
"Syifa, minum ini" Salma menyerahkan 3 keping obat di telapak tangannya. "Ini obat kunyah." Lanjutnya. "Kamu bisa memakannya jika asam lambungnya terasa naik. Bu Nyai sengaja memberi obat lebih."
"Terima kasih, Salma" Jawab Syifa tulus
"Baiklah, kamu istirahat saja dulu. Untuk jadwal mengajar mu hari ini, akan aku handle. Jadi fokus saja pada kesehatanmu"
"Terima kasih lagi, Salma"
"Baiklah aku pergi dulu" Salma beranjak dari duduknya meninggalkan Syifa yang sedang berbaring di kamarnya. Baru dua langkah, Mutia menyeruak masuk ke dalam.
"Kata Fatimah kamu sedang sakit. Bagaimana kondisimu sekarang?" Mutia tampak khawatir
"Aku baik-baik saja"
"Dia sedang berbohong, Mutia" Salma menimpali. "Jika dia sedang baik-baik saja bagaimana mungkin akan lemas seperti itu? Sedangkan jadwal mengajarnya menumpuk"
"Handle lah dulu" Pinta Mutia
"Tentu saja. Aku kan teman yang baik hati, cantik, juga tidak sombong" cerocosnya sembari melangkah ke arah pintu. Baru dua langkah, ia berhenti kembali. Salma membalikkan badan dan menatap Syifa.
"Apa?" Tanya Mutia
"Syifa, kamu dapat salam dari ustadz Fadil"
"Ustadz Fadil?" Mutia tampak kaget sedangkan Syifa justru tampak biasa saja.
"Hm" Salma mengangguk takzim. "Beliau memintamu untuk mengaktifkan ponselmu. Katanya, beliau sulit menghubungimu"
"Ah, iya. Aku pun sulit untuk menghubungi mu" timpal Mutia.
"Baiklah aku pergi dulu" Jawab Salma.
Kini hanya menyisakan Mutia dan Syifa di kamar. Mereka saling menatap dengan pemikiran masing-masing. Obrolan terakhir bersama Mutia, membuat Syifa sedikit was-was akan hubungannya dengan Fadil. Dan yang lebih ia khawatirkan adalah Mutia memberi tahu Fatimah yang sebenarnya.
Hening..
Hening..
Mereka masih saling menatap dengan menyelami pikiran masing-masing.
Clekek.
Fatimah masuk ke dalam ruangan. Membuat keduanya memutus kontak mata.
"Bagaimana kabarmu?" Jelas sekali jika Fatimah sedang mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Aku baik." Syifa tersenyum lega. Sisi lainnya ia cemas saat melihat Mutia dan Fatimah berada dalam satu kamar.
"Syukurlah. Aktifkan ponselmu. Ada banyak ustadz-usta......"
"Ustadz Fadil?" sela Mutia
"Ustadz Fadil?' Fatimah justru balik bertanya
__ADS_1
"Apa yang memintamu untuk Syifa mengaktifkan ponselnya adalah ustadz Fadil?"
Fatimah bingung. Ia menatap Mutia dan Syifa bergantian. "Kalo iya, memangnya kenapa?"
***
Fadil tampak mengacak rambutnya frustasi. Sepulang dari rumah Bu Nyai, Fadil mengkomando beberapa ustadzah untuk meminta Syifa mengaktifkan ponselnya. Berkali-kali ia mencoba menelpon Syifa, namun berkali-kali pula panggilannya dijawab oleh operator.
"Makan siang, bro!" Muammar datang menyapa ramah
Fadil hanya mendesah. Pikirannya kenyang akan Syifa
"Kamu kenapa?" Tanya Muammar.
Lagi-lagi Fadil hanya mendesah, mengisyaratkan sedang khawatir akan suatu hal.
"Akan ku bawa kemari jatah makan siang kita. Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi sepertinya kamu tidak ingin pergi ke kantin" Muammar berlalu meninggalkan Fadil sendiri.
Drt.. drt..
Senyum Fadil mengembangkan melihat siapa yang mengirimi pesan.
"Aku baik-baik saja. Akan ku pastikan penyakit ku tidak lagi kambuh"
"Alhamdulillah. Lega sekali mendengarnya, semoga sehat selalu. Aku merindukanmu"
Hening..
Fadil tersenyum. Meski berulang kali Fadil menatap layar ponselnya, berharap ada balasan pesan kembali, namun mendengar Syifanya baik-baik saja sudah sangat melegakan. Tiba-tiba..
"Sejak tadi."
"Oh" Fadil berdeham agar tidak nampak kikuk.
"Siapa?" Meski Muammar tau siapa yang dihubungi Fadil, ia harus memastikan dengan jawaban dari mulut sahabatnya langsung.
"Dia orang yang ku suka" Fadil menjawab enteng.
"Syifa?"
Fadil berdiri kikuk menatap lekat mata sahabatnya.
"Ayolah, Fren! Siapa Ratu Purdah di pesantren ini kalo bukan dia?" Muammar menjelaskan seolah tau apa yg Fadil pikirkan. "Aku juga sering melihat Mading umum. Karya dia mengagumkan." Setelah melihat nama kontak di pesan Fadil yang barusan, Muammar bisa menebak siapa orangnya.
"Kamu benar" Fadil tersenyum kecil membenarkan. "Tapi, Ratu Purdah...."
"Iya, iya, aku tahu. Aku tahu karena pernah mendengar obrolannya bersama Fatimah"
"Oh.." Fadil ber-oh sembari mengangguk tajam. Ia mulai paham kemana arah pembicaraan ini.
"Kamu juga tau semua nama pena para santri dan siapa orang sebenarnya"
Fadil mengangguk membenarkan. Jelas dia tau karena Fadil koordinatornya
__ADS_1
"Jadi, apa dia calon istrimu?"
"Siapa?"
Fadil dan Muammar menoleh ke arah sumber suara. Fatih telah berdiri diambang pintu. Meski tidak mendengar seluruhnya, ia sempat mendengar kata calon istri. Dari gosip yang berhembus kencang, tentu saja Fatih sangat penasaran.
"Siapa?" Ulang Fatih
Fadil dan Muammar saling berpandangan. Hening..
"Kalian ini..."
"Ini rumit" Fadil memotong dan membuat Fatih berhenti berbicara seketika. "Aku tidak tau harus bercerita atau tidak." Lanjutnya
"Makanlah dulu" Muammar menimpali sembari menyiapkan makan yang sudah ia ambil dari kantin.
***
"Ustadz Fadil bilang apa?" Mutia mulai mengintrogasi Fatimah.
"Tidak ada. Dia hanya bertanya apa Syifa mengganti nomornya"
"Hanya itu?" Mutia merasa aneh. Seperti ada hal yang terlewat.
"Hm"
"Sudahlah teman-teman." Syifa mulai menyalakan ponselnya. Sungguh tidak ingin moodnya semakin rusak karena mendengar pertikaian kecil dari Mutia dan Fatimah. Ia memilih jalan tengah dengan mengaktifkan ponselnya yang sudah hampir dua hari ia nonaktifkan. Jauh dalam lubuk hatinya, ia rindu Fadilnya. Namun akal waras dan pikirannya mengatakan harus sesegera mungkin melepas Fadil. Healing cepat-cepat untuk melihat Fatimah menikah dengannya.
"Kenapa semua orang hari ini bertanya tentang ustadz Fadil?" Ceracau Fatimah tiba-tiba
"Hm?" Mutia menuntut penjelasan
"Kau. Bu Nyai, Salsa, Najwa, Ustadz Fatih, Ustadz Ali. Semua. Semua orang yang ku temui"
Mutia dan Syifa berpandangan.
***
"Aku tidak nafsu makan" Fadil menghela napas
"Orang bilang, katanya kalo jatuh cinta memang akan selalu merasa kenyang." Fatih menimpali sesekali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Muammar tetap diam, ia fokus mengunyah.
Hening..
"Kamu beneran kenyang?" Fatih kembali membuka suaranya. Fadil tidak bergeming.
"Ayolah, Fren! Pura-pura bahagia juga butuh sarapan. Nasi akan membuatmu lebih kuat untuk patah hati" Kali ini Muammar ikut menimpali
"Siapa yang sakit hati?" Fatih menaikkan alisnya sebelah
"Yaelah, Fatih. Kamu tidak dengar? Fadil bilang ini rumit. Itu artinya dia tidak sedang baik-baik saja. Ada luka yang dia tutupi. Mungkin karena belum siap bercerita, atau memang karena hal lain aku tidak tahu, tapi Fadil belum memutuskan untuk bercerita"
Fadil menghela napas panjang. "Aku di jodohkan"
__ADS_1
"APA?" Fatih dan Muammar serentak bertanya seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Mulut mereka yang sedari tadi penuh sesak dengan makanan kini berhenti mengunyah. Mencoba memastikan, bahwa mereka tidak salah dengar, dan sibuk menerka-nerka apa yang dikatakan Fadil adalah kebenaran?