
“Selamat makaaan!”
Tangan El bergerak menyingkirkan rambut Karin yang nyaris masuk ke mangkuk mie ayam. Cewek itu melahap dengan perasaan kalut, sedangkan Quin dan Chandra yang melihat aksi itu pun saling melempar pandang.
“You know what i’m thinking?”
“See it in your eyes~”
“Makan, jangan nyanyi.” El merasa tersindir. Untuk siapa lagi lantunan lagu 'Die For You'-nya The Weeknd dan Ariana Grande itu ditujukan selain dirinya?
“Makasih.” Karin menepuk kecil tangan El agar melepaskan rambutnya. Yang dipegang rambut yang berantakan hati.
“Eh iya, buku fisikanya Sandra sama kamu kan, Chan?”
Yang diajak bicara malah mengernyit. “Hah?”
Quin yang sedang menjepit rambutnya pun melotot. Ditariknya kerah Chandra dengan wajah tidak percaya.
“Jangan bilang kamu lupa bawa?!”
“Bentar. Tenang… tenang…” Chandra menggenggam kedua tangan Quin agar gadis itu tidak meninjunya setelah ini. “Emang sejak kapan dia nitip ke ak–”
“Aduuuh trus gimana ngerjainnya sekarang?!”
Pusing sudah kepala Quin. Rencana mau beli skincare setelah menyelesaikan tugas fisika harus diundur sebentar. “Mana deadline-nya nanti sore lagi.”
“Santai ah masih lama.”
“Mbahmu! Lihat sekarang jam berapa?”
Chandra mengecek jam di HP. “Setengah satu siang.”
“Deadline-nya jam berapa?” Baru saja cowok itu membuka mulut, Quin langsung memotongnya. “Empat sore, ndra! Sekitar dua jam lagi! Dua jam lagi!”
“Ya udah, santuy.”
“Sant–”
Chandra menarik kedua tangan Quin hingga cewek itu nyaris terjatuh ke dadanya. Quin mematung, kaget bercampur panik menjadi satu. Begitu dia menengadah, kedua mata Chandra menguncinya begitu dalam.
“Diam juga kamu.” bisik Chandra, menyihir gadis itu sedetik sebelum seseorang mengalihkan perhatian. “Woi Timo!”
Quin langsung menarik paksa kedua tangannya dari genggaman Chandra. Menjauh, memeriksa apa yang sedang terjadi dengan pipinya hingga memanas?
Tanpa sengaja, dia berpandangan dengan Karin yang tersenyum penuh arti. Pipi cewek itu menggembung mengunyah mie.
Quin menegak saliva. Ia pun beralih, justru mendapati El yang kepergok membaca situasi yang terjadi.
Cowok itu mengunyah ayam geprek sambil mengangguk-angguk, “betul, jam empat deadline.”
Haisshhh! Mereka pikir dia tidak paham maksudnya?!
“Halo-halooo!"
Akhirnya yang ditunggu-tunggu, si pemilik buku fisika yang bentar lagi dicontekin itu datang bersama Timo.
Dengan senyum cerah, Sandra duduk di samping Timothius yang sudah menarikkan kursi untuknya.
“Haaah capek. Baru juga hari pertama sekolah udah disuruh lomba sama Miss Jinny.”
__ADS_1
“Sayang, masker.” Pinta Timo pada gadisnya. Setelah diberikan, benda bekas pakai itu dibuang ke tong sampah terdekat. “Habis makan nanti pakai yang baru.”
“Aku nggak bawa cadangan, sayang?"
“Aku ada. Pakai punyaku aja.”
Sandra terkekeh. “Makasih sayangku.”
“Sayangku?" Hehehe… memang Timo boleh salah tingkah begini? Sayangku? “Sama-sama sayangkuuuuuu.”
“Cukup. Aku nggak tahan lagi.” Chandra beranjak dramatis. Dilihatnya pergelangan tangan seolah ada jam di sana. “Dunia cuma milik berdua. Udah waktunya orang jomblo pergi ke Mars!”
“Ikut!” Karin unjuk tangan.
“Ngapain, rin? Dunia kita ‘kan udah sama.” Sandra melirik penuh kode ke Gabriel yang asik menguyah ayam geprek. Timo mengajukan tos, “sepemikiran.”
“Dua deh pasangan di sini!”
“By the way, fisika woi! Gimana nih, bentar lagi deadline!"
Mendengar kata ‘deadline’ sontak membuat semua orang mengeluh. Karin tersenyum senang, merasa lega karena berhasil mengalihkan topik tentang hubungannya dengan El.
Jangan sampai dibahas atau aku bisa gila!
Sandra yang sudah selesai mengerjakan tugas kini santai saja, “ingat ya guys, catat soalnya dulu, baru dijawab.”
“Siap sayangku."
“Bukunya?” Quin yang sudah siap dengan bolpoin mengedarkan pandangan mencari buku Sandra. “Bukunya mana?”
Suasana ramai itu pun mendadak sekaku patung.
“Sama Chandra ‘kan?” tanya Sandra memastikan.
“Loh? ‘Kan udah aku titipin.”
Chandra membuka tas lebar-lebar. Tidak ada apapun di sana selain satu buku tulis kosong, pulpen, dan HP.
Tanpa sadar seluruh jemari Sandra mengepal. “Masa ketinggalan di sekolah?!”
Kiamat.
“Santai, San. Santai–”
“Santai gimana?!”
Ampun. Chandra kicep. Cowok itu beranjak dari bangku dengan penuh tanggung jawab–takut sejujurnya, sebab dimarahi Sandra lebih menyeramkan ketimbang dimarahi Miss Jinny. Timo saja tidak berani.
Ia meringis. “Kalau gitu aku ke sekolah sekarang."
“Sia-sia, Chan.” Ujar Timo. Perasaan Chandra semakin tidak enak. “Tadi aja satpam udah mau kunci gerbang.”
“Secepat itu?!”
Timo mengangguk. Sekarang Sandra duduk diam seribu bahasa.
Hah… sudahlah. Tidak ada gunanya mencari buku fisika yang ntah di mana itu. Sandra tidak mau membuang waktu lebih banyak. Lebih baik dia bersabar sambil berharap bisa mengingat kembali seluruh jawaban diotaknya.
“Ck.”
__ADS_1
Mati aku. Kesalahan Chandra sudah sangat-sangat fatal. Ia menunduk penuh rasa bersalah sampai sesuatu melayang ke tengah mereka.
Buku bertulis soal dan jawaban fisika… dengan nama Alessandra Deepa di pojok kirinya.
“Selesai.” El tersenyum enteng. Semua orang menghela napas lega kecuali Chandra. “Thanks ya, Sand.”
“EL!”
Chandra berteriak antara bahagia sekaligus frustasi. Ia terduduk lemas. Kenapa cowok itu diam-diam saja saat orang-orang seolah hendak memenggal lehernya?!
El sialan! Sekarang dia tidak tahu apakah Sandra masih memperbolehkannya menyontek.
"Sandra plis maafin aku ya? Plis-plis…”
Sandra tidak tega juga melihat Chandra berlutut memohon-mohon minta pengampunan.
"Iya-iya, chan. Gapapa."
"Serius?"
"Iya."
"MAKASIH SANDRA, I LOVE YOU SO MUCH!" Chandra segera sungkeman dengan tangan Sandra tanpa memperdulikan tatapan Timo yang menghunusnya tajam.
Buru-buru Quin menarik buku fisika dan menyalin tugas bersama cowok itu. Sandra menggeleng-geleng saja. Ya udahlah, toh udah ketemu. Yang penting dia bisa mengumpulkan tugas dan mendapat nilai.
Di saat bersamaan, sebuah telepon berdering dari tas Karin.
Gadis itu menghentikan tawanya lalu mengecek ponsel.
“Ayah?” Karin mengedarkan pandangan. Terlalu jauh jika dia menyingkir untuk menerima telepon dari sang ayah. “Diam-diam ya, guys. Bentarrrr aja.”
"Oke."
“Halo ayah?"
Semua orang mendadak mengheningkan cipta.
"Iya, udah pulang sekolah kok, sekarang Karin lagi makan sama temen-temen. Kenapa? Hm? Pulang? Ooohh keluarga mau datang… siapa tuh? Om Vincent sama tante Vanya? Aduh…”
Karin meringis. Kenapa om dan tantenya itu harus datang ke rumah sih?
“Eungg… kayaknya Karin nggak bisa pulang sekarang deh yah hehehe… Beneran nggak bisa. Karin nggak bohong! Nih lagi nugas.”
“Pokoknya sebelum jam dua udah harus di rumah.”
“Ih ayaaaaahhh, Karin nggak bisa–yaaahhh ditutup!”
“Ih ayaaahhh~” Timo memperagakan nada suara Karin dengan gestur yang sama, membuat satu meja jadi ikut-ikutan menirunya.
Dasar! Dengan sinis yang dibuat-buat, Karin mengambil buku fisika Sandra untuk dia potret. “Cuma dua lembar? Santaaai~ kayak katanya Chandra.”
“Jangan bawa-bawa namaku!"
“Mau pulang, rin?” tanya Sandra sambil menyeruput kuah mie ayam. Karin mengangguk. “Om sama tantemu yang dari Singapura itu ya?”
“Iya, yang anaknya kuliah kedokteran.”
“Bahhh siap-siap dibandingin sama sepupu.”
__ADS_1
Sandra menggeleng traumatis. Tahu betul bagaimana mengesalkannya dibanding-bandingkan dengan orang lain.
...****************...