ISTRI MANJA PRESDIR JEON

ISTRI MANJA PRESDIR JEON
Ep. 09


__ADS_3

Part 09 — Risau


Dengan kaku, Jungkook berbalik menatap Y/n. Kini wanita itu menatapnya tanpa berkedip.


“M-Mingyu? Dia siapa?” tanya Jungkook. Ia mengenal pria itu, tapi tak mungkin ia berkata jujur.


Y/n tersenyum mendengarnya. ”Kau yakin tidak mengenalnya?” tanyanya kembali.


Jungkook menggeleng kaku. Dengan senyum lembut, Y/n berjalan mendekati Jungkook. Ia mengacak pelan rambut Jungkook yang masih basah.


“Tidak usah kaget begitu, um? Seperti berbuat kesalahan saja. Aku hanya bertanya sedikit. Mingyu itu temanku, aku hanya bertanya untuk memastikan kau mengenalnya atau tidak, karena beberapa tahun belakangan ini, dia menghilang. Siapa tau kau kenal dan mengetahui keberadaannya sekarang.”


Jungkook hanya terdiam sebentar, namun tak lama kemudian ia menggeleng kembali sebagai jawaban.


“Kau akan berangkat ke kantor 'kan? Siap-siap dari sekarang, jangan sampai terlambat.”


Setelah mengatakan itu, Y/n berjalan masuk ke dalam toilet, meninggalkan Jungkook yang masih berdiri mematung.


‘Kau dalam masalah besar, Jeon Jungkook,’ batin Jungkook, mengarah pada dirinya sendiri.


———


[09.16 Pagi]


Jungkook bersandar di kursi Presdir miliknya. Matanya mendongak menatap atap ruangannya yang berwarna abu-abu gelap, sesuai dengan warna keinginannya.


“Bagaimana Y/n bisa tau mengenai Mingyu?”


Tangannya mengetuk pelan permukaan meja. Ia benar-benar tidak bisa fokus meeting memikirkan Y/n serta kelanjutan hubungan mereka kedepannya jika Y/n benar-benar tau mengenai Mingyu.


Dret!


Jungkook menarik laci meja miliknya. Begitu melihat Map berwarna biru tua,bia segera mengambilnya dan meletakkan map itu diatas meja.


Perlahan, jari tangannya membuka map itu dan langsung disuguhkan dengan beberapa kertas berisi biodata dan juga beberapa foto seorang pria.


“Kim Mingyu ... Anak kedua dari Chou Hyewon dan Kim Hyungsik. Umur 19 tahun,” gumamnya, membaca sekilas biodata itu.

__ADS_1


Isi biodatanya cukup lengkap, bahkan teman masa kecil pria bermarga Kim itupun dijelaskan dengan detail di biodata itu.


“Kapan dia mengenal Y/n? Kenapa tidak dijelaskan kalau Y/n mengenal dan cukup dengannya?”


Jungkook meraih salah satu foto Mingyu, ia menatap foto pria itu yang tengah tersenyum dengan tatapan sendu. Jika saat itu ia tidak ceroboh, pasti dia tidak akan diliputi rasa bersalah saat ini.


“Kenapa Minhyun hanya mendapatkan informasi mengenai Mingyu saja? Siapa dua orang lainnya yang saat itu juga terlibat dalam kejadian itu? Pasti keduanya berasal dari keluarga tidak biasa,” gumam Jungkook.


Bukan tanpa alasan Jungkook mengatakan hal itu. Sudah bertahun-tahun lamanya ia mencari identitas kedua orang itu, namun tak kunjung Minhyun—Sepupu Jungkook— temukan, bahkan Jungkook harus turun tangan sendiri, tapi tetap tak membuahkan hasil.


Jungkook kembali menatap foto Mingyu. “Andai kau masih hidup, semuanya pasti tak akan serumit ini.”


———


Jungkook pulang dengan kondisi yang jauh dari kata baik-baik saja. Dasinya tak lagi terpasang, kemeja yang digulung hingga siku itu terlihat kusut. Jasnya sudah ia sampirkan di bahunya, rambutnya pun sudah sangat berantakan.


Matanya berkaca-kaca, ucapan Y/n pagi tadi yang menyebut nama Mingyu benar-benar membuatnya tidak tenang. Rasa takut kembali menggerog0tinya.


“Jung? Sudah pulang? Aku kira kau akan lembur,” suara lembut itu mengalun ditelinga Jungkook. Pria itu segera mendongak.


Air matanya sudah terjatuh begitu melihat Y/n berdiri tak jauh darinya. Wanita yang memakai piyama itu berjalan mendekati Jungkook dan menatapnya dengan tatapan khawatir.


“J-Jangan pergi,” lirihnya.


Grep!


Jungkook memeluk tubuh Y/n, membuat Y/n menepuk-nepuk punggung Jungkook untuk menenangkannya.


“Memangnya aku mau kemana, Jung?”


Jungkook hanya menggeleng. Dengan perlahan, Y/n melepas pelukannya. Ia menangkup wajah pria itu.


“Jangan mengganti profesimu, Jung. Harusnya aku yang bersikap manja. Kau tidak diizinkan seperti ini,” ucap Y/n sambil menatap imut ke arah Jungkook.


Melihat itu, Jungkook terkekeh pelan lalu menghapus air matanya sendiri. Ia mengangguk pelan, meraih tangan Y/n dan menggenggamnya.


“Ayo ke kamar,” ucapnya dengan suara serak.

__ADS_1


———


Jungkook kini berbaring di atas tempat tidur. Setelah membersihkan diri, Jungkook sudah merasa lebih baik. Ditambah saat ini Y/n senantiasa bergelayut manja.


Wanita itu beberapa meng3cup lehernya, rahang, dan dada atasnya karena memang kini pria itu bertelanj4ng dada. Ia hanya memakai celana Jeans panjang, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos.


“Sayang,” panggil Jungkook pelan.


Y/n yang tadina meng3cup rahang Jungkook, kini mendongak menatap Jungkook. “Hm?”


“Apa kau pernah berpikir ... untuk memiliki anak?” tanyanya, sedikit ragu. Takut Y/n tersinggung karena sampai saat ini Y/n belum kunjung hamil.


“Kalau soal anak, aku tentu ingin memilikinya. Tapi ... Kau tau kan sampai sekarang aku belum hamil juga,” ujar Y/n lalu menunduk, membuat Jungkook merasa bersalah.


Sret!


Jungkook berpindah posisi, menind1h tubuh Y/n hingga wanita itu melotot. “Jangan terlalu banyak pikiran.”


Cup!


Jungkook mendaratkan bibirnya di atas bibir kenyal milik Y/n. Pria itu memejamkan mata, perlahan *****4* bibir wanitanya, meski tak mendapat balasan dari Y/n.


Cukup lama bercium4n, Jungkook mengakhirinya, membuat benang saliva keduanya kini terlihat saat Jungkook menjauhkan bibirnya.


Jungkook menyentuh kancing piyama tidur Y/n, menatap wajah cantik istrinya. “Kali ini, aku ingin melakukannya tanpa pengaman lagi. Bolehkah?”


Selama ini, Jungkook memang melakukannya selalu dengan menggunakan pengaman, baru dua kali ia melakukan tanpa pengaman. Jujur, ia ingin segera memiliki bayi agar bisa mengik4t Y/n dan mempunyai sesuatu yang bisa menjadi penguat hubungan mereka.


Y/n menghela napas pelan, lalu tersenyum. “Lakukan senyamanmu saja, Jung.”


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2