
Haiii Readers tersayang ... apa kabar kalian?
Sehat yah semuanya? Jaga kesehatan di masa pandemi gini, patuhi prokes. Semoga Kita semua selalu diberi perlindungan oleh Allah, Aamiin.
Yuks ah vote, like, & juga komennya yah ... Saya menunggu lhooo ...
Hiks sedihnya nggak ada yang respon 🤭 tapi nggak pa pa lah. Yang penting Saya bisa terus bercerita 😀 Syemangatss .. 👍👍
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Oke aku mau cerita siapa Aku biar Kamu puas" Aku nggak habis pikir ada cewek yang sebegitunya dengan cowok. Begitu pengen taunya dia tentang kehidupanku. Aku memulai cerita.
Aku anak bontot dari dua bersaudara asal Surabaya. Orangtuaku pensiunan pegawai negeri biasa, bukan seorang pejabat. Kakakku perempuan lima tahun lebih tua dari Aku. Dia kerja di perusahaan swasta sebagai tenaga administrasi.
Rumah Kami ada di Kampung meskipun masih terhitung di tengah kota.
Aku suka warna biru, suka semua masakan yang dimasak Mami ( ibu aku ), Bapak di masa pensiun hanya bercocok tanam di halaman sekitaran rumah yang lumayan luas untuk ukuran kota. Hanya untuk kesibukan saja, hasil bertanamnya dibagi bagikan ke tetangga atau saudara.
__ADS_1
"Sudah, itu cerita soal Aku. Apa lagi yang Kamu mau tau soal Aku?" tantangku
Sejenak dia menatapku kemudian menunduk dan perlahan mengaduk minumannya. Mencicipi sedikit Alpukat juice nya dari sendok dan santai dia berucap
"Kamu itu orangnya gimana?"
"Gimana maksudnya?" kutelengkan kepala sedikit heran. Ni anak kayak ada yang kurang, sebentar ceria, tiba tiba bisa jadi kayak orang yang paling menderita sedunia, tiba tiba bisa melow, tiba tiba bisa malu malu, dan sekarang bisa jadi kayak cewek yang nggak tau malu.
"Ya, Kamu tu mungkin penyayang, baik hati, nggak suka bohong atau apa gitu?"
"Hah? kok Kamu tanya itu ke Aku? ya Aku nggak tau lah! Yang pasti Aku nggak akan kompromi kalau ada orang yang dzalim ke orangtua dan keluargaku, atau Aku dibohongi, dan disinggung harga diriku" agak heran Aku dengan pertanyaannya nggak mutu blass.
WHAT??? Aku langsung tersedak es jeruk yang baru meluncur di tenggorokan mendengar pertanyaan Virginia.
"Wah sori Gin, ketoke Aku masih belum mikir pacar. Nggak kepikir malah buat pacaran" jawabku setelah Aku bisa mengatasi syok 😀
"Lha terus Kamu kepikirnya apa buat kehidupan rumah tanggamu kelak?"
__ADS_1
"Opo yo? ketoke nggak usah pacar pacaran langsung nikah wae" jawabku asal dengan menggaruk kepala.
Dan senyum lebar kembali terkembang di depanku.
"Kalau gitu hayuk kita nikah ajah"
Aku sampai lupa nafas denger kata katanya, edun iki bocah batinku.
"Heh sadar Gin, nikah ki nggak gampang. Menyatukan dua keluarga dengan beda latar belakang ki perlu pemikiran. Memang aku rak pengin pacaran tapi yo nggak ngono carane" Aku berusaha menjelaskan maksudku.
"Ya sudah kalau gitu besok orangtuaku Aku ajak ketemu Kamu buat bahas pertemuan keluarga kita" dan Aku terbengong mendengarnya. Dia berdiri dan meyambar tanganku.
"Yuk ah pulang! kalau lama lama di sini nanti bisa bisa Kamu nolak Aku lagi. Kalau Kamu nolak Aku pasti bunuh diri" Aku yang masih terbengong jadi semakin kayak kebo di cucuk hidungnya denger kelanjutan omongannya.
Whaduhh!!??
Kami pulang berboncengan dan Aku sudah embuh ( entahlah ) dengan Virginia mau pegangan mau ngoceh apa sudah nggak Aku perhatikan. Sekarep karepmulah kata wong Jowo.
__ADS_1
Aku cuma mikir gimana caraku menolak dia, bukannya Aku tidak suka. Aku merasa belum siap untuk terikat dan bertanggungjawab dalam sebuah keluarga. Tapi kalau tak tolak ancamane itu lho rek nggak nguati! Bunuh diri weeee main main ambekan nyowo 🤦
Aku hanya menanggapinya sesekali di perjalanan pulang.