
Sesekali Sandra melirik ke gadis di sampingnya, Agnes, yang masih tidak membuka suara.
Sejak mengikuti dia dan Karin ke Kantin, mereka tidak berbicara apapun hingga seseorang mengejutkan mereka.
“DOR!”
“ANNNN–” Karin menahan kata yang hendak disemburkannya pada Chandra saat El tahu-tahu menarik paksa pergelangan tangannya ke tempat lain.
Cekrek! Bunyi kamera Valerian lagi membuat jantung Sandra melompat.
Cewek itu menarik napas dalam-dalam sebelum matanya tersenyum paksa.
“Gabut ya?” tanya Sandra penuh kesabaran. Dicubitnya pinggang Chandra yang reflek berteriak sakit.
Sebelum cubitan maut itu mendarat dipinggang Valerian, cepat-cepat dia menghentikan cewek itu dengan menunjukkan hasil potretnya.
Api membara dikedua mata Sandra seketika berkilauan. “IIHH lucu banget mereka berduaaa! Nanti kirim ke whatsapp-ku ya?”
“Sippp.” Valerian mengacungkan jempol. Diam-diam bersyukur karena Sandra tidak jadi mencubitnya.
Tanpa sadar Vale menoleh ke gadis berkacamata pink di samping Sandra. Sebelah alisnya naik, tidak menyangka kalau si juara paralel sekolah berada di kantin. Bukan menundukkan kepalanya pada buku bacaan seperti biasa.
Tumben?
“Agnes udah keluar goa ya?” Celetuk Chandra sambil mengetuk buku tebal yang gadis itu bawa. Agnes langsung menepisnya. “Wuiss santai-santai. Nggak bakal rusak kok.”
“Nggak bersih.”
Mata tajam Agnes seolah mengiris Chandra hingga ke tulang-tulang. Setelah lama memutuskan, akhirnya dia memilih pamit.
“San, aku balik ya.”
"Hah?" Sandra tersentak. Seolah hal ini lebih mengejutkan daripada jepretan kamera Vale. “Nggak mau makan bar–”
“Nggak.” Potong Agnes cepat.
"Tap—"
"Aku nggak mau ganggu kalian."
Sandra terdiam. Sedangkan si balik masker pink yang menutup mulut Agnes, gadis itu diam-diam tersenyum tipis.
Ditatapnya Sandra, Chandra, lalu Vale lama sebelum pergi dari hadapan mereka.
Valerian menatap punggung Agnes yang semakin kecil seiring menjauhi kantin. Ntah mengapa kepergiannya meninggalkan pesan tersirat yang telalu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Atau ini cuma perasaan Vale saja?
"Padahal aku nggak ngerasa keganggu..." Sandra bergumam tidak enak.
Chandra mendecak. "Udah lah, nggak usah ngajak orang yang nggak mau diajak."
"Nggak boleh gitu, ndra."
"Lagian nggak baca buku sehari juga nggak ngaruh ke peringkat dia, San."
“Iya sih.” Sandra mengangguk setuju.
Omong-omong, perutnya merongrong seperti anjing sekarang. Sandra meringis. Kalau menunggu Karin, bisa-bisa dia mati kelaparan.
"Kalian mau makan nggak?” tanyanya pada Chandra dan Vale.
Si cowok berkamera menggeleng, sedangkan cowok satunya menyisir rambut ke belakang sok malu-malu.
__ADS_1
“Kalau kamu traktir sih aku makan.” kata Chandra sebelum sedetik kemudian mengaduh digaplok Sandra.
“Yeeeuuu traktir-traktir… situ orang kaya malah nggak pernah nraktir!”
“Kalau kata asuk, San, cuma bapaknya yang kaya.” Valerian bertos-tosan dengan Chandra yang terharu merasa dibela.
"Nih baru temenku nih! Emang cuma kamu yang mengerti aku, Val!"
“Makanya minta sama Papa kamu!” kata Sandra menggaplok Chandra sekali lagi.
Ia berlalu duluan sehingga tidak mendengar ringisan setengah bercandanya.
“Iya kalau 'dia' ingat punya anak!”
Sandra memutar bola mata. Daripada mengobrol dengan kutu loncat dan ulat kepompong itu, lebih baik dia memesan makanan sekarang.
Kira-kira makan apa ya yang enak? Mie ayam? Sudah pernah. Nasi goreng? Bosan. Hadeh… memilih adalah musuh terbesar zodiak Cancer.
By the way, cewek itu baru sadar. Kalau di sini ada Vale, Chandra, dan El. Maka di mana kah kekasih tersayangnya itu?
OSIS? Bibir Sandra mengerucut tidak yakin. Vale dan El yang anak OSIS saja sedang tidak ada urusan. Mereka malah keliaran seperti pengacara (pengangguran banyak acara), lalu di mana Timo? Ngabarin pun nggak ada.
Sandra mengendik bahu. Mungkin dia sibuk urusan lain, who knows? Cukup sudah memikirkan hal tidak penting, sekarang dia sangat kelaparan!
Kedua mata Sandra pun mengedar ke sepenjuru Kantin, mencari stan mana yang akan dia datangin untum dibeli masakannya. Haruskah Sandra capcipcup saja supaya tidak buang-buang waktu?
Akhirnya perhatian Sandra berhenti di stan soto kak Wenwen.
Bukan untuk membeli soto yang enaknya tiada tara itu, tetapi karena Timothius terlihat di sana... tengah berbincang dengan seorang gadis cantik.
...****************...
Gabriel membawa Karin ke tangga di samping ruang UKS. Meskipun jaraknya tidak jauh dari Kantin, setidaknya tangga ini jarang dilewati anak SMA Panjalu.
"Kenapa sih? Mau ngomong apa?!” Karin melepaskan tangannya paksa.
Wajah garangnya menciut ketika El melangkah mendekat. Aura kegelapan yang menguar dari tubuh cowok itu seolah ingin menundukkan kucing jalanan sok galak yang kini cengengesan tidak nyaman di hadapannya.
“El?” Karin diam-diam menegak saliva. Seumur hidupnya mengenal Gabriel Yudhistira, tidak pernah sekaliupun dia melihat kekesalan yang sangat tergambar di wajah datarnya.
"El… nggak lapar?”
“Nggak.”
“Oohh nggak lapar…” Kaki Karin akhirnya terpojok di dinding. Mampus. Tubuh besar El semakin mendekat. “Tapi aku lapar–”
“Katarina.”
"Ya?"
"Karin."
“Apa cuy?"
El akhirnya berhenti, tepat dua jengkal dari tubuh Karin.
Sorot mata tajamnya pun berubah sendu. Karin merasa tercekik, takut melihat perubahan besar itu.
"Aku minta maaf." El benar-benar membuatnya tidak bernapas.
“Di-dimaafin.”
“Serius.” El mendekat selangkah. Karin bersiap pergi ke Yang Maha Kuasa. “Jangan main-mainin aku..."
__ADS_1
El menunduk dengan telinga memerah padam. Kemarin dia tidak fokus rapat memikirkan kejadian memalukan itu. Malampun dia habiskan untum overthinking, takut jika Karin menghindar atau tidak memaafkannya.
El tidak mau jika jarak mereka yang sudah jauh menjadi semakin jauh. Apalagi dia duduk sebelahan dengan Karin untuk satu semester, atau gimana jika mereka satu kelompok nantinya? Keadaan itu sangat tidak mengenakan.
Merasa tidak mendengar kata apapun yang keluar dari mulut Karin, El rasa cewek itu benar-benar tidak mau memaafkannya.
"Rin, aku juga nggak tahu kenapa aku ngelakuin itu."
"Oohh gitu..." Keringat Karin mulai menyucur dari pelipis. Dia harus mengambil napas.
Karin melangkah satu kali ke samping.
El mengikut.
“Sumpah, itu reflek. Lagian kamu ngapain sih ngutil-ngutil kuku begitu?"
"Ya mana kutahu! Kamu sih!"
Karin melangkah lagi ke samping.
El mengikut.
"Aku kenapa? Jangan ngehindar!"
"Kamu bikin deg-degan!"
Karin melangkah lagi ke samping, El mengikut lagi.
Cowok ini ngapain sih? "Jangan ikut-ikut! Kan kamu udah aku maafin!"
"Kalau gitu janji nggak kabur lagi?"
Belum juga Karin melangkah ke samping, El lebih dulu mengunci pergerakannya sampai bunyi ceklek pintu UKS nyaris menjatuhkan Karin.
Dengan gesit El menarik gadis itu hingga jatuh ke pelukannya.
Karin membelalak.
“KALIAN NGAPAIN?”
Kak Adele, seorang penjaga UKS yang sangat menolak dipanggil ‘ibu’ berteriak histeris, membuat Karin reflek mendorong tubuh El yang terantuk ke dinding seberang.
Dengan lipstik merah menyala dan mata melotot, kak Adele keluar dari ruang UKS seperti singa hendak mengamuk.
“Mau kamu apakan cewek ini? HAH?”
“Maaf kak.” El menunduk minta maaf seperti yang dia lakukan pada Pak Budi kemarin siang. “Saya nggak bermaksud ‘aneh-aneh’.”
“Nggak bermaksud ‘aneh-aneh’? Sedang mengaku kamu ya?”
“Saya pamit kak.” El menatap Karin yang segera dihadang wajah menyeramkan kak Adele. “Karin, nanti kita omongin lagi.”
“Omongin apa?! Jangan macam-macam kamu sama perempuan atau Kakak laporin ke wali kelas!” Kak Adele menunjuk wajah tidak peduli Gabriel yang langsung membalik badan.
Sementara penjaga UKS itu mencerocosi Karin dengan berbagai pertanyaan tentang keadaannya, Karin tersenyum sambil menggeleng pelan, memberitahu ibu–maksudnya kakak itu bahwa dia sungguh tidak apa-apa.
Diam-diam, Karin menatap kepergian El dengan perasaan tidak enak. Maaf, El.
...****************...
__ADS_1