisai itu sebagai tempat pendaratan.
Saat Assasin menapakkan kedua kakinya di atas perisai, kapten melontarkan tubuh Assasin ke depan dengan kekuatan penuh.
Kali ini, Assasin melesat dengan kecepatan tinggi sembari berputar di udara.
Wwoooowww... sungguh kerja sama yang epik.
Aku penasaran, Berapa lama kalian melatih gerakan itu?.
Aku menghindari serangan itu dengan melompat tinggi ke atas.
Assasin berada di bawahku, aku menangkap kakinya lalu membantingnya ke bawah.
Sebelum tubuhnya sampai ketanah -
"[thorn spear]"
Aku menciptakan duri panjang di atas permukaan tanah, tubuhnya pun jatuh menancap pada duri tersebut.
Akibat benturan yang keras, tanah sedikit berlubang.
Assasin terkulai lemas di sana, dia sudah tidak bisa melanjutkan pertarungan karena HP yang di miliki tersisa 5%.
Tiga orang di depanku memasang kuda - kuda.
Dalam hitungan detik, mereka bertiga serempak bergerak maju mendekatiku dan melancarkan serangan.
Aku menghindari serangan mereka sambil melompat ke belakang.
Aku terus mundur menuju jebakan yang aku buat, berharap salah satu dari mereka menginjaknya.
Benar saja, saat melompat ke belakang, Paladin bertubuh besar menginjak jebakan itu.
Kobaran api keluar dari dalam lingkaran sihir dan membakar tubuhnya.
Akibat dari serangan itu, sisa HP miliknya tinggal 7%.
Kapten dan Warrior tetap melanjutkan serangannya.
Jauh di belakang mereka penyihir mencari celah untuk menembakkan sihirnya.
karena dua rekan yang bertarung melawanku menutupi pandangannya, akhirnya dia bergerak ke kiri mencari posisi yang tepat untuk menyerangku.
"aaasrrrgghhhhh...."
Warrior mengarahkan mata tombaknya ke bandanku, tapi aku berhasil menepisnya.
Dia menusukkan ujung tombaknya ke tanah, menggunakan tangkai tombak sebagai tumpuan tubuhnya, kemudian berayun seperti atlet lompat galah menerjang ke arahku.
Aku menahan kakinya dengan satu tangan.
"[stone wall]"
"GGEERRR....".
Aku kembali menciptakan dinding batu yang muncul dari tanah seperti roti yang keluar dari mesin pemanggang.
Bagian atas dinding menghantam punggung Warrior dan melontarkannya ke atas.
Kemudian -
"[Soil Pillar]".
"GGGGRRREEERRR".
Sebuah pilar muncul dari langit - langit dan ujungnya menghantam perut Warrior.
Dia terdorong ke bawah kembali menghantam ujung dinding batu, menyebabkan tubuhnya terjepit dan tak mampu lagi bergerak.
Semoga saja dia tidak gepeng.
HP yang di miliki Warrior tersisa 4%.
Aku melirik pada kapten yang berhenti menyerang.
Dengan cepat kilat aku melompat ke depan dan mendaratkan tinjuku padanya.
Tapi dia berhasil memblokir seranganku dengan perisainya.
Tapi karena kekuatanku yang luar biasa, tubuhnya terpental ke belakang dan jatuh terkapar tepat di depan penyihir.
Si penyihir tersentak, kemudian menatap tajam padaku.
Dia mengangkat tongkatnya, semburan api yang besar melesat ke arahku.
"[Thick Frozen Walls]"
Aku menciptakan dinding es di depanku untuk menahannya.
Kemudian -
"[Crystal Arrow]".
Puluhan kristal es dengan ujung lancip melayang di sisi kiri dan kananku.
Dengan satu sentakan, semua kristal melesat seperti peluru menuju si penyihir.
Puluhan kristal tajam menghujani tubuh mungilnya, dia pun akhirnya jatuh dengan sisa HP 2%.
Kapten mulai bangun dan kembali berdiri tegak. Dia memandangi semua rekannya yang terkapar tak berdaya di tanah.
"hhhhhmmm".
Dia menarik napas panjang dan memejamkan matanya, kemudian dia melihatku.
Mata itu, bukan mata yang penuh dengan kebencian.
Tapi mata yang memiliki tekat dan keyakinan yang kuat.
Semangat seorang pejuang yang akan terus maju sampai titik darah penghabisan.
Dia menatap lurus ke depan tapi tidak tertuju padaku.
Seakan menatap harapan dan impian, seakan tujuannya sudah ada di depan mata.
Dengan penuh keyakinan, dia kembali menyerangku.
Ayunan pedangnya lebih cepat dari sebelumnya.
Sedikit saja lengah, makan tebasannya pasti mengenai tubuhku.
Aku pun membalas serangannya dengan tinjuku, Tapi dia berhasil memblokir seranganku.
Walau pun tubuhnya sedikit terpental akibat tinjuku berbenturan dengan perisainya, dia masih berdiri tanpa kehilangan keseimbangan sedikit pun.
Aku terus menghindari serangan pedangnya, dan dia terus menangkis seranganku.
Dia terus menekanku tidak memberikanku kesempatan mengeluarkan sihir.
Dia mengayunkan pedangnya secara vertikal dari bawah ke atas.
Saat pedangnya berada di atas, dia membiarkan pertahanannya terbuka.
Aku langsung mengarahkan tinjuku ke tubuhnya.
Dia pun terpental ke belakang.
Tubuhnya membentur keras dinding hingga menyisakan lubang kecil.
Aku lanjutkan dengan memberinya serangan terakhir.
"[lightning sting]".
"ZZZZEEEZZZZZZZ....."
Tubuhnya mengejang dan kilatan listrik menjalar di tubuhnya.
Dia pun roboh dengan posisi telungkup di tanah.
Sisa HPnya saat ini adalah 1%.
__ADS_1
Pertarungan pun berakhir.