
"Aku.."
Suaraku menghilang begitu saja. Aku tidak tau harus menjelaskan bagaimana. Jika ada yang bertanya bagaimana perasaanku? Tentu saja aku bahagia. Lagi pula, siapa yang tidak bahagia jika yang datang melamar adalah pria yang kalian kagumi? Yang kalian angan-angankan sebagai imam masa depan? Tentu senang bukan?
"Aku.." Aku menatap Ibu, mencari sebuah jawaban dalam sorot mata yang sendu namun, penuh cinta.
"Ibu dan Almarhum Bapak dulunya sudah sepakat untuk menjodohkan kalian." Ibu mengambil alih pembicaraan karena melihatku gugup dan tidak tau harus berkata apa. "Dan Fatimah, Nak Fadil sudah memantapkan hatinya untuk menikahi mu. Terbukti dengan kedatangannya kemari yang hendak melamar"
"Ibu.." Fadil membuka suaranya kembali. "Tidak perlu buru-buru. Berikan Fatimah waktu untuk memikirkan matang-matang. Fadil tidak mau jika batin Fatimah nantinya tertekan"
Deg.
"Ah, so sweet bangeeettt" Gumanku sembari tertunduk malu "Belum jadi istrinya saja, batinku sudah di perhatikan"
"Keputusan Ibu dan Almarhum Bapak adalah menjodohkan kalian. Tapi itu terserah Fatimah mau menerima sekarang atau nanti"
"Ibu!" Aku menyikut Ibu. Bagaimana bisa pilihannya seperti itu? Gurauan Ibu membuatku salah tingkah.
"Sebentar!" Suara Ibu sedikit meninggi membuat kami langsung menatap Ibu.
"Ibu lupa mau ambil sesuatu untuk Nak Fadil"
"Biar Fatimah saja, Bu" Aku berdiri sembari memegang tangan Ibu. Memintanya agar duduk kembali.
"Tidak, Fatimah. Ini amanah Almarhum Bapak agar Ibu yang memberikan langsung kepada Nak Fadil" Ibu beringsut menuju kamarnya.
Aku mengiyakan. Sejujurnya aku tidak tau apa yang hendak Ibu ambil dan berikan kepada Fadil. Kini tinggallah kami berdua di ruang tamu. Hening. Canggung sekali rasanya. Aku hanya menunduk sembari berdzikir untuk menenangkan jantungku yang sedari tadi berdisko ria.
"Fatimah" Ucap Fadil
__ADS_1
Mendengar namaku dipanggil, aku memberanikan diri untuk melihat wajahnya. Tapi itu hanya bertahan 10 detik! Aku kembali menunduk dan menerka-nerka arti dari sorot mata dan ekspresi wajahnya. "Ada apa dengan ekspresinya? Dia tidak seperti biasanya saat kami sedang di pesantren"
"Aku datang kemari untuk melamar mu." Fadil memperjelas maksud dan tujuannya.
"Sebagai bakti ku terhadap orang tua, juga sebagai hamba yang ingin meniti Sunnah Rasul-Nya" Kali ini suaranya datar. Tidak seramah saat ada Ibu di sini.
"Aku tidak ingin menyakiti hati orang tuaku, meski apa yang ku lakukan akan menyakiti diriku sendiri. Aku harap kau mengerti" Suaranya pelan sekali tapi aku mendengarnya dengan jelas.
Hening..
Hening..
Hening..
Aku masih membisu dan mencerna apa maksud ucapannya.
"Nak Fadil.. Fatimah.."
"Fatimah, ini surat dari Bapak" Ibu menyerahkan amplop biru kepada ku. "Bapak menulisnya sebelum koma waktu itu." Ibu menghela napas dengan berat. Terlihat kesedihan yang menggantung di wajahnya. "Beliau bilang, ingin menyampaikan sesuatu padamu. Saat itu, Ibu langsung menyadari jika Bapak hendak pergi. Beliau pamit padamu melalui surat itu" Ibu melihat amplop biru dengan tatapan rindu. Baru sepekan lalu Bapak pergi meninggalkan kami karena Kanker paru-parunya. Kami baru saja menata hati dan pikiran untuk merajut hari-hari masa depan.
"Dan, ini untuk Nak Fadil. Itu adalah sebuah cincin Almarhumah Ibumu. Sewaktu Ayahmu masih sering bertemu dengan Bapak, beliau menitipkannya. Dan berpesan, agar engkau memberikan cincin itu kepada istrimu kelak." Terang Ibu.
"Kepada istrinya kelak? Ah, kenapa Ibu tidak langsung berikan kotak itu kepadaku?" Gumanku sembari tersipu, membayangkan hari esok akan menjadi istri seorang Gus tampan.
Setelah menerima kotak itu, Fadil membukanya. Menampakkan cincin emas dengan satu permata biru berlambang hati. Mataku berbinar, Fadil pun demikian.
"Terima kasih, Bu." Ucap Fadil tulus sembari menutup dan mengantongi kotak itu. "Ibu, karena Fatimah sudah tau maksud dan tujuan Fadil kemari, Fadil izin pamit. Ada beberapa kitab yang perlu Fadil beli ke kota" Izin Fadil dengan hati-hati.
"Eh? Tidak langsung pulang yah? Masih mau mampir ke kota?" Tanya Ibu.
__ADS_1
Fadil mengangguk pelan. "Sebuah tuntutan dan tanggung jawab, Bu" Ujarnya sembari tersenyum.
Baru kali ini aku melihat Fadil tersenyum lebar saat aku menyadari dia memiliki lesung pipi di sebelah kanan. "Masyaallah.." Gumanku.
***
Setelah Fadil pulang, aku kembali ke kamar. Menatap nanar amplop biru pemberian Bapak. Baru saja aku menata hati dan pikiranku, hari ini runtuh tak bersisa. Aku memutuskan untuk memundurkan waktu kembali ke pesantren menjadi malam ini. Meski dengan susah payah membujuk Ibu.
Perlahan ku raih dan ku buka amplop itu. Ada selembar kertas dan tulisan Bapak di sana.
"Shalihah ku, Fatimah" Aku tersenyum membaca kalimat pertama pada surat Bapak.
"Maafkan Bapak untuk kesalahan yang pernah Bapak lakukan, untuk kesedihanmu yang bapak timbulkan, untuk kekecewaan mu yang Bapak sebabkan. Terima kasih, Fatimah. Kamu hadir dalam hidup Bapak adalah sebuah anugerah. Masanya telah tiba. Tugas Bapak telah usai. Meski ingin sekali menyerahkan mu secara langsung pada suamimu kelak, tapi Bapak tidak berdaya karena belum mendapat restu takdir untuk hal itu."
"Fatimah, shalihah ku" Aku tersenyum kembali membaca kalimat yang satu ini.
"Siapapun kelak suamimu, dia adalah pria yang beruntung. Akhlak, rupa, tutur kata, wawasan dan segala hal yang ada padamu adalah cantik dalam balutan kemuliaan. Betapa bangganya Bapak, jika engkau menikah dengan pria baik setelah merampungkan hafalan 30 juz mu. Ingin sekali menyaksikan bagaimana putriku wisuda dengan selempang "Hafidzah 30 Juz". Membayangkan saja sudah membuat Bapak menangis haru"
"Fatimah, shalihah ku." Lagi-lagi aku tersenyum. Entah mengapa kalimat ini terdengar romantis dan penuh kasih.
"Maafkan Bapak karena pernah menjodohkan mu dengan Fadil. Ia putra dari kenalan Bapak. Seorang Hafidz, tampan, kaya, juga kharismatik. Terakhir kami bertemu, dia sedang ta'aruf dengan seorang wanita. Menikahlah dengannya, jika engkau memang menerimanya. Terima lamarannya jika engkau bersedia menjadikan ia sebagai imam dan letak syurgamu. Bapak harap, saat itu kamu telah menyelesaikan hafalanmu. Terima kasih, anakku"
Aku tertegun. Membaca berulang-ulang surat Bapak. Aku paham amanah apa yang ada di dalamnya.
"Ta'aruf dengan seorang wanita?" Aku mengulang kalimat itu kembali. "Dia datang langsung melamar, tidak..."
Aku mengingat kembali apa yang Fadil sampaikan pagi tadi. "Meski hal itu menyakiti diriku sendiri.."
"Maafkan Bapak karena pernah menjodohkan mu dengan Fadil." Aku menatap surat itu kembali. "Maafkan?" Mataku mulai panas. "Tidak! Tidak boleh begini ceritanya.." Aku mencoba mengatur napas karena dadaku tiba-tiba terasa sesak.
__ADS_1
"Itu artinya...."