
Drt.. drt..
"Ada apa kamu mengabariku sepertiga malam begini?" Balas Fatimah
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu"
"Apa? Penting banget yaaa? Sampe ngga bisa tidur, malam begini masih terjaga." Fatimah tersenyum. Membayangkan Fadil yang tidak bisa tidur karena beranggapan merindukan dirinya.
"Apa kamu sedang bersama Syifa?" Fadil justru to the point dan tidak menghiraukan pesan Fatimah.
"Tenang saja, meski Syifa di sampingku dia tidak akan mengganggu. Dia sibuk menggarap syair untuk pameran nanti"
"Apa Syifa baik-baik saja?"
"Tentu."
"Syukurlah.."
"Ada baiknya kamu bermunajat kepada Allah. Meminta banyak hal baik untuk kita" Fatimah mengatakan dengan sungguh-sungguh.
"Kamu benar. Salam untuk Syifa, yah!"
***
...Aku mencintaimu. Konyol. Karena aku melepas tanganmu agar orang lain bebas menggenggam. Aku yang berlari supaya ragamu dapat dipeluknya bebas. Aku cukup tahu diri untuk pergi, agar kamu bisa bersama dengan siapa yang kamu ingini. Aku mencintaimu seperti awan mencintai hujan. Tulus. Setulus aku untuk menghancurkan hati sendiri karena harapku bertumpu padamu....
...Aku mencintaimu. Bodoh. Karena aku menyerah bahkan sebelum berjuang. Karena aku mengalah bahkan sebelum persaingan di mulai. Hanya untuk sebuah persahabatan, aku memilih untuk menyakiti diri sendiri. Hanya untuk melihat kalian bersama, aku mencabut perasaan itu hingga akar-akarnya. Ku mohon, jangan buat ia bertumbuh lagi. Biarkan aku pergi.....
"Ini tidak seperti syair, deh" gumam Syifa. "Kalopun, iya. Kenapa harus curhat? sepertinya lebih baik tidak ikut ajang itu. Take a rest, Syifa!"
"Kamu mau kemana, Syifa?" Fatimah datang menghampiri Syifa yang tampak berdiri dari duduknya.
"Aku ingin beristirahat"
"Boleh aku memberitahu sesuatu?" Tanya Fatimah yang sudah duduk di tepi kasur Syifa.
Syifa mengangguk. "Semoga bukan tentang Fadil" Gumamnya
"Ini tentang orang yang ku suka" Niatnya ingin menyampaikan salam Fadil.
Deg.
__ADS_1
"Aku harus segera mencari alasan agar Fatimah tidak bercerita tentang Fadil. Bagaimana jika apa yang mereka bahas barusan merupakan rencana pernikahan?" Syifa tersenyum sinis "Cepat sekali. Aku bahkan belum menyiapkan hatiku" Gumamnya kembali.
"Fatimah, dokter bilang aku harus banyak istirahat agar sakitku tidak mudah kambuh. Kamu bisa bercerita esok hari di waktu luang setelah mengajar"
"Baiklah. Selamat istirahat, Syifa"
***
"Kamu dari mana saja, toh Le?" (Le atau tole panggilan sayang untuk yang lebih muda dalam bahasa Jawa)
"Punten, Bu Nyai. Saya terlambat"
"Lenggah mriki" (Duduk sini)
Bu Nyai tadi sengaja menyuruh Ukail memanggil Fadil.
"Sudah dzikir pagi?"
Fadil mengangguk, tersenyum.
"Alhamdulillah. Cah Bagus semoga jodohnya juga bagus yaa. Insyaallah"
Bu Nyai tersenyum mendengar jawaban Fadil.
"Memangnya kamu sudah pengen menikah?"
Tok.. tok.. tok..
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" Fadil dan Bu Nyai menjawab serentak.
Salma masuk dengan membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa kudapan. Meletakkannya di meja di depan Bu Nyai dan juga Fadil.
"Matur nuwun, Nduk" (Makasih) Sama halnya seperti tole, nduk juga panggilan sayang ke yang lebih muda. Bedanya nduk ditujukan pada anak perempuan.
"Tahu petis?" Tanya Fadil. Ingatannya melayang pada Syifa. Ya, ini kudapan favoritnya.
Salsa yang di tanya menjadi kikuk dan salah tingkah. Ia tersenyum dan mengangguk. Tidak berani menatap ustadz sejuta pesona itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya loh, Le" Sela Bu Nyai
__ADS_1
"Kamu sudah mau menikah? Sudah punya calon? Pasti dia anak yang cantik dan baik budinya kan? Apa calonnya santriwati di sini?"
Fadil bingung mendengar pertanyaan Bu Nyai yang bertubi-tubi. Ia tidak menjawab hanya menunduk dalam-dalam.
***
"Kalian tahu?" Salma datang dengan heboh menuju toilet. Nampak jelas jika mereka tengah mengantri mandi.
"Apa?" Tanya Najwa malas dan beberapa santri lainnya yang tampak menggerombol.
"Ustadz Fadil akan menikah. Calonnya santriwati di sini"
"Hah?" Nyaris semua santriwati yang mendengar berhah karena terkejut.
"Masa sih?"
"Siapa calonnya?"
"Angkatan berapa?"
"Pasti aku deh yang di pilih"
"Halu yah, Bund."
"Tapi berharap banget itu aku"
"Mending siap-siap patah hati deh"
Semua mata menuju pada Salma. Termasuk Fatimah dan Syifa yang berdiri tak jauh dari gerombolan mereka. "Kamu jangan mengada-ada, Sal!"
"Ya ampun, Najwa. Aku tidak sedang mengada-ngada. Tadi aku dengar sendiri sewaktu mengantar kudapan, Bu Nyai."
"Sungguh?"
"Sungguhlah! Sepertinya beliau datang menemui Bu Nyai karena meminta restu" Meski Salma tidak yakin, tapi ia tetap menjawab dengan antusias.
"Siapa calonnya?" Beberapa santri bertanya serempak.
Syifa menatap Fatimah sekilas. Tampak jelas rautnya berseri. Terlihat ingin sekali mendengar jawaban dari Salma tentang siapa calon Fadil. Seperti tidak sabaran mendengar namanya di sebut.
"Selamatkan hatimu, Syifa" Syifa berlari kecil. Sebelum Salma benar-benar menyebutkan sebuah nama, ia berlari pergi. Membawa air mata yang menggantung juga segala pedih di hati.
__ADS_1