
“Kamu bolos les ‘kan?” tanya Ibu saat Alessandra baru saja menutup pintu mobil.
Beberapa waktu lalu.
Sesekali Sandra melirik jam di pergelangan tangan sambil memainkan pulpen. Diam-diam lidahnya meringis. Sebentar lagi setengah tiga sore. Artinya sudah setengah jam dia telat mengikuti les.
Sandra melirik Miss Jinny yang masih menjelaskan dasar-dasar penulisan esai. Sebetulnya bukan hanya dia dan Agnes saja yang mengikuti lomba, tapi adik-adik kelas 11 dan 10 juga datang dari rumah untuk latihan bersama.
Sandra bisa saja tidak ikut latihan. Toh, dia sudah tahu struktur, cara menulis, dan bagaimana mencari data-datanya. Tinggal membaca, menulis, revisi, dan serahkan. Selesai.
Lalu apa gunanya dia di sini?
Tidak ada. Hanya memberi tulisan-tulisan lamanya yang pernah menang lomba sebagai bahan ajar.
Agnes pun sama gabutnya di kursi sebelah. Tapi cewek itu diberi izin Miss Jinny untuk mengerjakan PR Biologi selagi menjawab pertanyaan-pertanyaan jika diminta. Sayangnya Sandra terlalu malas melakukan hal yang sama, jadi dia nyimak saja sambil menikmati kegabutan.
Kemalasan Itu juga alasan Sandra tidak mau pergi ke tempat les. Lagian sudah sejak kelas 10 dia ke tempat itu. Rasanya bosan melihat ruang kelas yang itu-itu saja dan lebih membosankannya, dia sudah tahu apa yang akan dibahas setiap awal semester dimulai.
Pasti kakak-kakaknya cuma basa-basi dan kasih semangat doang.
Awalnya Sandra santai-santai saja sampai sebuah notifikasi Whatsapp membuatnya membelalak.
Kak Kevin : les nggak bro?
Satu hal yang dia lupakan adalah manusia ini, kak Kevin, guru lesnya yang moody-an.
Kadang dia disiplin sekali, kadang santai sekali. Kalau mood-nya tidak baik, maka kak Kevin akan menelpon orang tua muridnya yang bermasalah. Tapi, kalau mood-nya baik, dia pasti tidak peduli, bahkan jika ada yang bolos kelas.
Hanya keberuntungan yang bisa menentukan nasib Sandra sekarang. Semoga kak Kevin mood-nya bagus, aminnnn!
Nahas sekali, dia tidak beruntung.
“Kalau aku bolos, nggak mungkin aku di tempat les, bu!” Jawab Sandra beralasan.
Setelah pesan dari kak Kevin itu, Sandra segera minta izin Miss Jinny untuk pulang karena harus les. Untung guru itu mengizinkannya sehingga Sandra bisa meluncur ke neraka itu.
Dan lebih beruntung lagi, Timo baru saja selesai rapat OSIS sehingga mereka bisa lebih cepat ke sana.
“Kalau kamu nggak bolos kenapa kak Kevin ngirim foto ruang les yang nggak ada kamunya?” Ibu masih saja ngotot.
__ADS_1
“Yang penting ‘kan aku udah datang.”
“Bukan masalah udah datangnya, tapi gimana kalau kamu ketinggalan informasi penting karena telat?”
Ibu-ibu ada aja omongan buat nge-counter!
“Kamu tuh udah kelas 12, bentar lagi lulus SMA, bentar lagi kuliah. Masuk Universitas Negeri tuh nggak gampang, Sandra! Kalau nggak lolos, ibu nggak mampu kuliahin kamu di Universitas Swasta.”
“Masih bisa tes ulang kok.”
“Nggak! Nggak ada tes ulang! Apa kata teman arisan ibu kalau kamu nggak lolos UTBK?”
Ibu menghela napas.
“Capek-capek ibu kerja, ibu biayain kamu les, ibu gelontorin banyak uang demi kamu lulus Universitas Negeri. Harusnya kamu berterimakasih, San. Bukan disia-siakan. Coba lihat anak-anak teman Ibu. Mereka semua mau membanggakan orang tuanya. Kamu? Apa yang bisa ibu banggakan dari kamu? Jangan bikin malu, belajar benar-benar, lalu masuk Universitas Negeri! Emang kamu mau nasibmu kayak bapak? Hm? Jawab!"
Bodoamat! Alessandra memalingkan wajahnya ke samping jendela mobil. Dipasangnya earphone di kedua telinga, lalu tangannya bersidekap.
Malas mendengar celotehan Ibu yang panjang-lebar.
...****************...
Akhirnya jam istirahat juga. Karin segera mengambil ponsel sebelum berlalu ke meja Sandra. Tidak memperdulikan El yang sejak tadi pagi berusaha berbicara dengannya.
“Sandra! Ayo ke kantin!”
“Sabar–oh, aku ada cerita! Bentar ya, HP-ku manaaaaa?”
Sudah hal mutlak di zaman sekarang kalau tidak ada HP, semua kegiatan harus ditunda.
Cari sana-sini malah ketemu di laci meja. Hadeeehh. Setelah mendapatkan ponselnya, Sandra menoleh ke meja di mana si juara satu paralel duduk.
“Agnes!” Seru cewek itu.
Yang dipanggil menoleh. “Kenapa?”
“Kantin nggak?”
Agnes menggeleng. Diangkatnya kotak makanan yang baru dikeluarkan. "Aku bawa bekal.”
__ADS_1
“Nggak apa-apa, kita makan bareng semeja.”
Serius? Karin berkedip. Sejak kapan Sandra dan Agnes saling basa-basi begini?
Lagi-lagi Agnes menggeleng. “Nggak San, aku mau belaj–”
“Dikasih kesempatan buat temenan malah nolak. Nggak takut apa kalau pas cari kerjaan nanti nggak dapat info karena nggak punya relasi?” Quin menyahut dari belakang.
Matanya mengerling. Setelah selesai mempoles bulu matanya dengan maskara, Quin beranjak melewati bangku Agnes dengan angkuh sambil menyemprot hand sanitizer dikedua tangan.
Karin menyodorkan telapak tangan ingin sanitizer juga. “Bagi dong Quin.”
Srrtt! Srrtt! “Ini mahal loh.”
“Dinginnn!”
“Kantin, Quin?” tawar Sandra pada cewek kaya raya itu.
Dari ambang pintu, muncul teman-teman sesama konglomerat yang memanggil namanya.
Oh iya, Sandra lupa kalau circle itu ada.
“Kalau ada Agnes, aku nggak ikut.”
Surprise. Karin dan Sandra kini saling melirik.
Harusnya kamu nggak nawarin, San!
Ya mana tahu kalau bakalan kayak gini.
Haduhhh aku laper banget ini, kita bisa kabur aja nggak sih?
“Aku ikut.”
Karin dan Sandra kompak menoleh. Agnes membuka earphone yang sebenarnya tidak terputar lagu.
Mengambil buku yang ingin dia baca, ia beranjak dari tempat duduk menghampiri dua sahabat itu.
Quin berdecih. Ia mendadah anggun pada Karin dan Sandra, kemudian berlalu bersama teman-teman konglomeratnya yang mengeluh kalau kaki mereka sakit akibat kelamaan menunggu.
__ADS_1
...****************...