
"Bapak." Ucapku. Aku melihat sorot mata yang terkejut. Tampak jelas ada sesuatu yang ia tutupi. Terlihat salah tingkah sembari mengelap sudut bibirnya yang berdarah. Aku yakin sekali, jika batuk Bapak yang barusan ku dengar berat dan panjang, tampak menyakitkan.
"Fatimah. Kau pulang dari pesantren tanpa mengabari Bapak?"
Aku menghampiri dan duduk di tepi ranjang. Sejujurnya sudah dua hari ini aku di rumah. Namun aku baru siap untuk menghadap beliau. Sehingga selama dua hari ini, aku hanya akan melihat Bapak ketika beliau sudah terlelap.
"Bapak" Ucapku kembali sembari memeluk hangat. Ingin sekali menangis sejadi-jadinya dan mempertanyakan kenapa Bapak berbohong tentang penyakitnya. Aku terus memeluk dan mati-matian menahan tangis.
"Bapak baik-baik saja.."
Hah? Apa tidak salah dengar jika Bapak mengatakan dirinya baik-baik saja?
"Maafkan, Fatimah. Karena baru menengok Bapak. Juga karena pulang tanpa memberi kabar" Ujarku sembari mengurai pelukan Bapak.
"Apa ada masalah di pesantren?" Bapak tampak khawatir.
Aku tersenyum getir mendengar pertanyaan Bapak. Diantara kami berdua, sudah jelas beliaulah yang sedang sakit. Tapi naluri orang tua selalu begitu, akan lebih mengkhawatirkan anak-anak dan keluarganya dibanding dirinya sendiri.
"Bapak apa kabar?" Aku menjawab pertanyaan Bapak juga dengan pertanyaan.
"Sehat dong! Fatimah bisa lihat sendiri bagaimana keadaannya bukan?" Kelakar Bapak dengan lantang seolah masih muda perkasa. Mengisyaratkan dirinya kuat dihadapan keluarga. Sayangnya aku menangkap gelagat Bapak yang sedang menahan nyeri di dadanya. Ya, aku rasa semua Ayah di dunia juga demikian bukan? Jarang, bahkan nyaris tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya di hadapan keluarga. Jarang sekali mengatakan sayang, tapi justru tampak perhatian.
"Syukurlah..." Aku berusaha sebaik mungkin untuk berpura-pura tidak tahu mengenai kanker paru-paru yang di deritanya.
***
Sebulan yang lalu.
"Siapa wali pasien Bapak Ahmad?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan sosok tenaga medis yang berjalan mendekatiku, reflek membuatku langsung berdiri. Meremas ujung khimar dengan banyak harapan baik.
"Di tunggu dokter Sa'ad di ruangannya. Ada yang perlu beliau sampaikan pada keluarga pak Ahmad"
Tidak banyak bertanya aku langsung mengekor kemana perawat itu pergi. Menuju ke ruang dokter dengan banyak dzikir. Mengusir firasat buruk yang sejak tadi ada saat melihat Bapak pingsan di ladang. Aku mengingat dengan jelas, saat bagaimana Bapak terkulai lemas setelah batuk yang berkepanjangan. Membuat petani di ladang sebelah memboyong Bapak ke Puskesmas ini.
"Wali pak Ahmad?" Tanya dokter yang baru masuk ruangan dan menuju ke kursi kerjanya.
"Anaknya?" Tanyanya lagi.
Aku mengangguk untuk kedua kalinya. Karena aku menggunakan cadar, maka dokter itu menebak status kekeluargaan ku dengan sorot mata yang tampak.
"Jadi begini..... " Dokter mulai menjelaskan panjang dan lebar bagaimana kondisi Bapak saat ini.
Aku tertegun. Saat dokter mengatakan Bapak mengidap kanker paru-paru stadium 4. Ingin rasanya menyangkal, berteriak marah karena tidak terima. Rasanya ingin berlari memeluk Bapak dan menangis di pelukannya. Tapi apa ini? Lidahku kelu, lututku lemas.
"Kemungkinan besar karena Pak Ahmad adalah seorang perokok aktif. Melihat kondisinya saat ini, saya tidak bisa memberi banyak harapan baik. Hanya Allah sebaik-baiknya penolong. Semoga Pak Ahmad dapat bertahan meski hanya sebulan ke depan"
***
"Kamu beneran tidak ada masalah di pesantren?" Bapak mencoba bertanya kembali untuk memastikan.
Kali ini aku tersenyum. Menampakkan gigi-gigi kelinci ku. Dan menggeleng cepat untuk meyakinkan Bapak. "Apa kalian benar-benar tidak masalah jika orang tua kalian sakit?" Batinku.
"Syukurlah jika memang tidak ada masalah." Bapak merengkuh ku ke dalam pelukannya. Kali ini pelukannya terasa berbeda. Firasatku mengatakan jika ini adalah sebuah pelukan perpisahan. Dan benar saja. Saat ku urai pelukannya, Bapak sudah tidak sadarkan diri.
"Bapak" Aku mencoba untuk menyadarkan sembari menangkupkan wajah Bapak.
Hening. Tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Bapak!" Kali ini aku setengah berteriak karena panik. Namun tubuh Bapak tidak bergeming menyisakan deru napas yang mulai pelan.
"Ibuuu.." Kali ini aku benar-benar berteriak. Mataku basah, tanganku sibuk menepuk-nepuk pipi Bapak. Hatiku merapal sejuta do'a baik untuknya. Pikiranku? Ah, dia sibuk sendiri dengan firasat buruk sejak tadi.
***
Di rumah sakit kota, aku memeluk pundak Ibu yang tampak tenang. Bola matanya menentramkan, namun sorotnya jelas sekali dipenuhi dengan kabut kesedihan. Kami berdua duduk di bangku depan ICU. Dokter tidak mengizinkan kami menunggu Bapak di dalam ruangan. Hening. Sepanjang perjalanan Bapak di rujuk dari Puskesmas menuju rumah sakit kota, kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Apalagi saat melihat kondisi Bapak dengan berbagai macam alat-alat medis yang terpasang.
"Siapkan hatimu, Fatimah" Ujar Ibu memecah keheningan.
Keningku mengkerut. Tidak memahami apa makna dari perkataan Ibu barusan. Sedetik kemudian, alarm di ruang Bapak berbunyi. Tak lama setelahnya dokter dan beberapa perawat berlari masuk ke dalam ICU. Aku membeku. Melihat kepanikan dokter di dalam membuatku mengerti makna kata-kata Ibu barusan. Ibu memintaku untuk ikhlas melepas cinta pertamaku.
"Ibu.." Lirih ku
"Jangan melawan takdir, Nak. Allah tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya."
Perawat lain berdatangan, membawa alat lain-- yang entah apa namanya. Semenit. Lima menit. Lima belas menit. Dokter keluar menemui kami dengan wajah yang putus asa. "Apa ini? Kabar seperti apa yang akan kami terima?" Hati kecilku meronta-ronta, akal warasku menolak mentah-mentah. Siapa pula yang akan rela begitu mudah?
"Maafkan kami, Ibu.." Lihat kan? kalimat pembukanya sungguh tidak mengenakkan!
"Kami sudah mencoba yang terbaik yang kami mampu. Namun kesehatan Pak Ahmad terus menurun. Tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. Saat ini pasien sedang kritis..."
"Fatimah!" Potong Ibu setelah melihatku berlari menuju ke dalam ruang ICU. Aku harus memastikan kondisi cinta pertamaku dengan mata kepalaku sendiri. Dokter mengangguk pelan, memberi isyarat Ibu untuk menyusul.
"Bapak. Ini Fatimah." Aku sudah sesegukan. wajah Bapak memucat namun tampak begitu damai. "Lekas bangun, Bapak" Aku menggenggam tangannya yang lemas tak bertenaga. Menghujani ciuman di sekitar wajah Bapak. Sedetik kemudian layar menampakkan garis lurus memanjang. Seluruh tubuhku merinding
"Tidaaakkk! Bapaaaakkk! Jangan tinggalkan, Fatimah!" Meski berteriak kalap, Bapak tetap tidak bergeming.
"Jangan tinggalkan Fatimah, Pak!." Suaraku tenggelam dengan isak tangis "Beri Fatimah kesempatan untuk berbakti..." Lidah membisu kehabisan kata. Melihat ke arah Ibu yang hanya mengangguk pelan seolah berkata "Ikhlas kan, Fatimah". Tubuhku gemetar. Jantungku berpacu cepat seolah berlari mengejar Bapak. Lututku lemas. Pikiranku entah kemana. Pandanganku kabur. Dan...
__ADS_1
Bruk!
Perisaiku telah pergi tanpa kembali. Aku telah kehilangan cinta pertama yang teramat berarti.