Jika Aku Boleh Bermimpi

Jika Aku Boleh Bermimpi
BAB 11 - Cewek-cewek Galau


__ADS_3

Tidak pernah Sandra secemburu ini ketika melihat Timo bersama gadis lain.


Bercanda dengan Karin? Nggak masalah.


Direpotin Quin? Nggak masalah juga.


Diskusi dengan teman-teman OSIS-nya? Nggak masalaaaah banget! 


Lalu?


Mengapa gadis cantik yang ngobrol dengan pacarnya di dekat stan soto kak Wenwen itu benar-benar mengusik pikiran Sandra?


“Haus apa aus, San?” tanya Karin melihat es jeruk yang cewek itu seruput mendadak habis tak bersisa. 


Sandra menghela napas. Ia mengambil setusuk pentol bakar sambil menatap mobil dan motor berlalu-lalang. 


Omong-omong mereka sudah pulang sekolah. Kebetulan hari ini Sandra tidak les, jadi (atas izin yang mulia Ibu) ia pergi mengikuti Karin yang kabur dari El ke Taman Auditorium UNTAN–sebuah taman terbuka yang cocok untuk bersantai dengan keluarga maupun sahabat. 


Keduanya pun duduk di salah satu bangku kayu yang tersedia, berhadapan dengan jalan raya yang dipagari pepohonan rindang. Taman ini sepi, wajar karena masih siang. 


“Rin," panggil Sandra. “Kamu pernah cemburu nggak? Pas lihat El ngobrol sama cewek lain.”


Karin mengunyah cimolnya nampak berpikir. Cemburu? “Nggak pernah sih.”


“Oohh…”


Sandra menipiskan bibir. Kepalanya bergemuruh oleh segala macam pertanyaan. Apakah dia saja yang terlalu sensitif?


“Soalnya virtual, jadi nggak tahu dia pernah ngobrol sama cewek lain atau nggak.” Karin cengenges.


"Ooh iya-ya! Aku lupa, kalian 'kan pacarannya sama ketikan.”


“Jangan langsung di-ulti dong!”


Mendadak wajah Karin semerah tomat. Kalau dipikir-pikir, pengalaman pacarannya terhitung memalukan.


"Lagian ‘kan nggak cuman ngetik doang, kami ada telepon sama videocall juga!" Argumennya tidak mau kalah.


Sandra nyaris terbahak. "Buset, itu pacaran apa laporan work from home, rin?”


“SANDRA!”


Sekali lagi cewek itu mengejeknya, Karin tidak segan mencecoki Sandra semua pentol bakarnya bulat-bulat.


"Trus kenapa kamu nanya begitu? Kamu lagi cemburu sama Timo?"


Tepat sasaran. 


Melihat gerak-gerik Sandra yang tidak mengelak, Karin menebak kalau masalah cewek itu pasti berhubungan dengan pertanyaannya tadi.

__ADS_1


“Apaan tuh?” tanya Karin dengan kedua alis dinaik-turunkan. “Spill dong kak."


Melihat rasa kepo membara dari balik mata bulat sahabatnya, mau tidak mau Sandra membuka mulut untuk bercerita.


“Tadi pas di Kantin, aku lihat Timo sama ce–”


“SAMA SIAPA?”


“SAMA CEWEK!" Sandra berdecak sebelum mengancang menjitak gadis di sebelahnya. “Cewek, nggak tahu anak kelas mana. Dia cantik banget, kayaknya Timo suka sama dia.”


“APAAN SIH OMONGANMU?!" Dalam sekejap, makanan yang Karin beli tersingkir sehingga seluruh perhatiannya terpusat pada Sandra. “Kamu kan pacarnya, masa dia terang-terangan naksir sama cewek lain? Di kantin lagi!"


"Ya... Nggak tahu sih. Tapi 'kan kemungkinannya—"


"Jangan kemungkinan-kemungkinan gitu dong. 'Kan belum tentu benar."


“Kalau benar?"


“San," Karin paham kalau Sandra itu sangat peduli dengan orang lain. Tapi, jika kelebihannya ini justru bagai pedang bermata dua, seperti mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak dan berujung menyakiti hatinya sendiri, maka Karin tidak bisa membiarkannya begitu saja. "Kamu sendiri tahu kalau Timo tuh friendly ke semua orang. Santai aja lah, mungkin cewek itu lagi butuh bantuannya."


“Karena dia friendly itulah makanya aku curiga, Karin!” Sandra menghela napas kasar. "Muka Timo tuh mudah ketebak. Muka dia ke cewek itu… muka yang sama dengan muka dia pas diam-diam suka sama aku.”


Untuk beberapa saat, tidak ada suara di antara mereka selain roda mobil dan motor yang berlalu lalang. Sandra meletakkan pentol bakarnya kembali ke kantong dengan lemas. Dia tidak jadi makan. Sudah tidak selera.


Sementara itu, Karin meninggalkan para jajanan dan berhambur memeluk sahabatnya. Untuk sekarang, hanya ini yang bisa dia lakukan. Karin tidak bisa asal membuat kesimpulan tentang Timo, karena Sandra sendiri juga tidak paham dengan perasaan ini.


Ntah apakah dia yang terlalu mendramatisir kejadian atau apa yang dia lihat memang begitu kenyataannya, Sandra tidak tahu.


“Trus, kamu sama El balikan?”


“NGGAK!” 


Tiba-tiba Karin mendorong Sandra dari pelukan sebelum sedetik kemudian menarik cewek itu kembali agar tidak terjungkal. 


“TUH KAN KELIHATAN SALTINGNYA!”


Tahu dikompor begini lebih baik Karin biarkan saja cewek itu jatuh ke semen trotoar!


Wajah sedih Sansra seketika berubah mengejeknya.


“Kasih tahu dong, kasih tahu dooong! 6adi ngomongin apa aja sama kulkas dua belas pintu Gabriel?”


“Kepo kamu?!” Karin mengambil jajanan yang sempat dia telantarkan tadi untuk dimakan lagi. “Bentar, aku isi perut dulu.”


“Gibah juga butuh energi, silahkan beb.”


Bola mata Karin mengerling. “Jad–”


“Jadi?”

__ADS_1


“Jangan dipotong.”


“Iya maaf. Jadi? El pasti ngomongin tentang kejadian jempolmu kemarin? Betul apa betul?”


“Dibilanggin jangan dipotong!”


“Puji Tuhan mommy dan daddy kitabsudah baikan. Tinggal pacaran lagi apa susahnya ya, nggak? Tapi versi real, bukan virtual.”


“Coba kamu lihat hati mungilku ini, San. Lihat berapa banyak kata-katamu yang menusuk jiwaku.”


“Gapapa dong, kan nanti bisa disembuhkan El–”


“NAJISSSS!”


Karin dan Sandra tertawa dengan drama yang mereka buat sendiri. Begitulah cewek, sebentar sedih sebentar sudah bahagia saja. Simple sekali.


Lanjut, "Tapi aku jadi nggak enak sama El."


Sandra jadi kepo. "Kenapa?"


"Aku belum maafin dia."


“Kamu ini–” Susah payah Sandra menahan diri untuk tidak menjitak kekurangajaran Karin. “Dasar! Kamu nggak kasihan apa ngelihat El sefrustasi itu demi ngobrol sama kamu doang?”


“Yah… kasihan sih.” Walaupun mukanya datar-datar aja. “Tapi aku nggak siap ngadepin dia!"


“Kenapaaaaa lagi?!"


"Nggak siap aja. Tunggu tahun depan, mungkin aku udah siap!"


"KEBURU LULUS!"


Buru-buru Karin menghindar sebelum dahinya mendapat jitakan maut Sandra.


"Siap nggak siap, rin!" Meleset! "Coba pikir, kalau suatu hari nanti kalian dapat tugas kelompok bareng gimana? Diam-diaman kayak di Warkop kemarin? Nggak bisa!”


“Siap bu. Siap salah!” Karin mengangguk saja seperti anak paskibra yang dia lihat di hari kemerdekaan. "Tapi.... bener juga sih! ASTAGA YOU OPEN MY EYES, SANDRA!"


"Tuh kan."


"Nanti aku hubungin El.”


Bola mata Sandra berbinat. “Ketemuan?”


“Chat lah!"


“VIRTUAL LAGI?!” Kalau jadi El, mungkin Sandra sudah ngambek minimal seminggu. “JANGAN RIN. JANGAN! Kamu harus hadapin masalah kamu! Jangan berlindung dibalik HP terus.”


“KAN AKU MALU!" Karin menunjuk cewek itu dengan cimolnya. " KAMU JUGA! Hadapain masalah kamu! Bukannya diam-diam overthinking sana-sini! ”

__ADS_1


"KAN AKU MALU!" Sandra tidak bisa membantah. Sekarang kalimat Karin yang menusuk ulu hatinya dan membuat cewek itu berpikir keras.


Sialan. Sekarang, mereka sudah mendapat jawabannya. Baik Karin dan Sandra sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.


__ADS_2