
"Ayolah. Aku tidak punya banyak waktu, Fatimah. Sebentar lagi bel pergantian jam pelajaran, Najwa juga sedang ada jam mengajar, jadilah aku yang harus mengajar mengisi jadwal Syifa"
"Lalu apa masalahnya?" Fatimah tersenyum meledek.
"Tentu saja masalah. Bagaimana mungkin kamu membiarkan aku mengajar dengan rasa penasaran?"
Bukannya menjawab, kali ini Fatimah justru terbahak mendengar jawaban Mutia. Hingga akhirnya bel pergantian jam pelajaran terdengar, Mutia segera bergegas menuju kelas dengan sedikit kesal dan penasaran.
"Oh ya, aku harap dia adalah Syifa. Tadi sewaktu aku mencari berkas dan barang aku menemukan sebuah cincin. Apa menurutmu Syifa orangnya?" Mutia menghentikan langkah dan berhenti diambang pintu. Ia bertanya sebab tidak lagi mampu menahan rasa penasarannya. "Kau kan sahabat Syifa, aku yakin kau pasti tau sesuatu tentang cincin itu" Tambahnya.
"Apa maksudmu?" Fatimah memasang wajah serius karena dua hal. Pertama, karena terkejut akan kalimat penyataan Mutia. Kedua, karena dia memang tidak tahu apapun tentang cincin Syifa.
Melihat raut wajah Fatimah yang demikian, Mutia tidak perlu jawaban apapun. Ia langsung bergegas meninggalkan ruang, sebab ia yakin Syifa adalah orangnya. Sementara Fatimah, ia masih tertegun. Sesaat kemudian menuju meja Syifa dan mencari cincin yang Mutia maksud.
Fatimah menemukan sebuah kotak dan membukanya. Ada banyak sekali kertas -- yang ia tidak tahu apa isinya. Semenit setelah mengacak kertas-kertas tersebut, ia menemukan kotak yang lebih kecil pada dasar kotak itu.
"Kotak ini persis sekali dengan kotak yang Ibu berikan ke Fadil waktu itu" Tangannya bergetar sembari membuka kotak itu. Dan benar saja, dalam kotak itu terdapat sebuah cincin bermata biru. Dengan biru yang sama, seperti cincin yang Fadil punya.
...****************...
"Apa yang harus ku lakukan?" Fatimah masih termenung dengan batinnya sendiri. Ia tidak tahan lagi untuk menangis.
"Cincin itu... mengapa Syifa tidak pernah bercerita? Apa saja yang ia tutupi? Apa aku harus bertanya kepada Fadil? Atau langsung saja bertanya kepada Syifa? Atau aku harus bertanya pada ibu dulu?" Fatimah sibuk sekali bertengkar dengan isi kepalanya sendiri. Ia bahkan tidak menyadari, simpul hati mana yang nyata dan simpul hati seperti apa yang ia hasilkan dari sebuah ilusi sendiri.
"Mutia bilang Fadil harus melamar gadis yang memiliki pasangan dari cincin itu. Jika benar itu Syifa, lalu mengapa ia datang ke rumah untuk melamarku?" Batinnya terus bertanya. Logikanya memberikan pemikiran yang terang. Tapi batinnya justru membenarkan sisi gelap sehingga semua tampak terang.
"Sanggupkah aku jika itu benar Syifa? Aku rasa harus menjawab lamaran Fadil secepatnya. Bagaimana mungkin aku bisa merelakan orang yang ku suka dengan sahabatku sendiri?" Pemikirannya benar-benar kalut. Bagaimanapun juga, ia harus segera mengambil keputusan.
"Tapi cincin itu awam sekali bukan? Kita bisa memiliki cincin yang sama dengan seseorang yang bahkan tidak kita kenal. Lalu apa masalahnya jika Syifa punya cincin yang sama? Jutaan manusia di luar sana pasti juga ada yang memiliki cincin yang sama." Fatimah masih sibuk memikirkan cara untuk segera menikah dengan Fadil.
"Tapi tidak ada salahnya juga jika aku menjawab lamaran Fadil secepat mungkin. Syawal sebentar lagi, jika ku terima sekarang pasti Syawal nanti kami akan menikah" Fatimah tersenyum membenarkan bagaimana cara pikirnya berkerja. Ia lupa, jika apapun bisa terjadi di masa depan. Karena sesungguhnya, bukan manusia yang menulis skenario kehidupan.
...****************...
Usai peperangan solo antara batin dan logikanya, kini Fatimah menemui Syifa yang sedang istirahat sembari membaca buku. Ah, lebih tepatnya Syifa berpura-pura membaca buku saat tau siapa yang sedang membuka pintu. Ia berharap Fatimah tidak akan menganggu.
"Syifaaaa...."
__ADS_1
"Hmm." Syifa menjawab singkat seolah sedang serius membaca. Matanya sama sekali tidak berpindah dari halaman buku yang ia punya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"
"Tentu". Lagi-lagi Syifa menjawab singkat. Tapi siapa peduli?
"Kau mau mendengar sebuah rahasia dariku?"
"Apa?" Kali ini Syifa mendongak meski tetap menjawab singkat.
"Yaaa, seperti biasa BESTie. Aku mana tahan menyimpan rahasia sendirian. Kau tahu betul itu?"
"Rahasia macam apa yang kamu punya, Fatimah?" Ada rasa gelisah dalam hati Syifa saat bertanya demikian. Ia khawatir jika rahasia yang Fatimah maksud bersangkutan dengan Fadil. Padahal itu hal yang paling Syifa hindari.
"Ini mengenai pernikahan ku"
Nyeeeessss. Hati wanita mana yang tidak berdesir saat mendengar kabar pernikahan orang yang dicintai? Tanpa masalah, tanpa aba-aba, kabar itu berhembus begitu saja.
"Kau tahu, Syifa?"
"Sesungguhnya, aku belum memberikan jawaban atas lamaran Fadil waktu itu." Fatimah mulai bercerita.
Begitulah mereka berdua, tanpa ba-bi-bu Fatimah akan berlanjut cerita meski tanpa persetujuan dari Syifa. Syifa pun begitu. "Untuk apa sebuah persetujuan jika iya atau tidak, Fatimah akan tetap bercerita?".
"Kau tahu kenapa?"
"Ya mana ku tahu" Syifa menjawab ketus
"Waktu itu, Fadil berkata ingin berbakti pada orang tua meski hal itu menyakiti hati dan perasaannya sendiri"
"Apa maksudnya, Fatimah?" Kening Syifa mengkerut. Matanya tuntas berpindah pada paras Fatimah yang sedang duduk di ujung ranjangnya.
"Entahlah. Aku sebenarnya juga tidak terlalu paham apa maksudnya."
"Dia berkata langsung padamu?"
"Hmm". Fatimah mengangguk mantap. "Waktu itu, ibuku sedang di dalam. Mengambil sebuah kotak cincin"
__ADS_1
"Cincin?"
"Ya, dengan permata berwarna biru"
"Kau melihatnya?"
"Ya ampun Syifa, tentu saja aku melihatnya. Ia membuka kotak itu di depan ku dan ibu!" Fatimah berseru seolah Syifa sedang berada di TKP saat itu. "Dia juga memintaku untuk tidak buru-buru menjawab"
"Kenapa?"
"Entahlah.. Tapi saat ini aku ingin sekali memberi jawaban 'iya' kepadanya"
"Tunggu dulu, bukankah kau bilang akan menikah Syawal nanti?"
"Ya..." Fatimah menjawab dengan yakin dan dibumbui sebuah senyum manja.
"Kalau begitu, seharusnya kau sudah memberi jawaban jika sudah ada diskusi mengenai tanggal pernikahan." Syifa berpendapat, mencoba mengurai benang kusut masalah.
"Normalnya begitu. Sewaktu dia melamar aku amat sangat yakin. Tapi tidak untuk sekarang."
"Kalian sedang bertengkar?"
"Tidak"
"Lalu?"
Hening...
"Aku hanya takut Syifa..." Suara Fatimah mulai parau.
Demi mendengar suara parau sahabatnya, Syifa mendekat dan memeluknya. "Katakan ada masalah apa?"
"Aku tidak punya pasangan cincin atau cincin apapun itu. Tapi orang lain punyaa.." Fatimah bergetar, ia kalut dengan pemikirannya sendiri.
"Oh, ayolah Fatimah!" Syifa sedikit kesal. Ia melepas pelukan dan menatap mata Fatimah untuk mencari kebenaran apa yang ia ucapkan. Sahabatnya ini emang seperti itu. Melankolis sekali. "Manusia memang diciptakan berpasangan, tapi tidak semua cincin punya pasangan."
Fatimah terdiam.
__ADS_1