
Seusai shalat Maghrib Fatimah berangkat menuju pesantren. Dengan diantar oleh dua sepupunya, Salsa dan Bahtiar yang juga seorang ustadz di pesantren sebelah. Meski tidak satu pesantren dengan Fatimah, jalan menuju pesantren mereka satu arah.
"Mbak yu, sing semangat sinau e nggih" (Yang semangat belajarnya yaa) Ucap Salsa sembari menurunkan koper Fatimah.
"Kamu juga toh, Sal"
Setelah berpamitan, Fatimah langsung menuju ke kamar santri. Ini malam Minggu, selain mengaji rutin malam ini juga ada simaan hafalan para santri.
Setelah membereskan pakaian ke lemari, Fatimah duduk diantara banyak santri. Memurojaah hafalannya juga sembari menyimak hafalan santri lainnya.
"Ustadzah Fatimah sudah datang?" Mutia yang duduk di sebelahnya menyapa ramah. "Turut berdukacita yah, Ustadzah" Tambahnya lagi setelah mengingat alasan Fatimah izin pulang ke rumah.
Fatimah mengangguk sopan, sembari memberi isyarat untuk tidak berisik agar tidak menggangu santri yang sedang setor hafalan.
***
"Assalamualaikum"
Fatimah yang tengah membersihkan aula setelah acara simaan hafalan menoleh ke arah sumber suara. "Fadil ku datang.." Guman Fatimah. Meski Fadil datang tidak untuk atau karena dirinya, dan malah sibuk mengobrol dengan Bu Nyai, tapi bagi Fatimah mendengar suara dan melihatnya dari kejauhan sudah membuatnya bahagia.
"Fat.." Najwa menyikut Fatimah yang justru bengong.
"Apa?" Tanya Fatimah tanpa merasa bersalah
"Hmm.. Iya tau, idola sejuta santri datang. Tapi sampai kapan kamu mau menuang air padahal gelasnya sudah penuh?"
Fatimah reflek menarik teko yang ia genggam. Menengok gelas juga cucuran air yang membasahi karpet.
"Hadeuh.. Selesaikan tugasmu" Ucap Najwa sembari berlalu meninggalkan Fatimah.
"Najwa, dimana Syifa? Tadi aku tidak melihatnya sewaktu di kamar." Tanya Fatimah sembari menahan lengan Najwa.
"Sehari setelah kamu izin pulang, dia juga pulang karena demam, muntah juga diare" Jelas Najwa
"Syifa sakit?"
"Hm." Angguk Najwa "Sempat dilarikan ke Klinik karena dia udah lemes banget kehabisan tenaga"
"Ya Allah... " Fatimah menggeleng prihatin
"Waktu itu, semua santri sudah panik melihat Syifa yang pucat bagai mayat. Bu Nyai dan Pak Kyai khawatir. Apalagi Ustadz Fadil. Tampak sekali khawatirnya hingga beliau mengosongkan jam mengajarnya. Bahkan beliau juga loh yang menggendong Syifa ke dalam ambulan sewaktu tidak sadarkan diri"
__ADS_1
"Ustadz Fadil?"
"Hah?" Najwa merasa aneh. Setau Najwa, Fatimah dan Syifa merupakan sahabat dekat. Tapi mengapa dari sekian banyak penjelasannya ia justru terfokus pada kata 'Ustadz Fadil'? Bukan pada 'Syifa yang tidak sadarkan diri' yang notabene itu artinya sudah parah?
"Kamu bilang Ustadz Fadil yang menggendong?" Entah mengapa hati Fatimah sedikit memanas mendengarnya. Meski Syifa adalah sahabat baiknya dan kondisi Syifa juga yang darurat, tetap saja Fatimah tidak terima jika lelakinya mendekat atau didekati wanita lain termasuk Syifa.
"Apa Syifa tau jika Ustadz Fadil yang menggendong?" Fatimah merasa hal itu penting dan perlu dipastikan.
"Kamu tanya saja sendiri" Najwa menjawab acuh dan berlalu meninggalkan Fatimah.
Fatimah yang bingung harus melakukan apa setelah kepergian Najwa, sempat bengong sebelum memutuskan untuk meletakkan teko yang ia genggam ke dapur. Namun baru dua langkah ia beranjak, namanya dipanggil seseorang.
"Ustadzah Fatimah!"
"Ya ustadz?" Fatimah menjawab tanpa berani melihat wajahnya. Mendengar suaranya saja, jantung Fatimah sudah tidak bisa dikondisikan.
"Aku mendengar kalian sedang membicarakan aku dengan Ustadzah Syifa."
"Jangan khawatir, ustadz" Jawab Fatimah dengan cepat. "Aku tidak akan salah paham ataupun cemburu dengan Syifa. Kami juga akan selalu bersahabat baik" Fatimah langsung melangkah cepat menuju dapur sebelum jantungnya benar-benar copot.
Sementara Fadil tampak shock dengan jawaban Fatimah hingga tidak bisa berkata-kata. "Siapa pula yang memintamu untuk cemburu? Fadil menggelengkan kepalanya.
***
"Assalamualaikum"
"Syifaaa..." Fatimah langsung memeluk rindu sahabatnya itu. "Bagaimana kabarmu? Kenapa lama sekali yang mau kembali ke sini? Apa karena masih sering kambuh? Kenapa kamu ngga chat aku? Aku tuh butuh kabar dari kamu loh! Kamu sendiri? Kamu diantar siapa?" Cerocosnya
"Satu-satu dong say!" Jawab Syifa enteng sembari menata barang bawaannya.
"Syifa!"
"Hm.."
"Jawablah!"
"Astaga, Fatimah. Yang mana yang perlu ku jawab terlebih dahulu?" Syifa masih tidak peduli dengan serentetan pertanyaan Fatimah. Karena sudah menjadi kebiasaannya untuk bertanya hal seperti itu jika Syifa baru kembali ke Al Madani.
"Aku ada berita penting loh!" Fatimah antusias sekali ingin berbagi kabar mengenai lamaran Fadil.
"Jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu?" Canda Syifa yang diikuti tawa oleh keduanya.
__ADS_1
"Ini untukmu" Syifa memberikan sebatang coklat kepada Fatimah "Maafkan aku yang tidak bisa menghadiri pemakaman ayahmu yah, Fat. Turut berdukacita. Aku yakin kamu pasti kuat menghadapi banyak hal di hari esok." Ucap Syifa tulus.
Air mata Fatimah sudah menggantung di pelupuk matanya. Ia terharu pada perlakuan Syifa. Setiap ada hal yang kurang mengenakkan, selain memberinya banyak dukungan Syifa juga akan dengan senang hati memberinya coklat.
"Berita penting apa yang mau kamu ceritakan?" Syifa sengaja mengalihkan pembicaraan agar sahabatnya itu tidak menangis.
"Aku di lamar" Lirih Fatimah
"Apa?"
Fatimah tersenyum, malu untuk mengulang pernyataan yang sebelumnya.
"Siapa?"
"Aku" Fatimah mengerucutkan bibirnya
"Bukan. Maksudku siapa yang melamar?" Tanya Syifa tidak sabaran. Ia bahagia atas berita itu sekaligus penasaran dengan siapa yang melamar.
"Orang yang ku suka"
"Iiihhhhh.. Kamu naksir siapa? Ayo, katakan!" Syifa memukul pelan bahu sahabatnya. Karena selama ini, Fatimah tidak pernah bercerita tentang siapa yang sudah mencuri hatinya.
"Rahasia" Bisik Fatimah di telinga Syifa.
Syifa yang tadinya serius akan mendengarkan, sekarang malah terlihat kesal setelah mendengar jawaban Fatimah. Ditambah Fatimah yang saat ini sedang menertawakan kekepoannya.
"Aku tidak tau siapa yang melamar mu. Tapi melihat bagaimana kamu menertawakan aku, aku rasa ia orang penting dalam hidupmu, Fat"
"Orang penting gimana? Dia baru datang melamar kok. Belum di akad aku tuuuhh!"
"See! Tapi kamu bahagia banget, loh. Ngga mudah seorang anak perempuan yang baru aja kehilangan Ayah tapi bisa tertawa lepas sepertimu barusan. Pasti spesial sekali orang itu" Seru Syifa tak mau kalah.
"Kamu tau orangnya. Bahkan mengenal baik"
"Hah? Siapa?" Mata Syifa setajam belati memberi kode Fatimah untuk segera menjawab pertanyaannya
"Dia ustadz di Al Madani" Jawab Fatimah enteng.
"Siapa? Tinggal jawab namanya aja susah kamu tuh!" Syifa tampak kesal lantaran Fatimah tidak mau langsung menjawab.
"Ustadz Fadil" Fatimah menjawab pelan. Pipinya merona dan pandangannya menunduk. Ia malu untuk menatap Syifa hingga tidak menyadari perubahan raut di wajah ayu Syifa.
__ADS_1
"Fadil melamar Fatimah? Berita macam apa ini?" Batin Syifa seolah memar dihantam berita yang barusan ia dengar. Senyumnya menyusut. Lelaki idamannya melamar sahabat baiknya.