Jika Aku Boleh Bermimpi

Jika Aku Boleh Bermimpi
BAB 7 - Lumayan, Bisa PDKT


__ADS_3

El menoleh begitu Karin menutup pintu kelas. Gadis itu berjalan gontai ke sampingnya dengan wajah lelah yang sama, yang El lihat saat dia melamun sambil mencoret belakang buku.


“Dihukum berdua deh.” Ntah keajaiban darimana Karin membuka obrolan duluan. Apakah El pernah menyelamatkan dunia tanpa sadar?


“El udah selesai?” Apa dia baru aja ditanya?


“Bahasa Inggris? Udah.” 


“Sama dong.”


“Berarti kita planga-plongo doang di sini sampai pulang.” Celetuk El, tidak tahu kalau hal seperti itu justru membuat Karin terkekeh.


Tanpa sadar, El menggaruk telinganya yang tidak gatal. Kalau dilihat-lihat, cewek itu masih sama lucunya seperti dua tahun lalu.


Dari pintu kelas lain, Pak Budiono keluar diekori Timo dengan laptop dan kabel cas memenuhi tangannya.


Sontak El dan Karin membuat jarak, menunduk sopan saat orang-orang itu melewati mereka.


“Eehh kalian ini, baru masuk sekolah udah malu-maluin aku 'ja!"


Pak Budi menghela napas dramatis. Sebagai wali kelas, dia tidak sanggup melihat El membuat gestur minta maaf dan Karin membentuk peace.


“Pelajaran siapa sekarang?” Tanyanya.


“Miss Jinny, Pak.”


“Ooh pantesan...” Pak Budi tidak heran jika nama itu disebut. Sejak empat tahun mengajar di SMA Panjalu, Miss Jinny cukup terkenal dengan menghukum murid. “Ya udah, jalani aja. Lumayan ‘kan El? Bisa PDKT sama Karin.”


“Salah, Pak.” Timo menyahut.


“Oh iya. CLBK maksud saya.” 


Dengan santai, Pak Budi berlalu bersama Timo yang terkikik geli. Kedua orang itu mengintip sebentar dari balik dinding sebelum menuruni anak tangga. 


Karin mendesis. Tidak lama kemudian, suatu getaran terasa dari balik saku celana El.

__ADS_1


“OSIS?” Gumamnya.


Begitu mengecek Whatsapp, ia terpaku melihat  sebuah foto antara dirinya dan Karin terkirim di grup itu. Di bawahnya, Timo menulis ‘cieee’ dengan banyak emotikon hati warna-warni.


Baru saja Gabriel hendak mengetik balasan, Timo segera menarik pesan.


Timo : sorry salkir guys WKWKWK


El menutup ponselnya.


“Kenapa El?”


“Rapat.” Tidak mungkin El memberitahu Karin kalau Timo diam-diam memotret mereka dan membagikannya ke groupchat OSIS. Bisa-bisa semakin canggung hubungan mereka nanti.


Lagian dia tidak bohong. Hari ini memang ada rapat OSIS.


“Pasti tentang event bulan depan," tebak Karin.


“Benar." El tersenyum salah tingkah. Rupanya Karin masih ingat dengan jadwalnya. "Benar... dan salah."


“Yang kami bahas itu tentang event bulan depan dan event dua bulan lagi."


“Dua project sekaligus?!”


El mengangguk. Sejak menjadi OSIS Inti, ia jauh lebih sibuk dari kegiatan siswa SMA pada umumnya. 


Karin ingat sekali–terutama saat awal pandemi dan mereka masih pacaran. El jarang, bahkan tidak pernah menghubunginya karena rapat, rapat, dan rapat membahas program kerja OSIS.


Itu baru membahas, belum eksekusinya. Emang gimana pas hari eksekusi datang? Jangan harap kalau hari itu bisa leha-leha sambil senyum lebar.


Hari eksekusi itu jaaauh lebih melelahkan. El dan teman-teman OSIS-nya harus brainstorming, mondar-mandir ke sana-sini, dokumentasi, mencatat, jualan untuk pemasukan OSIS, belum lagi harus membagi waktu untuk mengerjakan tugas sekolah, dan lain-lain.


Super duper sibuk.


Sampai lupa kalau ada seseorang yang menunggu kabarnya setiap malam, sebelum tidur.

__ADS_1


Hmm...


Kalau mengingat hari itu lagi, Karin pikir wajar saja jika El memutusinya. Memang siapa yang kepikiran pacaran jika ada yang lebih penting, menyenangkan, dan menguntungkan untuk diri sendiri? El bisa mengembangkan diri, membuat CV-nya semakin menarik untuk daftar SNMPTN, dan mendapat relasi yang sangat bagus dan luas. 


Semua itu adalah keuntungan yang El dapatkan ketika melepaskannya, seorang gadis cebol berpengetahuan standar yang cuma punya skill melukis. Temannya pun itu-itu saja, tidak bisa dibilang relasi yang bagus dan tidak bisa juga dibilang jelek. Standar. Karin cukup tahu diri untuk bersanding dengan cowok sehebat Gabriel. 


Oh, kenapa juga dia berpikir untuk bersanding dengan El? Nggak mungkin 'kan dia gagal move on?


“Karin?”


“Hah? Iya?” Karin langsung tersadar dari lamunannya yang menyeramkan. “Iya? Kenapa El? By the way semangat ya OSIS-nya, pasti bakalan capek–” 


El menarik tangannya tiba-tiba, membekukan Karin saat cowok itu menyentuh jempolnya yang memerah.


Lalu menekannya kuat-kuat.


"Ouch!"


“Sakit?” 


“Sakit.” Karin mengangguk. Baru sadar kalau lapisan terluar kulinya sudah lecet. “Nng… kayaknya harus dibersihin pakai–HAHHH! Kamu ngapain!!!”


Hampir saja roh Karin melayang ketika El tahu-tahu menghisap jempolnya. Digamparnya cowok itu berkali-kali sampai tangannya terlepas, membuat El mengaduh kesakitan bersama dering bel pulang sekolah.


Akhirnya jempol Karin terbebas dari jeratan mulut El, tapi salivanya yang melumuri kulit membuat cewek itu merinding.


“IIIHHHH EL JOROK!!!"


Cepat-cepat dia melarikan diri ke toilet perempuan untuk membersihkan jempolnya dari lendir dosa-dosa El. Tidak peduli kalau cowok itu berteriak memanggil namanya dengan wajah memerah padam dan harga diri yang hancur berantakan, dengan Miss Jinny menatapnya tajam di ambang pintu kelas.


El menunduk sopan kepada Miss Jinny, kemudian memalingkan wajahnya dari anak-anak kelas.


Aku ini kenapa sih?!


...****************...

__ADS_1


__ADS_2