Jatuh Di Peluk Bumi

Jatuh Di Peluk Bumi
Bab 9


__ADS_3

Syifa mengunci kamar mandi rapat-rapat. Ia merutuki kebodohannya setelah sadar karena justru berlari menuju kamar mandi. Padahal dari dalam sini, suara mereka terdengar jelas. "Niat menghindari malah kesini" Sesalnya. Tak kurang akal, ia pun menyalakan kran air agar suara mereka tenggelam.


***


Drt.. drt..


"Ya, calon suamiku?" Fatimah tersenyum melihat Fadil menghubunginya.


"Dimana Syifa?"


"Dia sedang mandi, ada apa?" Fatimah sedikit menjauh dari gerombolan para santri. Mencari tempat duduk. Dan saking fokusnya pada pesan Fadil, ia bahkan tidak menyimak apa yang Salma ceritakan.


"Apa dia mendengar kabar tentang aku yang akan menikah?"


"Tentu saja. Semua santri disini sedang membicarakannya"


"Apa Syifa juga tau siapa calonku?"


"Calonku?" gumam Fatimah membaca ulang pesan Fadil. Hatinya berbunga, pipinya memerah. Ia tersenyum malu sembari mengetikkan balasan. "Dia tau"


***


Sementara di kamar santri putra nampak Fadil mengusap kasar wajahnya. Dua kata dari pesan Fatimah yang baru ia terima membuat Fadil frustasi. Ingin sekali berlari menemui Syifanya. Memeluk, menenangkan, juga memberi penjelasan yang sebenarnya. Berkali-kali ia menghubungi nomor gadis itu, tapi sayangnya sejak kemarin sore setelah Syifa turun dari atap nomornya masih tidak aktif. Fadil paham bagaimana posisi Syifa. Tapi naluri laki-lakinya berkata jika ia harus menemani wanitanya bagaimanapun mood-nya.


"Ustadz Fadil" Sapa Muammar yang nampak kembali ke kamar dengan di ikuti beberapa santri di belakangnya.


"Cie yang mau nikah"


Fadil tertegun.


"Tentu saja aku tau. Semua santri sedang membicarakannya." Tambahnya lagi seolah mengerti pikiran Fadil.


"Semua santri?"


"Hm" Muammar mengangguk mantap. Kini ia sudah duduk di kursi depan Fadil. "Aku rasa begitu. Ustadz paling ganteng di Al Madani dengan sejuta pesona sebentar lagi melepas masa lajangnya" Muammar tertawa renyah memperlihatkan lesung pipit kiri dan barisan giginya.


Fadil mendesah. Ia semakin frustasi mendengar kabar yang di bawa Muammar.


"Hei kenapa?"


Fadil mendesah kembali


"Mereka bilang calonmu adalah santri disini juga."


"Kamu tau siapa orangnya?" Fadil terkejut dan menatap tajam Muammar.

__ADS_1


"Ayolah, fren! Yang mau menikah itu kau. Kenapa justru bertanya padaku siapa calonnya?"


"Siapa?"


"Apanya yang siapa?" Muammar mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Siapa calonnya?"


Muammar menepuk keningnya. "Aku datang kemari karena ingin tau siapa calonmu. Tapi kenapa kau justru bertanya padaku?" Muammar terlihat sedikit kesal.


"Katakan siapa calonku?" Fadil memaksa


Kali ini Muammar duduk mendekati Fadil. "Dengar, fren. Aku rasa ada yang tidak beres"


"Sure! Semua santri dan kau juga tidak beres" Fadil kesal dan menjawab asal


"Benar! Melihat kamu kesal seperti ini, aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Ayolah ceritakan padaku" Muammar memasang wajah serius untuk mendengarkan.


"Katakan padaku, dari gosip yang trending sekarang siapa nama calonku? Siapa yang mereka sangka? Siapa?"


"Fadil!" lirih Muammar.


"Cepat katakan!"


"Jadi kamu benar-benar tidak tau siapa nama santriwati yang digosipkan sebagai calonku?"


"Benar-benar. Sungguh. Sumpah. Sueeerr!" Muammar menjawab beruntun.


Fadil kembali mendesah. Mengusap wajah dengan kasar dan mengacak rambutnya frustasi.


"Katakan padaku" Kali ini nada bicara Muammar tegas. Seraya mengintimidasi sahabat karibnya untuk bercerita. "Tadinya aku akan marah karena kamu tidak menceritakan hal sepenting ini kepadaku. Aku bertanya-tanya mengapa kamu tidak bercerita dan aku harus mendengar dari mulut orang lain. Tapi urung karena melihat bagaimana kamu kesal saat ini"


"Marahi saja aku" Jawab Fadil tidak peduli. Matanya merah, pandangannya kosong, pikirannya penuh dengan Syifa. "Bagaimana kondisinya saat ini? Tentu saja dia tidak sedang baik-baik saja" Gumamnya.


"Apa dia tidur dengan nyenyak?"


Muammar diam. Tidak merespon ceracau sahabatnya yang melihat ke depan dengan pandangan kosong.


"Apa dia makan dengan baik dan tepat waktu? Apa sakitnya benar-benar sudah sembuh? Apa dia masih mau mendengarkan aku?" Lanjutnya.


Muammar tetap diam.


"Bagaimana caranya agar dia tidak salah paham lagi? Bagaimana aku harus menjelaskan dan membuatnya percaya ucapanku lagi? Bagaimana jika dia marah padaku? Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana aku..." Fadil sudah kehilangan kata-kata. Matanya merah. Hembusan napasnya terdengar berat.


"Siapa?" Muammar bertanya dengan raut wajah yang datar.

__ADS_1


Kali ini Fadil yang terdiam mendengar pertanyaan Muammar.


"Siapa yang kamu tanyakan tadi?" Muammar memperjelas maksud pertanyaannya.


"Orang yang ku suka" Fadil menjawab pelan bahkan nyaris tidak terdengar.


Hening..


Mereka berdua tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.


***


"Bagaimana ini?" Syifa bingung. Ia sudah selesai mandi namun masih ragu untuk keluar. Ia takut mendengar kabar tentang Fadil. Hatinya sungguh belum siap.


tok.. tok.. tok..


"Syifa, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sedang sakit?" Fatimah berteriak khawatir. Sudah sejak tadi Syifa berada di dalam kamar mandi. Bahkan sebelum dirinya mendapat giliran untuk mandi. Hingga Fatimah selesai mandi dan Syifa tak kunjung keluar, membuatnya khawatir.


Clekek.


"Aku baik-baik saja"


"Wajahmu pucat. Kamu sungguh baik-baik saja?"


***


"Matur nuwun yah, Le (Terima kasih, ya!). Sudah mau menemani Ukail hari ini" Bu Nyai tersenyum tulus ke arah Fadil.


"Njih, Bu." Fadil membalas senyum tak kalah tulusnya. Menemani Ukail, putra bungsu gurunya, bukanlah yang pertama kali. Ia sudah sering dan bahkan menganggap Ukail adalah adiknya sendiri. Meski Ukail baru menginjak usia 4 tahun, Fadil akan menjaganya dengan sangat baik. Ukail pun nyaman. Itulah mengapa Fadil sering di panggil hanya untuk menemani Ukail.


"Assalamualaikum" Tiba-tiba Salma masuk dengan sedikit risau.


"Walaikumsalam, pripun, nduk? (Ya, ada apa?)" Bu Nyai bertanya lembut. Menyentuh tangan Salma seolah memintanya untuk tenang kembali.


"Punten, Bu Nyai ada obat penurun asam lambung?" Salma tampak ragu-ragu bertanya. Atau lebih tepatnya salah tingkah karena matanya tak sengaja melihat Fadil yang sedang memperhatikannya.


"Siapa yang sakit? Tunggu sebentar, yaaa" Bu Nyai masuk ke kamarnya tanpa menunggu jawaban Salma. Membiarkan Salma berdiri kikuk di depan Fadil


"Kamu belum menjawabnya. Siapa yang sakit?" Ucap Fadil tiba-tiba


"Syifa, ustadz"


Deg.


Darah Fadil berdesir.

__ADS_1


__ADS_2