Jalan Cinta-Mu

Jalan Cinta-Mu
3


__ADS_3

" Sepertinya mulai sekarang aku tak akan bosan sama sekali. Kucing kecil yang sexy ini akan menghiburku, sebaiknya aku harus mengikatnya agar tidak lari begitu saja nanti. Kucing nakal, masih mengutuki aku bukan? Lihat saja!".


Kata Will dalam hati kesenangan luar bisa yang dirasakannya. Dia lupa kapan terakhir kalinya dia tertawa dan tersenyum lepas seperti saat ini bersama Risa.


" Semuanya sudah selesai tuan, ayo kita pulang? Ataukah anda mau makan malam terlebih dahulu?".


Tanya Tom kepada Will yang terlihat kesenangan sejak tadi.


" Hei? Lapar tidak?".


Tanya Will kepada Risa, namun Risa hanya diam cuek.


" Dengar tidak? Kamu patung?".


Tanya Will lagi melempar pundak Risa dengan permen.


" Aduh! Saya tidak lapar! Saya mau pulang saja! Huh?".


Jawab Risa dengan kesal dan menghentakkan kaki kelantai.


" Ckckck... Dia masih kesal padaku! Sebaiknya biarkan saja dia, besok akan jauh lebih menarik!".


Gumam Will dalam hati.


" Ah baiklah!".


Jawab Tom dengan ramah.


" Carikan dia taksi, pastikan dia naik dengan benar! Bawa seluruh barang miliknya, besok jangan kaki ayam!".


Kata Will sambil tersenyum menyeringai menatap kaki Risa yang pakai sendal.


Tom dan Risa keluar, Tom mencarikan taksi dan membayarnya. Lalu hadiah pemberian Tom 5 pasang sepatu yang branded dan mewah... Yang jelas mahal alias Mehong.


Oh....! No....! 😱


Sepanjang perjalanan pulang, Risa mengutuki semua perkataan jahat dan menyebalkan dari Will. Dia begitu kesal karena Will begitu sombong sekali,


" Dasar orang kaya! Tapi tidak sepantasnya dia menghina aku seperti ini. Tapi...? Hem? Betul juga sih, ada benarnya perkataan mereka. Aku pulang dengan kaki cakar ayam, pakai sendal jepit. Aku sangat kesal dengan sepatu itu, akan kutanam dia kelak dibelakang rumah. Biar tahu rasa, bawa sial!".


Kataku pelan mengutuki sepatu yang membuat aku kacau dan sial sepanjang hari ini.


Pak supir tersenyum sejak mendengar aku menggerutu sendiri,


" Ada apa nona? Kenapa kesal?".


Tanya pak supir cekikikan.


" Iya nih pak! Sepatu pembawa sial, pakai acara jatuh didepan bos besar. Hampir saja aku kehilangan pekerjaan dan nyawaku melayang, rejeki anak Soleh jadi aku masih bisa bertahan. Sungguh sial!".


Balas Risa dengan nada kesal.


" Lah kenapa? Bukan sepatunya yang salah non? Tapi memang sudah takdirnya demikian, mau bilang apa lagi? Mungkin saja itu pertanda bahwa itu jodoh non?".


Pak supir kembali menggodaku dengan candaan yang menurutku itu tidak lucu sama sekali bagiku. Malah aku tambah kesal dan makin mengutuki mulut lantam CEO ku.


" Ah bapak bisa saja! Mana mungkin saya jodoh nya, bos besar saya kaya raya tajir melintir pak. Beda dunia saya dengan dia, sumpah pak! Mimpi saja saya tak berani? Ckck!".


Risa tersenyum geli sendiri.


" Kalau takdir mau apa non? Tuhan yang maha tahu, dia maha bijaksana. Kita yang berencana dia yang menakdirkan, bukan? He...!".


Pak supir menjawab dengan candaan lagi, tapi Risa tak merasakan kesal sama sekali.


" Huh! Siapa juga? Dasar mulutnya menyebalkan, masa kaki mulus putih begini dibilang cakar ayam?".


Kesal Risa dalam hati.


Tak lama setelah itu, Risa sampai dirumah dan membawa semua barang yang dihadiahkan Tom. Lalu Risa mandi, makan malam dan langsung saja tidur setelah melewati hari yang begitu panjang.


Sementara itu Tom menemani Will sedang makan dirumah besar.


" Apakah menu hari ini enak tuan? Mau makan buah apa nanti?".


Tanya Tom kepada Will sopan. Karena sejam setelah makan Will akan makan buah sebagai camilan.


Will menerapkan hidup sehat dan tidak akan makan sembarangan dimanapun itu, karena dia harus menjaga kesehatan dan makan teratur. Banyak pantangan yang harus dihindari karena Will masih dalam pengobatan medis.


" Apa saja boleh, terimakasih!".


Jawab Will dengan santai.


" Baiklah tuan, ada lagi?".


Tom bertanya sekedar mengingatkan Will saja.


" Oh ya ada lagi. Struk pembelian gadis bodoh itu tolong simpan dilaci meja kerjaku dikantor. Paham?".


Hardik Will kepada Tom dnegan tatapan tajam sekali.


" Baik tuan, saya paham!".

__ADS_1


Jawab Tom sambil menunduk.


Will tersenyum menyeringai membayangkan bagaimana ekspresi Risa mengetahui harga sepasang sepatu yang dihadiahkan Tom, bahkan hampir setahun gaji Risa diperusahaan.


" Besok aku akan lihat bagaimana ekspresi gadis bodoh itu melihat jumlah nominal sepasang sepatu itu. Aku akan menggodanya kelak dan menagihnya sebagai hutang, aku tidak sabar melihat jiwa miskin gadis bodoh itu menjerit dan meronta-ronta ketakutan mengetahui itu semua. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa lupa begitu mudah menggoda wanita polos. Kenapa aku lupa rasa untuk bahagia? Sejak kapan aku terakhir kali bisa menikmati hidup seperti ini ya? Bahkan aku lupa...! Huh...!".


Will bertanya dalam hati kecilnya sambil tersenyum sendiri.


Selesai makan Will kembali ke meja kerja dan kembali bekerja sekitar 2 jam saja, ketika tengah malam dia barulah tidur sepenuhnya.


Angin pagi berhembus memasuki celah-celah jendela dan pintu yang tertutup. Dingin dan sejuk, ringan dan menenangkan jiwa, bagi siapa saja yang menghirupnya dan merasakan bahwa fajar datang menjelang dengan begitu pelan dan perlahan dari ufuk timur.


Tak ada satupun insan didunia ini yang mendustainya bahwa ia suci. Bahkan ia begitu dinanti setiap makhluk dibumi tak terkecuali hewan dan tak kasat mata. Bahkan cahaya keemasan yang terpancar begitu hangat dan menantang.


Sungguh nikmat Tuhan yang tidak bisa dibantahkan lagi! Wadidaw...!!!


" Hoam! Selamat pagi dunia, selamat pagi Risa. Huh, hoam...!".


Kata Risa menyapa dunia yang masih males-malesan ditempat tidur karena baru bangun. Jadi roh Risa belum sepenuhnya kembali didunia ini, sebahagian masih ada didalam surga langit ketujuh.


Oh Mak!!! 😱


Kalah aku!!! πŸ˜‚πŸ‘


" Hoam! Besok weekend, baru gajian. Mau berkunjung ke makam papa dan mama, sudah lama sekali tidak kesana! Jadi kangen...!".


Risa menatap foto disebelah kasurnya yang ada foto kedua orang tuanya. Dengan wajah tersenyum dan bahagia.


" Pagi mama dan papa! Semoga kalian di surga bahagia selalu! Sekarang Risa hidup bahagia sekali, terimakasih telah melahirkan dan membesarkan Risa penuh dengan cinta dan kasih sayang dulu. Doakan Risa agar hidup baik disini. Ya meskipun, ada 2 setan yang menjengkelkan hati Risa belakangan ini. Tapi tak apa! Amin!".


Risa berdoa dengan memejamkan kedua mata dan konsentrasi penuh.


Selesai mandi Risa berpakaian rapi dan sarapan didapur.


" Kenapa wajah mereka selalu terbayang, bahkan aku membawa mereka dalam doaku. Sialan, cih!".


Risa menghabiskan sarapannya dan bergegas kekantor. Tapi langkahnya terhenti didepan pintu sebelah rak sepatu, matanya terpaku.


" Oh ya tuhan, aku baru sadar. Ternyata sepatu-sepatu ini bagus dan cantik sekali. Pasti harganya jutaan rupiah? Oh tidak, bahkan puluhan juta. Bahkan sertifikatnya pun kelihatan asli, kenapa aku jadi gelisah ya sekarang? Hem?".


Ujar Risa tanpa sadar menatapi dan melihat seluruh sepatu yang diberikan tadi malam, karena sewaktu ditoko Risa hanya mencoba untuk mengikuti semua perkataan Tom. Karena Will mengancam akan memecat Risa jika tidak patuh akan perintahnya.


Akhirnya Risa memakai sepatu high heels 10cm berwarna cream.


" Wah selaras dengan pakaianku! Nyaman dan cantik sekali, terlihat barang branded dan ORI! Selera orang kaya beda dari yang lainnya, wah baru kali ini aku pakai sepatu branded jutaan rupiah. Ckckck...!".


Risa tertawa geli sendiri, bangga dengan sepatu barunya.


Sampai didepan pintu, seperti biasa Risa menyapa satpam dan resepsionis dengan ramah seperti biasanya.


" Hai...? Selamat pagi...!".


Sapa Risa kepada satpam yang berjaga didepan pintu, melihat Risa datang satpam membukakan pintu sambil senyum.


" Selamat pagi nona...!".


Jawab satpam dengan ramah dan tersenyum kecil.


Lalu Risa juga menyapa resepsionis,


" Selamat pagi, hai...?".


Sapa Risa dan hanya senyuman yang didapat sebagai balasan.


Risa berjalan melewati lobi dan menuju ruangan kerjanya. Lalu Risa duduk dan membereskan rambutnya karena agak berantakan.


" Selamat pagi, Risa cantik!".


Sahut Lara dengan jutek.


Risa menatap Lara keheranan dan memicingkan matanya,


" Kamu kenapa sih? Jutek?".


Kata Risa dengan jujur.


" Aku kira kamu langsung dipecat CEO kita? Ternyata kamu punya nyawa banyak ya? Apa kamu tidak merasa bersalah? Terjatuh dihadapan CEO baru kita, huh? Ckckck...! Hebat Risa! Bravo baby!".


Kata Lara sambil menepuk pundak Risa sambil cekikikan setengah mati, Lara berhasil mengerjai Risa.


" Ya ampun Lara! Jangankan kamu! Aku saja hampir pingsan menahan malu, nyawaku hampir melayang! Sumpah Lara, aku kira akan dipecat semalam! Sumpah aku takut!".


Kata Risa dengan manja sambil menangis dan wajah sedih.


" Baru tahu rasa! Makanya jalan itu jangan melamun! Untung saja jatuh kelantai, kalau kamu jatuh kepangkuan pak bos. Seketika itu juga kamu bakal dicincang hidup-hidup didepan kami atau mungkin saja kamu bakal dikawini. Ckckck!".


Lara menggoda Risa dengan nakal sambil menjulurkan lidah.


" Ah kamu bisa saja! Tidak lucu, jangan bicara sembarangan! Siapa juga yang mau! Lagian aku dan pak bos beda kasta, dia diatas langit aku dibawah bumi. Hadew, jangan asal bicara! Merinding aku!".


Jawab Risa sambil merinding dan agak ketakutan membayangkannya.

__ADS_1


" Tapi Risa? So sweet banget loh, pak bos sampai kaget mau loncat saat kamu sentuh pahanya dengan kedua tanganmu. Bahkan dengan seikat buket bunga mawar! Ckckck! So sweet baby honey...!".


Lara menggoda Risa lagi, kini dia mengerjai Risa agak berlebihan. Lara mengibas-ibaskan rambut dengan manja dihadapan Risa.


" Sudah! Sudah sana! Aku tahu kamu cantik dan sexy Lara sayang! Aku semakin kesal tahu, kamu mau pamer rambut baru kan? Cie...cie, yang baru smoothing! Nice...!".


Risa menepuk manja bokong Lara sambil tertawa geli.


" Uh Risa genit! Jangan kelamaan jomblo, nanti bautnya lepas! Hi...!".


Lara meledek Risa sambil menjulurkan lidahnya, sambil kembali kemeja kerja dengan hati riang gembira sehabis menggoda.


Semua pegawai kantor bekerja seperti biasa, berjalan sesuai jadwal. Sejam kemudian William dan Tom pun sampai ke kantor. Seperti biasa Will selalu memasang raut wajah ketat dan masam, tatapan mata yang tajam membuat siapapun karyawan enggan untuk melihat apa lagi menyapa walau hanya sepintas jalan. Lebih sering para karyawan hanya menunduk memberikan hormat, meskipun Will disapa tapi dia lebih memilih diam dan cuek saja. Menyebalkan! πŸ˜’


Memasuki lobi dan menuju lorong yang diujungnya ada lift khusus tamu penting dan direktur. Sampai didalam lift Tom bertanya,


" Tuan mau secangkir kopi?".


" Hm!".


Jawab Will singkat.


Mereka keluar bersama, Tom mendorong kursi tuan nya dengan perlahan tapi pasti.


" Selamat pagi tuan!".


Sapa sekertaris membukakan pintu.


" Selamat pagi, terimakasih!".


Jawab Tom singkat, namun Will hanya diam saja tanpa ekspresi.


Mereka masuk, sang sekertaris duduk kembali dan menarik nafas panjang yang amat kasar.


" Sepertinya pak bos tidak suka dengan aku! Sungguh sulit menaklukkan pria karatan itu, tuan Tom begitu menyeramkan. Tidak ada waktu dan celah sedikitpun untuk menyapa pak bos, apalagi mendekatinya. Sungguh mustahil! Ya Tuhan, tuan Laurens memang benar tentang anaknya. Dingin dan diam seperti batu, huh! Kesal aku!".


Katanya pelan menggerutu.


Tom memberikan secangkir kopi kemeja Will yang sedang sibuk mempelajari dan menandatangani berkas yang bertumpuk dimejanya. Kalau sedang kerja Will tidak memperdulikan apapun, dia fokus dan sangat loyal bekerja bahkan bisa sampai pagi... Non stop full.


Wajahnya sangat tampan jika bekerja, mata yang tajam dan rambut yang selalu tertata rapi. Bahkan lalat enggan hinggap, takut terpeleset dan jatuh.🀣🀣🀣


Jam makan siang tiba, Risa tidak selera makan karena terlalu banyak minum kopi sedari tadi. Dia lebih memilih diam dimeja dengan makanan ringan seperti kue goreng.


Risa sibuk dengan layar monitornya sambil mengemil gorengan, ya hari ini Risa berpakaian cerah. Baju kemeja cream dan celana hitam, tak bisa dipungkiri lagi. Body Risa montok dan indah dipandang, terlihat sexy meski pakaian tertutup. Tubuh 165cm berat 55kg, siapa yang tidak tertarik dengannya.


Will dan Tom berjalan keluar untuk makan siang dengan client, mereka berjalan dilorong melewati ruangan kerja Risa. Pintu dan dinding kaca, membuat siapapun bisa saling melihat satu sama lain.


Will melihat Risa yang sibuk mengetik ini dan itu,


" Tom! Aku tidak selera, bawa gadis bodoh itu makan bersama kita. Siapa tahu aku selera...!".


Kata Will meminta Tom agar menghampiri Risa dan ikut serta untuk makan siang.


" Tapi tuan? Jika dia menolak...!".


Tom Hadi bingung,


" Katakan aku akan memecatnya!".


Kata Will tersenyum jahat.


" Baiklah! Saya usahakan!".


Tom berjalan meninggalkan Will didepan pintu, menuju meja kerja Risa yang diujung ruangan.


" Ehem? Nona?".


Tom berdehem, Risa kaget bukan main dan hampir pingsan. Risa mengelus dada berkali-kali dengan lembut masih dengan wajah kesal.


" Ya tuan! Ada yang bisa dibantu?".


Tanya Risa dengan kesal, masih mengelus dada yang katanya kaget bukan main hampir pingsan.


" Muncul juga dia! Jantungku hampir copot, untung buatan Tuhan jadi aku tidak akan mati. Kalau buatan Rusia mungkin sudah kabur entah kemana ini jantung! Huh sial".


Gumam Risa kesal dan marah.


" Tuan meminta anda untuk ikut!".


Kata Tom tegas kepada Risa.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LikeπŸ‘ dan KomenπŸ“ ya❀️


Thoor biar semangat nulis,πŸ’ͺ makasih banyak ya kakakπŸ‘§dan Abang πŸ‘¦yang sudah mampir dan membacaπŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉπŸ’


Miss U pembaca,


By : ThoorπŸ˜˜πŸ‘

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2