
Tidak terasa, dua tahun telah berlalu.
Jantung Karin berdegup kencang. Hari ini dia duduk dikelilingi orang-orang yang menikmati karya seni. Dari bocil (bocah kecil) hingga jompo berdatangan, mengamati hasil lomba lukis bertema ‘Harapan’ yang diselenggarakan oleh Panitia Museum Kalimantan Barat.
Karin tersentak saat ayah menepuk punggung tangannya.
“Jangan gigit-gigit jari,” peringat ayah. “Lihat kukumu itu… sampai lecet.”
Segera saja Karin mengecek jarinya. Oh, perkataan ayah memang benar. Kukunya lecet. Seperti sepatu lama yang kulitnya sedikit mengelupas.
“Nggak sadar, yah." Karin cengengesan. “Selesai ini nggak lagi.”
Lidah ayah berdecak. Karin itu dimulut saja berjanji tidak akan mengulangi, nantinya pasti tidak sadar akan menyakiti jarinya lagi.
Pria itu menghela napas.
“Ayah tahu kamu cemas.”
Ayah tersenyum, menatap penuh kemudian mengambil punggung tangan anaknya, mencoba menyalurkan kekuatan.
“Ayah ngerti kalau kamu takut nggak menang, secara ayah sendiri lihat gimana seriusnya kamu melukis karya ini. Gimana kamu lupa dunia karena fokus menarikan kuasmu di kanvas. Gimana kamu kelaparan karena di tengah melukis, berapa kali bundamu bolak-balik kamar ngingatin kamu makan, tapi kamu bilang bentar-bentar-bentarrrr mulu sampai bundamu marah. Well, kalau jadi kamu pun ayah pasti sama cemasnya. Cemas sekali.
Tapi ingat Karin...
Apapun hasilnya nanti, nggak peduli menang atau kalah, kamu tetaplah pemenang setelah banyak hal yang kamu pelajari dari lomba sebelumnya. Kamu tetaplah pemenang ketika kamu belajar dan menjadikan momen ini untuk berkembang. Paham? Santai dulu gak sih?”
Karin terkekeh. Bibirnya barangkali tertawa, tetapi matanya menunduk, menyembunyikan haru karena kalimat-kalimat ayah begitu menghiburnya.
“Santai dulu ye gak?”
Meski ayah sudah menenangkannya, Karin tidak bisa mengelak jika dia masih gugup. Apalagi saat panitia akhirnya mengumumkan pemenang lukisan, jantungnya semakin berdetak kencang.
Ini yang ditunggu-tunggu.
Juara harapan tiga pun diumumkan. Seorang gadis remaja SMP dengan bakat luar biasa berjalan dihamparan tepuk tangan menuju lukisannya di panggung. Begitu pula juara harapan dua yang dipanggil dan berdiri bersamanya di sana.
Karin terperangah. Tidak heran orang-orang itu meraih kejuaraan. Ketika panitia membuka kain yang menutupi kanvas mereka, bibir Karin tidak henti menggumam "woah..." begitu melihat lukisan mereka.
“Juara harapan satu.”
Mendadak sebuah tongkat menggendang dada Karin lebih cepat. Selama ini lukisan Karin rata-rata berada di jejeran juara harapan. Setidaknya jika tidak masuk tiga besar utama, gadis itu masih ingin mendapat piagam harapan.
“Lukisan ‘Menembus Langit’ karya Samuel Giovanno. Selamat, silahkan naik ke atas panggung!”
__ADS_1
Tepukan penonton lagi-lagi menggema riang ke seluruh ruangan. Berkebalikan dengan bahu Karin yang merosot.
Bagaimana ini? Namanya tidak disebut.
Karin tidak tahu apakah dia masih bisa berharap? Jujur, dia tidak sepercaya diri itu menginginkan dirinya berada dikejuaraan tiga besar.
“Sekarang, saya akan mengumumkan tiga pemenang utama. Makin berharap nggak nih?”
Pertanyaan panitia benar-benar tidak berguna. Karin sudah lemah duluan.
“Pemenang lomba melukis bertema ‘harapan’, juara tiga," Panitia tersenyum kepada audiens yang sudah menunggu tidak sabar. “Lukisan ‘Biarkan Aku Terbang Tinggi’ karya Katarina Kusumaputri! Selamat , silahkan naik ke atas panggung!"
Kedua mata Karin membelalak. Apa namanya disebut? Apa dia tidak salah dengar?
Karin menengok ke ayah, pria itu bersemangat mencoba menyadarkan Karin bahwa dia menang. Cewek itu beralih melihat sekitar. Melihat orang-orang bertepuk tangan sambil menatapnya memberi selamat.
Karin tidak tahu apakah dia bermimpi di siang bolong lagi atau tidak? Lukisannya menang? Namanya dipanggil? Dia juara?
“A… aku?”
“Iya, kamu!” Ayah mengibas-ngibas tangan menyuruh Karin pergi ke depan. “Cepat, ambil hadiahmu sana. Cepat-cepat!”
Meski masih diambang ketidakpercayaan, Karin beranjak dari bangku dengan senyum ramah sekaligus canggung. Tepukan tangan penonton mengiringnya seiring melangkah ke panggung. Seorang panitia datang, memberi Karin hadiah sementara di sisi lain, ayah buru-buru membuka ponsel untuk memotret anaknya.
...****************...
“Cieee juara tiga lomba lukis cieee!”
Karin senyam-senyum sombong saat Alessandra Deepa menyamakan langkah mereka. Cewek itu merangkul lehernya, nyaris mencekik andai Karin tidak segera menepuk-nepuk lengan Sandra.
“Akhirnya Karin nggak juara harapan lagi, jadi bisa dipamerin di IG official sekolah deh!” Sandra mengibas rambut, seolah yang juara adalah dirinya. “Bayangin ya, rin. Kalau aja kita lagi nggak pandemi... beuh! Pasti kita udah upacara sekarang. Trus kamu dipanggil kepsek ke depan, dipamerin prestasinya ke seluruh murid-murid, lalu mantanmu yang kayak knalpot mobil bekas itu–”
“Untung lagi pandemi!” Karin segera memotong sebelum sahabatnya itu mengkhayal jauh-jauh. “Dan untung kamu menang taruhan! Bayangin ya, Sandra. Kalau aku nggak masuk tiga besar lomba lukis pasti udah kusuruh kamu dangdutan pas upacara!”
“Ah, untung lagi pandemi. Thanks my lord, Jesus Christ, karena Engkau sudah memihak anakmu–.”
“Yang penuh dosa ini–”
“Sehingga Katarina Kusumaputri harus nurutin satu permintaan Alessandra Deepa sesuai perjanjian taruhan kami HAHAHA–hai sayaaanggg!”
Sandra melambaikan tangan pada laki-laki yang datang dari arah berlawanan. Seorang cowok tinggi dengan sweater rajut biru tersenyum senang. Langkahnya yang lesu mendadak penuh semangat, menghampiri Sandra yang segera melepas rangkulan leher Karin begitu saja.
Gadis itu tersenyum lebar, cepat-cepat melangkah menuju cowok itu dengan tangan merentang bersiap untuk berpelukan.
__ADS_1
Sebelum suara nyaring dari belakang menghancurkan mereka.
“KOPID-KOPID! GA BOLEH PACARAN!”
Kalau ada suara yang lebih menyebalkan dari bel masuk sekolah, mungkin Chandra Sanjaya adalah pemiliknya.
Chandra terpaku ketika Timothius Manggala (pacar Sandra) menatap cowok itu garang. Ia tersenyum sopan dengan kedua tangan mengatup meminta maaf, sebelum kabur dikejar Timo hingga ke koridor sebelah.
“WOI CHANDRA! JANGAN LARI KAMU!” Timothius berteriak dengan langkah besar. Ia harus menghukum sahabatnya itu atau Chandra semakin terbahak bahagia.
Sementara di koridor 12 MIPA, bola mata Sandra memutar sebal.
“Mereka ini nggak ingat apa ya kalau udah kelas 12?” Sandra heran.
Pemandangan Timo dan Chandra saling usil-usilan bukanlah hal asing. Sejak kelas 10, mereka selalu menempel dan membercandai satu sama lain. Sudah lama Karin dan Sandra tidak melihat pemandangan ini. Ntah apa yang akan terjadi jika pemandangan lainnya menghiasi sisa waktu kelas 12 mereka. Ini baru berdua, belum berempat! Mungkin Karin dan Sandra bisa stres melihatnya.
Oh iya, selain Timo dan Chandra, di mana dua orang lainnya?
Tanpa sadar Karin menelisik ke segala arah, mencari keberadaan dua orang lagi yang belum melengkapi keusilan Timo dan Chandra. Biasanya mereka selalu berempat. Ibarat makanan nasi padang, kalau rendangnya tidak ada pasti terasa kurang, kan? Baik Karin maupun Sandra merasa ada yang kurang melihat cowok-cowok itu tidak ada.
Tiba-tiba Karin seolah dibangunkan ke dunia nyata. Bentar, buat apa aku nyari mereka? Toh tidak ada gunanya juga jika cowok itu akhirnya muncul ke permukaan. Mendadak, Karin merasa banyak membuang-buang waktu memikirkan orang yang tidak memikirkannya.
Karin bahkan baru sadar kalau tasnya sangat berat.
“San, aku simpan tas dulu ya.” kata Karin memberitahu Sandra.
“Wokee!”
Karin mendadahi sahabatnya yang masih membopong tas di depan kelas. Cewek itu pasti diminta Timo untuk menunggunya datang. Alasannya agar bisa membawakan tas Sandra sehingga kekasihnya tidak pegal-pegal.
“Sandra, kamu jangan bawa yang berat-berat lagi ya? Biar ayangmu ini aja yang bawain. Kan aku kuat! Pokoknya kalau kamu ketahuan bawa, kita nggak jajan cimol sebulan!”
Karena Sandra lebih takut tidak makan cimol sebulan, ia pun memilih untuk menuruti cowok bucin itu dan membiarkannya membawakan tas.
Sandra tahu sih kalau dia bisa beli cimol sendiri. Tapi, “kalau dia mau bantu atau mau traktir kenapa aku nolak? Ini tuh bare minimum, Karin. Bare mi-ni-mum!”
Well, terserah Sandra dan Timo. Lagian itu urusan mereka, mengapa Karin yang pusing? Lebih baik dia menyelamatkan bahunya dulu karena tas sekolahnya jauh lebih berat ketimbang beban ekspektasi keluarga. Buset.
Karin berbalik badan. Baru saja hendak menarik handle pintu, sebuah tangan besar menyerobotnya sehingga pintu terbuka lebar.
Begitu Karin menoleh, ia mendapati mata tajam yang juga menatapnya, dengan tidak masuk akal membekukan langkah mereka.
......***......
__ADS_1