
Sepanjang jalan Risa meneteskan air mata kala mengingat kejadian kecelakaan yang menimpah Risa sekeluarga. Saat dimana dia menangisi kedua orang tuanya yang tiada, penuh luka dan darah diatas kasur dirumah sakit. Bahkan paman dan bibinya tidak peduli dengan keadaan mereka, bahkan untuk melihat saja tidak mau. Risa saat itu merasa sedih dan hampa, seketika perusahaan orang tua Risa diambil paksa paman dan bibinya. Yang tersisa adalah tabungan dan deposito saja, itulah biaya yang digunakan Risa untuk menyambung hidup selama ia kuliah.
Setelah kematian orang tua, Risa menjadi lebih tertutup dan pendiam. Hanya beberapa orang saja yang dekat dengan dia selain Lara, Risa cuma punya sahabat Madam Gie dan Samuel. Teman semasa sekolah, yang satu bancet dan satunya macho cowok sekali.
Kehidupan Risa berubah suram.
Flash back
............................................
" Ibu? Hari ini kita mau kemana?".
Tanya Risa kepada ibunya yang mempersiapkan bekal, sementara dirinya hanya duduk menonton ibunya berberes ini dan itu.
" Kita akan camping sayang! Sana siapkan barangmu, nanti ayah akan mengepaknya kebagasi mobil!".
Perintah Ibu pada Risa, lalu dia pergi kekamar dan berbenah juga.
Ayah datang menemui ibu didapur,
" Risa mana? Belum kelihatan dari tadi? Apa dia masih tidur?".
Tanya ayah melirik kesemua ruangan dengan ekor matanya.
" Oh dia sedang berbenah, baru saja kembali kekamar! Kenapa?".
Tanya ibu melirik ayah,
" Ah tidak! Tak terasa 20 tahun sudah kita berumahtangga sayang! Kita hanya punya putri yang cantik semata wayang, terimakasih!".
Ayah memeluk ibu, mereka bermesraan didapur. Aku hanya diam dan mundur,
" Ayah dan ibu! Bisa-bisanya begituan didapur! Tidak malu! Risa juga sudah besar tahu, huh!".
Kata Risa pelan sambil menghidupkan tv.
Tak lama setelah itu, mereka sarapan. Ibu dan ayah sangat menyayangi Risa, penuh kasih sayang dan cinta.
" Nak! Ini kunci brankas! Pegang lah! Ini mungkin akan berguna untukmu, jagalah baik-baik!".
Kata ayah memberikan sebuah kalung dengan mainan kunci.
" Untuk apa ini ayah?".
Tanya Risa pada mereka,
" Simpan saja kunci cadangannya!".
Kata ibu mencium kening Risa. Lalu ayah juga memeluk mereka berdua dengan hangat dan lembut.
Keluarga yang bahagia dan harmonis sekali bukan?
Tak lama setelah itu, mereka pergi berkemah ditempat yang bisa untuk kemah keluarga. Banyak juga yang ikut berkemah disana. Tak ada yang salah dengan perkemahan, berjalan mulus dan lancar. Hingga perjalanan pulang, terjadi kecelakaan yang tragis.
" Oh tidak! Remnya blong! Ada apa dengan mobil ini...?".
Kata ayah berteriak keras, membuat ibu dan Risa panik.
" Apa? Tidak mungkin?".
__ADS_1
Kata ibu dan panik, Risa ketakutan.
" Ibu? Aku takut, ayah takut...!?".
Teriak Risa sambil menangis.
" Keluarkan Risa! Cepat!".
Teriak ayah melihat Risa ketakutan dan menangis dibangku belakang.
" Iya baiklah! Aku paham!".
Teriak ibu panik.
Lalu ibu membuka safety belt, memeluk ayah sejenak.
" Maaf sayangku!".
Kata ibu lembut ditelinga ayah,
Ayah menoleh sekejap kepada Risa,
" Maaf sayang! Maafkan ayah!".
Wajah ayah sedih sambil berusaha mengendalikan mobil sekuat tenaga agar tidak masuk jurang.
" Kau harus hidup nak, lanjutkan hidupmu. Berjuanglah!".
Kata ibu kepada Risa dengan wajah takut dan gemetaran.
Ibu berusaha pindah kebelakang, lalu membuka pintu dengan paksa. Ibu menciumi Risa berulang kali,
Itu ucapan terakhir ibu, dengan air mata terus mengalir deras diwajah cantik nan ayu itu.
Ibu mendorong Risa keluar mobil, terlempar dipinggir bahu jalan, lalu seketika itu juga mobil jatuh masuk jurang dan hancur berserakan.
Risa berlari keujung pagar dan melihat mobil orang tuanya hancur, seketika orang yang menyaksikan menelepon polisi dan ambulance. Risa hanya diam mematung dengan tubuh tergores aspal, diam mematung dan kemudian pingsan.
Saat bangun dari pingsan, Risa sudah ada dirumah sakit. Dan dia melihat ayah dan ibunya terbaring dengan oksigen, Risa berusaha bangun dan mendekati mereka,
" Ayah... Ibu! Bangunlah! Risa takut! Kenapa bisa jadi begini? Hiks...hiks".
Risa menangis menjadi-jadi, lalu ayah mengelus kepala Risa dengan lembut sambil tersenyum.
" Jangan menangis! Kuatlah nak!".
Kata ayah tersenyum lalu dia menutup mata perlahan.
Risa kemudian melihat ibu yang bernafas tersengal-sengal.
" Risa, maafkan ibu. Hiduplah bahagia, anak ibu tersayang!".
Huft.....!!!
Kedua orang tua Risa menghembuskan nafas bersama, Risa melihatnya dengan jelas. Seketika Risa berteriak sekuat tenaga, para dokter datang dan memeriksa. Memastikan keadaan yang sebenarnya, suster memeluk Risa dengan erat.
" Maaf nak! Kami sudah berusaha yang terbaik untuk kedua orang tuamu. Mereka sudah tiada!".
Kata dokter menutup wajah orang tua Risa dengan kain selimut.
__ADS_1
Hua.......Hua......!!! π
Risa berteriak histeris lagi, suster juga ikut sedih dan memeluk Risa.
" Sabarlah nak! Kuatkan hatimu, dunia terus berputar. Kamu harus melanjutkan hidup, orang tuamu sudah kembali kepada sang pencipta. Bersabarlah nak!".
Kata suster mesin memeluk, Risa gadis belia yang malang.
Tak lama setelah itu, hanya Risa yang ada diruangan itu meratapi kedua orang tuanya. Tak satupun keluarga datang menjenguk, karena orang tua Risa sudah dibuang dari keluarganya. Sebenarnya Risa punya seorang paman, tapi dia tidak datang melayat.
Semua diurus dan dibantu oleh tetangga dan polisi. Karena orang tua Risa terkenal dermawan dan baik dilingkungan komplek dia tinggal. Para tetangga yang mengurusi semua keperluan untuk pemakaman, sungguh tragis.
Sejak saat itu Risa menjadi agak tertutup kepada orang lain, hanya beberapa tetangga dan orang tertentu saja dia ramah tamah.
" Iya, orang tuaku sudah bahagia. Aku harus melanjutkan hidupku dan harus hidup bahagia!".
Ujar Risa dalam hati kecil.
Mereka berjalan lurus menuju makan kedua orang tua Risa, sampai di ujung jalan. Nisan cream bertaburkan batu putih, dikelilingi pohon bunga.
Beny Kusuma dan Helena Peres.
Seketika Risa berjongkok dan berdoa dalam hati,
" Ya Tuhan, maha pengasih dan maha penyayang. Terimakasih karena sudah menjaga kedua orang tuaku dengan baik, aku titipkan mereka padamu. Ayahku tersayang, sekarang aku sudah hidup bahagia. Aku sudah jadi gadis yang baik dan kuat, lihatlah dari atas sana. Aku baik-baik saja disini. Ibuku tercinta, sekarang Risa hidup damai seperti saat kalian dulu. Meskipun aku sarapan dan makan sendiri, begitu sepi sekali ibu terasa tanpa ada kalian. Tapi aku sudah terbiasa hidup tanpa kasih sayang kalian, terimakasih ibu sudah melahirkan aku kedunia ini dan memberikan aku kasih serta cinta melimpah seketika kalian hidup. Ibu jangan kuatir ya, Risa akan menjaga diri dan martabat keluarga kita dengan baik. Ibu dan ayah, tunggulah Risa. Doakan dan jaga Risa selalu dari surga, bukankah Tuhan maha pengasih? Dia akan menjaga Risa didunia ini seperti menjaga kalian di surga sana, ya kan ibu? Ya kan ayah? Oh ya, disini ada Will dan Tom. Mereka teman Risa mulai sekarang, memang menjengkelkan sekali mereka. Tapi baik dan perhatian. Ibu dan ayah, thanks! Ya Tuhan, terima kasih banyak! Amin!".
Risa berdoa dalam hati sambil meneteskan air mata tanpa suara.
Air mata Risa terus berjatuhan perlahan membasahi pipi, Risa berusaha untuk tegar dan kuat. Sesekali Risa menghapus air matanya dengan sapu tangan, Will juga sesekali mengelus kepala Risa. Itu dilakukan Will tanpa sadar, bahkan Tom terkejut.
Semenjak Will bertemu Risa, tak heran terjadi Tom membulatkan mata dan melotot karena terkejut dan kadang juga shock. Tom juga sering spot jantung dengan tingkah aneh Will beberapa hari ini.
" Untung buatan Tuhan, kalau buatan Rusia sudah lepas dan berlari entah kemana ini jantung!".
Gumam Tom hampir setiap hari dan setiap jam.πβοΈ
Will menatap Risa penuh iba dan sedih sekali, dia juga kagum akan keberanian Risa untuk berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain.
" Om dan Tante, perkenalkan aku adalah William Laurens. Bos pemilik perusahaan dimana anak anda bekerja. Maaf jika aku tidak sopan datang kemakan kalian, tapi sungguh tidak ada maksud hati begitu nyonya dan tuan Kusuma. Ijinkanlah mulai sekarang aku yang akan menjaga Risa, ya aku akan berusaha mulai sekarang untuk mendapatkan hatinya dan cintanya. Ya meskipun dia tidak suka aku tapi setidaknya dia tidak membenciku. Aku mohon doa kalian, karena niatku tulus untuk Risa. Semoga kalian tenang selamanya! Amin!".
Kata Will dalam hati berdoa juga untuk kedua orang tua Risa.
"Semoga tuan Kusuma dan nyonya Peres tenang dan damai. Amin!".
Tom berdoa dalam hati sambil menutup mata.
Risa kembali berdiri dan melihat mereka dengan mata sembab.
ππππππππππππ
Jangan lupa Likeπ dan Komenπ yaβ€οΈ
Thoor biar semangat nulis,πͺ makasih banyak ya kakakπ§dan Abang π¦yang sudah mampir dan membacaππΉππΉππΉππΉπ
Miss U pembaca,
By : Thoorππ
ππππππππππππ
__ADS_1