
Rara Pov
Seusai makan siang aku dan peserta ospek lainnya mengikuti kegiatan selanjutnya. Kegiatan berlangsung lancar tanpa kendala apapun. Meskipun tampara dari kak Karin masih terasa sakit aku tetap mengikuti kegiatan yang ada. Aku tidak mengobati luka ku ke ruang kesehatan, karena ku rasa itu tidak perlu.
“Bagaimana keadaanmu, apakah pipimu sudah kau obati?” tanya seorang yang mengagetkanku. Saat ku lihat ternyata kak Angelo yang dibelakangnya ada beberapa teman satu gengnya. “Belum kak, tapi pipiku sudah tidak apa-apa” jawabku dengan gugup. “ Aw, sakit” pekik ku tanpa sadar ketika kak Angelo menekan pipiku dengan pelan namun terasa perih. “ Apakah ini yang dinamakan dengan baik-baik saja?” tanya kak Angelo yang membuatku semakin gugup. “ Ayo kita ke ruang kesehatan, akan aku obati pipimu itu” dengan cepat kak Angelo menarik tanganku menuju ruang kesehatan meninggalkan teman-temannya yang terpaku.
Author Pov
Sepanjang perjalanan Rara hanya diam saja, semua tatapan orang yang meraka lewati mengarah pada Rara dan Angelo. Tanpa mereka sadari ada dua sosok perempuan yang menatap mereka dengan wajah kesal, seakan melihat seorang pacar yang membawa selingkuhan, benar itu adalah Karin dan Hesti.
“Si***n tuh ja***g, berani- beraninya menggandeng Angeloku, dia akan merasakan akibatnya karena berani menggoda milikku” ucap Karin dengan wajah kesal. Mengerti dengan keadaan Karin yang penuh emosi, dia segera menyeret Karin menjauhkan padangan mereka pada dua orang yang saling bergandengan tangan layaknya kekasih itu.
Bima Pov
Entah kenapa aku sangat kesal melihat Angelo yang memberikan perhatian pada gadis itu. Kenapa bukan aku yang di posisi itu tapi malah Angelo.
“Hemm, sudahlah jika memang cinta perjuangkan, jangan sampe nanti diambil orang” bisik Reynald padaku.
“Ngomong apa sih lo”
__ADS_1
“Besarin aja tuh Ego, hilang diambil orang baru nyesel deh. hahaha” teriak Reynal dan berlari menjauh.
“Kampret lo nyumpahi gue” Jawabku sambil mengejarnya.
Memang benar hanya Reynald yang menyadari perasaanku pada gadis itu. Karena dia merupakan sosok yang paling peka jika terjadi perubahan kecil pada kami. Meski begitu dia bukanlah cowok yang ember, sehingga temanku yang lain dapat tahu apa yang kurasakan.
Ketika mengingat Angelo dan Rara yang pergi ke ruang kesehatan membuatku gelisah. Aku terus memikirkan apa yang sedang mereka lakukan berdua saja.
“Woi, ngelamun aja dari tadi. Mikirin apa sih kaya punya segudang masalah aja di Hidup lo?” suara david yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku
“rese lo, ngagetin gue aja”
“Biasa lagi mikirin cewek yang dia suka deket ama cowok lain. hahaha” ejek Reynald
“Lo lagi suka sama seseorang Bim” tanya Adam yang baru saja datang.
“Apaan sih, jangan dengerin si Rey si***n ini” jawabku.
“Gue kasih saran nih ya pada kalian, jika kalian memang benar suka diseriusin jangan hanya dimainin, jika tidak berniat serius jangan memberi harapan, karena kata Bob Marley, Pengecut terbesar adalah pria yang membangunkan cinta seorang wanita tanpa bermaksud untuk balas mencintainya” Jelas Adam panjang lebar.
__ADS_1
“Oke siap Pak ustad”
“hahahaha”
Jawab Rey, Bima dan David secara bersamaan.
“ Wait wait, kok gue jadi merasa lo nyindir gue sih dam” ucap David sambil berpikir.
“Lo aja yang dodol, emang siapa lagi yang suka memberi harapan ke banyak cewek” jawab Rey
“An**r, si***n lo Dam. Gue itu tidak pernah memberi harapan pada mereka, mereka nya aja yang berharap, di senyumin dikit baper, diajak makan baper. Emang dasar ceweknya aja suka berharap, otomatis bukan salah gue dong” bela David.
“serah vid” ucap kami berbarengan
Kami pun tertawa bersama. Beginilah keramaian kita saat bersama meski masih kurang satu orang lagi.
Apakah sahabat itu? satu jiwa yang berada dalam dua tubuh yang berbeda
~ Aristoteles ~
__ADS_1