
Ti*d*ak ada yang lebih siap daripada Karin ketika Om dan Tante Gantari muncul dibalik pintu.
Inilah saatnya! Karin melempar senyum paling ramah yang dia punya.
"Halo om, tante, yuk masuk dulu.”
“Waahh cantiknyaaa Karin sekarang.” Puji Tante Vanya Gantari dengan jari bergerak-gerak. Begitu Karin menyalim tangannya, barulah jemari itu diam.
“Eh, udah datang?”
Karin bersyukur karena ayah akhirnya datang ke ruang tamu. Kakinya sudah gatal ingin cepat ke kamar.
“PAK PRANSSSS!" Om Vincent berhambur memeluk ayah yang pasrah. "Kabar gimana bos?!"
“Baik… baik… hahaha.” Ayah menepuk dua kali punggung Om Vincent lalu bergerak melepaskan. “Eh, ayo-ayo duduk dulu.”
“Kamu ini Vin!” Suaminya itu malu-maluin saja. Vanya segera menarik tangan Vincent sehingga mereka duduk bersama. “Makasih ya, Pak Frans. Mana Isabelle?”
“Bundanya lagi di dapur–Karin? Mau ke mana?”
Karin menyengir kecil sambil menatap sang ayah.
Sial, dia tertangkap.
Dilihatnya anak tangga yang sudah gadis itu injak dengan penuh kepahitan. Maaf diriku, sepertinya kita nggak bisa kabur sekarang.
Atau bisa?
“Karin panggilin bunda dulu.” Perintah ayah.
"Oke!" Dengan langkah secepat kilat, Karin meluncur ke dapur di mana sang bunda berada.
Mengurangi keheningan, ayah pun mempersilahkan sepasang suami-istri Gantari itu meminum Aqua gelas yang telah tersedia.
“Dari Singapura, ke Pontianak, besok ke Jakarta. Haduuuhh udah kayak orang sibuk aja saya, Pak!” Om Vincent bernapas lelah. “Tapi demi anak, apa sih yang enggak? Betul?”
“Betul, Pak Vincent.” Kekeh Ayah. “Gimana si Hans? Jadi kuliah Manajemen?”
“Ambil Kedokteran dia. Saya belum cerita ya?”
Bukannya waktu itu ceritanya mau ambil manajemen? Ayah mengangguk-angguk bingung. Dari arah samping, bunda Isabelle datang diekori Karin dan Grace, adiknya, dengan makanan dan minuman segar.
Bunda Isabelle menyalim Om Vincent dan memeluk tante Vanya, kemudian membantu menyebarkan makanan dan minuman dari tangan Grace. “Sana salim dulu.”
“Waaahh udah besaaarrr si Grace." Tante Vanya heboh. "Kamu ingat nggak? Dulu masih sekecil ini loh digendongan tante.”
“Nggak ingat, tan.”
Karin menunduk, menahan semburan tawa karena mulut adiknya yang ceplas-ceplos.
“Lagian masih bayi ya mana ingat?" Bunda tersenyum, ditepuknya punggung tangan Grace agar anak bungsunya ini tidak asal berbicara. “Omong-omong silahkan dimakan, Pak Vincent, kak Vanya.”
“Silahkan-silahkan!”
Acara makan-makan itu pun tidak juga membebaskan Karin dan Grace untuk kabur ke kamar. Meski Karin sudah berkata bahwa dia sudah makan, tetap saja dibantah Om Vincent untuk menambah ke porsi besar.
Berbeda dengan Karin yang tidak enak menolak, Grace yang cuek tidak memperdulikan basa-basi Om Vincent untuk makan lebih banyak. Mending makan sedikit daripada makan ada sisa.
__ADS_1
“Nah, jadi anak saya itu, si Hans, awalnya emang mau Manajemen.”
Om Vincent mulai bercerita sambil melahap makanan.
“Tapi, sejak kabar kakeknya itu meninggal karena jauh dari fasilitas kesehatan, dia pun bilang ke saya, ‘ayah, aku mau masuk kedokteran’.”
Wuisss… Karin melirik Grace dengan tatapan ‘beneran?'
‘Bodoh kalau kamu percaya’, kata adiknya itu dengan wajah terkejut yang dibuat-buat.
Grace ingat sekali curhatan abang sepupunya saat mereka mabar Mobile Legend . Dia bilang, aku mau muntah lihat organ tubuh manusia.
“Yaudah, ‘silahkan’, saya bilang ke dia. Pas pengumuman, lolos, masuk Kedokteran!"
“Wah…” Ayah terpukau. Sungguh lembut hati Hans sampai ingin belajar kedokteran karena pengalaman tragis kakeknya. “Keren, Pak Vincent. Sekarang ada satu dokter deh di keluarga kita.”
“Hahaha terimakasih, pak. Terimakasih. Biasa aja itu mah~" Om Vincent malu-malu seolah dia yang menerima pujian. “Oh iya, Karin kelas dua belas kan sekarang?”
Merasa namanya dipanggil, Karin berkedip sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, Pak. Karin udah kelas dua belas sekarang. Kemarin dia menang lomba Melukis.” Sahut ayah.
“Waahh selamat ya, Karin.”
“Makasih tante…” Ntah sudah berapa kali kata ‘waaahh’ tersemat diucapan Tante Vanya.
“Berarti mau ambil jurusan DKV ya?” tebak Tante Vanya tepat sasaran. Karin mengangguk mantap. Jurusan itu sudah dia pikirkan sejak luius SMP mengingat dirinya senang sekali menggambar.
“DKV apaan?” tanya Om Vincent tidak tahu.
Mata Karin berbinar menjelaskan. “Desain Komunikasi Visual, Om!"
“Ngg–”
“Emang jurusannya menjanjikan kerja?”
Saat itu juga sendok makan tergeletak dramatis di piring Om Vincent. “Saya nggak bermaksud gimana-gimana ya, rin. Cuman, ada teman om yang anaknya masuk jurusan seni. Sama kayak kamu, dia suka gambar, suka mewarnai... tapi pas lulus kuliah, dia nganggur setahun, habis itu malah kerja di Bank!”
“Hah?! Si anaknya Mella itu kan?" Tante Vanya kaget. Om Vincent mangut membenarkan. "Loh? Dia kerja di Bank? Baru tahu saya. Kerja jadi apa dia?"
“Nah itu saya kurang tahu, Vanya. Tapi logikanya gini. Sekolah seni itu ‘kan udah mahal, pas lulusnya kalau kerja nggak sesuai jurusan, sia-sia dong ilmunya?"
"Sia-sia uang juga?"
"Nah, itu!"
Tante Vanya meringis. “Duuhh mending yang pasti-pasti aja deh, rin. Yang lulus kuliah bisa langsung dapat kerja."
“Betul tuh. Mending masuk akuntansi aja, rin. Kamu jurusan apa? MIPA? Eh tapi banyak juga loh anak teman om yang lintas jurusan, trus ambil akuntansi. Sekarang kerjanya sama Pemerintah, jadi PNS. Lumayan 'kan? Kerja santai, gajinya juga stabil."
"Enak banget itu."
"Enak, jelas!" Om Vincent sangat setuju. "Eh, tapi ini cuma saran ya. Saya dan Vanya cuma ngasih tahu, biar kebuka pikiran kamu sebagai anak. Jangan sampai pilihanmu ini membebani keuangan orang tuamu. Tapi yaa Kalau mau masuk seni ya silahkan~ Ujungnya semua hal itu 'kan balik ke pilihan masing-masing.”
...****************...
Mau berapa kali pun Karin mencoba melupakan omongan Om dan Tante, tetap saja kata-kata mereka membekas di kepala.
__ADS_1
Karin mencorat-coret halaman terakhir buku asal-asalan. Pikirannya semrawut, apalagi saat wajah ragu Bunda melintas begitu saja. Wajah ragu bunda yang tidak lama setelah kepulangan Om dan Tante, menatapnya begitu dalam dengan senyuman.
“Nggak usah dipikirin. Fokus aja sama passion-mu.”
Juga wajah ragu dibalik senyuman, yang sebenarnya ikut memikirkan kata-kata Om Vincent dan Tante Vanya tentang masa depannya.
Karin menghela napas. Ayah. Pria itu memang tidak mengungkit apapun tentang jurusan seni yang dia idamkan, tapi melihatnya menatap lama ke penghargaan-penghargaan Karin yang dipajang di lemari, sepertinya ada banyak hal yang bapak itu pikirkan.
“Rin!”
Karin seolah disadarkan ke dunia nyata, menyadari bahwa ia berada di kelas yang dipenuhi dingin AC, juga dinginnya Miss Jinny ketika mengajar materi hari ini.
"Rin!"
Karin pun menoleh, mendapati El memanggilnya sambil menyerahkan penghapus.
Oh, iya. Saat tangan karin terjulur hendak mengambil barangnya, suara Miss Jinny berhasil membuat penghapus itu jatuh.
“Katarina! Gabriel!”
Baik Karin maupun El sama-sama duduk tegak.
"Apa yang kalian ributkan?"
Karin menegak saliva, tidak sadar menggaruk jempolnya dengan jantung berdegup kencang.
"Maaf Miss—"
“Mau balikin penghapus, Miss!” Kata El jujur. Bahunya sangat santai, seolah tidak mengenal takut saat Miss Jinny menghujamnya dengan tatapan maut.
“Memang kamu tidak punya?”
“Tidak, Miss.”
“Memang saya mengizinkan kamu meminjam barang orang lain?”
“Tidak, Miss.”
“Keluar!"
Untuk beberapa detik hening, akhirnya suara decitan kursi terdengar dari samping.
Diam-diam Karin memperhatikan langkah kaki El yang semakin jauh dari tempatnya.
“Kenapa kamu diam, Karin?”
Kepala Karin terangkat.
“Saya juga keluar, Miss?”
“Menurutmu?”
Ya... kenapa Karin repot-repot mengkonfirmasi perintah abstrak Miss Jinny? Emang dia komandan militer?
Dengan berat hati, Karin mengemas buku bahasa Inggris dan alat tulisnya, kemudian melangkah menuju pintu kelas.
“Sesuai kesepakatan kita semua, ada sedikit suara baik itu kecil, besar, maupun bisikan, segera belajar mandiri di luar hingga jam pelajaran selesai." Miss Jinny memperingati seisi kelas sampai pintu tertutup. "Everyone understand?"
__ADS_1
...****************...