Jatuh Di Peluk Bumi

Jatuh Di Peluk Bumi
Bab 6


__ADS_3

"Kuatkan hatimu, Syifa!" batin Syifa menyemangati dirinya sendiri. "Kamu tidak boleh salah paham sebelum mendengar semua langsung dari Fadil" Batinnya mencoba untuk terus mencari pembelaan.


"Kamu pasti shock mendengarnya kan?" Tanya Fatimah setelah melihat Syifa mematung


"Ah, iya" Syifa mengangguk, tersenyum kikuk.


"Sudah ku duga. Aku pun masih belum percaya jika kami..." Fatimah tidak melanjutkan perkataannya. Ia terlalu bahagia hingga memutuskan untuk diam menunduk dan tersipu. Seolah sibuk dengan kebahagiaan sendiri, Fatimah benar-benar abai akan perubahan sikap Syifa.


"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Syifa setelah mati-matian menguatkan hatinya. Ia sudah tidak sanggup melihat rona pipi Fatimah. Pikirannya dipenuhi sejuta tanya, hatinya kalut, sekujur tubuhnya terasa bergetar. Ia merutuki mulutnya karena melontarkan pertanyaan yang ia sendiri belum siap mendengar jawabannya.


"Syawal" Sejujurnya Fatimah tidak tahu kapan dirinya akan menikah. Karena Fadil hanya datang melamar, tidak ada pembahasan mengenai pernikahan mereka. Namun Fatimah yakin. Jika Fadil akan menikahinya di bulan Syawal.


"Mei?" Sentak Syifa tidak percaya


Fatimah mengangguk mantap. Seolah-olah dia yang sedang menulis takdir.


"Tiga bulan lagi?" Suara Syifa bergetar. Lemas sudah seluruh tubuhnya. Semangat belajarnya hangus tidak bersisa. Pupilnya melebar, menahan tangis sekuat yang dia bisa. "Aku ke atap sebentar" Jawabnya setelah melihat anggukan Fatimah. Ia berlari dengan tangis di pipinya.


Fatimah yang melihat Syifa keluar kamar hanya bisa tersenyum. Ia mengira jika Syifa ke atap untuk menelfon keluarga, memberi kabar jika ia telah sampai di tujuan. Hal itu lumrah dilakukan oleh ustadz-ustadzah di Al Madani.


***


"Tiga bulan lagi kalian menikah? Tapi mengapa Fadil tidak mengatakan apapun? Mengapa Fadil tega membohongi aku dengan rayuan gombal yang ia punya? Atau aku yang terlalu bodoh mempercayai ucapan dan segala janjinya? Apa aku tidak berarti di hidupnya? Apa aku memang layak untuk dicampakkan seperti ini?" Syifa tersedu mengingat setahun terakhir. Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi setiap sudut pikiran Syifa.


Drt.. drt..


Syifa mengambil ponsel di sakunya. Tangannya gemetar melihat siapa yang sedang menghubunginya. Ia takut jika Fadil menghubunginya untuk menancapkan belati dengan kabar yang sama seperti yang ia dengar sebelumnya. Namun sisi hati lainnya menuntut sebuah penjelasan mengapa hal ini terjadi.


Drt.. drt.. sebuah pesan singkat ia terima


"Angkatlah, sayang. Aku merindukanmu. Cukup 5 menit sudah bisa mengobati hatiku"

__ADS_1


Amarah Syifa tersulut setelah membaca isi pesan tersebut. Dengan cekatan Syifa membalas pesan Fadil


"Sudah cukup basa-basinya, Tuan Fadil. Kau pembohong!"


Sementara Fadil terlihat frustrasi setelah membaca isi pesan singkat dari pujaan hatinya. Ia tahu, capat atau lambat Syifa akan menerima kabar itu. Dan yang membuat Fadil semakin lemas adalah sebuah kenyataan jika Syifa mengetahui hal itu bukan dari penjelasannya, melainkan dari Fatimah. Mengingat bagaimana sifatnya, Fadil sudah bisa menduga jika ada bumbu yang menyertai ceritanya.


"Kamu salah paham, Syifaku. Izinkan aku menjelaskan apa yang terjadi"


Syifa termenung membaca balasan pesan yang ia terima. Ia mempertanyakan 'salah paham' yang Fadil maksud. Hatinya terbelah. Sisi baiknya mengatakan percaya pada Fadil karena selama ini ia tidak pernah ingkar dengan apa yang di ucapkan. Sisi lainnya mengatakan jika dirinyalah yang salah paham menerjemahkan sikap baik Fadil.


"Mari bicara setelah bara hatimu mereda. Masalah ini tidak bisa disikapi dengan amarah, Sayang. Apapun yang akan kamu dengar nantinya, aku mohon percayalah padaku."


Syifa tersenyum kecut. "Ayolah, Syifa! Dari balasannya saja kau paham. Jika lelaki itu tau kau telah mendengar banyak hal. Cukup sudah untuk terus terlena, Syifa" Batinnya terus berkecamuk. "Percayalah padanya, Syifa. Ini masalah berdua, bukan cuma kamu seorang! Untuk terus bersama, kamu perlu menemani dan melengkapi puzzel hatinya. Bukan dengan mengutamakan keegoisan" Sisi lain merutuki amarahnya yang mudah tersulut.


Selang lima belas menit dia berdiam diri di atap, Syifa memutuskan untuk kembali ke kamar setelah menenangkan gelombang hatinya dengan banyak istighfar. Ia memastikan tidak ada jejak tangis di matanya. Baru ia membalikkan badan, ada Mutia yang muncul di balik pintu datang menghampiri.


"Kamu sudah sehat, Syifa?"


Syifa yang masih shock mengenai lamaran Fatimah hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Kok Cie sih?"


"Cie, yang di taksir ustadz Fadil"


Deg.


Dari mana Mutia tau soal hubungannya dengan Fadil? Selama setahun ini, Syifa dan Fadil tidak pernah menunjukkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Semuanya tersimpan rapi. Hanya Fadil dan Syifa yang tahu. Bahkan keluarganya pun tidak tahu.


Melihat kebingungan di raut Syifa, membuat Mutia tertawa lepas.


"Kamu tahu, Syifa? Seluruh santri sedang heboh dengan kabar antara kamu dan ustadz Fadil."

__ADS_1


"Memangnya kami kenapa? Apa yang terjadi selama aku izin pulang?"


"Kamu tidak tahu?"


Syifa menggeleng cepat. Jiwa keponya meronta-ronta untuk dipuaskan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Aku kira kamu sudah mendengarnya jika sewaktu kamu sakit, ustadz Fadil yang paling panik dan khawatir. Meski ada banyak santri, beliau mondar mandir di Klinik pesantren untuk terus memantau langsung keadaan kamu. Dan jangan lupakan juga, jika beliau yang menggendong kamu ke ambulan saat tidak sadar diri"


"Aku tidak sadarkan diri?" Syifa terkejut karena seingatnya, dia hanya lemas karena kekurangan cairan.


"Astaga, Syifa. Jadi kamu benar-benar tidak menyadari--"


"Menyadari apa?" potong Syifa cepat


"Banyak"


"Apa?"


Mutia menghembuskan napas perlahan.


"Banyak, Syifa. Salah satunya kamu itu selalu di perhatikan sama ustadz Fadil! Jangankan sewaktu kamu sakit, kamu sehat dan sadar pun akan di perhatikan. Apalagi sewaktu kamu tidak sadarkan diri"


"Aku rasa, jika ada santri yang tidak sadarkan diri itu akan menjadi perhatian semua santri, Mutia."


"Kamu benar, Syifa. Soal itu kamu benar." Mutia mengangguk takzim. "Tapi lihat sekarang. Di atap gedung seberang" Mutia mengalihkan pandangannya. Syifa yang membelakanginya langsung membalikkan badan untuk melihat apa yang ada di atap sana.


Di sana. Di atap gedung seberang. Ada pemuda dengan sarung coklat tua dan Koko putih tulang. Tersampir sorban di leher dengan corak coklat muda memanjang. Ia bersendekap. Menatap lurus ke depan. Fadil.


"Kamu lihat kan, Syifa? Dia sedang memperhatikan kamu!"


Syifa menggeleng. Meski apa yang di katakan Mutia itu benar dan membuat hatinya gembira, ia tetap menggeleng. Menepis rasa PD yang ada di kepalanya.

__ADS_1


"Astaga, Syifa! Tangannya bersendekap, dilipat ke depan" Mutia juga melipat tangannya seolah meniru apa yang sedang Fadil lakukan. "Itu artinya, dia berdiam disitu tidak untuk menelpon atau melakukan pekerjaan lain. Tapi ia sedang fokus sama kamu. Aku berani bertaruh, rautnya khawatir sama kamu"


Syifa pergi begitu saja. Ia tidak mau mendengar penjelasan Mutia lebih panjang lagi.


__ADS_2