
"Praannggggg"
Suara itu terdengar jelas. Aku bergegas melepaskan mukenah yang ku pakai. Berlari kecil menuju dapur untuk memastikan apapun itu yang terjadi, ibuku tetap baik-baik saja.
"Ada apa, Bu?" Aku bergegas menghampiri Ibu yang tengah berjongkok memilah serpihan-- entah itu gelas atau piring hadiah detergent, warnanya sama-sama bening.
"Ah, Ibu hanya tidak sengaja menjatuhkan ini. Maafkan, Ibu"
"Ibu" Aku tersenyum lembut. Ikut berjongkok, membantu membereskan serpihan kaca. "Istirahatlah. Ibu jangan terlalu capek. Beri tau Fatimah apa yang Ibu butuh" Ucapku sembari menuntun Ibu pada sofa dapur.
"Tidak ada, sayang. Ibu hanya ingin membuat cake untukmu. Bukankah putriku ini tengah berulang tahun hari ini?"
Aku tersenyum. Manis sekali perlakuan Ibuku yang satu ini. Selain terjaga untuk shalat malam, beliau menyempatkan ke dapur hanya untuk sebuah cake. Tapi bukan itu poin pentingnya, melainkan usahanya untuk tetap membahagiakan putrinya.
"Sudahlah, Ibu" Aku merangkul pundaknya sembari duduk disebelah Ibu. "Jangan pikirkan itu. Harusnya, Ibu yang pantas mendapatkan hadiahnya. Karena tepat 17 tahun yang lalu, ada seorang wanita yang bertaruh nyawa untuk sebuah tangis kecil dariku"
"Eh eh eh. Apa ini? Yang ulang tahun Fatimah kok yang dapat hadiah Ibu?" Kelakar ibu, membuat kami tertawa renyah di malam itu.
"Serius loh, Bu"
"Kalo duarius boleh ngga?" Ujar Ibu.
Membuat kami tertawa bersamaan.
"Kamu tahu, Nak? Fatimah sudah menjadi hadiah terbesar dalam hidup Ibu. Bahkan tidak hanya untuk hari ini. Tapi setiap detik selama 17 tahun." Ibu mengelus tanganku "Terima kasih" Pelan sekali, nyaris berbisik. Tapi cukup jelas di telingaku.
Aku menatap lekat, Ibu. Lihat! cintanya ada dimana-mana. Di keriput kulitnya, di sorot matanya, di tangan kasarnya, di senyum tulusnya. Lalu apa ini? Beliau berterima kasih pada ku? Mataku mulai memanas. Bagaimana bisa? Sedangkan aku tidak pernah berterima kasih pada sebutir nasi yang sudah dihidangkan, pada pakaian bersih yang aku kenakan.
"Tapi ibu boleh minta apa saja pada Fatimah" Suaraku mulai tercekat, menahan tangis agar tidak tumpah.
"Cukuplah engkau menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia, Nak. Menempatkan dirimu sebagai sebaik-baiknya wanita"
__ADS_1
Telingaku memanas. Aku terdiam. Mati-matian untuk menahan tangis. Ingin rasanya bersembah di kaki beliau. Mengucap seribu maaf dan terima kasih. Tapi entah mengapa lututku terasa lemas. Tidak bertenaga. Tulang belulang seolah tidak ada pada tempatnya.
"Kembalilah, ke kamarmu Fatimah. Engkau yang seharusnya istirahat. Bukankah siang nanti kamu harus kembali ke pesantren?"
Aku mengangguk. Langsung berdiri dan berlari menuju kamar. Aku tidak ingin Ibu melihat tangisku.
***
"Ya Allah, Ya Rahman..." suaraku menggantung, selayaknya tanganku yang menengadah. Mukenahku mulai basah. Percakapan bersama Ibu tadi, membuatku tidak cukup kuat menahan air mata.
"Terima kasih, untuk usia yang Engkau beri, untuk kesempatan memperbaiki diri, untuk hari-hari baik yang pernah ada, untuk seorang Ibu yang luar biasa" Aku kembali terdiam. Sesekali mengelap pipi yang membasah.
"Mohon ampun untuk segala kesalahan dan kekhilafan. Mohon ampunkan pula, Ibu hamba. Balaskan banyak kebaikan pada Ibu, atas kasih sayang yang hamba terima. Beri beliau kebahagiaan yang melimpah, keberkahan usia, kesehatan juga . Titip Ibu Ya Rabbi." Aku tersedu. Mengingat Ibu yang sedang struk ringan, dan harus tinggal seorang diri di rumah.
"Titip salam untuk RasulMu, juga untuk Bapak ya Karim.."
Pikiranku blank. Seolah tidak ada kata apapun yang bisa ku adukan pada Rabb-ku. Sekelebat wajah Ibu yang menua menari-nari di pelupuk mata. Melihat Ibu bersusah payah menggerakkan tubuhnya walau hanya untuk memasak atau memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Membayangkan itu membuatku tidak cukup kuat untuk terus berkata. Biarlah air mata yang berbicara tentang segala rasa. Haru. Bahagia. Duka. Apapun itu.
***
"Fatimah, boleh Ibu masuk?"
"Silahkan, Bu. Pintunya tidak terkunci"
Ibu masuk lantas duduk disebelah ku. Sembari melipat gamis dan beberapa khimar untuk ku bawa siang nanti, aku menatapnya.
"Ada apa, Bu?" Aku bertanya dan mengepak tasku. Malas sekali rasanya. Setelah beradu argumen dengan Ibu, yang tetap bersikukuh untuk memintaku kembali ke pesantren meski aku menolak. Memilih untuk di rumah, menjaga Ibu. Ya, setidaknya hingga Ibu sembuh dari struknya.
"Ada tamu di luar sana. Ia ingin bertemu denganmu."
"Siapa" Ujarku sembari mengernyit
__ADS_1
"Sudah, gunakan cadarmu dan ayo temui bersama" Ibu menyodorkan cadar untuk ku kenakan.
Sesampai di ruang tamu, aku mematung. Melihat siapa yang datang bertamu. Kikuk sekali rasanya, dan bingung harus bagaimana. Rasanya ingin menghilang saat itu juga.
"Kemarilah, Fatimah" Ibu menarik lenganku agar aku bisa duduk di sofa sebelah Ibu.
"Kau mengenalnya?"
Aku mengangguk pelan. "Tentu saja aku tau karena dia adalah pria yang sudah mengusik hatiku" Gumanku dalam hati. "Bagaimana dia tahu rumahku? Bagaimana dia kemari? Ada perlu apa? Tunggu dulu! Tadi Ibu bilang apa? Ada tamu yang ingin bertemu dengan ku?" Ada banyak sekali pertanyaan yang memenuhi pikiranku. Namun, tetap saja lidahku kelu. Aku hanya teronggok bisu di samping Ibu. Menunduk malu sambil menerka-nerka mengapa dia kemari.
"Fatimah" Ibu menggenggam tanganku "ini adalah salah satu putra dari sahabat dekat Ibu dan Bapak" Sembari mengelus tanganku, Ibu menjeda sejenak apa yang hendak beliau sampaikan.
"Kami berteman baik, mereka juga merupakan keluarga baik. Baik hatinya, baik perilakunya, baik tutur katanya." Ibu menoleh pada Pria itu. Sedetik kemudian dia tersenyum.
Entahlah. Aku tidak bisa menebak arti senyum itu. Apa karena sebuah pujian? Atau karena arah pembicaraan Ibu yang sulit untuk ku pahami.
"Jangan lupakan juga..."
Aku menoleh, tidak sabaran mendengar apa lanjutan dari kalimat Ibu.
"Baik rupanya" Ibu tersenyum menatap mataku. Seolah sedang mengatakan "Lihat, anakku bukan sekedar kagum padanya". Aku tersipu. Tanpa cadar yang ku kenakan, merah pipiku akan tampak jelas terlihat. Ya, meski aku berbohong beribu alasan, Ibu tetap mengerti apa yang ku rasakan tanpa panjang lebar menjelaskan.
"Ibu rasa, kalian tidak perlu berkenalan karena memang sudah kenal bukan? Karena pemuda Sholeh ini merupakan salah satu ustadz muda di pesantren Fatimah. Dan Fatimah merupakan koordinator santri putri, pasti kalian pernah berbincang seputar kegiatan belajar mengajar di sana kan?"
"Pernah, Ibu. Beberapa kali untuk menyelaraskan kurikulum dan hal penting lainnya"
Aku semakin tergugu saat menyadari dari mana jawaban itu berasal. Mata kami beradu sesaat ketika aku reflek menoleh ke arahnya. Sedetik! Tapi cukup sudah membuat seluruh darahku berdesir.
"Fatimah.." Ibu mengelus tanganku kembali. "Fadil datang untuk melamar mu. Apa kau bersedia menerima lamarannya?"
"Aku..."
__ADS_1