
"Gin, sori nih ntar pegangan di jaketku aja ya? nggak usah peluk peluk. Aku risih ya?" sebelum bonceng si Gina sudah Aku wanti wanti.
"Iyaaaaahhh ah, alim banget sih! kalau Aku jatuh gimana?"
"lha kok gimana? lha yo kalo cuman lecet kasih obat merah kalau parah bawa rumah sakit"
"Hih, yuk ah keburu tambah malem" Gina langsung nangkring di belakangku.
Motor melaju sedang sedang saja kayak lagu ndangdut plus plus. Maksudnya plus angin malam plus hujan rintik rintik.
Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari Kami. Sesampai di rumahnya, orangtuanya sedang duduk di teras.
"Malam Om, Tante" sapaku, kusalami kedua orangtua Gina.
"Malam" sahut mereka berbarengan.
"Kok sampai malem to Gin?" tanya Ibunya.
"Iya Mah, tadi ngobrol lupa waktu"
"Iya, maaf kalau kemaleman Tante, Om. Saya langsungan pamit pulang dulu" pamitku menyalami mereka kembali. Tidak ada balasan dari pamitnya Aku dari orangtua Gina.
Biasanya Ibu kalau ada temenku pamit pulang selalu ada pesan.
"Hati hati di jalan ya" atau "Monggo ndereke"
Tapi ya sudahlah orang beda beda tidak bisa disamakan semua.
__ADS_1
Aku menuju arah pulang, lewat di angkringan Pak Kamso seberang kost-an yang agak sepi. Mungkin karena suasana dingin dan rintik hujan membuat orang males keluar rumah.
"Pak, susu jahe hancur sing piyanis" pesanku
"Wehh tumben pake kepsen segala" sahut Pak Kamso. Aku spontan ngakak so hard.
"Tahu kepsen tu lho, emang kepsen tu apa Pak" tanyaku nge-tes.
"Kepsen tu kan keterangan Mas, yang di IG IG. Mas Bimo nggak punya IG? wah gaptek! Saya aja punya dua akun. Satu buat jualan satunya buat stolking yayang" cerocosnya.
"Wih tahu setolking, emang yang di setolking intu siapa to?" masih dengan setengah geli Aku menggoda Pak Kamso.
"Yooo rahasia perusahaan Mas" seringainya sambil menyerahkan segelas susu jahe yang mengepul asapnya.
"Maturnuwun Pak" semangatku menyala lagi lihat kepulan asap dan aroma wangi jahe bakar yang digeprek hancur dari gelasku. Bhhweee sensasi rasa serpihan jahe bakar yang nyangkut di lidah kemudian dikunyah sisil ( kayak orang makan kuaci / kunyah pake gigi depan ) tidak bisa diuraikan dengan kata kata.
"Ora niat njajan Pak, tadi barusan nganter Gina pulang"
"Rembugan opo bocah wedok gemblung siji kae? ( membahas apa anak perempuan yang menjengkelkan itu)"
"Aku suruh nemenin Dia, pura pura jadi pacar e sampai Dia dapet pacar beneran"
"Bocah gemblung kok mbok layani to Bim, biarkan saja"
"Aku jadi embuh Pak mau gimana"
"Tadi pas nganter Kamu ketemu orangtuanya nggak?
__ADS_1
"Ketemu Pak"
"Lha piye tanggapane?"
"Biasa wae, lha memang e gimana to Pak?
"Wong tuwa ne tu pengen punya mantu orang kaya. Kalau sama yang krembish krembish nggak bakalan di anggep!"
"Aku ketok krembish po Pak?"
Pak Tikno ngakak, asem! Ibu bisa ngamuk anak lanang e dianggap krembish.
"Yo .... iyo sih krembish" hua ha ha ha ... puasss dia!
"Kamu kesana nggak bawa oleh oleh tadi?" tanya Pak Tikno setelah puas tertawa.
"Ora! lha napa Pak?" Aku comot mendoan panas yang barusan turun dari tirisan. Tekuk jadi dua dicocolin ke sambel kecap, beuhhhh nikmat. Selesai ngunyah karena kepedesan diminumi jahe susu, byuuuhhh nikmat mana lagi yang kau dustakan? 😊
"Suk lagi kalau ke rumah camer bawa martabak manis red Velvet premium sing toppingnya nutella, ha.... ha ... ha..." masih berlanjut ternyata ketawanya.
"Mertua opo Paaakk, wes ah mulih. Turu!" kutepuk bahunya sambil berdiri mau membayar.
"Berapa Pak? JaSu, mendoan 1, sate puyuh 2, tahu bacem 1"
"Tambah kopi 1, indomi telur 1, sama krupuk ikan 2 ya" Pak Tikno berdiri kemudian melangkah keluar dari warung tenda dan teriak.
"Bim tolong bayari dulu"
__ADS_1
Wekkkkssss untung tua!!