Jika Aku Boleh Bermimpi

Jika Aku Boleh Bermimpi
BAB 8 - Teman Baru


__ADS_3

...****************...


Sandra terpingkal-pingkal mendengar cerita Karin tentang kelakuan El yang ajaib. Kasihan sekali kulkas Samsung itu. Niat ingin membantu malah berakhir malu.


Mana mantannya nggak peka lagi. “Dia tuh peduli sama kamu, rin!”


“Peduli? Ini kamu bilang peduli?!”


Karin tidak terima. Ditatapnya jempol yang sudah dicuci berkali-kali itu dengan wajah mual.


Oh… Ini kah yang namanya trauma?


“Kalau si El nggak peduli, kenapa dia repot-repot buka masker buat bantuin kamu?" Sandra cukup masuk akal. "Padahal tahu sekarang lagi pandemi, kalau dia terinfeksi virus–”


“Sembarangan!”


Karin ingin sekali menampol sahabatnya yang menghindar seraya terkikik. Bagus. Gara-gara cewek itu, sekarang dia jadi kepikiran.


Meskipun Karin tidak positif Covid-19, bagaimana karenanya, El malah terinfeksi?


Bagaimana jika El isolasi mandiri? Bagaimana jika El masuk rumah sakit? Bagaimana jika tabung oksigen sudah habis dan El sesak napas? Bagaimana jika suster terkecoh dengan wajah gantengnya lalu melakukan hal tidak-tidak—


“Ayaaang!”


Sandra berbalik sebentar untuk merapikan rambut sebelum menoleh cantik ke Timothius. Cowok itu menyapanya dari koridor ruang guru. Dengan kibasan tangan meminta gadis itu menghampiri, Sandra melambai bak putri kerajaan sebelum (lagi-lagi) meninggalkan Karin.


Waaah si monyet itu! Benar kata Chandra kemarin, sudah waktunya jomblo meninggalkan bumi karena dunia cuma milik mereka berdua!


Menuruni anak tangga sendirian, langkah Karin semakin cepat mendapati El tahu-tahu muncul di dekat Timo.


Kabur-kabur-kabur! “Hai Timo, El, Vale! Hai juga Agnes! Haiii!”


Karin melambaikan tangannya pada siapapun yang dia lihat di koridor lantai utama, membuat El yang namanya disebut reflek mencari keberadaannya lalu mengangkat tangan menyapa.


Jujur, dia tidak tahu apakah Karin baik-baik saja atau diam-diam memusuhinya sekarang. “Kar–”


“Sandra, aku duluan yaaa! Bye-byeee!"


Niatnya mengetahui kabar Karin langsung diurungkan. El berdecak kesal pada dirinya sendiri. Dilihatnya punggung Karin yang semakin kecil seiring gadis itu menjauh dari mereka.


Timo mengernyit heran. Ada apa nih? Bukannya sebelum dia membantu Pak Budi menyimpan alat-alat elektronik ke meja guru, mereka masih adem-adem saja?


Di sisi lain, Sandra yang tahu kecanggungan di antara El dan Karin memukul dada wakil ketua OSIS itu.

__ADS_1


"Haish kamu ini! Dasar enggak romantis!”


“Kamu harus belajar dari aku, El." Timothius ikut menepuk sahabatnya itu. "By the way kenapa tuh si Karin? Kalian kenapa? Kok jauhan begini sih jadinya?"


Valerian yang sedang mengecek kamera juga ikut menguping.


El tidak tahu bagaimana menjelaskan dan terlalu gengsi untuk menceritakan kejadian beberapa waktu lalu.


Apa kata orang kalau tahu dia mengkhawatirkan kebiasaan Karin yang masih suka menyakiti jempolnya sendiri? Lalu dengan tidak masuk akal, El membantunya dengan harapan bisa mengurangi rasa sakit–tanpa berpikir apakah kulitnya bersih atau tidak?


Tanpa sadar kedua kuping El memanas. Dia yakin. Sangat yakin, kalau Chandra ada di sini, orang itu pasti mengejeknya habis-habisan.


“Ada lah!” 


“Huuu nggak seruuu!” Timo mengacung jempolnya ke bawah seperti bocah SD yang main panas-panasan di komplek. 


Saat Miss Jinny keluar dari ruang guru, barulah aksi pembulian itu berhenti. “Hello, Miss.”


“Agnes, Sandra?”


Miss Jinny mencari dua orang itu tanpa memperdulikan sapaan Timo.


“Kalian boleh makan dulu, nanti sekitar jam satu kita mulai latihannya di kelas 10 MIPA-2 ya.”


“Oke, Miss.” Jawab Agnes sopan. 


“Berarti istirahat satu jam 'kan?” Tanya cowok itu sambil merogoh saku. “Udah kasih tahu orang tuamu belum?”


“Belum.”


“Ck, Gimana sih, San? Kasih tahu dulu biar kamu nggak kecapekan. Kalau latihannya belum selesai gimana? Mau telat ke tempat les?”


“Kalau aku kasih tahu nanti nggak bisa ikut lomba, sayaaang.” Sandra terkesiap ketika Timo memberinya uang lima puluh ribu. “Buat apa nih? Bayar uang kas?”


“Bukan duit kas, itu untuk kamu jajan.” 


“HAH?!”


Pak Ares, guru sejarah sekaligus Pembina OSIS SMA Panjalu akhirnya keluar dari ruang guru.


“Kenapa nunggu di sini?”


Valerian mengangkat tangan. “Kata Bang Ahmad, kunci ruang OSIS-nya sama Bapak.”

__ADS_1


“Hah? Sama Bapakmu, Val?”


Melihat Vale terdiam memproses kata-kata Pak Ares, pembina OSIS itu pun tersenyum nyengir sambil mengerincingkan kunci-kunci ditangannya.


“Yang rapat ikut saya, yang pacaran harap pamitan."


“Huuuu.” El berseru dengan jempol ke bawah, memutar balik perkataan Timo yang cengengesan pada anak-anak OSIS sebelum memelototinya.


Ia pun menoleh pada Sandra. “Pergi dulu ya. Kalau kamu udah selesai, kabarin.”


“Kamu juga kabarin.” Sandra mendadahi Timothius yang berlari menyusuli teman-temannya ke lantai atas.


Di saat itu juga, sebuah pesan masuk berdenting dari ponsel Sandra. Ia pun mengecek notifikasi, mendapati nama ‘Ibu’ tertulis di layar.


Lidahnya meringis. Tanpa mau tahu isi pesan itu, langsung saja Sandra mematikan ponselnya.


“San.”


“Hm?” 


Merasa dipanggil, Sandra pun menoleh ke belakang. Melihat Agnes, si juara paralel di setiap semester, sedang membeku sebelum pandangannya mengedar.


Gadis itu terlihat tidak tahu mengapa tiba-tiba memanggil namanya.


“Ngg… nggak jadi.”


“O… ke?” Sandra terkekeh canggung. Sebetulnya dia tidak tahu apa yang bisa dia obrolkan dengan Agnes.


Selain tentang permusuhan Agnes dengan Quin, ia tidak tahu apapun lagi tentang gadis itu.


“Kamu laper nggak?” Tiba-tiba Agnes berdiri, membopong ransel besar yang Sandra yakini berisi buku-buku tebal. 


Sandra mengangguk. “Laper sih.” 


“Mau jajan?”


“Mau lah! Kalau Agnes? Mau jajan juga?”


Sandra barangkali hanya basa-basi bertanya ‘mau jajan juga?’ pada si penyendiri-kutu buku-juara paralel pertama-Agnesius Septiani itu, tanpa tahu kalau basa-basinya akan berbuah senyuman manis Agnes yang mengatakan,


“Iya.”


Dan juga,

__ADS_1


“Mau jajan bareng?”


...****************...


__ADS_2