
“Kau berbohong padaku !” Leon menekankan kata-katanya pada Diana.
Lidah Diana seolah kelu tak mampu mengucapkan kata-kata padahal ia ingin sekali menyangkal ucapan Leon padanya.
“Ak..aku tidak..di..dia bukan..!” ucap Diana terbata-bata mengapa sulit sekali baginya untuk mengatakan jika bayi tersebut bukanlah darah daging Leon.
“Apa ? Kau mau menyangkal jika dia bukan putri ku ? Kau tega sekali Diana ! Apa kau pikir aku pria brengsek yang lari akan tanggung jawab ? Aku bukan bajingan Diana !” Leon mencecar Diana dengan banyak pertanyaan dan menekankan kata-katanya.
Leon sama sekali tak tahu jika Diana mengandung anaknya selama ini bahkan telah melahirkannya. Meski hubungan yang mereka lakukan di masa lalu adalah sebuah kesalahan satu malam, tapi tetap saja jika Diana sampai mengandung anaknya ia tidak mungkin membiarkan Diana menanggungnya sendirian.
“Aku hanya takut kau akan mengambil Alana dariku jika kau tahu aku mengandung anakmu !” balas Diana sampai ia meneteskan air matanya.
“Apa aku seegois itu ? Aku tidak mungkin tega memisahkan anak dari ibu kandunganya !” sentak Leon dan itu membuat tangis Diana semakin luruh.
“Jangan ambil dia dariku, ku mohon !” Diana sampai bersujud dan memegang kaki Leon sambil menangis agar Leon tak mengambil Alana darinya.
__ADS_1
Leon dengan cepat kemudian menegakkan tubuh Diana. Ia menatap Diana yang masih berurai air mata. Leon tentu saja tak tega dan merasa kasihan.
“Kita harus bicara baik-baik Diana, kita bisa menyelesaikan masalah ini !” ucap Leon mencoba berpikir jernih karena jika malam ini mereka masih dalam kondisi ego masing-masing pasti mereka tak akan memiliki jalan keluar atas permasalahan yang mereka hadapi.
Leon kemudian berjalan ke kamar Alana dan mendekati putrinya yang masih tertidur, ia lalu mencium pipi Alana dengan lembut dan membelai kepalanya. Hal itu tentu saja dilihat oleh Diana dari pintu kamar Alana.
Hati Diana berdesir kala melihat pemandangan dimana Leon begitu menyayangi Alana. Sejenak Diana merasa menyesal karena tak berkata jujur padanya, namun rasa itu tiba-tiba sirna dengan sebuah ketakutan dalam dirinya, takut jika Leon mengambil Alana dari sisinya.
... ……....
Sejak pertama kali Mirna melihat Leon, ia sudah bisa menebak jika Leon adalah ayah Alana karena wajah Alana begitu mirip dengan Leon.
“Kenapa tidak jujur padanya ? Apa kau tidak kasihan pada putri mu ? Dia bahkan belum memiliki akte lahir !” Mirna memberikan nasihat pada Diana. Mirna wanita paruh baya berusia 50 tahun tersebut merupakan tetangga Diana yang tinggal bersebelahan di apartemennya.
Mirna adalah seorang janda dan memiliki anak namun anaknya bekerja diluar negeri. Mirna sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi pengasuh anak Diana, karena Mirna begitu kesepian hidup sendirian. Bahkan Mirna menolak uang gaji yang diberikan oleh Diana, sebab Mirna sangat menyayangi Alana seperti cucunya sendiri.
__ADS_1
“Aku takut jika dia akan membawa Alana pergi dariku !” lirih Diana sambil menggerakkan ayunan yang tempati oleh Alana.
“Dia terlihat baik dan tulus, aku yakin dia pasti tidak setega itu memisahkan mu dengan Alana. Bicaralah baik-baik padanya, masa depan putri mu bukan hanya ada padamu tapi juga seorang Ayah kandungnya yang ikut berperan besar di dalamnya.”
“Mendidik anak bukan serta merta tugas seorang Ibu, tapi peran Ayah yang justru lebih besar pengaruhnya. Jika kau tetap bersikeras dengan ego mu, lantas bagaimana dengan nasib putri mu yang suatu saat membutuhkan kasih sayang seorang Ayah ?” Mirna memberikan pengertian pada Diana, karena seperti yang Mirna duga Diana pasti tidak akan berdamai dengan Leon.
Sejenak Diana memikirkan ucapan Mirna, apa yang dikatakan oleh Mirna semuanya benar. Alana pasti akan mempertanyakan siapa Ayahnya dan ia pasti akan membutuhkan kasih sayang dari seorang Ayah.
Diana memejamkan kedua matanya mungkinkah Tuhan memang mentakdirkan dia bertemu lagi dengan Leon. Alana tak berdosa dia hanyalah seorang anak bayi yang belum mengerti apa-apa, haruskan Alana menjadi korban keegoisannya karena hanya rasa takut jika Leon akan mengambil Alana dari sisinya.
Diana kemudian mengambil ponsel di dalam tas kerjanya mengetikkan pesan disana untuk Leon. Setelah ia mengirimkannya, Diana memasukkan kembali ponselnya di dalam tasnya. Dan kembali melihat Alana yang begitu menggemaskan masih tertidur setelah meminum susunya.
“Alana..”
... ……….....
__ADS_1