Jalan Cinta-Mu

Jalan Cinta-Mu
5


__ADS_3

" Gadis polos! Begitu saja sudah senang, tapi aku jadi bahagia jika berada bersamanya! Kau tak akan bisa lepas dariku, aku akan membuatmu terikat dan bergantung padaku mulai sekarang. Percayalah aku tidak akan membiarkan siapapun berani menyentuhmu!".


Gumam Will sambil menatap Risa dengan lekat dan puas. Tom sangat menyadari dan paham akan kemauan dan keinginan hati Will.


End.


Sore hari, Tom dan Will mengantar Risa sampai depan rumah. Ya rumah kecil nan sederhana, dengan taman kecil didepan rumah dipenuhi bunga warna warni. Rumah bercat putih gading, tidak begitu besar namun tampak nyaman.


" Terimakasih pak bos sudah mau meluangkan waktu anda yang berharga untuk mengantar saya. Saya tidak bisa membalasnya...!".


Kata Risa polos berterimakasih dengan tulus.


" Tentu kamu harus bayar, semua tidak gratis! Oh ya, ini bon belanja sepatu kemarin. Bayarlah, ckckck!".


Will tersenyum menyeringai, bulu kuduk Risa berdiri dan dia ketakutan melihat senyum Will yang amat menakutkan itu. Bahkan Tom saja tersenyum dingin, dia juga tahu kalau Will akan menjahili Risa lagi.


" Habislah anda nona, bahkan gaji anda setahun belum tentu bisa melunasi bon itu! Kasihan!".


Gumam Tom dalam hati, lalu dia menatap Will dan Risa sambil tersenyum kecil.


Risa menerima bon itu lalu melihat tulisan yang tertera.


Duaaaar.....!!!⚑


Bagai petir menyambar, Risa seketika pucat pasi melihat nilai dari harga 5 sepatu kemarin.


" 208.000juta untuk 5 sepatu! Anda tidak salahkan pak bos?".


Risa bertanya dengan nada gugup dan ketakutan karena tidak bisa bayar, gaji setahun pun tidak cukup.


" Tak ada yang salah! Bisa bayar?".


Will menekankan pertanyaan tadi didekat wajah Risa, karena terlalu dekat Risa terkaget dan menjauh.


" Bisa dicicil tidak pak bos?".


Tanya Risa lagi dengan wajah sedih hampir menangis.


" Oh tidak bisa bayar! Baiklah, kamu bisa bayar dengan cara lain, bagaimana? Mau mencoba?".


Tanya Will dengan sedikit menggoda Risa lagi yang sedari tadi kelihatan bingung.


" Bagaimana caranya? Asalkan tidak melanggar norma kehidupan, aku mau mencobanya pak bos?".


Kata Risa dengan nada berat dan menatap Will dengan mata sedih.


Will tertegun dan puas dengan ekspresi yang diberikan Risa, dia tersenyum tanda kemenangan.


" Baiklah, besok aku akan datang menjemputmu jam 10 pagi. Bersiaplah, kita akan kesuatu tempat yang aku suka, oke?".


Kata Will menghardik Risa.


" Baiklah! Jika itu bisa melunasi hutang, saya akan coba pak bos!".


Risa lega dan tersenyum.


" Hei, jangan panggil saya pak bos lagi. Apakah saya terlihat tua, huh?".


Will kesal dan mengelus pucuk kepala Risa, Tom terkejut dan melongo melihatnya.


" Jadi harus panggil apa?".


Tanya Risa sambil menggelembungkan pipinya, Will semakin gemas dengan tingkah gadis bodoh nya itu.


" Panggil William saja kalau diluar, kalau dikantor terserah. Tapi jangan pak bos, terlalu jelek dan norak!".


Kata William sambil mencubit hidung Risa dengan lembut. Tatapan mata Will begitu hangat dan begitu lembut, Risa terkejut karena tidak pernah melihat ekspresi Will yang ini. Dibenak Risa hanya terlintas Will, CEO sombong, garang, dingin bermuka datar dan sombong menyebalkan.


" Tapi, pak bos....?".


Risa menggantung ucapannya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan dengan cepat.


" Oops, maaf ya. Lupa! Keceplosan! He...he...eee!".


Risa tertawa kecil dan menggaruk kepalanya lembut dan nakal.


" Sekali lagi kamu panggil saya dengan sebutan itu, percayalah gadis bodoh! I kiss U, yeah?".


Kata Will dengan tegas dan wajah serius, Risa menjadi takut dan gemetaran.


Karena ucapan yang barusan itu tidaklah bercanda ataupun sedang menggoda, Will benar-benar serius.


" Baiklah, William. Maaf!".


Kata Risa pasrah dengan nada takut dan keringatan.


" Ya sudah! Turunlah, besok aku akan datang menjemputmu!".


Kata Will sambil senyum jahat,


Risa segera turun dan lari kedalam rumah, tanpa menoleh kebelakang.

__ADS_1


" Dasar jahat! Awas saja, lain kali aku akan balas dendam! Ya kalau ada kesempatan sih! Sungguh menyebalkan sekali sih, besok dia akan mengajak aku kemana ya? Tidak mungkin dia akan menjualku, bahkan aku tidak laku dijual. Ya Tuhan selamatkan aku! Papa... Mama, tolong jaga Risa ya!".


Kata Risa dalam hati kecil dengan hampir menangis.


Didalam mobil perjalanan pulang, Will terus tersenyum sendiri tanpa sebab dan suara,


" Tom? Bagaimana menurutmu gadis bodoh itu? Siapa namanya?".


Tanya Will kepada Tom yang sambil menyetir mobil.


" Semua datanya ada disaku mobil depan anda tuan. Lihat saja!".


Jawab Tom atas pertanyaan Will dengan tegas dan wajah datar.


Will mengambilnya dan tersenyum sendiri membaca nama gadis bodoh yang sudah mencuri perhatiannya sejak kemarin.


" Tom, apa kau sudah membaca?".


Tanya Will dengan serius dan wajah sedih mengetahui Risa yatim piatu dan hidup sebatang kara sejak 5 tahun yang lalu.


" Hem, sudah tuan!".


Jawab Tom masih dengan wajah datar dan dingin.


Will tertegun dan begitu kaget,


" Gadis pintar yang tangguh, kuliah biaya sendiri dengan kerja paruh waktu. Setelah lulus tahun lalu dia mulai bekerja diperusahaan ini dengan nilai terbaik, dia begitu tangguh menghadapi semua seorang diri. Mandiri, cantik dan sexy, julukan itu pantas buatmu. Ternyata dibalik itu semua dia begitu menderita sejak dulu, gadis yang ceria dan baik. Jadi semakin menarik saja, aku tertarik padamu sayangku. Tunggu saja, aku akan membuatmu terikat padaku dan bergantung juga padaku!".


Gumam Will dalam hati dengan senyuman kecil, dia membayangkan kalau Risa akan jadi miliknya.


Didalam rumah, Risa bergegas mandi dan beres-beres rumah karena sudah berapa hari tidak dirapikan. Selesai berberes Risa kemudian nonton tv sambil makan cemilan seperti keripik dan cokelat dengan teh lemon hangat.


" Ya ampun, besok dia mau mengajak aku kemana lagi? Padahal akhir pekan, aku harus bermain setan-setanan dengan orang gila seperti pak bos! Tapi dia baik juga sih, mentraktir aku makan enak dan lezat. Sering-sering saja ya pak bos, aku senang! Ckckck!".


Risa tertawa gelak seorang diri didepan tv.


Dirumah, Will masih sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ditanda tangani. Dia begitu serius dan sangat fokus demi besok bisa bersantai bersama Risa diluar.


" Tom, besok kita kemakan ibuku. Sudah lama tidak berkunjung!".


Kata Will kepada Tom, dan hanya dibalas anggukan. Tom paham apa yang harus dilakukan.


Jam 7 malam, Risa mendapat telepon dari Lara.


Lara is calling....πŸ“²


Risa menjawabnya,


" Kamu dimana? Besok libur, malam ini kita jalan yuk? Bosan dirumah!".


Kata Lara dengan manja, seperti bisa sambil menggoda Risa.


" Ya ampun kamu ini, kamu traktir aku. Bagaimana? Mau? Ckckck!".


Risa tertawa dan menggoda lagi,


" Boleh, lagian kita barengan perginya. Awalnya aku dan Dery, tapi Denis juga minta ikut! Makanya aku ajak kamu, mau ya? Please?".


Kata Lara memohon pada Risa,


" Uh kamu menjadikan aku tumbal, aku tidak mau ikut! Males...!".


Kata Risa pura-pura cuek, dia mempermainkan Lara yang galau.


" Please baby! Help me now! Ok?".


Lara memohon dengan sangat sampai ingin menangis.


" Hei, baiklah! Begitu saja langsung menangis! Dasar cengeng, kapan?".


Tanya Risa lagi dengan nada pasrah akan permintaan Lara.


" Ya sudah, kamu bersiap. Aku segera kesana dengan mereka. Kami akan jemput mu sayangku! Pastikan kamu berdandan cantik ya, buat si Denis bertekuk lutut padamu! Ha...ha....aaa!".


Canda Lara tertawa lebar,


" Ya sudah aku bersiap! Awas saja kalau kamu jahili aku lagi, dasar Mak comblang! Isin tahu!".


Jawab Risa ketus dan polos, lalu menutup telepon dengan cepat.


Risa kekamar dan ganti baju, memakai baju dress selutut warna putih dengan tas jinjing merah. Memakai make up tipis dengan lipblam warna pink muda. Sedikit eyeshadow cokelat dan blush on tipis merona dipipinya, dan sedikit farfum beraroma segar. Yup! Selesai juga tinggal menunggu Lara tiba.


Baru duduk didepan rumah, mobil Lara berhenti didepan. Risa kemudian menghampiri lara dan langsung masuk duduk dibelakang bersama Denis.


" Hai Denis, malam!".


Sapa Risa dengan ringan.


Denis terlihat kaget dan gugup, wajahnya memerah menatap Risa dengan lekat disebelahnya.


" Baik! Wow, sungguh sempurna!".

__ADS_1


Kata Denis keceplosan begitu saja.


" Oh ya terimakasih!".


Risa tersenyum saja.


" Hei, aku juga ada disini!".


Lara cemburu karena Risa tidak menyapa Lara sejak masuk.


" Iya aku tahu, kemana kita pergi?".


Tanya Risa dengan menatap Denis.


" Entahlah, aku cuma ikutan saja!".


Kata Denis memberikan jawaban.


" Tentu saja, ke cafe. Karaoke biar lebih hidup, biasalah!".


Kata Lara dengan manja kepada Deny pacarnya.


" Iya sayang! Menuju kesana!".


Deny tersenyum menatap Denis dan Risa duduk kaku dari spion depan.


Sebenarnya ini rencana Deny untuk mendekati Risa karena Lara tahu Denis suka Risa dari dulu mulai masuk kerja. Lara dan Deny hanya membantu sepupunya saja untuk mendapatkan hati Risa.


Deny berbeda dari Denis, Deny begitu enerjik, ramah dan mudah bergaul. Sementara Denis lebih pendiam, pintar dan dapat diandalkan. Jarang bergaul tentunya, hanya dengan orang tertentu saja Denis mau bicara.


" Kamu sudah makan belum?".


Tanya Lara kepada Risa, penuh perhatian dan ada udang dibalik batu. Sok perhatian sih!πŸ˜‚


" Iya sudah, memang kenapa?".


Tanya Risa dengan wajah datar.


" Aku mau makan wafel dan salad buah, pasti segar dan lembut!".


Kata Lara kepada Deny, sambil mencium pipi Deny manja.


" Gila, buat aku iri saja padanya! Sial dia begitu menikmati meledek aku yang sudah lama jomblo. Awas saja jika aku punya pacar, aku bakalan buat kamu nangis melihat aku bermesraan didepan matamu. Tapi? Tapi entah kapan itu!? Huh! Sial!".


Gumam Risa agak kesal.


" Oh ya Risa! Sudah punya pacar?".


Tanya Denis dengan berani, Lara dan Deny hening mendengar pertanyaan Denis tadi yang begitu sensitif sekali.


" Belum! Aku tidak ada waktu memikirkan hal itu, lagian sapa juga yang mau dengan aku. Ya kan?".


Kata Risa dengan enteng dan polos.


" Kalau begitu, boleh aku mendekatimu. Aku ingin dekat dan menjadi pacarmu! Boleh?".


Tanya Denis dengan keberanian luar biasa bertanya pada Risa.


" Sekarang aku tidak niat pacaran, maaf Denis! Memikirkan hidupku saja aku pusing, aku tidak mau ambil resiko lagi. Tidak mau menyusahkan siapapun tentunya!".


Kata Risa lagi dengan wajah datar,


" Aku bisa menjadi tempat berlindung dan curahan hatimu!".


Kata Denis lagi, kini wajahnya memerah dan malu. Lara dan Deny menatap mereka dari kaca spion.


" Aku tidak melarangmu untuk mendekati aku, berusahalah!".


Kata Risa sambil memberikan senyum kepada Denis.


Denis menjadi semangat dan bahagia dengan jawaban Risa tadi. Ternyata tidak ada penolakan. Malam ini begitu panjang, Denis perhatian sekali kepada Risa. Rencana Lara ternyata berhasil, membuat mereka lebih dekat dan saling mengenal.


Denis juga berani menggandeng Risa tanpa gugup, Risa tidak menolak ataupun marah.


" Apa salahnya mencoba? Denis anak yang baik dan pekerja keras, lagian dari segi wajah Denis lumayan juga. Keluarganya bagus dan serba lumayan! Ya sudah!".


Gumam Risa dalam hati.


Denis adalah manager dibagian keamanan tempat mereka bekerja. Wajah tampan dan menawan, baik dan agak pendiam. Sebenarnya jika Denis mau mungkin sudah punya pacar. Denis tidak suka perempuan yang manja dan norak, Risa dimatanya begitu sempurna.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LikeπŸ‘ dan KomenπŸ“ ya saudaraku❀️


Thoor biar semangat nulis,πŸ’ͺ makasih banyak ya kakakπŸ‘§dan Abang πŸ‘¦yang sudah mampir dan membacaπŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉπŸ’πŸŒΉπŸ’


Miss U pembaca,


By : ThoorπŸ˜˜πŸ‘


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2