
" Untuk apa membawa aku kemari? Oh padahal ini week end, kenapa aku harus lembur? Cih, sial! Kenapa juga aku harus mau diajak kesana dan kemari dengan mereka? Sial!".
Gumam Risa dalam hati sambil mengutuki Will dan Tom.
Tom dan Will masuk kedalam butik dan berganti pakaian santai, Risa hanya diam mematung sambil melihat koleksi kaos santai dan celana jeans wanita.
" Oh tidak? Harganya mahal sekali! Hampir sebulan gajiku! Rugi aku beli sepotong celana jeans disini! Beli dipasar lagi murah dan bagus, kaos juga murah meriah muntah. Ah...! Aku tak bisa tergoda, tahan Risa! Jangan tergoda rayuan setan!".
Kata Risa pelan berbicara sendiri seperti orang gila.
Tom dan Will sudah siap dengan pakaian santai. Will menggunakan celana jeans dan kaos, dilengkapi jaket yang modis. Rambutnya agak terlihat acak-acakan tapi tetap terlihat tampan dan mempesona. Risa hanya terdiam dan kagum, tidak dengan pakaian resmi yang rapi, bahkan Will terlihat seperti model yang sangat tampan.
Tom juga demikian, terlihat santai dengan kemeja dan jeans. Mereka seperti super star.
" Jangan menatapku seperti itu? Mana barangmu?".
Tanya Will keheranan, melihat Risa tidak memilih apapun.
" Haiz! Dasar bodoh!".
Ujar Will sambil memijit kepalanya, Risa tidak paham maksud dari Will.
" Nona, kenapa anda hanya melihat saja. Pilihlah beberapa koleksi disini, tidak perlu sungkan. Gratis!".
Kata Tom tersenyum.
" Tidak terimakasih. Aku tidak tertarik sama sekali!".
Ujar Risa ketus dan melipat tangan di dada sambil duduk menyilang kan kaki dengan santai.
" Ya Tuhan, rugi aku beli disini! Buang uang saja! Oh tidak! Jaga gengsi Risa, jangan terlena dengan bujuk rayu mereka. Tahu malu!".
Kata Risa dalam hati menggerutu tidak senang akan kesempatan emas yang sulit dilewatkan.
Will menatap Tom, memberikan kode untuk memilihkan pakaian yang cocok dan sesuai dengan ukuran Risa. Tom melaksanakan tugas sesuai dengan perintah,
Tom berjalan kearah koleksi kaos wanita, memilihkan beberapa yang cocok dengan Risa. Warna putih, cream, pink muda dan kuning cerah. Lalu dia juga berjalan kearah jeans wanita dan menatap lama, pegawai toko mengikuti Tom dari belakang.
Tom melirik Risa dengan tajam,
" Berapa ukuran pinggang nona?".
Tanya Tom tajam melirik, Risa jadi gugup dan menjawab langsung.
" 28....! Kenapa?".
Risa menaikkan alis menatap Tom. Dia terus mengawasi Tom yang sibuk memilih celana jeans wanita.
" Oh baiklah, ternyata aku tidak salah memilih. Lumayan!".
Kata Tom pelan sambil menggigit bibir dengan santai.
Tom memilihkan celana jeans hitam polos dengan gambar bunga mawar dibagian kantong belakang, abu-abu dengan corak lutut sobek-sobek, terakhir biru Dongker dengan corak bergaris-garis dibagian paha.
Selesai itu, Tom menyelesaikan pembayaran. Pelayan toko membantu memasukkan barang kegarasi mobil.
" Ayo kita kerumah sakit! Aku ada terapi ini hari! Temani aku!".
Kata Will dengan santai kepada Risa yang masih duduk santai.
Risa membulatkan mata, terlihat penolakan diwajah Risa. Namun dia tidak berani melawan dan membantah titah Will karena takut akan dipecat.
" Kenapa juga aku harus ikut?".
Kata Risa mencoba memberanikan diri menolak Will.
" Tentu sayang! Jangan membantah! Atau kamu mau kehilangan pekerjaan karena sudah membantah perintahku? Hem?".
Tatap Will dengan mata tajam, tidak suka akan penolakan Risa.
" Ya sudahlah! Terserah! Anda bos nya tuan! Maaf ya...!".
Kata Risa berjalan masuk kedalam mobil, hati Risa benar-benar kacau dengan sikap dominan Will padanya. Padahal baru beberapa hari bertemu, Will sudah membuat Risa merasa tidak nyaman.
" Ckckck! Dia pasti kesal padaku! Sungguh senang membuat dia demikian, wajahnya gemes sekali!".
__ADS_1
Kata Will kepada Tom pelan, mereka berdua tersenyum karena berhasil mempermainkan Risa sesuka hati.
Sampai disebuah rumah sakit yang mewah dan begitu megah. Sang dokter dan beberapa perawat sudah menunggu didepan pintu.
" Selamat datang tuan! Silahkan!".
Kata dokter sambil memberikan hormat kepada Will.
" Ayo bantu aku! Jangan diam saja! Kamu mau aku terjatuh yah?".
Kata Will dengan nada jutek dan tidak suka dengan sikap Risa.
" Kenapa sikapmu selalu membuat aku kesal saja! Sudah puas?".
Kata Risa menatap Will kesal, ingin sekali Risa mencekik leher Will sangkin marah dan kesal.
" Aku tidak mau disentuh tangan lain, kamu sudah tahu bukan?".
Ujar Will ditelinga Risa, yang sedang memapah Will dengan lembut.
" Sudahlah! Atau aku akan menjatuhkanmu? Mau?".
Tatap Risa tajam kepada Will.
Seketika Will terkejut dan kaget,
" Berani sekali gadis ini padaku? Apa dia tidak tahu siapa aku? Hah? Tapi begini juga bagus, setidaknya tingkat kewaspadaan dia tinggi! Aku semakin ingin menggodanya lebih lama dan lebih kejam lagi! Lihat saja nanti sayang! Akan kubuat kamu meminta ampun karena ku!".
Kata Will dalam hati senang akan respon Risa yang garang itu.
Will dibawa kedalam sebuah ruangan, Tom dan Risa ikut masuk kedalam. Risa melihat ruangan itu seketika berubah pucat, kala mengingat kejadian 5 tahun lalu yang membuat Risa kehilangan kedua orang tuanya. Risa hanya diam menundukkan kepala sampai Will selesai diperiksa dan terapi.
" Ayah! Andai kalian masih ada? Ibu! Andai ibu masih disini! Risa tak akan sendirian lagi!".
Karena terlalu lama menunggu Risa tertidur selama Will diperiksa.
" Kenapa tuan masih duduk dikursi roda? Bukankah sudah mulai bisa berjalan tuan?".
Tanya dokter terheran akan sikap Will yang masih duduk dikursi roda.
Puji Will kepada dokter.
" Tentu tuan, sejak dulu saya selalu dipercaya untuk menjadi dokter pribadi keluarga Laurens tuan. Sejak zaman ayah saya dulu bukan? Saya juga senang bisa melayani anda semua, ya kan?".
Jawab dokter dengan senyuman lebar yang begitu ikhlas.
" Saya puas dan berterimakasih karena keluarga anda setia kepada keluarga kami, terimakasih!".
Kata Will lagi memuji dokter yang sudah puluhan tahun lalu mengabdi menjadi dokter keluarga Will.
" Bolehkah saya bertanya tuan?".
Tanya dokter dengan gugup.
" Ya boleh! Katakan saja!".
Jawab Will dengan ringan sambil duduk diatas kasur dan memperbaiki baju nya.
" Siapakah wanita itu? Maaf jika saya lancang bertanya tuan! Maaf!".
Tanya dokter sambil malu-malu.
Dokter membantu Will berdiri sambil berjalan perlahan menuju kursi roda yang 10 meter jaraknya.
" Dia? Gadis bodoh itu wanitaku! Ya mungkin akan menjadi calon nyonya di keluarga Laurens! Ckck!".
Jawab Will dengan polos dan ringan, membuat dokter terkejut sekaligus bahagia bukan main.
" Syukurlah! Tuan sudah membuka hati kembali dan menemukan gadis impian tuan! Selamat ya tuan!".
Kata dokter bahagia bukan main, maklum saja ayah dokter itu adalah teman dekat papa Will.
" Terimakasih dokter! Aku akan mematuhi semua perintah dokter. Aku akan minum obat teratur! Agar aku bisa sembuh total dan mampu menggendong istriku keranjang! Dan aku juga bisa melindunginya!".
Ujar Will sambil tersenyum hangat, Tom begitu bahagia mendengar bahwa Will sudah bangkit dari kesedihan lagi sejak bertemu Risa.
__ADS_1
" Terimakasih nona, kehadiran anda membuat tuan kembali bersemi!".
Gumam Tom dalam hati bahagia.
" Baiklah tuan! Selamat berjuang, katakan pada saya apa yang bisa saya lakukan untuk membantu anda. Apapun itu tuan!".
Kata dokter menepuk pundak Will,
" Iya baiklah dokter! Saya tahu!".
Kata Will dengan senyuman.
" Oh ya? Bagaimana kabar tuan besar? Apakah beliau masih bekerja? Masih bulan madu?".
Tanya dokter sedikit tertawa.
" Papa keliling dunia dengan istri barunya! Biar sajalah, yang penting papa bahagia dan tidak menyusahkan aku! Setelah 20 tahun singgel Dady, itu sudah cukup!".
Kata Will sedikit senyum, dokter kagum sekali melihat senyum Will. Karena selama ini Will tidak gampang untuk tersenyum. Dokter sudah lama tidak melihat senyum Will sejak kejadian itu.
" Syukurlah tuan sudah kembali seperti dulu lagi! Terimakasih tuhan, berkat nona muda itu bukan?".
Gumam dokter dalam hati bersyukur karena Risa telah merubah Will jadi pribadi ramah lagi.
Dokter dan perawat keluar dan meninggalkan mereka bertiga diruangan itu.
" Tom? Katakan pada rekan bisnis kita yang akan bertemu setelah ini. Kita ubah tempat, disebelah ada cafe. Kita disitu saja! Oke!".
Kata Will memberikan perintah.
" Ah baik tuan! Mau kapan?".
Tanya Tom serius kepada Will.
" Sekarang saja! Dia tidur, biarkan saja! Jangan ganggu dia!".
Kata Will dengan santai.
" Baik tuan, saya paham!".
Kata Tom menjawab perintah tuannya dengan sigap.
Tom menelpon dan membereskan semuanya, Will menutupi tubuh Risa dengan selimut dan menaruh kepalanya diatas bantal. Risa tidur di sofa empuk yang nyaman.
Will tersenyum melihat Risa,
" Andai kau tahu sekarang aku bergantung padamu? Kau begitu berani menentang aku? Tidak suka uang dan tangguh, itulah tipe wanita pujaan hatiku. Tidak cengeng dan tegar! Aku akan menjadikanmu hanya milikku saja, percayalah!".
Kata Will lembut dan mengecup kening Risa dengan hangat. Will mengelus rambut Risa perlahan agar tidak terbangun, sambil menatap Risa dengan penuh kasih.
" Baiklah tuan, mereka sudah dijalan! Ayo tuan!".
Kata Tom memberikan tanda.
" Baiklah! Tolong beri penjagaan agar dia terbangun nanti tidak kabur entah kemana, paham?".
Kata Will bertanya pada Tom. Lalu Tom hanya mengangguk dan menelpon beberapa pengawal untuk berjaga di depan pintu ruangan dimana Risa tertidur.
" Jangan biarkan dia keluar, apa lagi meninggalkan ruangan ini. Siapapun tidak boleh masuk. Paham?".
Titah Tom pada dua pengawal yang berjaga di depan pintu.
Tom dan Will pergi ke cafe dimana janji mereka tadi dengan teman bisnis kantor mereka. Seharusnya Risa ikut, tapi karena Risa tertidur jadi mereka berdua saja pergi.
ππππππππππππ
Jangan lupa Likeπ dan Komenπ yaβ€οΈ. Please π
Thoor biar semangat nulis,πͺ makasih banyak ya kakakπ§dan Abang π¦yang sudah mampir dan membacaππΉππΉππΉππΉπ
Miss U pembaca,
By : Thoorππ
ππππππππππππ
__ADS_1