
Fadil yang menangkap sosok Syifa kembali ke pesantren, langsung berlari menuju atap gedung. Ia tahu, Syifa akan ke atap yang ada di seberang untuk mengabari keluarganya seperti yang sudah-sudah. Ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika Syifanya baik-baik saja.
"Ah, akhirnya dia datang juga" gumam Fadil setelah nyaris 30 menit menunggu.
Ia lebih menajamkan pandangannya setelah melihat Syifa menangkupkan tangan ke wajah. Meski jarak antar atap gedung terpisah nyaris 500 meter, Fadil masih bisa melihat dengan jelas bagaimana gelagat Syifa di sana. "Jangan menangis, Sayang. Ku mohon!" Jemari Fadil dengan lincah menekan tombol call untuk seseorang di seberang sana. Sekali. Dua kali. Berkali-kali ia coba menghubungi Syifa namun selalu di tolak.
"Angkatlah, sayang. Aku merindukanmu. Cukup 5 menit sudah bisa mengobati hatiku" Sebuah pesan ia kirim. Fadil khawatir jika Syifa menangis karena masih sakit. Saat melihat gelagat Syifa menangkupkan tangan, Fadil menyimpulkan jika gadisnya tengah menangis. Meski Fadil tidak melihat air matanya langsung.
Senyumnya mengembang saat Syifa mengetikkan sesuatu di ujung sana.
"Sudah cukup basa-basinya, Tuan Fadil. Kau pembohong!"
"Pembohong?" Kening Fadil mengkerut membaca pesan Syifanya. "Apa maksudnya?"
Belum sempat Fadil menuliskan balasan, ia telah menerima pesan berikutnya. "Jika kamu ingin menikah dengan Fatimah di Syawal ini, maka baiknya kita akhiri hubungan ini sekarang. Jangan pedulikan aku. Karena kamu memang tidak pernah benar-benar peduli"
Mata Fadil memerah. Ia marah karena telah melukai Syifa. Syifa menangis memang karena sakit tapi bukan pada badannya, melainkan pada batinnya. Melamar diam-diam sahabat baiknya sudah cukup menyakiti, apalagi menikah. "Menikah?" Gumamnya. "Tunggu dulu? Syawal ini?"
Fadil tersenyum sinis saat menyadari jika kalimat 'menikah syawal ini' adalah bumbu dari omongan Fatimah.
"Kamu salah paham, Syifaku. Izinkan aku menjelaskan apa yang terjadi" Meski Fadil tau gadisnya tengah kecewa, ia harus tetap untuk meyakinkan bahwa hanya Syifa satu-satunya yang ia cintai.
"Mari bicara setelah bara hatimu mereda. Masalah ini tidak bisa disikapi dengan amarah, Sayang. Apapun yang akan kamu dengar nantinya, aku mohon percayalah padaku." Karena tidak ada balasan, Fadil bersendekap menatap lurus ke depan. Melihat Syifanya duduk merenung. Fadil tau, jika ia tengah menangis kecewa.
"Siapa dia?" Gumam Fadil setelah melihat seseorang datang mendekati Syifa.
"Tidak!" Melihat Syifa yang pergi begitu saja membuatnya lemas. "Apa yang kalian bicarakan hingga Syifa tampaknya lebih marah? Apa yang harus aku lakukan?" Fadil mengusap wajahnya kasar.
***
"Rileks, Syifa! Ingat? Fadil bilang ini salah paham dan tetap percaya padanya" Gumam Syifa saat memasuki kamar. Kamar ini adalah salah satu spot favoritnya di pesantren. Namun, setidaknya sejak sejam yang lalu, kamar ini seolah-olah sesak. Karena ia harus menangis diam-diam agar tidak menggangu lainnya.
__ADS_1
"Syifaaa!" Panggil Fatimah
"Hm" Syifa masih ragu untuk membuka suaranya. Atau lebih tepatnya belum siap untuk kepergok serak karena menangis.
"Kamu sudah mempersiapkannya?"
Alis Syifa mengkerut. "Apa?"
"Jangan bilang kamu lupa? Lusa ada pameran karya sastra di Mading umum, loh!"
"Astaga!" Syifa menepuk keningnya menandakan ia lupa
"Aku sudah buat. Kamu mau lihat?" Fatimah menyerahkan selembar kertas.
...Kala itu, **c***ukuplah langit yang tau bagaimana caraku meminta. Cukuplah Allah yang tau bagaimana ku memaksa. Cukuplah semesta mengerti bagaimana rasanya mengagumi seorang hamba*....
...Maka biarlah... Untuk kali ini aku menuliskan tentangmu disini. Tentang semoga yang ku ulang hingga semesta mengabulkan karena tak punya pilihan. Tentang perasaan haru, suka cita, syukur, sabar, yang Allah beri dan dirimu sebagai lantaran....
...Maka biarlah... Ku rentangkan tanganku untuk menerima ragamu. Ku ulurkan do'a tulusku untuk menyelami rinduku. Pun ku siapkan hatiku agar kelak cukuplah aku yang menjadi sebaik-baiknya perhiasan untukmu....
...Uhibbuka Fillah,...
...~F~...
Syifa tersenyum getir. Selain karena isi sastranya, inisial penulis juga sangat jelas mengarah pada siapa. "Bagus!" Ucap Syifa pelan
"Terima kasih. Kamu tidak penasaran syair ini aku tujukan kepada siapa?"
Syifa menggeleng. Tanpa bertanya ia pun tahu.
"Ya ampun, Syifa. Tentu saja untuk calon suamiku" Balas Fatimah setelah melihat gelengan kepalanya.
__ADS_1
Deg.
Kata 'suami' sungguh membuat hati Syifa terberai. Apapun yang terjadi ke depan, ia harus menyiapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk: melepaskan.
***
"Apa yang akan ku tulis?" Gumam Syifa sembari melihat kertas kosong dan pena yang ia genggam. Sejak pukul dua dini hari Syifa sudah terjaga. Seperti biasa, ia akan mendirikan shalat tahajud juga mengaji guna memperkuat hafalannya. Ya, Syifa sudah tuntas hingga juz ke 30.
"Apa aku juga akan menulis tentang Fadil?" Syifa menatap kosong kertasnya lalu tersenyum getir. "Masa nulis tentang calon suami orang, sih!"
"Hei.." Fatimah menepuk pelan pindah Syifa
"Kamu kenapa ngelamun gitu? Ada masalah?" Sebagai sahabat tentu saja Fatimah khawatir. "Kamu bahkan tidak terkejut saat pundakmu ku tepuk pelan" tambahnya.
"Fatimah, menurutmu apa aku perlu menulis syair juga?"
"Kamu aneh deh, Syif! Biasanya kan kita emang rutin nulis syair tiap bulan di mading umum."
"Iya, aku tahu" Syifa menghela napas panjang. "Kali ini aku ingin sekali absen" tatapannya menerawang mengingat pesan Fadil.
"Ceritalah, kalo kamu ada masalah"
Syifa menggeleng "Bagaimana aku akan cerita tentang calon suamimu kepada kamu, Fat? Itu memalukan dan saling menyakiti"
"Kalo kamu tidak ingin menyampaikan pesan ke siapapun, setidaknya kamu menulis untuk dirimu sendiri. Kamu penyair yang hebat, Syifa. Kamu perlu terus mengasah bakatmu itu"
Drt.. drt..
Ponsel Fatimah bergetar. Satu pesan singkat ia terima. Tanpa ragu, Fatimah melihat nama pengirimnya di samping Syifa. Sedetik kemudian Fatimah beranjak. "Menulislah. Aku tidak ingin kamu terganggu" Fatimah tersenyum tulus.
Seperti yang sudah-sudah, Fatimah terlalu sibuk dengan bahagianya sendiri. Ia benar-benar abai dengan sikap Syifa. Meski tidak memperhatikan, tapi ekor mata Syifa tau percis siapa yang mengirimi Fatimah pesan. Syifa hafal betul nomor siapa tadi. Setelah turun dari atap, Syifa memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya. Ia tidak ingin terluka lagi, tidak ingin terlena lagi. Syifa sedang membangun benteng untuk hatinya sendiri. Meski palung hatinya ingin sekali berkabar seperti biasanya, tapi logikanya menolak mentah-mentah. "Bagaimana bisa kamu bertukar kabar dengan calon suami orang, Syifa? Tidak kamu lihat bagaimana senyum Fatimah barusan? Maka cukuplah, Syifa. Sampai disini saja sakitnya" Batin Syifa berkecamuk. Penanya lincah menari-nari mengalirkan air mata dalam batinnya.
__ADS_1
...Aku mencintaimu. Konyol. Karena aku melepas tanganmu agar orang lain bebas menggenggam. Aku yang berlari supaya ragamu dapat dipeluknya bebas. Aku cukup tahu diri untuk pergi, agar kamu bisa bersama dengan siapa yang kamu ingini. Aku mencintaimu seperti awan mencintai hujan. Tulus. Setulus aku untuk menghancurkan hati sendiri karena harapku bertumpu padamu....
...****...