Jalan Cinta-Mu

Jalan Cinta-Mu
12


__ADS_3

"Jangan biarkan dia keluar, apa lagi meninggalkan ruangan ini. Siapapun tidak boleh masuk. Paham?".


Titah Tom pada dua pengawal yang berjaga di depan pintu.


Tom dan Will pergi ke cafe dimana janji mereka tadi dengan teman bisnis kantor mereka. Seharusnya Risa ikut, tapi karena Risa tertidur jadi mereka berdua saja pergi.


Pertemuan berlangsung dengan lancar dan sukses. Jaya Bank dan Sinar Bank mencapai kesepakatan untuk bekerja sama, Sinar Bank berhasil membeli 35% sahamnya. Dengan begitu William mencapai satu lagi pencapaian yang luar biasa. Itu semua berkat usaha Tom dibantu dengan Jerry sahabat Will.


Jerry adalah Sabahat Will sewaktu masih di Korea, meski jarang berjumpa tapi mereka berteman baik dan berhubungan erat. Maklumlah karena sama-sama sibuk di dunia mereka sendiri. Jerry lebih muda dari William 2tahun, tapi berpikir dewasa dan bijaksana.


Setelah pihak Jaya Bank pergi, Jerry dan Will lanjut dengan acara minum teh dengan santai.


"Aku kira kamu tidak kembali?".


Kata Will sambil menikmati teh yang hangat dan segar.


" Tentu aku pulang kawan! Sudah lama tidak bertemu, aku merindukanmu tuan Laurens muda. Ckckck....! Aku serius, ha...ha...aaa!".


Jawab Jerry penuh dengan candaan dan mengerjai Will.


" Sialan! Cih! Don't kidding me! You liar, i hate you... More....!!! Huh?".


Will kesal dan tersenyum jahat.


" No...no...no! Menyebalkan! Shit".


Jerry berdecih kesal sambil melempar Will dengan kacang yang ada diatas meja.


" Pulang? Apa yang kamu mau? Kali kamu mengejar apa lagi? Jangan tawar menawar denganku? Hem?".


Will menutup mata dan menarik sebatang rokok dari saku celananya. Lalu menghidupkan mancis dan menghisap perlahan.


Kepulan asap ada didekat mereka, Will sadar kalau kepulangan Jerry kali ini pasti ada hubungannya dengan Will. Dia yakin kali ini pasti Jerry minta pertolongan Will, karena seperti itulah Jerry.


" Ha...ha...! Kamu tahu saja isi pikiranku, bahkan aku belum mengatakan sepatah katapun ya?".


Kata Jerry tertawa cekikikan dan menghisap rokok sama seperti Will.


Mereka saling menatap, Jerry menatap tajam Will. Begitu juga Will yang menatap Jerry dengan senyuman menyeringai, sungguh menyeramkan mereka main setan-setanan. Bahkan Tom tidak berkutik sama sekali melihat mereka berdua.


" Katakan saja? Kamu mau apa?".


Tanya Will serius dan tajam, suaranya begitu tegas dan lantang.


" Aku ingin wilayah Utara, bantu aku mendapatkan dukungan dari geng Naga merah. Aku ingin berdagang dan menjalin kerja sama mereka!".


Kata Jerry dengan wajah yakin dan percaya diri.


" Besar juga nyali mu, kau seharusnya tahu. Kalau si tua Bangka itu tidak akan setuju! Apa yang bisa kulakukan?".


Kata Will berpikir akan ucapan Jerry yang masih belum bisa dipahami apa tujuannya.


" Ah tentu kau lebih tahu. Bukankah geng Naga merah dan Naga putih menjalin hubungan baik? Apapun caranya, aku ingin mereka!".


Kata Jerry dengan naga tegas.


" Aku ada ide, nikahi saja putri tua Bangka itu. Dia punya putri yang cantik jelita, gampang bukan?".


Kata Will menjelaskan dengan santai dan tanpa ekspresi.


" Iya terserah lah, aku serahkan semua masalah ini padamu!".


Kata Jerry serius, lalu lanjut meneguk teh dengan perlahan.


" Kau membawaku kedalam jurang bersamamu, dasar Baji*Ngan tengik. Dasar menyusahkan saja!".


Kata Will berdecih kesal bukan main atas permintaan Jerry tadi.


" Itu mudah bagimu bukan sekalu ketua geng Naga putih! Ckckck...!".


Jerry tertawa puas karena Will menyetujui permintaannya.


" Aku akan mengirimkan lamaran kepada putri si tua Bangka itu secepatnya. Nanti aku akan kabari bagaimana selanjutnya, oke?".

__ADS_1


Kata Will sambil mengeleng-gelengkan kepala karena tidak paham dengan jalan pikiran Jerry.


" Iya, aku paham!".


Jawab Jerry ringkas.


" Habis ini mau apa?".


Tanya Will lagi sambil melihat handphone menunggu telpon dari Risa, apakah sudah bangun.


" Apakah kamu sudah bangun sayang? Kenapa tidak ada kabar sama sekali sedari tadi...?".


Tanya Will dalam hati, Tom yang menyadarinya hanya bisa tersenyum puas saja.


" Aku mau disini dulu, aku sedang bosan! Bagaimana kakimu? Apakah sudah bisa jalan lagi, Hem?".


Tanya Jerry memperhatikan Will dengan serius sekali. Dia melihat Will dari atas sampai kebawah.


" Hei! Jangan menatapku seperti itu. Aku akan segera sembuh, dan kita bisa balapan lagi!".


Kata Will sambil tertawa.


" Hah? Yang benar saja kamu?".


Tanya Jerry dengan keheranan dan penasaran dengan kaki Will.


Will mengangguk dan melirik Tom,


" Apakah sudah ada kabar?".


Tanya Will penasaran melihat Tom.


" Belum tuan! Akan saya pastikan?".


Kata Tom, lalu menelpon pengawal yang menjaga ruangan dimana Risa sedang tertidur lelap.


Satu menit kemudian,


" Sudah tuan! Nona sedang menunggu anda, dia sedang main game di ponsel. Kata mereka!".


" Oh baiklah! Ayo kita kembali!".


Kata Will memberikan perintah.


" Aku ikut!".


Jerry langsung berdiri tegak, lalu mendorong kursi roda Will dengan sigap. Will hanya diam, membiarkan Jerry ikut dengan mereka menjepit Risa dirumah sakit.


Mereka pergi meninggalkan cafe, lalu masuk kedalam rumah sakit.


" Kita mau apa? Jangan bilang kamu mau operasi William?".


Kata Jerry dengan kepo bertanya.


" Diam! Ikut saja!".


Bentak Will dengan tegas, kesal karena Jerry banyak tanya.


" Baiklah tuan muda Laurens, anda adalah tuannya. Anda menang!".


Kata Jerry sambil tertawa cekikikan. Tom yang mendorong kursi roda, Jerry berjalan didepan mereka.


Dua pengawal memberi hormat dari jauh, tepat disebuah ruangan mereka berhenti.


Cklaaak! πŸšͺ


Pintu terbuka, mereka masuk. Jerry terkejut melihat dari kejauhan wajah seorang wanita cantik bak putri. Siapa lagi kalau bukan Risa.


" Kalian sudah kembali? Maaf tadi aku ketiduran! He...he...eee!".


Risa tertawa dan membenarkan rambutnya yang terurai.


Deg! ❀️

__ADS_1


Jantung Jerry berdetak kencang. Wajah Jerry memerah malu, dia kagum dengan kecantikan alami yang dimiliki Risa.


Risa membenarkan pakaian yang kusut, kemudian mengikat rambutnya dengan sembarangan. Memperlihatkan lehernya yang panjang, bersih dan putih. Risa turun dari kasur berjalan menuju westafel yang tidak jauh dari pintu masuk. Kemudian dia mencuci tangan, wajah dan berkumur.


" Baiklah, aku sudah selesai!".


Kata Risa sambil meraih tasnya.


" Bagaimana tidurmu, putri?".


Tanya Will dengan sopan, lalu memberikan sapu tangannya kepada Risa untuk mengelap wajah.


" Lumayan! Maaf ya!".


Kata Risa tersenyum lebar.


" Anda butuh sesuatu nona?".


Tanya Tom dengan sangat sopan,


" Tidak ada, terimakasih! Lalu kita mau kemana habis ini? Masih sore".


Tanya Risa menatap Jerry keheranan dan bingung.


" Perkenalkan ini Jerry teman tuan!".


Kata Tom memperkenalkan Risa pada Jerry yang sedari tadi mengagumi kecantikan Risa.


" Hai, salam kenal. Aku Clarissa, panggil saja Risa. Kamu?".


Tanya Risa ramah mengulurkan tangan kepada Jerry.


Tak tinggal diam, Jerry mau menyambut tangan Risa dengan cepat. Tapi Will terlebih dulu menyambar tangan Risa.


" Tidak perlu salaman ya! Dia itu buaya darat, jangan dekat-dekat dengan playboy sialan ini! Paham?".


Will menatap Risa tajam sambil mengancam dengan keras.


Risa menjadi takut dan kemudian gugup, lalu dia menghempaskan tangan Will yang memeganginya.


" Iya aku tahu! Begitu saja tidak boleh, dasar aneh! Cih...!".


Kata Risa kesal dan buang muka.


Jerry yang melihat kejadian langka itu langsung tertawa terbahak.


" Hai Risa! Nyalimu besar juga ya? Baru kali ini ada wanita yang berani menentang dia! Aku adalah fans beratmu mulai saat ini, bagus! Ckck! Hanya Tuhan yang tahu, lucunya!".


Jerry tertawa terbahak, karena baru kali ini dia melihat ada wanita yang berani begitu pada Will.


Tom tersenyum dan menahan tawa, sementara Jerry menjulurkan lidah kepada Will sepuas hati.


" Diam! Ayo kita ke mall, belanja!".


Kata Will menahan rasa malu ditertawakan oleh Jerry.


" Awas saja kamu ya? Aku akan menghukum kamu lebih berat!".


Gumam Will geram dalam hati.


Mereka meninggalkan rumah sakit dan menuju mall. Jerry naik mobil yang berbeda dengan Will, dia bawa supir sendiri. Sepanjang perjalanan Jerry mengingat kejadian tadi dan puas mengutuki Will.


" Gadis yang menarik! Aku baru tahu ada juga gadis yang menolak Will dengan terang-terangan begitu, bahkan berani membantah titah Will. Sungguh gadis luar biasa, wajah cantik seperti bidadari, nyalinya besar dan jelas sekali. Tubuhnya se sexy itu? Wow! Will sungguh beruntung sekali! Ckck!".


Gumam Jerry dengan suara pelan masih terkagum akan Risa.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LikeπŸ‘ dan KomenπŸ“ ya❀️. Please πŸ™


Thoor biar semangat nulis,πŸ’ͺ makasih banyak ya kakakπŸ‘§dan Abang πŸ‘¦yang sudah mampir dan membacaπŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉπŸ’


Miss U pembaca,

__ADS_1


By : ThoorπŸ˜˜πŸ‘


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2