Jika Aku Boleh Bermimpi

Jika Aku Boleh Bermimpi
PROLOG


__ADS_3

Saat itu masih terasa asing.


Ketika melihat pakaian baru ini—kemeja putih dan rok abu-abu—melekat ditubuhku, aku masih nggak menyangka kalau akhirnya aku resmi menjadi anak SMA. Betul. Aku anak SMA! Aku kelas 10! Akhirnya aku bisa merasakan kehidupan remaja dibuku-buku novel yang kubaca! Akhirnya—


"Miss Jinny datang! Balik-balik!" seru seorang cowok yang sempat menggenjreng gitar di ambang pintu.


Cepat-cepat ia kembali ke bangku sambil mendorong-dorong temannya usil. Begitupula seisi murid yang buru-buru ke tempat duduk masing-masing.


Seorang wanita yang dibicarakan itu pun masuk ke dalam kelas. Sepatu stiletonya mengetuk lantai dengan tegas sampai ia duduk di tempat kekuasaannya. Meja guru.


"Ready!" Aba-aba ketua kelas.


Dari singgasananya, wanita itu menelisik ke segala arah dengan tajam, memperhatikan 30 murid di kelas 10 MIPA B berdiri tegak dan mantap.


"Greetings!"


"Good morning, Miss Jinny!" seru seluruh kelas.


"Good morning everyone, take your seat."


Miss Jinny mengambil spidol sementara para murid duduk. Tidak ada yang berani membuka suara ketika guru bahasa Inggris itu melakukan sesuatu. Dengar-dengar, dia juga bertugas sebagai Waka Kesiswaan. Setiap hari Miss Jinny menunggu di dekat gerbang sekolah, menyapa murid-murid berdatangan sampai menemukan ketidaksempurnaan.


"Mana dasimu?" tanyanya ke murid yang berseragam tidak lengkap. "Pengurangan 5 poin. Sekali lagi nggak lengkap, kamu berdiri di lapangan selama satu jam pelajaran."


Miss Jinny tidak main-main dengan ucapannya. Ada cerita, kalau abang kelas kami pernah sengaja datang dengan tidak berseragam lengkap. Alhasil dia dijemur di bawah terik matahari selama satu jam pelajaran, kemudian kembali ke kelas dengan surat izin yang ditandatangani Miss Jinny.


"Rin! Karin!" bisik seseorang sambil menyenggol-nyenggol lengannya.


Karin tersadar dari lamunan. Menengok, semua orang menatap ke arahnya dengan pandangan tidak enak. Kenapa? Ada apa nih? Karin benar-benar bingung. Ketika ia menoleh ragu ke Sandra, teman sebangkunya, suara Miss Jinny memotong mereka.


"Katarina Kusumaputri."


Wanita bermata elang itu mengetukkan spidolnya ke meja. Mengintimidasi Karin yang susah payah menegak saliva.


"Kamu tidak mendengarkan saya?"


"Ya Miss." Kata Karin kelabakan. Bingung sekaligus membenarkan. "Maaf Miss."


"Karena ini pertama kalinya saya berada di kelas ini, jadi saya maafkan." Miss Jinny mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. "Tapi mulai sekarang, kamu, saya tandai."


Mampus aku.


"Sekarang dengarkan saya."


"Baik Miss," ucap Karin cepat.


Ketukan spidol Miss Jinny berhenti. Bibirnya yang terpoles lipstik merah tua bergerak serius.


"Apa mimpimu?"


Karin mengernyit berusaha mengingat-ingat.


"Nnggg... nggak ada, Miss."

__ADS_1


"Loh masa nggak ada?


"Semalam saya nggak mimpi apa-apa, Miss."


Keheningan kelas seketika meledak menjadi tawa. Apa-apaan respon itu? Sandra menyenggol sepatunya di bawah meja, membuat Karin menoleh meminta penjelasan. Gue salah ngomong ya? Sandra mengangguk, bukan mimpi yang 'itu' maksudnya!


Aaa~ Karin menutup mulutnya yang menganga, tidak menyangka kalau otaknya salah menerjemahkan pertanyaan Miss Jinny. Sekarang, dia tidak tahu harus melakukan apa selain cengengesan malu dan mengatai ketololan sendiri.


"Hadeeehhh!" Miss Jinny menggeleng dengan senyum kecil. Agaknya aneh karena jauh dari rumor-rumor mengerikan tentangnya. "Kamu ngerti nggak sih maksud saya?"


"Maaf Miss, saya reflek hehehe."


"Maklum hari kedua sekolah, masih kaget." Miss Jinny mencoba memaklumi. "Kamu, yang di sebelah Karin."


Kelas kembali tenang, namun puji Tuhan, tidak secanggung dan setegang sebelumnya.


Sandra spontan menegakkan tubuhnya sedetik setelah tertawa lepas. "Sa-saya Miss?"


"Yang laki-laki."


Miss Jinny menunjuk seseorang di belakang Karin dengan spidol. Menunjuk seorang cowok berambut hitam yang kini membenarkan posisi duduknya.


"Saya, Miss?" tanya cowok itu. Suaranya yang berat dan jelas menarik rasa penasaran Karin untuk menoleh ke belakang.


Oh, God...


Lebih baik Karin pura-pura tidak kenal aja.


"Baik." Cowok itu menurut dan melakukan apa yang guru itu inginkan. "Selamat pagi semuanya, salam kenal, saya Gabriel Yudhistira, panggil saja El, asal SMP Panjalu Pontianak. Mimpi terbesar saya adalah menjadi teknisi IT yang berguna bagi masyarakat. Terima kasih."


Satu kelas menepuk tangan mereka sementara miss Jinny mempersilahkan El duduk kembali.


"Bagus." Miss Jinny mengangguk takjub mendengar cita-citanya. Sekarang, ia mengobservasi lagi, mencari orang yang ingin dia ketahui mimpinya. "Kamu."


Spidol dipegangan Miss Jinny menunjuk ke bangku paling depan. Seorang gadis berkacamata pink merapikan letak buku tulis dan pulpen berwarna senada mematung sedetik, kemudian berdiri dengan penuh percaya diri.


"Selamat pagi, nama saya Agnesius Septiani, biasanya dipanggil Agnes. Saya berasal dari SMP Panjalu Pontianak, dan saya bercita-cita untuk menjadi dokter. Terima kasih."


Tepuk tangan lagi-lagi bertebaran memenuhi ruang kelas. Wajah Miss Jinny sedikit lebih cerah ketika mempersilahkan gadis itu duduk.


"Bagus. Ingin jadi dokter apa Agnes?" tanyanya.


Gadis berkacamata pink itu tersenyum. "Saya ingin jadi dokter gigi, Miss."


"Wow, amazing. Semoga mimpimu tercapai, ya." Miss Jinny tersenyum kecil.


"Bau-bau anak kesayangan nggak sih?" bisik Sandra dari samping. Karin menyikut kecil gadis itu sambil cekikikan. "Eits, ga boleh gitu."


"Nah, Katarina Kusumaputri."


"Ya, Miss?" Mendengar namanya dipanggil sontak Karin berdiri seperti tentara yang siap perang.


"Sudah ngerti maksud 'mimpi' yang saya katakan?"

__ADS_1


"Siap, sudah Miss!"


"Sekarang perkenalkan dirimu."


Karin mengambil napas dalam-dalam sebelum menghempaskan dan membentuk senyuman.


"Halo-halo! Nama saya Katarina Kusumaputri, biasanya dipanggil Karin. Saya dari SMP Negeri Pertiwi Pontianak, dan... mimpi saya..."


Seluruh kelas lagi-lagi memperhatikannya ketika nada suara gadis itu semakin tidak terdengar.


Karin terdiam di tempat. Matanya terlihat kosong sekaligus berpikir keras mengenai apa mimpinya?


Apa yang selama ini dia inginkan?


Seperti apa kira-kira dirinya di masa depan?


Karin berkedip bingung. Otaknya benar-benar kosong. Tidak ada gambaran jelas. Tidak ada jawaban selain bayangan samar warna-warna cat dan kumpulan kuas melewati pikirannya.


Tidak.


Sontak Karin menggeleng. Ditepisnya bayangan itu seperti mengibas asap yang mengaburkan pandangan.


Sekian detik telah berlalu. Semuanya menunggu, termasuk Miss Jinny yang keheranan.


"Karin?" Miss Jinny memanggil. Suaranya mengiterupsi Karin dari bayangan-bayangan yang menghilang dalam sekejap. "Jadi? Apa mimpimu?"


Miss Jinny barangkali terlihat seperti wanita otoriter yang suka menindas, namun jauh di dalam hatinya, ia khawatir bila anak muridnya benar-benar tidak memiliki bayangan apapun di masa depan.


Karin meringis. "Saya... nggak tahu, Miss."


Miss Jinny mengangguk. "Yah... Kalau kamu belum tahu, lebih baik kamu cari tahu sekarang supaya kamu punya ambisi. Duduk."


"Iya, Miss. Terima kasih."


Karin hendak duduk, namun bayangan cat warna dan kuas kembali menghantui pikirannya. Mengusik gadis itu seolah meminta perhatian. Seolah mereka harus divalidasikan.


Karin berdecak. Tidak. Tidak boleh. Ia tidak boleh memikirkan cat warna dan kuas. Tidak boleh.


Namun...


"Jika boleh, Miss..."


Karin masih berdiri tegap. Jika harus menghentikan usikan bayangan itu adalah dengan memvalidasinya, maka akan dia lakukan. Benar, akan dia lakukan sekarang juga!


"Jika saya boleh bermimpi, Miss. Saya mau jadi pelukis."


Sekarang, bayangan itu menang. Bayangan itu semakin melintasi otaknya dengan gambaran-gambaran yang jelas. Memberitahu seperti apa Karin dengan kaos putih yang bernoda oleh cat dan kamarnya yang dipenuhi kanvas.


Namun ntah mengapa, pertanyaan Miss Jinny meretakkan seluruh bayangannya.


"Kenapa jika boleh? Memangnya kamu nggak boleh bermimpi?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2