
Brraaaakkk..
Suara pintu yang terbanting cukup keras. Membuat Tuan Sean dan Mey terkejut.
"Tuan sa !!". Seorang laki-laki yang terdiam berdiri mematung menghentikan bicaranya itu dengan cepat membalikan tubuhnya.
"Seketaris Kim. Apa kau sudah gila !!". Teriak Tuan Sean yang menggema diseisi ruangan itu membuat seketaris Kim dan Mey yang ada di hadapannya itu terkejut.
"Ma.. Maap kan saya Tuan. Saya tidak bermaksud mengganggu anda". Jelas nya yang terdengar gugup itu.
"Tidak bermaksud mengganggu ku ??Lalu apa yang kau lakukan sekarang ??Apa kau ingin aku pecat !!". Jelas Tuan Sean dengan nada tegas sembari menutupi tubuh Mey dengan Jas nya yang ada di sebelah kursinya itu.
Sedangkan seketaris Kim yang masih saja mematung .membelakangi Tuan Sean dan Mey mulai terduduk lemas membelakangi mereka.
"Maap kan saya Tuan. Saya benar-benar minta maap, atas kesalahan yang saya perbuat ini". Jelas nya gugup.
Mey yang sedari tadi diam, mulai menatap Tuan Sean yang terlihat kesal dengan seketaris nya itu.
"Tolong jangan pecat saya Tuan. Saya benar-benar minta maap pada anda dan nona Mey". Jelas nya lagi.
__ADS_1
"Ciikhh.. Sudah lah. Lebih baik kau keluar dari sini dan jangan pernah lagi berani-beraninya menginjakan kaki mu di perusahaan ku lagi". Tegas Tuan Sean.
Mendengar perkataan Tuan Sean. Mey mulai menatap ke arah seketaris Kim yang masih terdiam membelakanginya.
"Oppa, jangan bilang seperti itu. Bukannya seketaris Kim buru-buru masuk karna ada sesuatu yang penting, yang ingin dia sampaikan pada Oppa ?? seketaris Kim hanya menjalankan tugasnya saja Oppa. Lebih baik kita dengarkan saja dulu apa yang seketaris Kim ingin sampaikan". Jelas Mey membela seketaris Tuan Sean.
"Hemnn.. Baiklah. Apa yang ingin kau sampaikan pada ku ??". Tanya Tuan Sean dingin.
"Anu Tuan. Ayah anda menelpon saya dan menyuruh anda datang secepat mungkin ke RS". Jelas seketaris Kim.
Mendengar penjelasan seketaris nya itu membuat Tuan Sean terkejut membulatkan mata nya.
"Benar Tuan".
"Baiklah. Kalau begitu tolong siapkan mobil untuk ku pergi ke RS sekarang". Tegasnya.
"Baik Tuan. Akan saya siapkan secepat mungkin". Serunya berdiri dan membungkuk memberi hormat pada mereka yang terdiam duduk menatapnya yang mulai keluar dari ruangan.
"Maap kan aku Mey. Tapi aku harus pergi sekarang". Jelas Tuan Sean berdiri merapikan baju nya.
__ADS_1
"Anu Oppa, gimana kalau Oppa makan dulu saja. Bukannya Oppa belum makan ??". Tanya Mey khawatir melihat Tuan Sean yang tergesa-gesa dengan wajah pucatnya.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja". Dengan cepat Tuan Sean melangkah ke arah pintu yang ada di samping kursi yang Mey duduki sedari tadi.
Mey terdiam menatap Tuan Sean yang masuk ke ruangan yang ada disebelahnya itu. Perlahan tapi pasti Mey berdiri dan mengikuti Tuan Sean.
"Wah. Ternyata ada tempat tidur di samping ruang kerja Oppa". Serunya menatap seisi ruangan yang cukup besar dan nyaman untuk beristirahat.
"Heumnn.. Pantas saja Oppa jarang pulang. Ternyata kantornya juga seperti rumah". Jelas Mey terduduk di sisi ranjang.
Selang beberapa detik. Mey melihat Tuan Sean yang keluar dari kamar mandi dengan rambut dan wajah yang basah dengan air. Dengan sigap Mey mengambil handuk yang tergantung di sisi lemari dan dengan langkah cepat mendekat ke arah Tuan Sean yang sedang menatapnya.
"Oppa baik-baik saja ??". Tanya Mey yang mulai menyeka pelan wajah dan rambutĀ Tuan Sean dengan handuk.
"Iya. Aku hanya sedikit lelah". Jelas Tuan Sean dengan perlahan menundukan kepalanya ke pundak Mey yang berdiri tepat di hadapannya itu.
Mey perlahan memeluk tubuh Tuan Sean. Mengelus punggung nya pelan, mencoba memberikan kenyamanan padanya.
"Semua akan baik-baik saja Oppa". Jelas Mey meyakinkan nya.
__ADS_1