
“Kalau pilihan terbaik buat kita adalah ‘udahan’—”
Tenggorokan Karin tercekat. Mengatakan ‘udahan’ saja sudah mencubit dadanya. Apalagi jika kalimatnya tuntas?
Di seberang telepon, Gabriel Yudhistira menunggu sambil menatap kosong jam di dinding. Sudah pukul 11 malam. Harusnya Karin tidur, tetapi dia, cowok kurang ajar ini, malah menelepon gadis itu setelah sekian lama menghilang, mendatanginya tiba-tiba tanpa mengabari terlebih dahulu lewat pesan chat, hanya untuk meminta putus.
El tahu betul kalau dia brengsek–terutama ketika napas Karin terdengar putus-putus, memaksa kerongkongannya untuk bersuara.
"Oke."
Final gadis itu.
Ia mengangguk pada telepon, tidak tahu kalau El diam-diam mendengar pergerakannya yang sedang mengusap sesuatu.
El tebak itu air mata.
"Makasih buat hari-harinya ya, El. Makasih udah baik sama aku..."
Pandangan El beralih ke jam dinding. Ia tidak ingin mendengar apapun dari seberang. Tidak mau mendengar suara Karin yang semakin lirih.
“Maaf kalau aku ada salah, maaf kalau aku cengeng, maaf kalau aku banyak nuntut ini-itu sama kamu.”
Kedua mata El menyipit. Semakin dia memperhatikan jam di dinding, semakin ada yang tidak beres dari benda itu.
“Maaf kalau aku membebani kamu.”
Apakah ini cuma perasaan El saja?
“Sekali lagi, aku minta maaf.”
Mengapa jam dindingnya terasa lamban?
“Makas–”
“Aku tutup ya, rin?”
Mengapa ketika El meminta izin gadis itu untuk menutup telepon, kemudian Karin menyetujuinya dengan kekehan kecil sebelum berkata,
"Iya."
Mengapa ketika El menekan tombol merah di layar, berhenti untuk mengakhiri hubungannya yang sudah berjalan tiga bulan...
Mengapa saat itu juga...
Waktu ikut berhenti?
__ADS_1
...****************...
Satu pertanyaan yang mengusik El sepanjang jalan menuju sekolah adalah, “kalau ketemu Karin, aku harus ngapain?”
Pertanyaan yang tiba-tiba terlintas diotaknya itu mendadak membuat El pusing. Kepalanya mau pecah mencari jawaban apapun yang tepat–
TIN***! TI***N!
“WOI! BAWA MOTOR YANG BENER!” Pekik orang yang nyaris dia tabrak.
El meringis. Dia ini kenapa, sih? Padahal sudah menyiapkan segala hal untuk menghadapi kehidupan senior kelas 12 SMA. Mengapa dari segala persiapan itu, bisa-bisanya dia melupakan satu hal?!
Satu hal!
Fakta bahwa dia dan Karin, mantannya, berada di kelas yang sama!
El belum menyiapkan apapun untuk menghadapi satu hal ini.
Ah elah. Kenapa first day malah overthinking?!
Lebih baik Gabriel mengosongkan pikiran. Kalau bukan karena Timo yang kemarin membagikan postingan sekolah tentang Karin yang meraih kejuaraan lomba Melukis, mungkin dia tidak akan sekacau ini.
Ditambah komporan Chandra.
“Dapat deh topik buat balikan.” Kata si monyet itu sebelum El memitingnya hingga sesak napas (tolong jangan ditiru adik-adik sekalian).
Sambil mengetuk dua kali postingan Instagram Karin, El tersenyum, turut senang atas segala hal yang gadis itu raih sampai tidak sadar mengetuk ikon komentar.
Jempolnya sudah bersemangat mengetik ‘congrats ya’ di papan ketik–sebelum dia dipatahkan kenyataan.
Kalau mereka sudah putus.
El mengapus kembali kalimat yang dia ketik lalu menutup semua aplikasi sosmed. Menekan tombol silent, hening, dan segala ***** bengeknya sampai ponselnya dinonaktifkan.
Demi apapun, El tidak mengerti mengapa dia seperti ini?
Meski Chandra mencoba menyemangatinya dengan, “gapapa, bro. Santai aja. Karin juga nggak bakal bunuh kamu kok.”
El tetap menggeleng.
Karin barangkali tidak membunuhnya, tapi bayangan betapa canggungnya mereka yang sudah lama tidak bertegur sapa lalu tanpa angin, tanpa hujan mengucapkan selamat padanya, menyayat jantung El perlahan.
Dia merasa bersalah karena memutusi Karin tiba-tiba. Kemudian dengan tidak tahu malu malah datang me-whatsapp-nya untuk mengucapkan ‘congrats ya, rin’?
El percaya, Karin hanya akan memandangnya cowok buruk atau kurang ajar.
__ADS_1
Lebih baik dia menghilang ditelan bumi daripada menemui cewek itu dan menyakitinya lagi. El tidak mau Karin membencinya. Jika memang benci pun, El memilih tidak mau tahu. Maka dalam perjalanan menuju sekolah ini, ia berdoa semoga Tuhan memberinya keajaiban sehingga tidak perlu menemui Karin. Misalnya, tiba-tiba ada perubahan kelas gitu ya, Tuhan? Amin...
Doanya tidak terkabul.
Sekarang, saat ini, detik ini, di ambang pintu kelas 12 MIPA 2 ini, El malah bertemu dengan gadis itu.
Sial.
El mematung. Tidak tahu mengapa tatapannya terkunci pada cewek itu. Melihat wajah bulat dengan mata belo yang bercahaya, dibingkai dengan rambut panjang lucu dan poninya yang nyaris menusuk mata. Wajah Karin yang selama ini hanya dilihatnya lewat sosial media, yang kini berada di hadapannya, membalas tatapannya dengan bingung, terkejut, dan gugup di saat bersamaan.
El seolah tersihir dengan binar kecokelatan Karin yang memasungnya. Membuat cowok itu ingin berlutut seraya mempertanyakan dirinya sendiri. Mempertanyakan jenis perasaan apakah yang membutakannya saat ini? Apakah perasaan takut? Apakah senang? Apakah sedih?
Apa? Apa sebenarnya yang dia rasakan?
“Jadi masuk nggak nih?”
Seorang cowok berkacamata kotak dengan kamera menggantung di leher tahu-tahu muncul di tengah mereka.
Karin reflek menjauh. Matanya membentuk sabit ketika tersenyum ke cowok berkacamata itu.
“Silahkan Vale, silahkan masuk.” Kata gadis itu ramah.
Dia masih Karin yang sama, yang pernah membuat El tergerak untuk melindunginya.
“Thanks rin, but better ladies first. Silahkan.”
“Ah, bisa aja kamu.” Cewek itu menepuk lengan Valerian yang membuat gestur layaknya gentleman. Berlagak seolah mempersilahkan sang lady keluar dari kereta kencana.
Karin sedikit menunduk seperti putri kerajaan didongeng, mengikuti permainan Valerian yang semakin mendalami perannya sebagai pangeran. Cewek itu terkekeh. Ditatapnya satu per satu teman yang dia temui pagi ini.
Well, mereka udah ‘berempat’ sekarang. Chandra, Timo, Vale, dan El.
Tanpa sadar, Karin melirik El yang langsung membuang wajah.
Oh... Sepertinya Gabriel benar-benar tidak ingin kembali menjadi temannya. Jika memang begitu maka Karin tidak bisa berbuat apa-apa selain menghargai keputusan cowok itu.
Karin tersenyum, mendadahi Valerian Kivandra yang balas mendadahinya sebelum dia masuk ke dalam kelas.
Setelah punggung gadis itu lebih jauh dari tempatnya berdiri, Valerian beralih menatap El yang berdiri kaku memperhatikan langit biru.
“Kalau masih suka, jangan ditahan, El.”
"Siapa yang masih suka?"
"Siapa coba?"
__ADS_1
Vale memperhatikan saja. Walaupun wajah Gabriel sedatar jalanan aspal kota Pontianak, matanya yang tajam tetap tak mampu membohongi perasaan.
...****************...