
Tok.. tok.. tok..
Suara ketuk pintu menyadarkanku dari lamunan kesedihan akan Bapak.
"Masuk!" Aku tau di balik pintu itu pastilah Ibu. Karena hanya ada kami berdua di rumah ini. Sembari mengelap pipi dan mataku-- yang entah sejak kapan basah.
"Ada apa, Bu?"
Ibu menghela napas panjang, seolah tau aku sedang mengenang kehilangan Bapak. "Kamu sudah membuka suratnya, Fatimah?" Tanya Ibu yang kemudian duduk di tepi ranjang sebelahku.
Aku mengangguk tersenyum. Jika aku bersuara pastilah serak dan akan semakin ketahuan jika aku menangis.
"Apa kamu sudah siap untuk berangkat ke pondok pesantren?"
Aku menoleh ke arah Ibu dengan alis yang berkerut seolah bertanya "Eh? Bukannya masih nanti malam berangkatnya?"
"Fatimah..." Ibu meraih tanganku. Pastilah Ibu akan membicarakan sesuatu sebelum aku kembali ke Al Madani. Entah tentang surat biru, Fadil, atau petuah-petuah, selama itu menyangkut tentang Bapak, aku belum siap untuk membicarakannya.
"Fatimah..." Ibu mengulang namaku. Aku masih tidak bergeming karena hatiku sedang menata ruang untuk menerima apa yang akan Ibu sampaikan sesaat lagi.
"Dengarkan, Ibu." Ibu manatapku intens. "Bapak menulis surat itu tepat saat kamu sedang dalam perjalanan pulang dari pesantren. Seolah tau, putri semata wayangnya akan datang namun dirinya yang harus pergi." Helaan napas Ibu terdengar begitu berat.
"Fadil. Dulunya Ibu menyukai lelaki itu." Tatapannya menerawang ke masa lampau.
"Tunggu dulu? "Dulunya?" Lalu sekarang bagaimana? Apa Ibu dan Bapak mengetahui apa yang tidak ku ketahui? Hal apa itu?" Banyak sekali pertanyaan yang ingin ku ketahui. Namun aku memutuskan untuk menahannya, setidaknya hingga Ibu selesai memberi penjelasan.
"Tapi setelah Ibu pikirkan ulang, bersanding dengannya pasti akan menyakiti hatimu. Ibu yakin, apapun keputusan mu nanti, selama engkau bahagia dengan pilihanmu itu, Ibu dan Bapak di sana juga akan merasa bahagia."
Aku mulai paham arah pembicaraan ini. Meski tidak terlalu yakin dengan dugaanku, tapi besar kemungkinan benar.
"Istirahatlah" Ibu beranjak keluar kamar.
Aku termenung meresapi kalimat Ibu juga rentetan kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini. Bukan karena kedua orang tua ku tidak setuju jika aku menerima lamaran Fadil. Tapi ini soal hafalanku yang belum tuntas hingga juz terakhir. Juga tentang kesiapan mereka untuk melepasku ke pelukan orang asing. Aku rasa semua orang tua akan begitu, bukan?
Sedetik kemudian, petir menggelar. Jutaan tetes air langit jatuh memenuhi Bumi. Aku menyimpul senyum berharap hujan berlangsung lama hingga matahari tumbang di kaki langit. Itu artinya, kembaliku ke Al Madani akan di tunda kembali. Aku menengok ke arah jendela, menatap hujan membuatku teringat dengan sosok Fadil. Ya, Calon suamiku. Terlepas dari itu, setiap kali hujan turun aku akan dengan suka cita menulis banyak puisi. Yang isinya tentu perasaanku saat itu juga.
__ADS_1
"Dear, diriku sendiri" Aku menarik sudut bibirku melihat kalimat pertama dalam barisan puisi.
"Engkau mengingat dengan jelas, bawasannya dunia memang tempat berlelah-lelah. Engkau bisa beristirahat saat Allah memintamu untuk pulang. Maka, tegakkan niatmu untuk tetap di jalan-Nya meski dirimu merasa lelah.
"Dear, diriku sendiri.
Jika engkau lelah karena dunia, maka patik bara semangatmu karena syurgaNya. Jika engkau kecewa karena ciptaanNya, maka mintalah petunjuk dari yang Menciptakan semesta.
"Dear, diriku sendiri.
Ku harap hatimu tidak terbang terlalu tinggi. Mengingat siapa yang engkau semogakan datang meminang hari ini. Karena masa depan sangatlah misteri...."
***
Puluhan kilometer dari rumah Fatimah, tampak seorang pemuda menautkan alisnya. Memijat keningnya untuk mendamaikan pikirannya. Berkali-kali menghela napas, menimbang-nimbang keputusan yang ia ambil. Fadil tengah dilema.
Roda kendaraan yang di tumpanginya berputar tanpa henti. Membawa penumpangnya membelah jalanan kota yang tampak basah. Fadil melihat ke jendela, pikirannya dipenuhi dengan keraguan.
Drt.. drt..
"Abi. Jalanan kota sedang hujan bukan? Hati-hati di jalan yaa! Aku merindukanmu ❤️"
Fadil dengan cepat menggerakkan jemarinya untuk membalas pesan.
"Terima kasih sayang. Aku juga merindukanmu. Lebih dari kau merindukanku"
Drt.. drt..
"Gombal!"
Fadil tersenyum setelah membaca satu kata di pesan singkatnya. Ia membayangkan bagaimana wajah Syifa merona karena pesan darinya. Ya, pesan itu dari Syifa. Meski tidak bisa di katakan 100% calon istrinya, tapi dia adalah wanita yang Fadil cintai.
"Cepat kembali ke pondok, Syifaku. Tidak bertemu denganmu membuat separuh hariku mendung karena rindu"
Drt.. drt..
__ADS_1
"Emang jago yaa, kalo disuruh ngegombal! Dapat nominasi award nanti"
Lagi-lagi Fadil tersenyum. Berbalas pesan dengan Syifa memang selalu membuat bunga di hatinya bermekaran. Setahun terakhir, hatinya tidak pernah beranjak dari Syifanya. Hingga sebuah wasiat yang menurutnya konyol datang menghalang; melamar Fatimah. Mengingat namanya saja sudah membuat senyum Fadil menghilang.
"Bagaimana ini?" Fadil bergumam sembari menghela napas beratnya.
"Bagaimana caraku meyakinkan orang tua ku akan pilihanku? Bagaimana aku menejelaskan posisiku saat ini pada Syifa sedangkan Fatimah adalah sahabat baiknya? Apa yang perlu ku lakukan agar tidak menyakiti Syifa?" Batin Fadil berkecamuk. Suasana hatinya sama seperti langit saat ini. Mendung.
Perjalan menuju kota masih dua jam lagi. Sebelum memejamkan mata, Fadil memutuskan untuk menghubungi seseorang dari ponselnya. Sebelum seseorang tersebut bertukar kisah, dan menyakiti salah satunya.
***
Drt.. drt..
"Eh?" Fatimah menatap bingung layar ponselnya saat ada sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal
"Fadil ku..." Ucap Fatimah setelah membaca isi pesan tersebut.
Ehem.
"Sejak kapan Ibu berdiri di depan pintu?" Tanyaku setelah mengalihkan pandanganku dari sebuah pesan singkat.
"Lagi berkabar sama siapa sih? Seru banget kayaknya yaaa, sampai senyum-senyum sendiri" Ibu meletakkan nampan berisi teh dan beberapa potong singkong rebus.
"Jangan lupa obat-obat pribadi mu" Ibu mengingatkan list yang perlu ku bawa ke pondok sambil keluar kamar.
"Iyaa" Jawab Fatimah. Melihat Ibu keluar kamar, aku menekan keyboard untuk membalas pesan. Belum sempat Fatimah menekan tombol send, satu pesan telah di terimanya kembali.
"Fatimah, maafkan aku jika pesan ini lancang mengganggu waktumu. Izinkan aku untuk membuat kesepakatan untuk kebaikan kita. Mengenai status kita saat ini, ku mohon untuk menyimpannya terlebih dahulu. Aku hanya tidak cukup kuat untuk menghadapi respon para santri nanti. Semoga kamu mengerti"
Lagi-lagi Fatimah mengetikkan sesuatu, dan...
"Fatimah, ku mohon pikirkan baik-baik jawabanmu nanti. Aku khawatir jawabanmu menorehkan luka pada banyak hati. Maaf untuk pesan yang satu ini."
Fatimah termenung. "Menorehkan luka pada banyak hati?" Sejenak kemudian Fatimah tersenyum. "Tentu saja. Fans mu kan banyak, tadz. Termasuk aku." Ia tidak pernah tahu, jika Fatimah sedang berada dalam pembatas jurang hatinya.
__ADS_1