
Perkenalan tokoh.
Aileen Clarissa Wijaya, anak yatim piatu sejak 5 tahun lalu. Orang tuanya meninggal sejak dia lulus dari Sekolah Menengah Atas, sejak itu dia hidup sendiri dan bekerja keras diperusahaan sebagai karyawan tetap disebuah perusahaan besar dikota X. Perusahaan yang terkenal karena setiap orang yang bekerja disana kalau tidak orang hebat pasti dia pintar atau jenius. Risa adalah nama panggilan gadis belia 23 tahun itu, baik, ramah, lembut, cantik dan juga sexy bodinya. Selain berkulit putih bersih dia punya mata yang indah yang dia dapat dari sang Mama yang bule alias Blasteran Eropa.
Risa anak yang pintar dan pendiam, tak banyak bergaul hanya beberapa saja dikantornya yang setahun lalu. Dia begitu pintar dan cekatan dalam bekerja, sejak menjadi Yatin piatu dia tinggal sendiri dan hidup dari sisa tabungan dan harta warisan dari kedua orang tuanya. Meski hidup miskin, tapi hatinya tidaklah semiskin kehidupannya. Memiliki wajah cantik dan body sexy membuat para lelaki dikantornya banyak menaruh hati pada Risa. Tapi alhasil, Risa lebih menutup diri.
Tinggal dirumah yang sederhana, setiap hari bekerja naik ojol. Pakaian seadanya yang penting sopan dan rapi, meski tidak pakai make up tapi kelihatan cantik alami.
π·πΊπΊπΊπ·π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ·πΉπΉπΉ
William Laurens, pria tampan, bijaksana, kejam dan sangat dingin kepada siapapun. Dia menjadi seperti itu sejak 4 tahun lalu kecelakaan mobil dan membuat dia harus berada di kursi roda selama sisa hidupnya, begitulah vonis dokter. Orang tua Will (nama panggilannya) tidak bisa berbuat banyak, karena dulu dia suka balap liar dan mengalami tragedi kecelakaan. Semua teman Will menjauhinya dan mengejeknya, kekasih Will juga pergi menjauh dan meninggalkan dia karena dia lumpuh. Sejak saat itu Will jadi lebih pemarah dan arogan kepada siapapun termasuk orang tuanya.
Will dulu begitu baik, bijaksana dan begitu peduli teman, tapi sejak kecelakaan dia dijauhi bahkan ditinggalkan karena temannya malu punya teman yang cacat duduk di kursi roda pula. Will terpukul dan sejak itu dia tidak berubah berbelas kasih pada siapapun termasuk keluarganya, selain orang tuanya dan asisten pribadi Will tidak pernah mau bicara kalau tidak masalah penting dan mendesak saja.
Tom adalah asisten pribadinya, kemanapun dia pergi Tom yang selalu menjaganya. Selian Tom, Will tidak mempercayai siapapun didunia ini, meskipun itu Tuhan.
ππππππππππππ
" Ya Tuhan, kenapa pagi ini hujan deras! Bagaimana bisa naik ojol kalau hujan begini, harus naik mobil. Uh, uang akhir bulanku. Seharusnya bisa beli sepatu baru!".
Kata Risa dengan lembut sambil melihat kedepan pintu bahwa hari hujan. Terpaksa ia pesan mobil.
Setelah sepuluh menit menunggu mobil online pun datang kedepan rumah Risa. Lalu dia berangkat,
" Sinar Bank ya pak!".
Sahut Risa memberikan alamat yang dituju dengan suara lembut.
" Iya, kita berangkat? Sudah?".
Tanya supir pada Risa menoleh dari spion depan.
" Iya sudah pak, jalan!".
Kata Risa menepuk pundak supir.
Sepanjang jalan Risa hanya menggerutu dan mengutuki hari kenapa harus turun hujan dipagi hari sewaktu mau berangkat bekerja. Kenapa tidak siang hari saja saat kerja, karena Risa harus menghemat naik ojol.
" Oh tidak! Uang terakhirku! Ya meskipun ini hari gajian! Huh, sial!".
Decak Risa dengan kesal.
Supir tertawa ringan dan melirik Risa dari spion mobil dalam,
" Sudah disyukuri saja! Hujan itu Rahmat Tuhan, jangan cemberut! Masih pagi pula, nanti jelek...!".
Sambil merayu Risa, supir cekikikan.
" Ah bapak, bisa saja! Maaf ya!".
Risa tertawa sambil menjulurkan lidah dengan malu.
Sampai ditujuan, Risa segera berlari memasuki koridor.
" Pagi...!".
Sapa Risa pada satpam dan resepsionis didepan pintu masuk.
" Ah pagi juga!".
Sahut mereka bersamaan.
Risa bergegas berjalan menuju meja kerja dan duduk sambil menarik nafas dalam karena kelelahan berjalan takut terlambat karena jalanan macet akibat hujan.
Lara adalah teman satu divisi Risa, duduk diseberang meja Risa. Dia cantik tapi agak sombong,
" Risa, tumben telat?".
Dia bertanya dengan nada sombong sambil tertawa geli.
" Iya, hujan jadi agak macet! Maklum lah, jomblo jadi sendiri!".
Kata Risa tertawa kecil,
" Ya iyalah, masa punya pacar cuma jadi buat pajangan saja! Makanya cari pacar biar ada yang antar jeput kamu, kelamaan gadis tak baik!".
Lara mengejek Risa dan menjulurkan lidah.
" Huh, kamu bisa saja meledek. Nanti kalau aku punya pacar langsung aku jadikan suami! Ckck!".
Risa tertawa sambil memperbaiki rambutnya yang agak basah karena terkena angin hujan.
" Ada berita terbaru! Hot gosip dikantor kita loh! Tahu tidak?".
Lara menghampiri Risa dan duduk disebelahnya dengan cepat.
" Hah? Pagi-pagi kamu sudah gosip! Bisa sial aku tahu? Sana...!".
Risa mengusir Lara agar pergi menjauhinya.
" Beneran kamu tidak mau dengar?".
Tanya Lara sambil menggoda Risa dengan mengigit ujung pulpen.
__ADS_1
" Tak mau dengar! Tak mau tahu!".
Kata Risa dengan nada jutek dan menjulurkan lidah.
" Oh yang sudah lama jomblo! Pasti baper dengar berita ini!".
Lara menggoda Risa lagi, kini dia memegang dagu Risa dengan lembut dan genit.
" Apaan lagi? Lepas!".
Risa menepis tangan Lara, namun Lara cekikikan dan menoyor jidat Risa dengan gemes.
" Ini hari CEO baru kita akan masuk kerja, bayangkan dihari pertama dia masuk hujan badai petir. Pasti akan ada pertanda buruk diperusahaan ini, coba tebak? CEO kita tampan dan rupawan! Tapi sayang dia...!".
Kata Lara menggantung pembicaraan karena takut bergosip sembarangan.
" Dia, apa? Kok diam?".
Risa bertanya keheranan.
" Hem...! Dia lumpuh! Kasihan kan?".
Kata Lara dengan nada sedih, Risa menjadi heran. Risa memicingkan mata dan menggaruk kepala.
" Memang apa hubungannya?".
Tanya Risa lagi.
" Ya jelas, tampan dan kaya raya. Jenius dan rupawan, salahnya lumpuh. Untuk apa punya pacar lumpuh yang tidak bisa apa-apa! Apa lagi tidak bisa kasi anak, aku sih tak mau dikasih gratisan...!".
Kata Lara dengan gamblang dan jujur, sambil tersenyum.
" Ah, itu tak masalah. Semua manusia ada pasangannya. Semua pasti ada jodohnya, memangnya kamu panitia urusan jodoh. Jangan bahas lagi, masih pagi. Nanti mood ku hilang, tanggungjawab kamu!".
Kata Risa sambil tersenyum geleng kepala melihat tingkah temannya.
Lara kembali duduk ke kursinya dan mulai bekerja dengan giat lagi.
" Jodoh siapa tahu? Mau bagaimanapun dia kalau sudah jadi suami mau apa lagi coba, huh...!".
Gumam Risa dalam hati dan geleng kepala seraya ingat ucapan Lara tadi.
Kemudian lagi sibuk kerja, kepala divisi Risa datang menemuinya.
" Risa, kamu nanti pegang buket bunga ya. Untuk diberkan kepada CEO baru kita, beliau sebentar lagi mungkin akan tiba!".
Kata kepala divisi meminta bantuan Risa membawakan bunga.
" Iya boleh pak! Bunganya sudah siapkan? Diletak dimana?".
" Di depan, kamu ambil saja. Beliau sedang dalam perjalanan kemari, jadi ayo bersiap segera!".
Kata kepala divisi kepada Risa.
" Iya pak, Risa tahu!".
Kata Risa tegas.
" Ayo semua, CEO baru kita akan datang. Kita sambut kedatangan beliau dibawah sebagai tanda hormat, segera bersiap-siap!".
Kepala divisi mengajak karyawan lain juga ikut menyambut CEO baru.
Risa dan Lara pergi ke toilet bersiap-siap sejenak.
" Kamu lihat deh! Dia pakai kursi roda, jalan saja tidak bisa. Bagaimana mau gendong aku kepelaminan kelak? Tidak seru!".
Kata Lara mengeluh lagi.
" Sudah! Kamu mengeluh saja! Yang penting dia CEO kita, dia yang gaji kita. Kamu mau apa? Meski dia lumpuh, hati dan matanya masih bisa melihat dan merasa. Semua sudah ada jalannya, Lara sayang!".
Risa menggoda Lara dengan tersenyum nakal.
" Iya! Aku doain jodohnya itu kamu!".
Kata Lara mengutuki sikap Risa yang menurutnya sangat menyebalkan sejak tadi.
Ckckck......!!!! Risa tertawa lepas.
Mereka menuju lobi dan berkumpul dengan yang lainnya. Berbaris rapi dan memberikan kesan baik.
Tak lama kemudian, tepatnya didepan pintu depan sederetan mobil berhenti. Beberapa pengawal pribadi turun dan memberikan jalur yang aman untuk dilewati.
Lalu sebuah mobil mini bus mewah, Alphard putih berhenti didepan pintu. Seorang pria sekitar umuran 40 tahun keatas keluar mobil. Berpakaian rapi, memakai jas hitam dengan rambut klimis memakai kaca mata dan berwajah datar.
Dia membuka pintu tengah, dua pengawal menganggat sebuah kursi roda. Tak lama seorang pria turun dengan agak kesusahan.
Boooom.....!!!! π’
Pria bermata cokelat, berwajah rupawan, berbadan sedap, hidung mancung, kulit bersih dan berwajah dingin menatap mereka semua.
Tom adalah asistem pribadi William sang CEO yang terkenal kejam itu. Para karyawan wanita terpaku atas ketampanan dan tatapan mata sang CEO yang katanya sexy.
Ah? Apa iya?π
__ADS_1
Tom mendorong kursi roda dan membawa tuan Will masuk kedalam menuju lobi dimana karyawan menunggu kedatangan CEO baru. Tom mendorong perlahan dan berhenti saat kepala divisi menyapa,
" Selamat datang, pak William!".
Kata kepala divisi menyapa,
Will hanya diam, tak punya ekspresi dan hanya menatap kedepan.
" Iya terima kasih pak! Tuan Wiiliam akan segera masuk, beliau agak lelah diperjalanan tadi!".
Tom menjawab dengan nada tegas tapi ketus tanpa basa basi.
" Iya baiklah, ini ada ucapan selamat datang dari kami semua!".
Pak kepala divisi memberi kode kepada Risa untuk membawakan bunga yang telah dipersiapkan tadi.
Risa berjalan perlahan dengan senyuman senatural mungkin dan semanis mungkin. Berjalan perlahan menghampiri CEO dan kepala divisi.
Tapi....!!!!
Semua....!!!!
Terjadi....!!!!
Diluar kemauan....!!!
Risa tiba-tiba saja terselip dan jatuh berlutut tepat didepan CEO, lalu kedua tangannya menyentuh paha Will dengan buket bunga mawar merah. Semua mata terpaku pada Risa karena terlalu berani.
" Oh tidak!".
Gumam Lara dalam hati.
Will mengeluarkan ekspresi terkejut dan hampir saja pingsan, Tom kemudian kaget dan panik.
" Anda baik-baik saja tuan?".
Tanya Tom dengan nada panik luar biasa karena kaget.
Risa masih kaget dan menutup mata karena malu, dia tidak bergerak sedikitpun. Will seketika tersenyum kecil, Tom terheran melihat sikap Will yang bisa dibilang diluar nalar.
" ****** aku! Habis aku! Aku akan dipecat setelah ini! Risa bodoh!".
Gumam Risa mengutuki dirinya.
" Hah? Tuan William tersenyum, ini pasti akan jadi menarik sekali! Tidak disangka tuan akhirnya bisa tersenyum, sungguh diberkati lah siapapun yang ada disini!".
Kata Tom dalam hatinya berbangga.
" Maaf tuan William, dia mungkin gugup. Maafkan karyawan kita!".
Kepala divisi membantuku berdiri, dan aku masih menutup mata dan menunduk saja.
" Kerja bagus!".
Jawab William sambil tersenyum.
Tom terkejut dan membulatkan mata karena tidak menyangka William akan berbicara begitu. Bahkan Tom hampir pingsan mendengar suara Will yang hampir tidak bisa ia dengar sehari sekali meski dia selalu ada disamping William setiap saat.
" Hah? Apa aku tak salah dengar? Ataukah aku mimpi? Tuan William tersenyum, suaranya keluar dan memuji sebuah kesalahan? Wah, kiamat pasti sedang mendekat!".
Kata Tom dalam hati masih tak yakin akan apa yang dikatakan William tadi. Karena menurutnya berbicara dengan Willian adalah sebuah anugerah dan berkah Tuhan kepadanya.
" Apakah anda tidak marah tuan?".
Tanya kepala divisi gemetaran kalau dia pasti akan dipecat.
" Tidak!".
Jawab William tersenyum melihat sikap Risa yang masih diam tertunduk tidak berani menatap langsung wajah CEO baru nya.
William menatap Tom memberikan kode agar membawanya kedalam ruangannya. Tom menyadarinya,
" Baiklah, kami masuk! Terimakasih atas bunga anda nona!".
Kata Tom memuji Risa.
" Maaf tuan! Iya sama-sama!".
Kata Risa masih menunduk malu.
Tom membawa William menjauh dari lobi menuju ruangannya. Dalam hati Tom masih tidak percaya akan sikap William tadi.
" Lucu juga gadis itu? Siapa namanya ya? Kenapa aku jadi senang seperti itu melihat dia jatuh dan wajahnya memerah? Sudah lama aku tidak merasakan suasana hati seperti ini? Gadis aneh!".
Kata William dalam hati penasaran dengan Risa.
ππππππππππππ
Jangan lupa Likeπ dan Komenπ yaβ€οΈ
Thoor biar semangat nulis,πͺ makasih banyak ya kakakπ§dan Abang π¦yang sudah mampir dan membacaππΉππΉππΉππΉπ
Miss U pembaca,
__ADS_1
By : Thoorππ
ππππππππππππ