
Akhirnyaaa pulang sekolah juga!
Karin melenturkan otot-ototnya yang terik. Hari ini hanya dua mata pelajaran, Fisika dan Biologi. Membuat semua murid bernapas lega karena SMA Panjalu pulang lebih awal dari biasanya.
Akan tetapi, napas lega itu hanyalah sesaat sampai bayangan wali kelasnya, Pak Budi, melintas di kepala.
Bel ganti pelajaran berbunyi. Satu kelas bersorak girang seolah menunggu-nunggu kepergian Pak Budi. Guru itu hanya masuk untuk memberitahu kalau dia lah wali kelas ini, lalu menunjuk Ketua Kelas sementara dan Sekretaris, Chandra dan Sandra.
Sebelum pintu kelas ditutup, wajahnya menyalip dengan senyuman licik.
“PR!”
Atas ide Sandra, Karin dan teman-temannya pun sepakat untuk mengerjakan tugas fisika sambil makan bersama. Saat itu Chandra iseng mengajak si orang kaya, Quin, ke WKT (Warung Kopi ‘Terserah’).
Mengejutkan! Cewek yang biasanya nongki di kafe mahal justru menolak ajakan teman-teman sosialitanya, kemudian duduk di belakang motor besar Chandra dengan gerakan anggun. "Yuk, aku juga mau nyontek fisika."
Di sini lah mereka sekarang.
“Suk, kopi pancong satu, ya!”
“Satu jak? Nanti tak cukup ‘o?”
Chandra berdecak. Ditatapnya asuk Jinjing, bapak-bapak pemilik warung kopi yang sering mendengar keluh kesahnya itu.
"Satu aja, suk."
"Yakin, ndra?" Asuk Jinjing mencoba meyakinkan. Sering kali dia menjebak Chandra untuk membeli lebih banyak kopi dengan trik ini. "Aku kasih kau diskon hari pertama sekolah lah."
“Nggak mau. Tambah gorengan aja kalau gitu.”
“Gorengan tadak diskon. Nasi lah. Mana kenyang perut kau makan gorengan?”
“Heee… bapak-mamakku 'ja ndak peduli kalau aku makan batu. Ya udah, tambah gorengannya dua. Nggak usah diskon, banyak duit aku!”
“Bukan duit kau, duit bapak kau."
Asuk ini selain suka mengorek dompetnya, dia juga suka mengejek kustomer langganan. “Dah, pergi sana. Giliran orang belakang. Siang, kawannya anak kurang ajar ini, ya? Mau makan apa?"
“Kok sama kawanku dilembutin?” keluh Chandra tidak terima. “El, rin, Timo, Quin juga pesan gih. Biar aku yang cari meja.”
“Pesan di sini? Emang nggak duduk dulu nunggu pelayan?” tanya Quin bingung. Ini kali pertamanya nongkrong di Warung Kopi.
__ADS_1
El menatap satu per satu makanan dan minuman didaftar menu. Sejujurnya dia bingung ingin makan apa siang ini. Seingatnya, Karin pernah bilang kalau cewek itu suka makan ayam geprek. Apa dia beli ayam geprek saja?
“Mie ayam ada nggak, suk?” tanya Karin, mengalihkan El dari daftar menu asuk Jinjing. Apaan sih, El? Emang kapan Karin suka geprek?!
Timo yang mendapat telepon Sandra segera mengetuk bahu cewek itu.
'"Kenapa, Tim?”
“Aku mau jemput Sandra. Punya kami samain aja pesanannya dengan kalian. Nanti kasih tahu nominalnya berapa ntar aku bayar.”
“Oh? Oke.”
“Oke, bye guys!"
“Rin-rin." Begitu Timo pergi, gantian Quin yang berbisik memanggilnya. “Di sini nggak ada hitungan kalorinya berapa ya? Aku nggak mau gendut.”
“Ada salad kok, Quin.”
“Salad? Salad buah apa sayur?”
Karin berkedip. Salad buah atau sayur? Dia tidak pernah membelinya. “Kurang… tahu sih.”
“Aish! Pusing. Aku ke tempat Chandra aja–”
Quin tampak menimbang-nimbang. Dia tidak tahu apakah makanan dan minuman terjamin kebersihannya di tempat seperti ini? Warung kopi terbuka dengan speaker dangdut ber-volume kecil, dipenuhi anak-anak remaja dari berbagai SMA yang duduk memaki satu sama lain karena kalah main game.
Glek. Bahu Quin merinding. Ada juga remaja yang merokok sambil main kartu UNO–meskipun duduknya sangat jauh dari meja yang Chandra tempati.
Yah… kalau perut Chandra saja bisa menelan makanan dan minuman di sini, kenapa Quin tidak?
“Samain.” Akhirnya dia memutuskan. “Aku… samain aja dengan kalian.” Hitung-hitung pengalaman.
Quin segera melipir ke tempat Chandra duduk, meninggalkan Karin dan El berdua di hadapan asuk Jinjing.
Suasana rumit di tengah El dan Karin belum juga lurus. Ada rasa canggung yang mendindingi mereka walau sama-sama tahu, jika keduanya harus mengabaikan status ‘mantan pacar’ ketika berada di tengah teman-teman sekelas.
“Geprek.” El akhirnya mengangkat suara. “Sama teh es.”
“Teh es juga, suk, semuanya.”
Setelah asuk Jinjing mengulang pesanan mereka, Karin mengonfirmasi semua makanan dan minuman dan El membayar total keseluruhannya. Berterimakasih, mereka pun pergi ke tempat Chandra dan Quin duduk.
__ADS_1
Asuk Jinjing memberitahu istrinya tentang makanan yang anak-anak muda itu pesan. Sudut bibirnya tersenyum melihat sekaku apa dua sejoli itu selama berjalan beriringan ke meja Chandra.
Ah… mengingatkan ke masa mudanya saja.
“Tuh, Karin aja nggak semprot-semport sanitizer ke meja-kursi.” Sindir Chandra pada cewek di sampingnya.
Quin mengancang-ancang hendak memukul. Dari tadi pagi, cowok berkulit kecokelatan di sampingnya ini senang sekali mengejeknya ‘cewek freak’.
“Suka-suka aku dong mau nerapin protokol kesehatan!"
“Nggak sekalian mandi disinfektan di sini, neng? OUCH!”
“Rasain!” Puas Quin. Tidak sia-sia dia belajar boxing selama sekolah online. Rupanya berguna juga untuk memukul lengan Chandra hingga cowok itu tergeletak dramatis di atas meja.
Gabriel geleng-geleng. Chandra ini… padahal badannya berotot, tubuhnya tinggi tegap, dan bahunya seluas samudra. Tapi kalau Quin sudah menjadikannya samsak tinju, cowok itu mendadak pasrah dan menerima kenyataan.
Tidak berselang lama, gerobak dorong pun datang bersama makanan dan minuman mereka. Istri asuk Jinjing, a’i Susanti tersenyum cerah melihat wajah-wajah kelaparan yang menunggunya.
Chandra berbinar. “Kamsia ya a’i!”
“Xiexie ni!” seru Karin bersemangat. Perutnya sudah keroncongan sejak bel pulang sekolah.
Sementara Chandra membantu membagi-bagikan makanan dan minuman ke teman-temannya, a’i Susanti mengucapkan sama-sama dalam bahasa Mandarin dan meminta mereka untuk sering-sering datang ke warung kopi ini.
“A’i!” seru Chandra, menahan a’i Susanti pergi. “Ini, mie ayamnya kelebihan.”
E-eh? "Kamu nggak pesan mie ayam juga?”
“Nggak, cuma gorengan dua sama kopi. Mereka aja yang makan mie ayam.”
“Loh? Trus kenapa Jinjing bilang kamu pesan juga?” Apakah suaminya itu mulai pikun? “Untuk kamu aja lah, ndra. Gratis.”
“Hah? Nggak usah a'i—aduuuh om-om itu. Nanti aku tambah deh bayarnya."
“Eeehh nggak perlu, nggak usah. Sekali-kali kamu ngerasain makan gratis. A’i pergi dulu ya, banyak orang mau beli.”
“A'i? A’i!”
Chandra berdecak. A'i menolak bayarannya sehingga mau tidak mau ia duduk dan mengambil sumpit. Pokoknya aku harus bayar mie ayam ini sebelum pulang nanti.
Chandra tidak terbiasa makan gratis. Serius. Bukannya dia sombong, karena selain tidak mau merugikan warung kopi yang susah payah suami-istri itu pertahankan–apalagi saat masa pandemi begini, ia merasa terbebani.
__ADS_1
...****************...