Jika Aku Boleh Bermimpi

Jika Aku Boleh Bermimpi
BAB 3 - Permusuhan Dalam Kelas


__ADS_3

Hari pertama sekolah tidak seramai yang Karin bayangkan. Semakin langkahnya masuk ke dalam kelas, kira-kira ada lima belas kursi yang terhitung di sana.


Mungkin karena sedang beradaptasi dengan pandemi COVID-19 yang mengharuskan semua orang menjaga jarak, terpaksa setiap kelas membagi setengah anggota mereka. Lima belas di sini, lima belas di sebelah. Kalau begini susah nyontek dong?


Satu hal yang Karin perhatikan lagi adalah adanya nomor-nomor di setiap sudut meja. Lima… empat… tiga, dua, dan satu. Mata Karin berhenti di meja nomor satu. Meja di samping jendela yang ditempati seorang gadis berambut panjang lurus dengan headset warna pink membingkai kepalanya. Ia terlihat fokus membaca buku.


Nggak heran sih juara satu berturut-turut, “Agnes.”


Si Agnes masih belum menoleh dari buku bacaan. Yah, siapa juga yang mendengar kalau telinganya ditutupin speaker penganut paham individualisme itu?


Karin mencoba menghampiri. Diketuknya dua kali meja cewek itu.


“Agnes!”


Barulah Agnesius Septiani menoleh. Sebelah alisnya terangkat. Ada apa gerangan cewek pendek berponi Korea ini mengganggu ketenangannya?


“Duduknya sesuai nomor absen ya?”


“Menurut kamu?” Kan udah dikasih tahu di grup WA. “Ya–”


“Biasa aja kali ngasih tahunya.”


Itu bukan kata Karin. Sumpah. Itu suara gadis cantik dengan rambut cokelat bergelombang seperti habis dicatok yang baru saja melewati mereka.


Namanya Cynthia Jacqueline. Susah dibaca seperti isi kepalanya. Supaya jelas, panggil saja dia Quin.


Di balik masker mahal yang gadis itu kenakan, bibirnya yang terpoles liptint menghela napas.


Kenapa sih aku harus duduk di belakang si culun sombong ini?!


Dengan gestur tangan meminta, ia mengambil sanitizer dari tangan Yolanda, salah satu teman dekatnya dari kelas sebelah, lalu menyemprotkan sebanyak mungkin cairan itu ke meja dan kursi.


Tempat ini harus suci, tidak boleh ada kotoran menempel, apalagi upil di bawah meja. Tidak!


Setelah memastikan setiap sudut singgasananya bersih, barulah dia duduk dengan anggun. Ditariknya meja kayu agar tidak bertempelan dengan kursi si sombong Agnes.


“Semoga satu semester ini mentalku aman.” Kata cewek itu, ntah berdoa atau menyindir. “Kan sayang udah capek-capek skincare-an malah keriput gegara makan hati.”


“Semoga keriput beneran," gumam Agnes, tidak peduli kalau Quin diam-diam menahan diri untuk tidak mencakar wajahnya.


Agnes baru sadar kalau Karin sudah meluncur ke tempat seharusnya cewek itu duduk.

__ADS_1


Bukan urusanku. Karin seolah berhasil kabur dari medan perang. Sejujurnya, dia tidak mau terseret masalah mengingat Quin dan Agnes sudah bermusuhan sejak kelas 10.


Ntah di luar jam sekolah maupun di dalam. Ntah saat presentasi, ulangan, PR, sampai olahraga. Quin dan Agnes seolah tidak mengenal kata 'damai'.


Pernah suatu hari Miss Jinny menyatukan mereka dalam kelompok bahasa Inggris. Agnes yang dikenal tenang akhirnya meledak oleh tingkah Quin yang (dengar-dengar) berlaku seenak jidat.


"Mereka suka adu prestasi, tapi ujung-ujungnya adu orang tua sama kasta kaya dan miskin."


Sandra berbisik sambil diam-diam mengemil basreng yang dia sembunyikan di laci.


Saat itu sedang kerja kelompok Kimia. Karena sudah selesai, kelompok Karin, Sandra, Chandra, dan Vale pun menunggu jam pelajaran berakhir dengan berbagi gosip. Agnes dan Quin merupakan topik terpanas saat itu.


"Kok bisa?" tanya Karin penasaran.


"Waktu itu Quin cerita, dia sering dibanding-bandingin Papanya sama anak yang dikasih beasiswa sama sekolah. Nah, anak itu tuh si Agnes." Jelas Chandra kecil-kecil. "Kan Agnes pernah cerita ke Papanya Quin kalau dia pengen jadi dokter, tapi impiannya itu kayaknya harus dikubur karena dia bukan dari kalangan orang kaya."


"Sekolah Kedokteran emang mahal sih."


"Makanya!" Chandra menjentik jari. "Walaupun Agnes harus kuburin mimpinya buat jadi dokter, dia tuh masih membanggakan ibunya dengan jadi juara satu paralel. Dia juga aktif lomba esai, karya ilmiah, pidato, banyak! Sedangkan Quin 'kan lebih sering hang out sama anak-anak sosialita di Panjalu. Otomatis dia sering makan cantik di kafe mahal lah, staycation lah, tapi bukannya dapat manfaat dari sesama sosialita, nilainya malah anjlok dan jadi pergaulan bebas. Coba kasih tahu, apanya yang bisa dibanggakan? Mana bapaknya orang terpandang lagi. Kalau anaknya nggak terpandang juga, malu lah bapaknya."


Karin jadi tidak enak hati dengan Quin. Tidak heran cewek itu mencari validasi di dunia luar, hanya karena merasa tidak dihargai oleh keluarganya sendiri.


"Plot twist mereka saudara kandung."


"Kamu kira sinetron!"


Bunyi bel masuk pun berdering. Cepat-cepat Karin melangkah ke bangkunya yang terletak di ujung kanan kelas. Kakinya memelan saat melihat El menuju ke tempat yang sama… sampai mereka melewati satu sama lain.


Gawat. Karin meletakkan tasnya ke atas meja dengan wajah kaku. Tanpa sadar, ia menggigit jari. Gawat-gawat-gawat!


Dia duduk di sebelah mantan.


Sebentar lagi jantungnya akan copot. Karin lupa kalau ada satu anak kelasnya yang pindah sekolah, membuat namanya dan Gabriel saling berurutan sekarang.


Astaga, bagaimana menghadapi kelas dua belas dengan cowok itu duduk di sampingnya kalau mereka sudah secanggung ini? Pakai halo apa kabar?


Karin bisa gila.


Pikiran cewek itu pun beralih kala suara decitan pintu kelas terdengar. Para murid berdiri, bersiap menyambut Pak Budiono yang akan memulai hari pertama sekolah.


Untuk beberapa detik, hanya hening yang menguasai ruangan.

__ADS_1


“Ketua kelasnya di ruang sebelah,” Karin bergumam baru ingat.


Kini semua orang memandang satu sama lain, menanyakan siapa yang akan memimpin salam untuk Pak Budiono. Wajah berseri guru itu lama-lama berganti menjadi helaan napas kesal.


“Nggak disambut kah aku ini?” Blak-blakan. Khas Pak Budi sekali. “Chandra, kau ketua kelasnya sekarang.”


“Baik, pak!” Chandra berdeham keras-keras. Semoga sudah mirip menteri pertahanan Indonesia. “SIAP! BERI SAAAA-LAM!"


“Selamat pagi, paaakk!”


“Jangan sok ganteng kau, Chandra. Nggak ada yang naksir kau di sini.”


“SIAP!"


Kalau Pak Budiono sudah bersabda, siapapun hanya mengangguk mengiyakan kata-katanya yang nyelekit. Melawan? Siap-siap memancing kata-kata lebih 'tidak berbudi' lainnya.


Pak Budi pun meminta seluruh siswa 12 MIPA-2 (1) duduk sementara ia pergi ke bangku guru. Pria itu menyender, menghela napas melihat satu per satu anak muridnya dengan sayu.


Meski saat bercanda lidahnya sepedas seblak Bandung level maksimal, semua orang tahu bahwa hatinya tidak lebih dari permen yupi berbentuk lope. Lembut dan manis.


“Nggak terasa pandemi udah hampir dua tahun… kok kalian udah kelas 12 aja?”


Terdengar menyakitkan sekali. Chandra sampai bergidik karena kata-kata itu keluar dari guru yang terkenal hobi me-roasting siapapun di SMA Panjalu.


“Jadi angkatan COVID deh, ngikut kakak kelas kalian tahun lalu HAHAHAHA."


Satu kelas ikut tertawa oleh kata-katanya–antara meratapi nasib atau terpaksa, atau ikut-ikutan karena bingung sebenarnya sedang membahas apa?


“Jadi mau belajar atau leha-leha dulu nih?”


“JAMKOS, PAK!” Chandra paling semangat mengusul kegiatan pagi ini.


Pak Budiono malah berdecak tidak senang. “Kamu ini mendukung aku makan gaji buta ya, Chandra?”


“Loh? Kan lumayan, Pak. Kami senang, bapak tetap gajian.”


“Menyesal aku kasih kau nilai 89 di rapot kemarin.”


“Puji Tuhan dikasih nilai 89 meski planga-plongo sama fisika.”


“Tidak habis thinking aku.” Geleng-geleng kepala Pak Budi menghadapi anak muridnya yang satu ini. “Kita belajar aja lah ya?”

__ADS_1


“JANGAN PAAAAKK!”


Memang kalau sudah urusan 'belajar', apa yang bisa Pak Budiono lakukan kalau satu kelas mendadak menjadi prajurit paling kompak se-Indonesia, menolaknya dengan alasan, "kan masih hari pertama sekolah paaak!"


__ADS_2