
Aku merindu
Ku yakin Kau tahu
Tanpa batas waktu
Lagu gaulku saat ini. Halaaahhh jomblo aja nyanyi rindu rindu. Siapa yang mau dirindui? Aku tersenyum sendiri mengingat siulan laguku tadi. Kunaiki tangga ke kamar mess ku dengan riang .... Cieee riang 😀 habis ditraktir Edgar teman satu divisiku yang ulang tahun.
Saat berbelok di ujung lorong aku terkaget kaget ada cewek berusaha manjat dinding pagar. Seketika langkahku berhenti, mau ngapain itu cewek? berbagai perkiraan ada di pikiranku.
Ehh ... ehhh .... lha kok cewek itu nangis nggak ada suara? whaduhhh nekad ini cewek mau bunuh diri kali ya? dia semakin bergeser ke pinggir tepat sebelum dia menjatuhkan diri Aku lari dan memeluknya dari belakang sambil berteriak.
"Mbak ... istiqfar mbak ... eling mbak ... nyebut mbak!"
Tangis yang tadinya tertahan akhirnya jebol juga, dia berteriak histeris nggak jelas dan berusaha melepaskan diri.
"Hehh ... hehhh ... sadar mbak!" aku tepuk tepuk pipinya. Bersamaan dengan itu lorong jadi penuh orang.
"Ada apa Mas" orang orang riuh menanyakan, sementara cewek itu malah pingsan 🤦.
"Nopo Bim, mbak e mbok kapakno?" Pak Tikno menyeruak kerumunan. ( Ada apa Bim, si mbak nya Kamu apakan?)
__ADS_1
"Mbuh Pak, mbak e nekad meh mlumpat" sahutku (Nggak tahu Pak si mbak mau loncat).
"Sopo tah bocah Iki?" Pak Tikno menyibak rambutnya dan aku masih sibuk memijit tangannya supaya siuman (Siapa sih anak ini).
"Koyo kenal bocah Iki, Iki lak anak buah e Bu Martha" gumam Pak Tikno lagi.
"Iya, si Virginia" sahutku setelah sekilas aku melihat wajahnya.
"Bim, bawa masuk aja. Kasihan di lantai" salah seorang penghuni mengusulkan.
"Tolong Mas bukain pintu!" kuambil kunci kamar dari saku dan mengangsurkannya padanya. Kamarku tepat ada di depan TeKaPe di pojokan. Dia Kami gotong dan ditidurkan di sofa.
"Bim, tak bikinkan teh ya?" Pak Tikno berinisiatif
Tak berapa lama dia sadar. Dia berusaha bangun dari sofa.
"Istirahat dulu Gin, Kamu masih lemes" sapaku. Dia melihatku dan orang orang yang mengelilinginya kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis lagi.
"Sudah ayo pada bubar, mbak e wes sadar. Ngko biar Bima sing menanyakan kronologis e ke Mbak e" Pak Tikno membubarkan kerumunan.
"Ini minum teh anget dulu" Aku mengulurkan teh anget buatan Pak Tikno. Isakan kecil masih terdengar sesekali.
__ADS_1
"Ya wes Bim, aku tak pamit. Mbak e wes tenang" Pak Tikno beranjak dari duduknya.
"Pak jangan pergi dulu, Aku dewekan karo Mbak e ndak menimbulkan fitnah" Aku mencegah Pak Tikno pergi.
"O, woke, lha kira kira mbak e meh cerita rak kenapa kok tadi meh terjun bebas?" selidik Pak Tikno ke Virginia.
Virginia cuma menggeleng lemah dan menyahut lirih.
"Suatu saat Saya akan cerita Pak, tapi nggak sekarang"
"Cerita sama Bima saja, dia jomblo jadi punya banyak waktu buat ndenger cerita cewek. Nek Saya nanti ndak dimarahi istri, meski di desa tapi dia punya mata mata di sini. Saya ngapain aja Dia tahu lho!"
"Curhat Pak?" Aku jadi ngakak denger omongan Pak Tikno.
"Tenan lhoh Bim, Mbak. Padahal nggak ada CCTV lho bisa tahu dia. Sakti tenan" gerutu Pak Tikno lagi.
Virginia sudah bisa tersenyum dengar gurauan Pak Tikno.
"Wes gek ndang ter no bali. Biar bisa istirahat" ditepuknya punggungku. (Sudah segera antar pulang)
"Iya Pak, ayo Gin tak anter. Bisa jalan sendiri kan?" tanyaku sambil bersiap ambil jaket, helm, dan kunci motor.
__ADS_1
"Bisa, terimakasih Pak ...?" Virginia mengucapkan terimakasih ke Pak Tikno.
"Tikno Mbak, bagian perlengkapan" jawab Pak Tikno sumringah.