
"APA?"
"Aku di jodohkan" Ulang Fadil. "Almarhum Abah memberi ku surat wasiat untuk melamar dan menikahi anak sahabatnya. Dalam surat itu, aku diminta untuk melamar gadis yang memiliki pasangan cincin yang aku terima."
"Cincin?" Lagi-lagi Muammar dan Fatih bertanya serempak
"Hm" Fadil mengangguk lemas. Ingin sekali batinnya memaki habis isi surat yang ia baca waktu itu. Namun dia sadar diri. Meski ingin sekali menentang, tapi jauh dari lubuk hatinya ia ingin membahagiakan orang tuanya. "Aku tidak tau harus bagaimana setelah tau siapa orangnya"
"Kamu tau siapa pemilik cincin yang satu lagi?"
"Siapa?"
"Ayolah, Fren! Katakan pada kami siapa gadis itu?"
"Jika kamu sudah tau, itu artinya kamu sudah bertemu dengannya bukan?"
"Astaga, Fren! Kamu sudah bertemu atau bahkan sudah melamar gadis itu?"
Fadil menatap mereka berdua dengan kesal. Belum sempat menjawab atau memberi penjelasan, tiba-tiba...
Praannggggg....
Suara piring besi jatuh tepat di depan kamar mereka bertiga.
"Maaf" Ucap Ukail sembari cengengesan dan langsung menghambur ke pangkuan Fadil.
Ketiga ustadz tersebut tersenyum ramah menyambut Ukail. Ya, beginilah kedekatan Fadil dengan putra bungsu Pak Kyai. Seluruh santri tau itu. Jika saja Pak Kyai punya anak gadis, bisa dipastikan jika Fadil akan diangkat sebagai menantunya.
"Sama siapa kesini, Gus?" (Gus/Ning adalah panggilan dalam bahasa Jawa yang menandakan sebuah kehormatan untuk anak ustadz atau Kyai)
"Sama siapa kesini?" Tanya Fadil lembut. Dengan adanya Ukail di pangkuannya, beban pikirannya mengenai 'pasangan hidup' sedikit berkurang.
"Sendiri" Jawabnya singkat.
Muammar tersenyum. Selain karena wajah lucu Ukail, ia juga tersenyum karena melihat wajah sahabatnya menjadi sumringah. Berkebalikan dengan 5 menit sebelumnya. "Tadi apa yang jatoh?" Tanyanya
"Aku lempar piring, hihi" Tawa Ukail diikuti ketiga ustadz tersebut.
"Yuk, makan dulu" Fadil berdiri menggendong Ukail. Sudah biasa baginya menemani bahkan menyuapi bocah kecil itu. Jadi tidak heran jika jam makan siangnya sering terpotong karena Ukail.
Brakbrak.. Setset.. Hmmm...
Cling... Uhuk uhukk..
Fadil menatap heran para santri yang gelabakan. Teras kamar dan koridor sebelah penuh dengan santri-santri yang melingkari nampan. Mereka sedang makan siang! Satu dua menunduk takzim. Beberapa sibuk mengunyah, beberapa lagi tersedak karena kaget melihat Fadil yang tiba-tiba keluar kamar, satu dua membantu menepuk-nepuk punggung teman yang tersedak. Lebih banyak lagi yang kikuk saat Fadil melewati koridor itu. Tepat di tengah-tengah koridor Ukail tertawa.
"Kenapa, Gus?" Fadil berhenti sejenak. Menatap Gus kecil yang sedang digendongnya. Selain karena Ukail yang tiba-tiba tertawa, Fadil juga menghentikan kakinya karena merasa semua santri disitu sedang menahan napasnya.
__ADS_1
"Para santri sedang nguping tadi. Om Ustadz cerita apa sih?" Tutur Ukail di sela-sela tawanya
Mendengar jawaban Ukail, nyaris seluruh santri disitu mendadak mengobrol santai satu dengan yang lain. Riuh. Santri-santri yang tersedak kini tersedak kembali. Beberapa tertawa garing agar tidak dicurigai. Satu dua mengunyah cepat agar bisa segera pergi dari lorong itu. Fadil yang mengerti apa yang terjadi langsung melangkahkan kaki tidak peduli. Fokusnya sekarang adalah makan siang Ukail. Baru setelah itu dia akan mempersiapkan mental untuk tiupan gosip-gosip lagi.
***
"Hayoo dari mana?" Tanya Bu Nyai jail. Meski ia hafal mati jika Ukail pergi pasti putranya ke tempat Fadil.
"Tadi, Ukail liat abang-abang santri banyak"
"Dimana?"
"Tadi. Disana. Abang-abang seperti sedang mendengarkan om ustadz cerita loh"
"Oh, iya?" Bu Nyai tersenyum. Putra bungsunya selalu seperti itu. "Memangnya cerita apa?"
"Tidak tahu" Jawab Ukail sembari tertawa renyah memperlihatkan barisan giginya. "Terus aku lempar piring. Mereka kaget, hahaha"
"Melempar piring?"
***
Setelah pamit, Fadil kembali ke kamarnya. Sepanjang perjalan tentu saja telinganya panas dengan kasak-kusuk berita tentangnya. Fadil merebahkan tubuhnya di ranjang untuk menenangkan pikirannya yg kacau. Ia meraih ponselnya.
"Sayang"
Matanya berbinar. Dia sungguh tidak menyangka akan mendapat balasan cepat.
"Ya?"
"*Aku merindukanmu"
"Cepat Halalkan"
"Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu benar-benar sehat saat ini?"
"Memangnya siapa yang sedang sakit*?"
Fadil mengkerut. "Pertanyaan macam apa ini?" Menyimpul senyum kembali mengetikkan jawaban.
"*Apa obat dari Bu Nyai sudah habis? Apa asam lambungnya masih naik?"
"Berhentilah mengkhawatirkan ku. Aku mohon"
"Aku mencintaimu. Aku akan segera datang untuk menjemputmu ke pelaminan"
"Aku tahu. Kita pasti ke pelaminan. Tapi aku ragu jika aku yang akan jadi pengantinnya"
__ADS_1
"Sudah ku bilang percayalah padaku"
"Melihat gosip yang trending saat ini, aku lebih percaya datang ke pelaminan sebagai tamu undangan"
"Tidak, Syifa. Aku mohon percayalah padaku*"
Hening...
Berkali-kali Fadil menatap layar ponselnya namun tidak ada jawaban dari Syifa.
***
Fatimah berdiri di atap gedung. Pandangannya kosong, tangannya gemetar. Ingin sekali ia berlari memeluk Ibunya. Menangis dalam pelukan hangatnya juga meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. "Atau aku harus bertanya pada Fadil dulu?" Batinnya. Berkali-kali ia beristighfar untuk meredam amarahnya setelah mendengar kabar dari Mutia.
Flashback off.
"Kamu sudah dengar kabar?"
Fatimah yang sibuk mengoreksi tugas santri menengok Mutia. Entah sejak kapan temannya sudah berdiri di depan mejanya.
"Para santri sedang membicarakan ustadz Fadil. Katanya beliau sedang dijodohkan dengan anak dari sahabat Abanya"
"Aku tahu" Fatimah menjawab singkat. Ia kembali sibuk menatap lembar tugas santri.
Mutia mendesah. "Jadi yang benar yang mana? Calonnya santri di sini, atau calonnya anak dari sahabat orang tuanya?" Mutia berjalan menuju meja Syifa, mengambil beberapa kertas juga kitab. Melihat jadwal sekilas lalu kembali mendesah.
"Memangnya kenapa?" Fatimah tersenyum malu. Mutia tengah sibuk mengambil beberapa barang di meja Syifa dan abai akan pipi Fatimah yang merona.
"Aku penasaran siapa orangnya. Dari yang ku dengar, ia memiliki cincin sepasang yang sama" Mutia terus sibuk menata barang, kertas, buku, kitab, memeriksa ulang jadwal dan apa yang akan ia bawa.
"Cincin sepasang..." Kali ini Fatimah terdiam. Ia bertanya kepada diri sendiri "Bagaimana mungkin? Aku tidak punya pasangan cincin yang Mutia maksud"
"Iyaa. Dari apa yang ku dengar, Ustadz Fadil sudah menemui gadis itu. Aku sungguh iri dengan dia" Kalo ini Mutia sudah merangkul buku materi dan peralatan mengajar lainnya.
"Oh ya?" Fatimah tersenyum "Bukan sekedar bertemu, dia bahkan sudah melamar..."
"Oh ya?" Mutia yang baru berjalan beberapa langkah langsung berhenti dan berseru pada Fatimah. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Tentu" Jawab Fatimah penuh penekanan.
"Siapa?"
"Kau bilang santri sini atau anak dari sahabat Almarhum orang tuanya"
"Bukan. Maksudku siapa yang memberi tahumu? Bagaimana kamu bisa tahu?"
Fatimah tersenyum, menjulurkan lidah seolah berkata "Ini rahasia"
__ADS_1